Bagaimana Mengolah Sampah Organik

Sampah Organik...

ternyata bahaya kalo ga kita olah secara benar. Kalau dibuang ke TPA sampah organik bukan terurai tapi membusuk... Dan kondisi membusuk ini sangat berbahaya karena pembusukan dan bercampur baurnya sampah organik dengan sampah lain, dengan kelembaban dan tekanan yang besar justru menghasilkan gas metan. Gas metan sendiri merupakan gas rumah kaca yang 20 kali lebih berbahaya daripada CO2. 

Nah bagaimana kita bisa mengolah sampah organik di rumah? Mari diskusikan di sini...  

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Email me when people reply –

Replies

  • Halo Kak Andy dan teman-teman. Kami di rumah mengumpulkan sampah organik dalam karung-karung bekas. Awalnya dulu kami punya lubang pembuangan sampah organik di tanah yang kami timbun setelah penuh 1 lubang dan berpindah-pindah di sekeliling taman.

    Sejak sebagian lahan taman dipakai untuk ruangan baru kami mulai kekurangan lahan jadi mencoba cara baru dengan menimbun sampah organik dalam karung. 
    Karung percobaan pertama sudah berhasil jadi kompos, sampahnya jad menghitam, tidak berbau dan meski masih berbentuk seperti aslinya, waktu diremas langsung hancur. Di dalam karung juga banyak pupanya. Waktu pengkomposan kurang lebih hampir 2 bulan sejak sampah terakhir dimasukkan dalam karung.

    Sekarang kami memakai karung-karung bekas makanan kucing yang ukurannya lebih kecil dari yang pertama. Karung yang dipakai untuk menimbun sampah di bagian bawahnya dialasi tanah agar air lindi yang keluar tidak menimbulkan bau. Setiap sehabis membuang sampah organik dalam karung, dituangi sedikit EM4 dan ditutup dengan tanah dan daun kering. Karung juga selalu diikat rapat, diletakkan di tempat teduh dan tidak terkena hujan.

    Sejauh ini tidak ada bau sampah menyengat dan tidak ada lalat di rumah. Kuncinya, sampah segera diolah sebelum membusuk, setiap hari sampah dirajang dan dicampur tanah dalam karung.

    Begitu kira-kira cerita tentang tabungan kompos kami di rumah.. Semoga bermanfaat 🙏🏼😁

    Salam,

    Yuli

    4923076280?profile=RESIZE_180x180

  • Halo, Kak Andy dan kawan-kawan, saya baru gabung nih sekalian test posting. 

    Saya di rumah bersama Ani mencoba mengolah sampah organik di rumah dengan menggunakan Biopori. Sejauh ini Biopori adalah media pengolahan sampah paling tepat bagi kami, yang hoream ribet tapi intensitas masak dan konsumsi bahan organiknya cukup tinggi. :)

    Kami menggunakan area ukuran sekitar 2x3,5m di halaman depan rumah untuk membuat 6 lubang biopori, kedalaman lubang 0,8-1,1 m. Setiap hari tinggal dibuang saja sampah dapur dan sisa bahan organik di rumah. Setelah diisi, biasanya kami tambahkan sedikit tanah dan sedikit cairan EM4 (bakteri pupuk), agar sampahnya lebih cepat terurai. 

    Bila lubang telah penuh maka diberi kesempatan untuk bernafas dan mengolah sampah hingga terurai. Setelah dua minggu, maka sampah sudah mulai berubah menjadi tanah, masih agak bau sampah tapi sudah terurai banyak. Kemudian tanah tersebut dikeluarkan dan diaduk2 dengan tanah di halaman, didiamkan 3-4 hari maka sudah menjadi tanah yang lebih subur (bisa dibuat media tanam).

    Tanah di rumah kami adalah tanah urugan yang banyak tanah liat dan brangka. Dengan membuat biopori, nampak cacing-cacing pun bermunculan di dalam lubang, sebagai indikator awal kesuburan tanah meningkat (cacing membuat lubang pori2 di tanah dan mengedarkan sari2 sampah yang telah ia makan ke sekitar lubang) 

    Demikian, semoga sharingnya bermanfaat. 

     

    Salam Joss

    Agni  

This reply was deleted.