THE TRUE COST

Sebuah film yang bercerita tentang harga sebenarnya yang harus dibayar untuk membuat sebuah baju. 
Mari saling bercerita apa yang kita rasa dari film itu! 

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Votes: 0
Email me when people reply –

Replies

  • True Cost (2015)

    Jadi pada pagi hari ini aku dan kelas 12 lainnya diberi suatu film untuk di tonton, film dokumenter mengenai dunia fashion yang sekarang. Walaupun film ini dibuat pada tahun 2015, sistem dan problematika-problematika yang dibahas itu kurang lebih masih sama. Seperti yang disebut di film dan mungkin sudah jelas diketahui banyak orang sekarang, “The Fashion Industry” merupakan penyumbang polusi dan sampah kedua terbesar setelah The Oil Industry.

    Sebagai penggemar fashion, aku sangat tertarik dengan topik ini. Memang sebelumnya aku belum nonton film dokumenter True Cost, tapi ini bukan pertama kalinya aku mendengar pembahasan mengenai era fast fashion dan konsep hidup konsumptif. Sebenarnya sudah banyak film-film yang membahas mengenai topik ini, seperti “Minimalism” by Matt D’Avella dan British Vogue juga mengeluarkan serial dokumenternya “The Future of Fashion” with Alexa Chung, dan sebenarnya sudah banyak orang yang sudah sadar mengenai permasalahan di dunia fashion saat ini. Dan sebenarnya jangan salah, beberapa brand-brand dan desainer Indonesia pun sekarang sudah mulai menerapkan konsep yang disebut “sustainable fashion”.

    Dari menyaksikan film True Cost ini aku teringat lagi akan kepedulianku terhadap dunia dari mata seorang manusia, dari mata seorang remaja Indonesia. Memang aku sangat beruntung tidak diposisikan sebagai pekerja-pekerja keras yang tidak diperlakukan secara manusiawi, mau itu petani atau penjahit apapun itu perkerjaannya disaat mereka berkontribusi dalam suatu rantai jelas mereka penting bagi kami, dan jelas mereka berhak mendapatkan respek dan diperlakukan sewajarnya sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Itulah yang disebut Fair Trade, dan mengapa ini termasuk salah satu faktor dari sustainable fashion, selain melihat dari sisi kemanusiaan, apabila petani tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya, keberlangsungan kerja samanya dengan industry tidak dapat dilanjutkan.

    Bahas Fast Fashion, Apa itu Fast Fashion dan kenapa disebutnya demikian? Fast Fashion merupakan konsep yang diterapkan beberapa brand ternama di dunia, seperti H&M, Zara, Topman dan seterusnya. Konsep ini dinamakan fast fashion karena perputaran produk mereka sangat cepat, setiap minggunya produk yang dikeluarkan ganti, dan stok mereka yang belum habis biasanya masuk sale/didiskon, dan kalau masih belum habis jadilah deadstock dan menjadi sampah. Target mereka adalah untuk menjual sebanyak mungkin produk dengan harga yang sangat murah sehingga konsumen merasa puas. Salah satu cara membuatnya murah itu mereka membuatnya di pabrik-pabrik non fair trade seperti yang dijelaskan di film. Dan cara menjual ke konsumennya adalah dengan membuat seakan-akan produk itu mewah dan dapat menghilangkan rasa jenuh manusia-manusia konsumtif. Dari sisi bisnis fast fashion ini sebenarnya cukup mindblowing, tapi menurutku sudah melewati batas manusiawi dan respek terhadap dunia fashion. Menurutku fast fashion telah merusak seninya dalam suatu pakaian, membuat sebanyak mungkin produk secepat mungkin dan menurunkan harga setiap produknya hingga terjual, sehingga tidak ada harganya lagi buatku. Mereka menjual barang-barang tak berharga pada manusia-manusia yang terbawa tren hidup komsumptif yang ujung-ujungnya membuat mereka sengsara.

  • The True Cost (2015)

    Film dokumenter berdurasi  90 menit ini mengulik topik fast fashion dan biaya yang sebenarnya.  Fast fashion jika diartikan secara harfiah berarti mode cepat. Untuk memenuhi gaya hidup konsumtif pakaian yang terus berganti, pakaian dijual dengan harga murah. Penjelasan The True Cost runut dan rinci, dimulai dari asal usul pakaian tersebut yang mayoritas berasal dari Bangladesh, India.

    Bagaiman cara  memproduksi lusinan baju dengan harga murah tapi tetap menghasilkan keuntungan besar? Dengan cara tidak etis, tidak mempedulikan kesejahteraan pekerja. Dari gaji dibawah upah minimum regional, tempat kerja yang tidak layak, hingga melarang aturan HAM dengan kekerasan fisik. Banyak pegawai yang mengeluh tentang gaji atau bahkan bangunan yang retak. Sedihnya, ada kisah dimana mereka berakhir menerima pukulan saat menyampaikan keluhan tersebut. Kasus yang paling menyedihkan terjadi di tahun 2013 saat pabrik garmen runtuh; Rana Plaza.  Kurang lebih 1000 orang meninggal, mereka yang mungkin masih bisa hidup jika kekhawatiran mereka didengar. Tidak dipaksa untuk tetap hadir esoknya meski tahu ada retak di gedung.

    Pemilik pabrik industri tekstil ‘terpaksa’ membayar pegawainya dengan upah rendah karena adanya persaingan harga atau price war. Mereka harus terus menekan biaya produksi agar dapat bertahan di bisnis tersebut. Menjual sepotong jeans dengan harga 3 dollar yang kelak akan ditampilkan di etalase dengan harga 20 dollar. Retailer pakaian besar tidak terikat kontrak dengan pabrik, jika harga pasar suatu saat naik, mereka bisa mencari pabrik lain dengan harga yang lebih murah. Meninggalkan ratusan atau mungkin ribuan orang sebagai pengangguran.

    Itu baru dari segi kesejahteraan pegawai, bagaimana dengan ligkungan? Pindah lokasi ke Punjab, India, produsen kapas terbesar, yang juga berarti pengguna pestisida terbesar di India. Pestisida mengkontaminasi tanah dan air. Akhirnya berujung ke cacat fisik dan mental. Farmers suicide in India, adalah gelombang bunuh diri terbesar. Banyak yang berakhir meminum pestisida untuk mengakhiri hidupnya. Bibit kapas, pestisida, dan obat kanker, perusahaan sama yang menjualnya.

    Sebetulnya yang tidak aku mengerti adalah kenapa ada orang seperti itu?? Apa senangnya untung sendiri dan melihat orang serta lingkungan tereksploitasi. Di Kamboja, pekerja garmen menuntut gaji yang sesuai agar mereka dapat hidup layak. Namun berakhir dengan kekerasan hingga ada yang tewas. Pemerintah sendiri yang turun tangan menghentikan protes warganya sendiri. Warga yang menuntut hak milik mereka. Pemerintah, yang bertugas mengatur kehidupan sosial, ekonomi, dan politik negara. Sekelompok orang yang bertanggung jawab atas kesejahteraan warganya.

    Negara berkembang seperti Kamboja (dan Indonesia!) sangat membutuhkan bisnis bersifat multinasional. Karena ancaman merek-merek besar dapat merelokasi produsen, pemerintah terpaksa menurunkan upah untuk mempertahankan hubungan bisnis. Dan toko-toko retailer ini bebas dari hukum karena perjanjian dan kontrak yang disepakati. Bayangkan rasanya terjebak dalam lingkaran setan seperti itu. Melihat pemilik perusahaan di mana kamu bekerja menjadi milyuner sementara pekerjanya bahkan tidak dapat hidup layak.

    Tentunya ada perusahaan apparel yang memperbaiki sistem tersebut. Sustainable fashion yang terus menerus membangun hubungan erat dengan produsen, pertanian kapas organik, brand-brand yang mengedukasi pelanggan, dan banyak  lagi. Tapi, harganya tidaklah murah. Peduli tentang lingkungan bahkan bisa dibilang sebuah privilege. Untuk yang tidak mampu membeli pakaian sustainable dan sibuk bekerja, belum tentu memiliki waktu untuk ke lokasi thrifting dan membeli baju bekas. (Bahkan beberapa baju bekas yang dikirim ke negara lain sudah tidak layak, hanya memindahkan sampah.)

    Fast fashion pun menjadi opsi yang paling masuk akal. Membeli kaos seharga 50 ribu rupiah di situs online, mengomentari kualitas baju (you get what you paid for), lalu karena murah dipakai sekali dan dibuangpun tidak masalah. Pola pikir konsumtif seperti itu yang membuat industri fast fashion terus berkembang, konsumtif. Meski baju yang dibeli sustainable sekalipun.

    Semoga masalah ini dapat diresolusikan. Aku yakin kejadian seperti tadi juga terjadi di Indonesia yang merupakan negara berkembang (bahasa halus ‘dunia ketiga.’) Tulisan ini berantakan dan isinya sangat agresif karena aku bingung dan marah dengan orang-orang dan diri sendiri tentunya. Sekian!

     

     

    • Amarah yang cukup terasa. Betul, di Indonesia bahkan Bandung, beberapa kali terjadi kasus seperti di film itu oleh pabrik yang memproduksi pakaian untuk perusahaan fashion berinisial N dan U. 

      Farah mungkin bisa coba bikin bisnis baju sustainable yang murah. Hahahaha

  • Hari ini kami menonton film yang berjudul The True Cost. Film garapan sutradara Andrew Morgan ini menceritakan tentang realita dibalik tren fast fashion yang marak pada dekade ini. Film dokumenter ini memperlihatkan berbagai fakta dan hal yang terjadi sepanjang proses produksi dari pakaian yang dijual oleh perusahaan-perusahaan fashion ternama seperti H&M.

    Kebanyakan dari kita yang tidak pernah membayangkan bagaimana proses produksi pakaian akan terkejut mengetahui fakta yang ada dibalik pakaian yang sedang kita kenakan ini. Ternyata, proses produksi pakaian banyak yang berjalan dengan sangat uncivilized bahkan hingga berujung kepada kematian para buruh yang bekerja di pabrik pembuatan pakaian tersebut. Selain sumber daya manusia (SDM) yang tereksploitasi, sumber daya alam pun ikut tereksploitasi. Salah satu contoh gamblangnya adalah perkebunan kapas. Hampir semua perkebunan kapas menggunakan pestisida dan bibit rekayasa genetika. Hal itu dilakukan karena tekanan yang didapatkan dari kebutuhan kapas itu sendiri yang makin meningkat untuk membuat pakaian. Sayangnya, hal ini malah berbalik lagi pada penduduk yang ada di sekitar perkebunan tersebut. Banyak yang menderita berbagai macam penyakit karena bahan kimia berbahaya yang tersebar di udara, air, dan tanah yang akhirnya masuk ke dalam tubuh.

    Parahnya lagi, ternyata bukan hanya proses produksi pakaian yang menjadi kendala bagi SDM maupun alam, namun juga proses pengolahan pakaian yang sudah tidak terpakai (yang didonasikan oleh konsumen). Sisa pakaian yang sudah tidak terpakai biasanya dikirimkan ke negara-negara berkembang yang biaya SDM nya sangat murah, seperti India, Bangladesh, negara-negara di Afrika, dan lain sebagainya. Pakaian-pakaian ini kebanyakan hanya dibiarkan saja dan tidak di daur ulang lagi.

    Hal-hal ini apabila ditarik garis merahnya, ternyata masalahnya kembali lagi kepada perusahaan-perusahaan konglomerat yang ada di dunia ini, bukan hanya di bidang fashion saja, namun dalam semua bidang. Mereka bersikap menjadi kapitalisme dari industri ini. Target mereka adalah mendapat untung sebanyak-banyaknya dengan modal sesedikit mungkin tanpa memperdulikan mitra-mitra kerja mereka. Itu sebabnya, mereka mengincar negara-negara berkembang yang upah minimum pekerjanya sangat rendah, agar mereka bisa mengeruk sebanyak-banyaknya untung bagi perusahaan. Di sisi lain, pemerintah dari negara-negara berkembang ini pun berada di situasi di mana ia ditekan dari banyak pihak. Di sisi yang satu pemerintah membutuhkan brand-brand tersebut untuk menaikkan ekonomi negara, namun pemerintah juga tidak dapat memenuhi hak-hak dasar dari masyarakat yang bekerja dalam industri tersebut, sehingga perlakuan yang didapat oleh buruh-buruh industri ini sangatlah tidak sesuai dan biadab.

    Perasaanku setelah menonton film dokumenter ini sebenarnya campur aduk. Aku malah menjadi galau, karena harus diapakan dunia ini (maksudnya masalah seperti ini tidak hanya dari bidang fashion saja, namun hampir dalam setiap hal), apa masih bisa diperbaiki, apakah ada solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini, apa yang bisa aku lakukan sekarang atau mungkin dalam 5 hingga 10 tahun lagi, apakah aku bisa mengambil bagian untuk memperbaiki keadaan ini, ataukah ini adalah suatu hal yang inevitable, apakah sebenarnya berkembang adalah hal yang baik (berkembang dalam segi ilmu pengetahuan, norma-norma, dan lain sebagainya), atau apakah ini sudah akhir zaman? Pertanyaan-pertanyaan dan kebingungan itu kerap muncul di benakku saat melihat atau mengingat krisis-krisis alam dan manusia yang ada di bumi ini. Tapi, ya sudah lah, aku berusaha untuk tidak memberati pikiranku (bukan berarti menjadi diam dan bersikap bodo amat atau tutup kuping, namun sambil terus berusaha semampuku menghadirkan solusi yang relevan, dimulai dari diriku sendiri dan lingkungan di sekitarku) dan berharap, semoga sambil bertambah dewasa, aku bisa makin bijak dan jalan yang aku ambil di masa depan adalah yang terbaik bagi semuanya.

    • Paragraf terakhir yang keren dan sangat menggugah Tyo. 

      Memang dunia sedang banyak masalah, tapi semangat untuk tetap ikut jadi solusi sekecil apapun itu tetep kudu dipupuk. Mudah-mudahan bener-bener bisa jadi bijak, dewasa, dan mengambil keputusan terbaik ke depannya ya! 

  • Hari ini kita tidak melakukan sekolah virtual secara biasanya. Hari ini Kak Jere menyeruh kami untuk nonton sebuah film yang berjudul The True Cost. Sebenarnya tentang apa sih film ini itu? Jadi sebenarnya film tersebut mengenai industri pakaian. 

    Baju-baju branded yang kita pakai saat ini adalah sebenarnya ada banyak perkerja yang membuat baju kita ini. Banyak sekali perkerja-perkerja di Bangladesh yang kerja di pabrik pakian. Yang membuat geger adalah ketika pemilik baju atau gedung kurang mempedulikan kondisi gedung yang sudah rapuh. Banyak sekali perkerja-perkerja yang harus kehilangan nyawanya karena bangunan yang runtuh karena sudah kemakan oleh waktu. 

    Ketika aku nonton filmnya ternyata baju-baju branded yang kita pakai banyakannya terbuat dari Bangladesh. Lalu di kirim ke seluruh dunia untuk di jual. Lalu juga ada salah satu perkerja asal Bangladesh yang di wawancara kalau gajinya hanya $10 per bulannya. 

    Ternyata aku baru sadar kembali kalau baju-baju kita yang kita pakai saat ini, perkerja-perkerja di luar sana mempertaruhkan nyawa mereka dengan berkerja di bangunan yang sudah rapuh. Sebenarnya aku juga pernah menonton film dokumentasi ini di YouTube. 

    • waaah udah nonton ya? hahaha

      Sip Carenza. Mudah-mudahan makin kuat makna filmnya menempel ya

This reply was deleted.