Resensi film The True Cost

Hari ini kami menonton film yang berjudul The True Cost. Film garapan sutradara Andrew Morgan ini menceritakan tentang realita dibalik tren fast fashion yang marak pada dekade ini. Film dokumenter ini memperlihatkan berbagai fakta dan hal yang terjadi sepanjang proses produksi dari pakaian yang dijual oleh perusahaan-perusahaan fashion ternama seperti H&M.

Kebanyakan dari kita yang tidak pernah membayangkan bagaimana proses produksi pakaian akan terkejut mengetahui fakta yang ada dibalik pakaian yang sedang kita kenakan ini. Ternyata, proses produksi pakaian banyak yang berjalan dengan sangat uncivilized bahkan hingga berujung kepada kematian para buruh yang bekerja di pabrik pembuatan pakaian tersebut. Selain sumber daya manusia (SDM) yang tereksploitasi, sumber daya alam pun ikut tereksploitasi. Salah satu contoh gamblangnya adalah perkebunan kapas. Hampir semua perkebunan kapas menggunakan pestisida dan bibit rekayasa genetika. Hal itu dilakukan karena tekanan yang didapatkan dari kebutuhan kapas itu sendiri yang makin meningkat untuk membuat pakaian. Sayangnya, hal ini malah berbalik lagi pada penduduk yang ada di sekitar perkebunan tersebut. Banyak yang menderita berbagai macam penyakit karena bahan kimia berbahaya yang tersebar di udara, air, dan tanah yang akhirnya masuk ke dalam tubuh.

Parahnya lagi, ternyata bukan hanya proses produksi pakaian yang menjadi kendala bagi SDM maupun alam, namun juga proses pengolahan pakaian yang sudah tidak terpakai (yang didonasikan oleh konsumen). Sisa pakaian yang sudah tidak terpakai biasanya dikirimkan ke negara-negara berkembang yang biaya SDM nya sangat murah, seperti India, Bangladesh, negara-negara di Afrika, dan lain sebagainya. Pakaian-pakaian ini kebanyakan hanya dibiarkan saja dan tidak di daur ulang lagi.

Hal-hal ini apabila ditarik garis merahnya, ternyata masalahnya kembali lagi kepada perusahaan-perusahaan konglomerat yang ada di dunia ini, bukan hanya di bidang fashion saja, namun dalam semua bidang. Mereka bersikap menjadi kapitalisme dari industri ini. Target mereka adalah mendapat untung sebanyak-banyaknya dengan modal sesedikit mungkin tanpa memperdulikan mitra-mitra kerja mereka. Itu sebabnya, mereka mengincar negara-negara berkembang yang upah minimum pekerjanya sangat rendah, agar mereka bisa mengeruk sebanyak-banyaknya untung bagi perusahaan. Di sisi lain, pemerintah dari negara-negara berkembang ini pun berada di situasi di mana ia ditekan dari banyak pihak. Di sisi yang satu pemerintah membutuhkan brand-brand tersebut untuk menaikkan ekonomi negara, namun pemerintah juga tidak dapat memenuhi hak-hak dasar dari masyarakat yang bekerja dalam industri tersebut, sehingga perlakuan yang didapat oleh buruh-buruh industri ini sangatlah tidak sesuai dan biadab.

Perasaanku setelah menonton film dokumenter ini sebenarnya campur aduk. Aku malah menjadi galau, karena harus diapakan dunia ini (maksudnya masalah seperti ini tidak hanya dari bidang fashion saja, namun hampir dalam setiap hal), apa masih bisa diperbaiki, apakah ada solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini, apa yang bisa aku lakukan sekarang atau mungkin dalam 5 hingga 10 tahun lagi, apakah aku bisa mengambil bagian untuk memperbaiki keadaan ini, ataukah ini adalah suatu hal yang inevitable, apakah sebenarnya berkembang adalah hal yang baik (berkembang dalam segi ilmu pengetahuan, norma-norma, dan lain sebagainya), atau apakah ini sudah akhir zaman? Pertanyaan-pertanyaan dan kebingungan itu kerap muncul di benakku saat melihat atau mengingat krisis-krisis alam dan manusia yang ada di bumi ini. Tapi, ya sudah lah, aku berusaha untuk tidak memberati pikiranku (bukan berarti menjadi diam dan bersikap bodo amat atau tutup kuping, namun sambil terus berusaha semampuku menghadirkan solusi yang relevan, dimulai dari diriku sendiri dan lingkungan di sekitarku) dan berharap, semoga sambil bertambah dewasa, aku bisa makin bijak dan jalan yang aku ambil di masa depan adalah yang terbaik bagi semuanya.

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Votes: 0
Email me when people reply –

Replies

  • Harus diapakan dunia ini? Semoga bisa diubah ke arah yang lebih baik. Anak-anak muda seperti Tyogo yang akan mengubahnya.

    • Amin om!

This reply was deleted.