Program Magang K11 Angkatan 3

Program kelompok petualang belajar (KPB) di semester keempat angkatan ketiga ini adalah MAGANG.

Magang bagi KPB adalah masuk ke dalam dan mengalami atmosfer berkarya komunitas atau organisasi. Harapannya, anggota KPB terpapar suasana kehidupan nyata sedikit lebih dalam dari tahapan sebelumnya. 

Prosesnya dimulai dari teman-teman KPB menghubungi relasi yang didapatkannya selama tiga semester yang telah dilalui untuk melihat kemungkinan melaksanakan magang. Kalau memungkinkan, pengajuan proposal pun dilakukan dan penantian hasil diterima atau tidak biasanya jadi bagian yang paling menyenangkan (baca: menegangkan).

Kalau diterima, lanjut. Kalau tidak, cari tempat baru. Proses pemilihan tempat magang ini semuanya berada di dalam dampingan kakak agar nilai komunitas dan organisasi tempatnya berpartisipasi selaras dengan nilai rumah belajar semi palar secara kontekstual dan relevan.

Produk yang memvalidasi proses pembelajaran KPB yang diharapkan dari proses ini adalah laporan magang dari anggota KPB dan penilaian dari mentor masing-masing di tempat magang. Ukurannya adalah sejauh mana kemandirian, adaptasi, dan kebermanfatan anggota KPB di mata komunitas.

-

Silakan teman-teman semua saling bercerita dan berbagi prosesnya di sini. Baik proses magang dengan cerita-cerita menariknya, juga proses pembuatan laporannya seperti apa. Mari.

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Votes: 0
Email me when people reply –

Replies

  • Setelah program magang ini diberikan kepadaku, tanpa berpikir banyak aku sudah tahu di tempat seperti apa aku ingin melaksanakannya. Tetapi yang menjadi masalah di sini adalah; tempat mana yang akan menerimaku untuk melaksanakan program magangku. Jadi aku berfokus kepada satu hal yaitu, fashion, sebuah subjek yang aku selalu ingin telusuri lebih dalam dari dulu. Dari sana aku mulai banyak melakukan riset, mengapa? Pertama-tama aku ingin lebih mempersempit lingkar pencarianku, dengan begini aku dapat lebih mudah menyaring tempat-tempat yang memang benar-benar memiliki apa yang aku cari dan mendapatkan tempat-tempat yang cocok untuk memfasilitasiku selama program magang ini berjalan. Kebetulan pada saat itu aku ingin menelusuri subjek fashion marketing lebih dalam, dengan begitu aku sekarang memiliki titik untuk memulai dan tujuan yang dapat mempermudah tempat-tempat yang aku hubungi untuk menempatkanku di perusahaan mereka. Tetapi sebelum aku mulai bertanya-tanya mengenai peluang magang ke siapapun, aku pertama-tama memerlukan sebuah CV (Curriculum Vitae) terlebih dahulu, jadi aku memulai dengan itu.

    Sedikit tips yang penting untuk kalian tahu di saat mengerjakan CV adalah ini; jangan membuat CV yang terlalu panjang dan dipenuhi oleh banyak teks, karena mayoritas dari pemilik/manager dari sebuah perusahaan itu tidak memiliki banyak waktu luang untuk membaca seluruh CV kalian, perbanyak poin-poin dan kata-kata yang singkat tapi memiliki makna yang dalam. Kemungkinan besar mereka hanya akan membaca cepat CV kalian dan mengambil kata kunci-kata kunci yang menurut mereka relevan. Kedua, pastikan kalian mengisi portfolio kalian dengan pekerjaan-pekerjaan terbaik kalian. Banyak orang malu-malu untuk menambahkan portfolio mereka ke dalam sebuah CV, tetapi banyak juga yang terlalu memenuhi isi CV mereka dengan portfolio. Coba saring lagi portfolio kalian dengan hasil-hasil pekerjaan yang kira-kira relevan untuk perusahaan yang di mana kalian akan bekerja. Yang terakhir adalah kata-kata kalian, jangan terkesan seperti kalian memohon-mohon di dalam proposal kalian, tetapi jangan juga terlalu arogan dan terlalu percaya diri karena itu semua akan di uji di saat kalian bekerja. Pastikan isinya seimbang di antara kalian percaya kepada diri kalian sendiri untuk melaksanakan pekerjaan kalian di sana dan kepercayaan kalian terhadap perusahaan tersebut untuk dapat membimbing kalian selama program magang, dan sedikit kata-kata manis terhadap perusahaan juga dapat membantu kalian, tapi pastikan tidak berlebihan karena dapat terlihat seperti kalian menjilat.

    Oke, setelah aku pede dalam CV aku, dan memastikan bahwa isi di dalamnya tidak ada typo dan bahasanya sudah baik dan benar, aku lanjut ke tahap berikutnya, yaitu mengontak tempat di mana kalian ingin magang. Saran dari aku adalah jangan mengontak terlalu banyak tempat dalam waktu yang sama, karena jika dua tempat menerima proposal kalian, tidak akan terlihat baik jika kalian menolak satu tempat untuk tempat yang lainnya. Jadi pastikan kontak tempat yang benar-benar kalian inginkan terlebih dahulu, jika ditolak jangan lupa untuk mengatakan terima kasih atas waktunya dan lanjut ke tempat berikutnya. Oh ya, jika ada kesempatannya, akan menjadi lebih baik jika kalian mendatangi orang yang kalian kontak dan berbicara secara langsung, bukan online, pertama lebih sopan dan akan menghindari miskomunikasi, yang kedua kemungkinan kalian untuk diterima akan lebih tinggi, karena mereka sudah mengenal kalian secara langsung dan dapat menilai dengan lebih halus. Aku mengontak total tiga tempat, yang pertama aku ditolak karena jumlah orang yang sedang bermagang di tempat pertama sudah terlalu banyak, di tempat kedua mereka tidak bisa menerima program magang karena jadual mereka sedang sangat ketat, dan yang ketiga akhirnya aku diterima, tapi prosesnya tidak mudah. Aku pertama kali mengontak lewat WhatsApp, representatif mereka meminta CVku dan aku berikan ke mereka menggunakan format PDF. Setelah mereka menerima aku tidak di kontak balik selama beberapa hari, dan aku mulai merasa tidak sabar. Karena aku tidak ingin terlihat tidak sopan maka aku mengobrol dengan salah satu orangtua temanku yang kenal dengan salah satu anggota dari perusahaan tersebut untuk meminta tips, dan kebetulan beliau akan mendatangi sebuah event di mana representatif dari perusahaan ini akan ada di sana. Jadi aku memutuskan untuk datang ke acara tersebut untuk menemui orang dari perusahaan itu secara langsung. Di event tersebut akhirnya aku dapat bertemu dengan divisi desain dan markom mereka dan berbincang lebih mengenai program magang tersebut. Setelah berbicara langsung beliau menjadi lebih tertarik untuk menerimaku untuk bermagang. Dua hari setelah itu aku dikontak di sekitaran jam enam sore untuk bertemu dengan kepala desainer dari perusahaan itu, untuk sedikit interview lebih dalam. Setelah berbincang lebih akhirnya mereka setuju untuk menerimaku dan arahan langsung diberikan kepadaku untuk melanjutkan program magang tersebut.

    Setelah bermagang di perusahaan itu yaitu Screamous, selama tiga bulan, aman untuk dikatakan bahwa selama tiga bulan itu aku belajar banyak sekali. Program magang menurutku adalah suatu pengalaman yang wajib dilaksanakan oleh seluruh pelajar untuk mendapatkan pengalaman lapangan yang dalam opiniku lebih efektif dibanding belajar sebatas teori (walaupun teori tidak kalah penting). Untuk menamakan beberapa, selama bermagang di Screamous aku mendapatkan ilmu mengenai; adaptasi, marketing, komunikasi, bekerja secara tim, mencari inspirasi, dan masih banyak lagi. Tim dari Screamous juga selalu berusaha untuk melibatkan aku dalam proses mereka bekerja yang memberikanku gambaran luas dalam menjalankan sebuah perusahaan baju di Indonesia. Saran dari aku untuk kalian semua yang berencana untuk bermagang yang aku sesali aku tidak banyak lakukan adalah bertanya dan berbaur. Aku tidak bisa cukup menekankan seberapa pentingnya untuk berbaur dan bertanya kepada siapapun yang bekerja bersama kalian. Karena di saat magang ini adalah kesempatan kalian untuk di bimbing langsung oleh profesional di bidang yang kalian gemari. Tapi penting juga untuk meng-observasi, perhatikanlah cara mereka bekerja, perhatikan apa yang rekan-rekan kalian kerjakan, perhatikan bagaimana mereka melewati hari-hari mereka. Karena setengah dari pengalaman magang adalah di mana lingkungan kalian bekerja, dan bagaimana kalian dapat mempanen informasi sebanyak-banyak mungkin dari mereka untuk kalian aplikasikan ke hidup kalian masing-masing. Sekian dan terima kasih.

  • Saat pertama kali aku diminta untuk mencari tempat magang, alternatif bidang yang aku putuskan adalah engineering, programming, atau video/film production.

    Setelah melakukan beberapa riset dan bertanya kepada beberapa orang, aku memiliki alternatif untuk magang di PT Gapura Liqua Solutions (GLS) untuk minatku di bidang programming dan engineering dan organisasi Greeneration, untuk alternatif minatku di bidang video dan perfilman. Pemilik dari PT GLS sendiri adalah salah satu orang tua murid SMIPA, jadi sepertinya akan mudah untuk mengaksesnya, apalagi dulu Kinan magang di sana juga. Selain itu aku juga bertanya kepada temanku yang kuliah di ITB dan memiliki minat ke arah engineering, mengenai tempat yang mungkin aku bisa magang di sana, tapi ternyata ia tidak memiliki saran. Tapi akhirnya, sebelum aku menghubungi alternatif-alternatif tempat itu, aku melakukan riset lagi tentang perusahaan IT lain yang mungkin bisa lebih cocok untuk minatku.

    Setelah beberapa hari merumuskan visi sambil mencari tempat magangnya, aku memilih untuk magang di perusahaan IT yang bergeraknya di bidang internet of things (IoT), karena waktu itu aku sedang fokus mempelajari arduino, yaitu sebuah microcontroller yang bisa digunakan untuk membuat dan merangkai berbagai peralatan elektronik. Jadi, aku merasa khawatir bila aku magang di perusahaan IT yang fokus terhadap software saja, aku akan kewalahan dan malah tidak mengerti karena sudah lama tidak ngoding seperti itu lagi, jadi bingung saat harus ngoding software sendiri.

    Selain itu, tujuanku dari magang ini adalah untuk memperdalam kemampuan programming-ku, karena dengan magang aku dapat belajar secara langsung dengan orang-orang yang memang berkecimpung di dalam dunia ini. Dengan itu, kemampuan saya akan berkembang dengan lebih pesat dan tepat. Lebih dari itu, aku juga ingin terlibat di dalam perusahaan, organisasi, atau komunitas yang akan menjadi tempat magangku nanti. Tujuannya, untuk mendapat gambaran, insight, sekaligus pengalaman kerja dari bidang yang berkaitan dengan programming, baik itu dalam bidang software, electrical engineering, ataupun Internet of Things. Setelah itu, aku juga ingin melihat, belajar, dan memahami peluang apa saja yang aku miliki apabila bekerja di perusahaan IT. Terakhir, aku juga mau meningkatkan konsistensi kerjaku, terlebih saat menghadapi hambatan stress (yang berakibat terhadap kambuh/bertambahnya TICS) saat memiliki beban pekerjaan yang cukup berat dan menguras tenaga.

    Maka, setelah aku menemukan perusahaan yang sesuai, aku segera mencari cara untuk melamar di perusahaan terserbut. Perusahaan yang aku maksud ini adalah perusahaan IT yang sudah cukup lama berdiri di Bandung, namanya adalah PT Dycode. Berbekal dari beberapa riset, aku tahu bahwa Dycode ternyata bergerak juga di bidang IoT dengan sub perusahaan nya yang bernama DycodeX. Maka, bergegaslah aku berpikir, "siapa yang bisa aku kontak untuk masuk ke sana ya?", lalu terlintas di pikiranku untuk bertanya kepada kak Chikal, guru codingku, karena ia sering diundang untuk menjadi narsum dan pembicara juga disana-sini, mungkin ia juga mengenal orang yang ada di Dycode. Benar saja, setelah aku bertanya kepadanya, ia memberikanku nomor kontak milik Direktur PT Dycode. Lalu, aku berpikir, "waw, ini mungkin bisa menjadi strategi jalan masuk aku untuk magang di PT Dycode."

    Namun, setelah akhirnya aku diwawancara oleh salah satu petugas HRD PT Dycode, ternyata aku tidak diterima di perusahaan itu. Kemungkinan terbesar yang aku bisa duga adalah karena proposalku yang kurang baik pada saat melamar ke sana. Itu karena aku masih kebingungan untuk memasukkan CV ku ke dalam proposal, sebab Dycode membandingkan setiap permohonan magang yang masuk berdasar dari CV pemohonnya.Pada saat itu, aku merasa sedikit kecewa, tapi tidak terlalu berlebihan. Aku cepat move on dan langsung mencari alternatif-alternatif tempat lain di mana aku bisa magang di sana.

    Aku mencoba untuk bertanya lagi ke kak Chika, tempat mana lagi yang bisa aku coba untuk ajukan permohonan magang, lalu ia mengusulkan perusahaan yang dimiliki oleh pak Budi, seorang dosen ITB yang sudah banyak berkarir di dunia programming. Beliau kebetulan juga adalah salah satu orang yang sering memberikan materi dan pengajaran pada tempat les programming-ku dulu, bersama dengan kak Chika sendiri.

    Aku pun langsung menghubungi pak Budi dan ternyata perusahaan yang ia miliki bernama PT RKB (PT Riset Kecerdasan Buatan), perusahaan IT yang fokus pada riset kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Lalu, tidak lama kemudian aku pun mengobrol dengannya untuk mendiskusikan kemungkinan aku untuk magang di sana. Saat itu ia menjelaskan kepadaku tentang hal-hal apa saja yang bisa aku bantu apabila aku magang di sana, ada yang berhubungan dengan mengumpulkan data-set untuk keperluan program AI, ada juga mengambili foto-foto plat nomor untuk melatih program AI nya dalam mengenali plat-plat nomor kendaraan, dan ada juga yang membuat automated store, jadi apabila kita mengambil suatu barang, datanya langsung masuk dan pembayaran nantinya bisa langsung dipotong dari rekening milik orang tersebut. Lalu, ia memintaku untuk datang saja terlebih dahulu minggu depan ke ITB untuk mengikuti kelas kuliah S2 advance programming yang dibawakan oleh beliau, agar terbayang apa saja yang akan dikerjakan nantinya. Jadi, secara tidak langsung ia mengatakan bahwa aku diterima untuk magang di sini.

    Sebelum bertemu dan berdiskusi dengan pak Budi, aku juga sempat bertanya kepada kakak Christ, salah satu sepupuku yang sekarang memiliki production house dan dulunya juga mengambil kuliah IT di Unpar. Katanya, kalau mencari production house di Bandung, sulit sekali, karena hampir semua production house di bandung, bukan berbentuk seperti "perusahaan", melainkan di rumahan dan anggotanya biasanya dari antara pertemanan. Namun, ia memberikan saran perusahaan IT yang didirikan oleh anak-anak OMK (Orang Muda Katolik) Paulus, yang bernama PT Nibble Softworks. Aku pun sempat menghubungi perusahaan yang satu ini, untuk berjaga-jaga apabila tidak diterima di RKB, karena aku merasa kurang yakin pada awalnya. Orang yang aku kontak ini juga sudah membalas dan memintaku untuk memasukan proposal pengajuan magangku ke email perusahaan itu, namun aku akhirnya tidak melanjutkannya karena sudah keburu diterima di PT RKB.

    Di PT RKB, aku akhirnya ditempatkan untuk membantu proses pengambilan data-set yang akan menjadi bahan untuk pengembangan teknologi artificial intelligence untuk mengenali wajah. Melalui tugas ini, banyak sekali skill programming-ku yang berkembang. Ditambah lagi dengan les programming bersama kak Chika yang masih rutin aku jalankan, aku menjadi lebih cepat mengikuti apa yang diajarkan pak Budi di kelas dan bagaimana aku mengerjakan tugas-tugas programming-ku di perusahaan itu.

    Selain itu, kemampuanku untuk menganalisis dan mencari solusi dari suatu masalah pastinya juga berkembang, karena sering melakukan debugging kode selama ngoding. Selain itu, aku juga cukup terbayang, bagaimana orang merintis perusahaan di bidang IT dan bagaimana perusahaan baru itu bekerja, karena PT RKB juga baru berdiri selama 2 tahun, jadi masih terhitung perusahaan baru.

    Namun, TICS-ku cukup sering kambuh, terutama pada awal-awal magang karena aku merasa belum terbiasa dengan rutinitas baru ini, dimana aku harus bekerja di depan laptopku selama kira-kira 6 jam penuh sambil mengerahkan pikiranku untuk mencari solusi dari permasalahan yang muncul pada codingan yang aku buat (debugging). Ditambah lagi aku harus menempuh perjalanan ke kantor yang cukup panjang dan lama (pulang-pergi)

     Tapi, akhirnya aku bisa merubah pandanganku dan menjadikan kesulitan yang aku temui selama magang sebagai salah satu alat untuk berlatih menghadapi stress, lelah, dan panik. Harapannya, kedepan aku bisa lebih tahan dalam menghadapi segala situasi, terutama saat pikiranku terus ditekan ke batasan maksimalnya, aku tetap tenang dan tidak cepat kambuh TICS-nya dan emosiku meledak tidak terkontrol.

    Jadi, kesimpulannya, walaupun selama magang aku banyak merasakan kelelahan karena tidak terbiasa untuk ngoding lama (saat les saja biasanya kalau aku ngoding selama kurang lebih 3-4 jam secara terus menerus, aku menjadi agak lemas dan mulai tidak nyaman dan tidak tenang), aku sangat bersyukur bisa magang di perusahaan ini. Karena, walaupun perusahaan ini bukan merupakan perusahaan besar, (paling tidak sekarang) pengalaman-pengalaman berguna dan berharga yang aku dapatkan terhitung sangat banyak, apalagi karena perusahaan ini adalah perusahaan riset, jadi selaras dengan visi awalku yang ingin belajar di situ.

  • Magang ya, menurutku saat pertama kali aku harus memilih tempat magang aku kebingungan dan aku langsung memilih bidang yang saat itu sedang aku minati yaitu kerajinan tangan. Aku mengajukan permohonan magang ke beberapa tempat. Ada yang langsung menerima tapi sayangnya tidak sesuai waktunya dan aku merasa targetku tidak akan tercapai. Ada juga yang saat aku datang aku ditolak karena kurang persiapan. Pada detik itu aku mulai memikirkan kembali alasan aku magang dan bidang yang benar benar ingin aku tekuni. Aku memperbanyak berdiskusi dengan banyak orang hingga akhirnya aku memutuskan untuk menekuni bidang yang selama ini aku suka yaitu memasak. Sebenarnya aku ragu saat bilang bidang yang aku minati yaitu memasak aku merasa "kayanya semua orang bisa masak deh apa yang membuat aku berbeda dari orang lain kalau bidang yang ingin aku tekuni itu memasak?" 

    Aku akhirnya memutuskan untuk berdiskusi dengan seorang teman aku yang sudah lama masuk ke dunia tataboga. Menurutnya memang semua orang bisa memasak tapi tidak semua orang bisa memiliki nilai pada setiap masakannya, aku harus tau kenapa aku sangat menyukai masak dan karena hal itu aku memilih magang di salah satu komunitas memasak bernama Parti Gastronomi. Aku diberi dibantu oleh Kak Yudha untuk mengajukan permohonan magang tersebut. Aku mulai membaca artikel mengenai Parti Gastronomi dan saat aku membaca artikel tersebut aku menjadi lebih tertarik dan merasa aku sangat ingin magang di sana. Alasannya karena Parti Gastronomi bukan hanya sebuah komunitas memasak melainkan aku dapat mempelajari sejarah mengenai bahan-bahan makanan hal itu yang membuat aku tertarik. Aku tidak ingin hanya sekedar memasak, aku ingin menikmati prosesnya dari bahan makanan mentah hingga menjadi makanan yang sangat lezat. Aku ingin tahu setiap prosesnya dan setiap cerita dari setiap makanan. 

    Setelah aku mengirim email proposal pada pihak Parti Gastronomi aku menunggu balasan sekitar seminggu, saat teman-temanku sudah mulai magang aku masih harus menunggu kabar dari Parti Gastronomi. Aku juga mencari opsi lain jika pada akhirnya aku tidak dapat magang di Parti Gastronomi dan hampir semua tempat belum bisa menerima siswi magang. Aku mulai kehilangan harapan. Hingga pada satu hari aku mendapat balasan WhatsApp bahwa aku sudah mulai bisa mengirim email langsung ke Kak Seto salah satu pendiri dari Parti Gastronomi. Setelah menunggu sekitar 4 hari Kak Seto mengirim pesan ke nomor WhatsApp aku dan memberitahu aku untuk datang ke PartiLab. Aku senang juga takut karena Kak Seto mengirim pesan dengan sangat singkat. 

    Tepat tanggal 22 Februari aku datang ke PartiLab dan diterima di Parti Gastronomi yang juga bertepatan dengan hari ulang tahun aku. Saat bertemu Kak Seto aku takut, aku sudah mempersiapkan banyak jawaban dibenak aku yang mungkin saja akan ditanya. Tapi ternyata Kak Seto sangat baik dan ramah, aku diajak ngobrol mengenai hal-hal yang jauh lebih santai daripada pertanyaan yang membuat aku tegang. Sejak saat itu aku magang di dua tempat yaitu Biji Kopling pada hari Senin-Rabu dan di Parti Gastronomi pada hari Jumat/Sabtu/Minggu (tergantung event). 

    Aku mulai berkenalan dengan Om Ipin dan Kak Reyza. Magang di Parti Gastronomi menurutku bukan hanya sekedar magang saja. Aku merasa Parti Gastronomi menerima aku dengan sangat baik. Aku merasa diri aku tertantang disetiap pertemuan magang aku yang pada awalnya sangat menutup diri, takut bertemu orang baru menjadi sasa yang sekarang ini. Disetiap event Parti Gastronomi aku bertemu dengan sangat banyak orang baru dan aku mulai menyukai hal tersebut. Aku tidak merasa bahwa diri aku hanya sekedar magang saja, beberapa minggu di Parti Gastronomi aku sudah merasa seperti keluarga, aku mendapat banyak pengalaman baru, pengetahuan baru, dan relasi baru. 

  • Magang dapat diartikan sebagai pelatihan kerja calon pegawai ataupun siswa. Sebagai individu yang tertarik dengan bekerja di bidang kreatif, profesi seni seringkali dianggap sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan, meskipun itu tidak tepat. Dengan magang saya berharap dapat terjun langsung ke dunia tersebut. Memperhatikan secara dekat, memperkaya pengalaman, dan melatih kemampuan.

    Saya akhirnya mencari berbagai opsi tempat magang yang sesuai dengan apa yang cari. Yang memungkinkan saya untuk belajar, berkolaborasi, dan mengeksplorasi ide baru. Saya mencari tempat magang yang memiliki system kerja yang terstruktur, dipenuhi dengan orang-orang yang antusias dengan pekerjaannya, dan tempat yang menghargai segala sudut pandang. Dengan kriteria tersebut, muncullah beberapa list tempat magang.

    Ketertarikan saya berakar dari seni rupa, jadi itu fokus utamanya. Akhirnya saya menemukan tempat manajemen seni yaitu; Art Sociates dan Bale Project.

    Saya tertarik untuk magang di Art Societes karena mereka ingin membantu seniman-seniman agar dikenal secara luas. Dengan magang di Art Societes saya dapat melihat berbagai macam proses yang dilalui seniman sebelum menyatakan karyanya tuntas, bagaimana karya seni dapat dipromosikan, dan pola perkembangan serta inovasi seni dan budaya. Tujuan utama Art Societes adalah untuk mempromosikan seniman Indonesia ke khalayak yang lebih luas, dalam lingkup nasional dan internasional. Berfokus pada manajemen industri kreatif, yang bertujuan untuk menciptakan taman seni yang mengawasi perkembangan dan inovasi seni dan budaya.

    Sedangkan Bale Project bertujuan untuk menjadi platform di mana calon seniman, kurator, dan organisasi seni Indonesia yang bercita-cita tinggi dapat memperoleh nilai pendidikan bisnis dari mengembangkan pasar dan bisnis seni global. Bale Project bukan hanya mengutamakan kualitas, mereka juga mengutamakan nilai budaya yang ada pada seni visual. Menurut saya itu hal yang menarik, karena meskipun kedua hal tersebut koheren, nilai budaya seringkali kurang ditekankan.

    Sayangnya saya tidak tahu bagaimana caranya dapat magang di sana, mungkin karena kurang riset atau bisa juga karena saya terdistraksi oleh tempat magang lain, yaitu House The House. Alasan pertama adalah, lokasinya dengan tempat tinggal saya, bahkan kalau dilihat dari alamatnya, seharusnya saya sering lewat saat jalan kaki. . House The House bertujuan untuk memaksimalkan nilai lingkungan dengan menggali lapisan paling bawah dari konsep ‘pemikiran’ dan ‘emosi’. Tentang pengaruh lingkungan dengan perilaku manusia. House The House menyajikan experience design,  cara mereka melihat lingkungan dan respon manusia, dan ingin memaksimalkan ruang sebisa mungkin sangat menarik. Mereka sangat mendahulukan user experience klien, dan menurut saya itu patut dipelajari.

    Sama dengan cara saya mengontak Art Societes dan Bale Project, saya menggunakan platform Instagram, fitur direct message. Akhirnya saya menemukan sesuatu, House The House sekarang adalah café. Dan ternyata benar, saya sering melewatinya dan bahkan beberapa kali kesana. Beralih ke list selanjutnya, Sembilan Matahari.

    Sembilan Matahari, saat melihat website dan instagramnya saya cukup terintimidasi. Saya sangat tertarik magang di Sembilan matahari karena mereka adalah studio lintas disiplin. Timnya terdiri dari animator, seniman VFX, arsitek, programmer, ilmuwan, insinyur, musisi, perancang suara, illustrator, desainer graphic and user interface, penulis, art director, dan pembuat film. Sembilan Matahari percaya bahwa dengan mengubah pola pikir, kita dapat mengubah hal yang mustahil menjadi mungkin.

    Ada banyak orang yang berbeda di sana, dan dengan begitu, saya yakin akan ada banyak hal yang saya pelajari. Bukan secara harfiah mempelajari bidang kerja mereka. Saya dapat belajar proses kreatif dibalik layar dari beragam proyek yang mereka kerjakan. Saya tertarik untuk magang ditempat ini karena Sembilan Matahari seringkali menciptakan karya yang berani dan inovatif.  Hal ini dikarenakan mereka bekerja sama dengan orang yang berbeda-beda. Saya ingin dapat bekerja lebih baik dalam kelompok, dengan memperhatikan pola kerja mereka dan cara menanggulangi konflik serta miskomunikasi dari kepala-kepala yang berbeda.

    Dengan cara yang sama saya mulai mengontak Sembilan Matahri, sekali lagi dengan DM Instagram. Menggunakan kalimat yang rapi, sopan, visi-misi yang jelas sama seperti sebelum- sebelumnya. Karena sekarang kandidat magangnya sudah jelas, (tinggal satu lebih tepatnya), saya dapat lebih memfokuskan diri. Tapi sama saja seperti yang lainnya, teks saya tidak dibalas, dibaca pun tidak. Tapi hari itu saya nekat dan mengunjungi lokasi, saya pergi ke Muara Rajeun setelah diskusi. Turun dari motor, saya langsung ditolak. Saya tidak mengenal siapa pun di sana, dan tidak membuat jadwal pertemuan. Akhirnya saya pulang dengan tangan kosong, tapi dengan perasaan puas. Saya sudah tahu apa yang harus saya lakukan.

    Ternyata direct message indtagram bukan cara yang tepat. Yang harus saya lakukan adalah mengirim narasi proposal untuk magang, diikuti cv, dan tentunya portfolio. Tapi tetap saja, meski sudah mengikuti prosedur yang benar, tetap tidak ada balasan. Hingga akhirnya saya mencoba menghubungi Kakak Smipa yang temannya bekerja di Sembilan Matahari. Dan setelah kesalah pahaman, akhirnya kali ini saya bisa mengunjungi Sembilan Matahari dengan benar.

    Saatnya wawancara. Wawancara dadakan, atau lebih tepatnya saya membaca email balasan terlambat.Sorenya saya datang tepat waktu. Dan pertanyaan pertama adalah “Kenapa kamu ingin magang di sini?” Wawancara tidak berjalan dengan baik, saya yakin tridak memberikan jawaban yang baik. Hari itu saya melihat-lihat Sembilan Matahari dan berkenalan dengan beberapa calon mentor. Ternyata saya diterima, tanggal Sepuluh Februari (awalnya) saya dapat membawa dokumen sekolah, setelah itu saya akhirnya magang! Setelah berhari- hari mengeluh.

     

     

     

     

     

    • Feedback Magang

      Program magang yang ditwarkan di sekolah membuka ruang belajar yang baru. Setelah kurang dari sebulan magang di Sembilan Matahari, ada beberapa feedback yang saya terima terkait kinerja magang. Berikut beberapa poin dan masukan tersebut

      -Belajar berinteraksi 

      -Belajar langsung dari profesional

      -Memahami konsep kerja per proyek di industri kreatif

      -Membuka ruang berlatih medium dan software baru

      -Mengikuti struktur pengaplikasian resume dan portfolio sesuai standar

      -Mengobservasi lapangan kerja secara langsung

      -Mengatur waktu dan program yang dibuat secara pribadi

      -Memposisikan diri saat meminta dan mengerjakan tugas NM

  • Di saat semua sedang mencari tempat magang yang mereka ingin masuki, aku sudah mengincar satu tempat yang bener bene raku pengen dari dulu, aku sangat tertarik dengan Kareumbi entah kenapa, dan aku mulai mencari cari apa yang bisa aku kerjakan di sana. Ka Leo bilang itu akan susah, bahkan Gio yang pernah magang di sana bilang bahwa aku tidak akan kuat magang di sana, jadi aku semakin tertarik untuk bisa magang di sana, aku coba mencari apa yang ingin aku pelajari lalu bertemu dengan pihak sana. Lalu aku diajak ke Kareumbi untuk pertama kalinya dan itu sangat menyenangkan dan tidak seseram yang aku bayangkan.

     

    Beberapa minggu berlalu, kita semua melakukan perjalanan kecil ke Kareumbi selama beberapa hari dan sangat menyenangkan, saat malam aku sangat takut untuk ke WC sendiri maka aku ditemani Carenza. Selesai perjalanan kecil di Kareumbi, kita semua pulang dan mulai magang di tempatnya masing masing. Aku belom bisa magang karena belom mendapatkan surat izin naik gunung, lalu setelah kelamaan aku pun langsung nanya ke mentor di tempat aku magang, dan katanya kenapa tidak langsung saja dan jalani dulu saja.

     

    Pertama aku memutuskan untuk tinggal di Kareumbi selama seminggu karena nanti aka nada kegiatan di sekolah. Minggu pertama sungguh aku merasa tidak melakukan apa apa, aku hanya memasukkan bibit ke dalam policup besar dan memotong daun daun yang kering lalu melihat pertumbuhannya setelah daunnya di potong. Aku di sana masih beradaptasi dan mencoba untuk berbaur dengan Bahasa yang seadanya saja.

     

    Minggu kedua aku kesana adalah minggu yang sangat menyenangkan dan aku mendapatkan banyak sekali pelajaran. Beberapa hari aku di temani oleh mentor aku yang bernama Kang Ganthar, dan aku disana tidak mengenal apa kata mengeluh atau bahkan menyerah, karena aku dipaksa untuk menyelesaikan apa yang aku mulai, tetapi aku sangat tidak terbebani dan aku sangat senang melakukan itu semua, kami menggotong kayu yang lumayan besar untuk membuat api unggun, lalu setelah menggotong sampai rumah rusa, aku pun harus menggergajinya sehingga ukurannya pas, dan ada banyak hal lagi yang dilakukan saat itu. Lalu akupun ikut pelatihan gunung hutan selama 4 hari, tetapi karena aku tidak kuat dan aku tidak mau merepotkan yang lain kalau aku kenapa napa, maka aku memutuskan untuk pulang di hari ketiga, dan pulang ke Bandung karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk tinggal.

     

    Aku sangat sedih karena sekarang tidak bisa pergi kesana, tetapi saat situasinya sudah membaik aku akan ke sana untuk berpamitan kepada orang orang yang sudah baik sama aku, ada Abah, Ema, dan juga Oby yang menemani aku di sana. Selama di rumah aku memang sudah tidak magang tetapi aku sedang menanam semangka.

  • - Proses magangnya itu yang seingatku adalah aku cari hal yang kuminati lalu setelah aku menemukan hal yang kuminati baru aku mencari tempat maganya. Jadi hal yang kuminati adalah Bahasa Inggris jadi aku mencari tempat magang yaitu tempat les Bahasa Inggris. Aku menemukan tempat les Bahasa Inggris di Jalan Pahlawan dan uniknya tempat lesnya itu menyatu dengan kafe. Kafe itu bernama Trends Cafe and Resto.

    - Ketika awal-awal magang aku sangat senang sekali dan pas awal-awal minggu magang cukup banyak murid-murid yang datang untuk les. Dan ketika hari pertama aku magang aku belajar mengenai pengambilan data seperti siapa yang murid baru dan sudah bayar atau belum atau bayarnya caranya bagaimana, dan sebagainya. Lalu hari demi hari minggu demi minggu muridnya mulai jarang datang atau ada yang datang ketika aku mau jam-jam pulang. Ada juga aku seminggu penuh tidak mendapatkan murid sama sekali dan di sana aku hanya gabut saja seharian selama seminngu itu.

    - Inspirasi yang kudapatkan dari tempat magangku adalah cara mengajarnya yang sangat unik sekali. Karena di sana tidak ada tes sama sekali tempat lesnya dan aku juga punya keinginan untuk mengajar Bahasa Inggris dan aku akan pakai cara yang aku dapatkan ketika aku masih magang. Bagaimana yah, mereka itu di bawa nya having fun banget cara belajarnya, jadi kesannya tidak terlalu suasana belajar banget gitu. Mereka (para muruid-murid) di kasih pilihan juga apa mereka masih ingin belajar atau mengobrol dengan tutor mereka menggunakan Bahasa Inggris. Dan pilihan tersebut di beri kepada murid-murid.

    - Kesan ketika pertama kali melihat cara mengajarnya cukup berbeda yang biasanya aku tahu lalu yang les juga banyak sekali orang dewasanya. Ada dari yang SMP sampai sudah kerja, jadi bikin aku "wow" tempat les nya.Pokoknya cara ngajarnya rame deh, jadi inspirasi aku banget cara ngajarnya dan tutor-tutornya juga sangat baik dan juga friendly.

This reply was deleted.