Halo teman-teman, berjumpa lagi pada blog-ku kali ini. Pada kesempatan ini, aku ingin membagikan opiniku yang berasal dari diskusi bersama yang pagi ini aku lakukan bersama dengan teman-teman sekelas, mengenai fenomena open-cam atau close-cam pada saat melakukan konferensi video. Diskusi ini berawal dari kejadian yang cukup sering berulang pada saat melakukan konferensi video bersama orang yang lebih tua atau memiliki “peran” yang lebih tinggi (misalnya: kepala sekolah), yaitu diminta untuk membuka kamera (open-cam) ponsel atau komputer saat melakukan diskusi atau kelas dengan metode konferensi video. Fenomena tersebut nampaknya juga menjadi umum terjadi pada banyak orang yang mengikuti konferensi video, terutama pada masa pandemi COVID-19 ini. Apakah teman-teman juga merupakan orang-orang yang merasakan fenomena tersebut? Nanti tulis di kolom komentar ya! Oke, langsung saja masuk ke dalam pemaparan opiniku ya…

Fenomena open-cam adalah fenomena pada saat kita membuka kamera dan memperlihatkan wajah kita kepada orang-orang yang berada dalam sesi konferensi video (untuk mereplikasi interaksi yang terjadi pada pertemuan biasanya). Sementara fenomena close-cam adalah kebalikan dari fenomena open-cam.

Menurutku, baik kita membuka kamera sepanjang sesi konferensi video, membuka kamera hanya pada saat berbicara, atau tidak membuka kamera sama sekali sepanjang konferensi video, masing-masing akan memiliki pengaruh positif dan negatif terhadap orang pertama (orang yang berbicara) dan juga orang kedua (orang-orang lain yang mendengarkan).

2021-01-18-1.png?w=1024https://109tgraphite.files.wordpress.com/2021/02/2021-01-18-1.png?w=687 687w, https://109tgraphite.files.wordpress.com/2021/02/2021-01-18-1.png?w=150 150w, https://109tgraphite.files.wordpress.com/2021/02/2021-01-18-1.png?w=300 300w, https://109tgraphite.files.wordpress.com/2021/02/2021-01-18-1.png?w=768 768w, https://109tgraphite.files.wordpress.com/2021/02/2021-01-18-1.png 1360w" alt="" width="687" height="388" data-attachment-id="1165" data-permalink="https://109tgraphite.wordpress.com/2021-01-18-1/" data-orig-file="https://109tgraphite.files.wordpress.com/2021/02/2021-01-18-1.png" data-orig-size="1360,768" data-comments-opened="1" data-image-meta="{"aperture":"0","credit":"","camera":"","caption":"","created_timestamp":"0","copyright":"","focal_length":"0","iso":"0","shutter_speed":"0","title":"","orientation":"0"}" data-image-title="2021-01-18-1" data-image-description="" data-medium-file="https://109tgraphite.files.wordpress.com/2021/02/2021-01-18-1.png?w=300" data-large-file="https://109tgraphite.files.wordpress.com/2021/02/2021-01-18-1.png?w=840" />Sesi diskusi melalui salah satu platform konferensi video

Menurutku, orang yang membuka kameranya (open-cam) secara terus-menerus sepanjang sesi diskusi, presentasi, maupun kelas yang menggunakan konferensi video, memiliki pengaruh positif terhadap orang-orang lain yang ada di sesi konferensi video  tersebut dengan memberikan respek kepada mereka. Hal itu disebabkan karena dengan membuka kamera, orang lain yang ada di dalam sesi video konferensi menjadi merasa dihargai, karena itu bisa menjadi salah satu bentuk penghormatan atau respek terhadap orang lain. Akan tetapi, ada sisi buruk yang bisa aku hipotesiskan terjadi, sebagai pengaruh dari membuka kamera secara penuh sepanjang sesi video konferensi, yaitu membuat orang lain kehilangan konsentrasi saat mengikuti kelas atau webinar. Hipotesisku berargumen bahwa, pada sesi kelas, webinar, atau presentasi, umumnya hanya ada satu orang yang memaparkan materi atau memberikan pertanyaan dan jawaban, sehingga video peserta lain yang mengikuti kegiatan konferensi video tersebut menjadi tidak relevan. Akibat hal itu, peserta lain bisa malah jadi terganggu, terdistraksi, dan membuat energi peserta terpakai untuk melihat video-video tersebut (sehingga menjadi tidak energy-effiecient).

Akan tetapi, menurutku pengaruh negatif yang barusan aku paparkan itu berlaku sebaliknya saat kegiatan konferensi video yang dilakukan adalah diskusi, debat, atau sesi brainstorming. Hal itu disebabkan karena saat melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, kita “engage” secara langsung dengan orang-orang yang ada di dalam konferensi video tersebut, sehingga video setiap peserta menjadi relevan. Maka dari itu, menurutku apabila kita sedang melakukan hal-hal yang sifatnya melibatkan interaksi secara langsung dari setiap orang (misalnya: bertukar argumen atau pendapat), sebaiknya semua peserta memang membuka kameranya. Melainkan pada sesi konferensi video yang melibatkan interaksi secara tidak langsung dan bersifat cenderung pasif (misalnya: mendengarkan dan memberi tanggapan singkat), sebaiknya hanya ketua atau pemateri saja yang membuka kamera. Namun, selain sifat kegiatan ada faktor lain lagi yang juga memengaruhi kebutuhan open-cam/close-cam ini. Hal tersebut membawa kita kepada aspek berikutnya, yaitu kebebasan atau fleksibilitas peserta. (jeng, jeng, jeng….)

Dalam mengikuti atau menjalani sebuah konferensi video, peserta tentunya juga membutuhkan kebebasan pada saat sedang tidak berbicara (saat sedang bersifat pasif, misalnya pada saat mendengarkan peserta lain). Hal tersebut membuat aspek ini harus juga masuk ke dalam pertimbangan mengenai kebutuhan membuka atau menutup kamera yang sedang kita bahas ini. Menurut pengalaman dan hasil observasiku, pada saat orang tidak membuka kamera, ia akan merasa lebih bebas dan fleksibel untuk mengikuti konferensi video tersebut, sambil juga mengerjakan hal lain. Hal lain yang aku maksudkan, bukan pekerjaan lain yang bersifat negatif, misalnya pekerjaan yang mendistraksi fokusnya terhadap hal yang sedang dibahas. Akan tetapi, pekerjaan ini bisa juga merupakan pekerjaan yang berhubungan atau malah mendukung hal yang sedang dibahas di dalam konferensi video tersebut. Pekerjaan yang bisa dikatakan “sambilan” ini menurutku sebenarnya malah berfungsi untuk membantu peserta konferensi video untuk tidak jenuh, hingga akhirnya malah tidak fokus. Mengenai hal itu, saat melakukan pekerjaan sambilan ini, perlu diperhatikan kadarnya, agar bisa tetap seimbang dan berpengaruh positif, bukan sebaliknya. Akan tetapi, apabila kita tidak membuka kamera pada saat sesi konferensi video kelas atau presentasi, orang yang menyampaikan bisa saja merasa tersinggung atau menjadi tidak yakin, mengenai penerimaan peserta terhadap hal yang disampaikan. Hal tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan cara memberikan konfirmasi melalui suara secara berkala, sehingga juga membuat pembicara tidak merasa seperti berbicara sendiri.

Selanjutnya, aspek terakhir yang ingin aku bahas adalah jumlah peserta konferensi video. Menurutku, jumlah ini menjadi berpengaruh dengan kebutuhan membuka atau menutup kamera karena dua hal. Hal pertama yang memengaruhi adalah terkait siapa yang sedang berbicara. Hal ini mungkin tidak menjadi pengaruh apabila peserta dari konferensi video masih terhitung sedikit, misalnya kurang dari sepuluh hingga lima belas orang. Akan tetapi, apabila peserta konferensi video sudah melebihi lima belas orang, hal ini akan mulai terasa. Hal kedua yang menjadi pengaruh adalah aspek yang sebelumnya sudah aku bahas, yakni kebebasan atau fleksibilitas. Menurutku, apabila konferensi video ini diikuti oleh banyak orang, kita akan menjadi lebih ketat dalam menjaga sikap dan postur tubuh yang kita perlihatkan lewat kamera. Hal tersebut terjadi karena kita akan merasa lebih malu dan gengsi apabila kedapatan bersikap tidak serius atau tidak pantas oleh banyak orang. Namun, hal itu juga masih dipengaruhi oleh konteks peserta yang berpartisipasi dalam konferensi video tersebut. Misalnya, apabila konferensi video itu hanya antara teman saja, maka kita mungkin akan lebih santai terhadap pandangan teman-teman kita. Akan tetapi, apabila kita melaksanakan konferensi video bersama rekan kerja atau guru, mungkin kita akan lebih ingin memperhatikan gambaran diri yang kita tunjukkan kepada mereka.

Pada akhirnya, keputusan yang kita ambil, baik itu membuka atau menutup kamera kita selama sesi konferensi video, kembali lagi kepada diri sendiri. Orang seperti apa yang ingin kita tunjukkan kepada peserta konferensi video yang lain, di mana kita sedang berada, seberapa besar kepercayaan diri dan fleksibilitas yang kita butuhkan, apa saja kompromi yang harus dilakukan dan apa konsekuensinya, serta banyak lagi pertimbangan lainnya. Menurutku, intinya kita harus mencari keseimbangan antara hal yang kita inginkan dan cara kita mendapatkannya, serta menyadari apa pengaruhnya bagi orang lain. Menurutku, metode terbaik untuk menemukan keputusan yang paling tepat, antara membuka kamera atau tidak pada saat mengikuti konferensi video adalah dengan bereksperimen sambil bersikap mindful terhadap hal yang kita perbuat, serta dampaknya.

Sekali lagi, semua hipotesis yang aku berikan pada tulisan ini merupakan pendapatku semata. Pendapat tersebut didasarkan dari observasi dan pandangan beberapa orang lain. Semoga tulisan ini bisa tetap bermanfaat dan menjadi inspirasi teman-teman, terutama bagi kalian yang memiliki kebingungan antara membuka atau menutup kamera saat melakukan konferensi video. Sampai jumpa lagi di tulisanku berikutnya!

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Votes: 0
Email me when people reply –