Open Cam atau Close Cam? - Farah

Semenjak pandemi bertemu dan bertatap muka secara langsung secara berkala hampir mustahil utuk dilakukan. Cara mengakalinya adalah dengan bertemu secara virtual, setidaknya sama-sama menatap layar untuk berinteraksi. Dengan menggunakan aplikasi seperti zoom meeting, office team, google meet, skype, dan banyak lagi. Berkomunikasi menjadi lebih mudah, karena informasi yang diterima dapat didengar secara langsung, kata-kata yang diucap secara lisan secara alami memang lebih mudah diikuti, dan saat ada yang kurang dipahami, pertanyaan dapat langsung dijawab. Seperti bercakap pada umumnya, lebih fleksibel malah, tanpa ada batasan tempat, kondisi, situasi, dan lain-lain. Apalagi dengan adanya pilihan untuk menutup atau menyalakan kamera, pendengar atau bahkan pembicara dapat beraktivitas dengan bebas di balik layar. Yang penting pesan tersampaikan, tapi apa justru esensi dari diskusi dan bercakap tersebut hilang? Berbicara tanpa tahu respon yang diterima, ekspresi yang dibuat, atau apa yang disampaikan sebetulnya didengar? Jadi lebih baik menyalakan atau mematikan kamera selama diskusi?

Menurut aku pribadi, menyalakan atau mematikan kamera itu tergantung acara dan lawan bicara. Jika contoh kasus aku sedang presentasi atau kelas dengan narasumber, aku akan menyalakan kamera. Tapi jika sedang berbicara tentang progres sehari-hari, atau sekedar berbagi jadwal aku akan mematikan kamera. Jika aku tahu lawan bicara aku di balik layar sudah banyak menyiapkan banyak hal dan terlihat serius di depan kamera, jika wujud aku sedang layak, ya aku akan menyalakan kamera, vice versa. 

Ketentuan menyalakan atau mematikan kamera biasanya sudah diberi tahu diawal pertemuan, dan aku akan mematuhinya. Saat wawancara aku bisa diminta menunjukan wajah saat bicara, atau ketika konsultasi aku justru diminta mematikan kamera untuk mempercepat koneksi, aku akan patuh mengikuti ketentuan. Jika dalam seminar kamera diminta dimatikan karena audiens terlalu banyak, atau kebalikannya dalam kelas kamera sebaiknya menyala agar terasa seperti diskusi dunia nyata; aku akan mengikuti. Menyalakan atau mematikan kamera tidak memberikan aku dampak negatif apapun. Masalah utamanya adalah meminimalisir ruang gerak.

Selama ini aku mendengarkan online class bukan sebagai kelas melainkan sebagai podcast, atau background noise. Aku bisa menyalakan laptop dan menonton video lain, atau scrolling hal-hal menarik di ponsel. Dan saat aku melakukan kegiatan tersebut tampilan aku pasti berantakan dan perih di mata, rasanya tidak sopan (meski melakukan kegiatan lain sudah tidak sopan pada dasarnya). Tapi aku selalu berusaha lebih fokus kedepannya, multi tasking kegiatan yang lebih sederhana dan tidak membutuhkan banyak perhatian. 

Jika aku harus terus menerus menyalakan kamera akan sulit untuk melakukan beberapa kegiatan sekaligus. Dan ini berbeda dengan mendengarkan orang lain bicara secara langsung. Melihat orang berbicara di tempat yang berbeda dengan layar sebagai penghubung pastinya membosankan. Dan untuk duduk diam hanya mendengarkan akan cukup menyiksa. Karena tidak sama dengan duduk diam  mendengar orang berbicara di depan muka. Selain itu aku harus men-setting kamera sebaik mungkin untuk dapat menangkap wajah aku dengan jarak yang proporsional dan aku tidak bisa bergerak dengan mudah karena kamera tidak memiliki jangkauan yang luas. 

Tapi dengan menyalakan kamera tentunya menyenangkan melihat ekspresi yang orang-orang buat, atau melihat-lihat latar belakang lokasi masing-masing. Dan jika kamera dinyalakan seolah ada konfirmasi pasti bahwa orang dari ujung lain fokus mendengarkan, rasanya lebih  dihargai. Tidak seperti bicara sendiri di layar hitam dengan simbol-simbol. 

Untuk meng-konklusi, sebaiknya selalu mengikuti ketentuan penggelar diskusi apa kamera harus dimatikan atau dinyalakan. Kedua , apa orang ini lebih senang jika melihat pendengarnya atau tidak? Terakhir, melihat acara; kadang tidak dispesifikasi secara khusus perihal kamera, tapi jika dalam acara pembicaranya orang yang sulit untuk ditemui dan sudah meluangkan banyak waktu mempersiapkan bahan pertemuan, sebaiknya menjadi pendengar yang baik dan menyalakan kamera, berikan kesan bahwa materi yang mereka siapkan itu open cam–worthy, dan kesulitan dalam mengundang itu terbayarkan. Tapi sebagai pembicara alias penggelar diskusi (?) sebaiknya kamera dinyalakan, karena ya pembicara sudah mengundang pendengar dan menggunakan waktu mereka, jika acaranya kecil, singkat, dan kasual, itu suka-suka saja. 

Sekian!

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Votes: 0
Email me when people reply –