NGAPEBE - TYOGO

NGAPEBE #1 - Membuka pintu tahun 3 

Halo teman-teman, hari ini -tanggal 20 Juli 2020- adalah hari yang entah sebenarnya kutunggu-tunggu atau kuhindari (tapi pastinya aku hadapi dengan semangat), karena hari ini adalah hari pertama kami memulai tahun pembelajaran yang baru (sekaligus terakhir (K12)) di KPB Semi Palar. Hari ini KPB mencetak rekor tersendiri, yakni tiga angkatan KPB berkegiatan bersama-sama, karena tahun ini KPB akhirnya lengkap kelasnya, dari kelas 10 hingga kelas 12. 

Hari ini fokus kegiatan kami adalah berkenalan, yaitu berkenalan dengan teman-teman baru serta juga berkenalan kembali dengan KPB itu sendiri. Awalnya kami melakukan “pemanasan” sejenak dengan menyebutkan nama, hobi, dan hantu favorit (entah, awalnya juga aku tidak ada bayangan maksudnya apa, hahaha) secara bergilir. Setelah itu barulah kami diminta untuk menonton video yang berisi penjelasan kak Leo, kak Jere, dan kak Mel mengenai esensi dari KPB. Video itu bukannya seperti presentasi yang dibawakan secara serius, namun lebih seperti podcast. Dari video itu, aku merasa diingatkan kembali tentang apa itu sebenarnya KPB dan apa yang sebenarnya dituju dari berproses di KPB. Aku kembali sadar bahwa di KPB tujuan utamaku adalah memperdalam minat dan karakter serta men-explore keduanya itu secara lebih luas dan mendalam lagi.

Menurutku, hal yang masih harus aku genjot kuat agar diriku bisa menjadi versi idealnya saat nanti selesai berproses di KPB adalah konsistensi dan pengendalian diri (termasuk pengendalian TICS), yang tujuan akhirnya adalah pendewasaan diri. Selain itu aku juga harus terus menambah dan memperluas wawasan serta relasiku. Targetnya, semua itu bisa aku bangun hingga kokoh di kelas 12 ini, tujuan jangka pendeknya agar bisa menjadi fondasi pada saat nanti menjalani perkuliahan, sementara tujuan jangka panjangnya untuk masa depanku, agar nanti saat aku sudah siap untuk bekerja dan mencari peluang-peluang lain di dunia ini, aku bisa mengerjakan semuanya dengan baik dan akhirnya bisa bermanfaat bagi banyak orang secara positif.

 

NGAPEBE #2 - MEMBUKA DIRI

Hari ini kami mendapat materi mengenai pengenalan diri dari video NGAPEBE pt.2 yang berisi tentang penjelasan kak Leo, kak Mel, dan kak Jere mengenai metode-metode yang berfungsi untuk mengenali diri sendiri, yaitu SWOT, Ikigai, dan Atlas of Emotions. Pengenalan diri ini sendiri tujuannya agar masing-masing dari kami bisa mengetahui apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan kami, baik yang ada di dalam diri sendiri maupun yang berasal dari lingkungan di sekitar.

Metode yang pertama adalah SWOT, yang merupakan singkatan dari Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat. Tabel SWOT ini bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu strength dan weakness yang menganalisis diri sendiri serta opportunity dan threat yang menganalisis lingkungan sekitar. Metode ini cocok untuk digunakan di awal, agar bisa menganalisa kelebihan dan kekurangan yang kita dan lingkungan sekitar miliki. Dari situ, kita bisa menelisik hal-hal apa saja yang masih harus diperkuat dan yang mana yang bisa membantu untuk memperkuat diri. Setelah itu, barulah masuk ke metode selanjutnya, yaitu Ikigai.

Kata Ikigai sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Jepang, 生き甲斐, yang apabila dicacah lagi menjadi 生き, yang dalam bahasa inggris artinya life dan 甲斐, yang artinya to be worthwhile. Cara membuat Ikigai sebenarnya sederhana namun perlu melakukan introspeksi dan analisa yang mendalam terhadap diri sendiri. Ikigai terdiri dari tiga lapisan dan satu titik di tengah yang menandakan tujuan hidup yang pada akhirnya akan tersimpulkan.

Langkah pertama untuk membuat Ikigai, yaitu dengan mengisi lapisan luarnya terlebih dahulu. Ada empat bagian yang harus diisi, masing-masing dari bagian ini diawali dengan pertanyaan singkat, yaitu: apa yang aku sukai, apa yang aku kuasai (kemampuan), apa yang bisa membuatku dibayar, dan apa yang dunia butuhkan. Setelah itu, lalu masuk ke lapisan kedua, yakni irisan dari keempat bagian tadi. Setelah itu, yang terakhir adalah lapisan ketiga, yakni merupakan irisan dari keempat bagian lapisan dua tadi. Namun, dalam lapisan yang ketiga ini, alih-alih diisi dengan hal yang menjadi harapan, kita mencantumkan ancaman negatif yang mungkin akan terjadi saat kita mengerjakan hal-hal yang ideal tersebut (dari masing-masing irisan-irisan tersebut). Setelah itu semua terisi, jadilah Ikigai kita. Ikigai ini biasanya tidak hanya dibuat satu kali atau satu hal saja, kita bisa membuat bermacam-macam versi ideal dari Ikigai ini. Setelah itu, di akhir kita akan menemukan sendiri yang mana alasan hidup (reason for being) yang paling relevan dan cocok untuk kita jalani.

Lalu, hal terakhir yang harus juga diperhatikan adalah Atlas of Emotions. Pada saat kita menjalankan Ikigai, kita harus tetap mengingat dan mengontrol emosi. Emosi terbagi menjadi 5 hal, yaitu fear, sadness, anger, disgust, dan enjoyment. Maka, pengendalian diri pun termasuk bagian yang tidak bisa terpisahkan dari pengenalan diri.

 

NGAPEBE #4 - KOPERASI

Hari ini kami meononton video penjelasan mengenai koperasi serta berdiskusi tentang hal tersebut. Makna dari koperasi sendiri sebenarnya adalah sistemnya, bukan bentuk usahanya. Kata koperasi itu berasal dari kata kooperatif yang artinya bekerja sama. Jadi, tidak seperti perusahaan yang keuntungannya didapatkan hanya oleh segelintir orang pemegang saham perusahaan, namun oleh semua anggotanya. Sistem koperasi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perusahaan pada umumnya, jika dilihat dari segi pelaksanaan sehari-harinya. Hal yang berbeda hanyalah pembagain keuntungan dan mental yang terbangun di dalam perusahaan. Pembagian tugas atau gaji, serta perlakuan antar pekerja di perusahaan yang bersistem koperasi seharusnya lebih adil dan lebih berkemanusiaan, karena mental yang dibangun ialah kooperatif bukannya egois.

Menurutku menjalankan usaha dengan sistem koperasi sangat bermanfaat, baik dalam sisi ekonomi dan juga psikologi seluruh anggotanya. Hal paling menarik dari sistem koperasi bila dijalnkan dengan tepat dan sesuai ialah, orang-orang yang bekerja di dalam perusahaan lebih mementingkan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan individu, baik di dalam perusahaan itu sendiri, maupun dengan mitra-mitra kerjanya, serta perusahaan lain. Sistem koperasi juga sebenarnya sangat cocok untuk diterapkan dalam proses edukasi dan malah sebagian besar sudah diterapkan di dalam KPB sendiri. Hal itu salah satunya bisa dilihat dari perencanaan kegiatan dan pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan tidak semata-mata dibentuk oleh kakak dan murid-murid yang menjalankan, melainkan dibentuk secara bersama-sama dengan saling berdiskusi agar kegiatan dan pembelajaran yang dilaksanakan bisa tepat dan sesuai. Lalu, yang berproses juga bukan semata-mata teman-teman murid KPB saja, namun kakak-kakak juga ikut berpartisipasi di dalamnya. Lalu, yang terakhir adalah hasilnya yang didapat oleh setiap anggota KPB (mulai dari murid, kakak, hingga orang tua). Maka dapat disimpulkan juga bahwa sistem koperasi berdasar pada prinsip dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota.

---

Selain itu, menurutku ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat menjalani sistem koperasi, baik dalam kegiatan sehari-hari ataupun dalam usaha. Hal yang pertama dan paling penting adalah pembagian tugas yang tepat, agar pekerjaan efektif, efisien, dan maksimal. Agar tepat, sebelum pembagian tugas sebaiknya dilakukan pemetaan terlebih dahulu terhadap anggota-anggota, agar teridentifikasi terlebih dahulu siapa yang harus membuat ini dan siapa yang mengerjakan itu. Selain itu manfaat dari pemetaan diri yang lain adalah sebagai pencegahan ketidaksesuaian emosi dan karakter anggota pada saat mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya.

Lalu, yang kedua adalah penentuan proyek serta cara mencapainya (misal membuat makanan: siapa yang membuatnya, alat masak menggunakan apa dan didapat dari mana, pengolahan sampah hasil produskinya bagaimana, kemasan menggunakan apa, bagaimana alur produksinya, siapa yang men-supply bahan produksi, dsb). Hal ini harus didiskusikan secara bersama-sama (mewakili/mencakup seluruh anggota) sambil juga mengandalkan riset akan dampak dari setiap action yang diambil. Setelah itu barulah diputuskan secara bersama langkah mana yang harus diambil.

Terakhir, adalah mengenai pembagian keuntungan atau hasil. Layaknya pembagian tugas, begitupun juga dengan pembagian hasil. Pendistribusian hasil harus dibuat seadil mungkin, salah satunya adalah dengan cara membuat parameter-parameter keberhasilan yang ditentukan dan disepakati secara bersama-sama. Lalu, parameter dan ukuran tersebut bisa digunakan sambil terus diperbaiki dari waktu ke waktu berdasarkan pengalaman yang sudah dialami. Hal itu dilakukan supaya bisa mencakup kebutuhan dan hak dari semua anggota kelompok (atau perusahaan), serta juga membawa keuntungan yang sesuai bagi mitra-mitra yang menjadi partner dalam mengerjakan atau menciptakan proyek yang digarap itu.

Namun, seperti semua hal lainnya koperasi juga pasti memiliki hal atau dampak negatif. Dalam beberapa situasi, penggunaan sistem koperasi dapat memakan waktu yang lebih lama pada saat memutuskan sesuatu, karena harus memperhatikan setiap aspek dan semua anggota dan mitra yang terkait dengan adil dan sesuai. Jadi, apabila dilihat dari segi waktu, hal itu bisa menghambat jumlah atau kecepatan produksi, namun di sisi lain menjadi lebih menyeluruh dan berdampak positif terhadap banyak pihak.

-SEMOGA PENJELASANNYA JELAS, MAAP KALAU ADA YANG PABALIUT ATAU KURANG TERSAMPAIKAN, SEKIAN TERIMAKASIH-

 

NGAPEBE #5 - REMADJA

Menurutku hal-hal yang disampaikan oleh kak Wiwit sangatlah bermanfaat, baik dari sisi kakak, murid, maupun orang tua, karena apabila semua hal itu dimengerti dan diterapkan oleh ketiga pihak (simultaneous), maka perkembangan anak akan berkembang secara tepat dan cepat. Secara pribadi aku tertarik dengan beberapa poin dari pemaparan beliau, karena aku merasa itu sangat relate dengan diriku atau situasiku saat ini.

Yang pertama adalah memiliki teman yang saling mendukung, dengan bentuk dukungan yang benar-benar membuat temannya bertumbuh dengan lebih baik lagi (misalnya mendukung temannya dengan saran dan mendorong temannya hingga bisa konsisten/mandiri/berani/ dsb), maka dengan itu pertemanan ini akan saling berbuah positif di semua pihak. Hal ini sebenarnya pernah diungkit oleh kak Wiwit juga pada saat aku melakukan sesi psikologi dengannya pada kelas 11. Ia mengungkit pertanyaan mengenai apakah teman-teman kelas sudah cukup mendukung aku untuk bertumbuh untuk menjadi lebih baik lagi atau baru dalam tahapan support yang terbatas (tingkatannya tidak sampai pada pemaparan di atas). Ternyata, waktu itu (hingga sekarang juga tampaknya, walau ada beberapa perubahan ke arah dukungan di atas namun belum konsisten/berbobot) teman-teman belum bisa menghadirkan dukungan tersebut kepadaku atau mungkin juga teman-teman lainnya. Menurutku aku belum memiliki teman atau sahabat yang bisa benar-benar sampai pada bentuk dukungan seperti itu, namun aku tetap akan berusaha menghadirkan diriku sebaik-baiknya untuk mereka sambil juga berusaha memperluas koneksi dan relasiku dengan cara mencari dan masuk ke dalam komunitas-komunitas yang aku minati, atau mungkin juga dengan cara mengikuti kompetisi atau forum-forum diskusi (misalnya yang berhubungan terkait: sepeda, fotografi, film/video makinggamerenvironment and societyprogramming, dan lain sebagainya). Aku berharap agar kakak juga membantu aku agar bisa mendapatkan komunitas/jalur yang sesuai dan pas untukku agar cocok dan bisa berkembang secara maksimal. Berhubungan dengan memperluas pertemanan dan relasi, aku memiliki saran untuk mengadakan sesi khusus yang isinya memperdalam dan menggali kebutuhan diri lalu menghubungkannya dengan referensi komunitas yang sesuai dengan minat atau kebutuhan masing-masing anak bersama kakak-kakak.

Poin yang kedua adalah batasan dan rambu-rambu yang jelas dari kakak agar anak-anak bisa mengaturkan dirinya dan menyesuaikan dirinya di dalam proyek, kegiatan, atau relasi lainnya di KPB dengan tepat dan baik. Hal ini menjadi penting dalam pembelajaran remaja karena mereka butuh untuk memiliki referensi akan batasan dan rambu (panduan sebagai checkpoint) saat bekerja dan beraktivitas baik secara pribadi maupun kolaboratif dengan orang lain, termasuk juga dari segi komunikasi. Akan tetapi, hal tersebut sebenarnya yang tidak aku (dan teman-teman) dapatkan di K10 (tahapan awal KPB) dan membuat TICS dan emosiku sangat tidak stabil dan sensitif saat itu, namun lama kelamaan aku bisa belajar dan memahami sedikit demi sedikit dari kegagalan atau ketidaksesuaian yang aku lakukan untuk membentuk rambu dan barrier mengenai pertemanan, komunikasi, proyek, kegiatan, komunitas, dan hal-hal lain selama proses belajarku di KPB.

Yang terakhir adalah mengenai mindset dan idealisme. Hal ini menurutku adalah bagian yang cukup penting pada perkembangan remaja, karena remaja memiliki kecenderungan untuk mengeksplorasi hal baru, namun dalam waktu yang sama galau harus menempatkan dirinya di mana atau ke mana. Hal itu membuat remaja menjadi waktu awal manusia mendapatkan jati diri serta tujuan hidupnya. Maka dari itu, mindset dan idealisme harus terus diatur dan dikalibrasi terus hingga pada akhirnya bertemu pada titik di mana jati diri dan tujuan hidup tersebut sesuai secara penuh dengan batin kita. Hal ini sebenarnya sudah aku sadari dan sedang terus aku usahakan.

Maka, ke depannya aku ingin bisa lebih konsisten dalam bersikap, mengatur emosi dan menempatkan diri —terutama dalam berkomunikasi dengan teman-teman dan orang lain— karena hal-hal tersebut adalah hal utama yang masih menjadi hambatan bagiku dan sangat sulit untuk di resolve dengan cepat karena mungkin dipengaruhi oleh banyak hal baik eksternal maupun internal. Selain itu, aku juga merasa galau dengan kemampuanku dalam minatku —agak lebih menorok ke programming, lalu fotografi, film/video making, namun berlaku juga pada minat-minat yang lainnya seperti olahraga sepeda, menulis, engineering, dsb— karena aku sering merasa yang lain (beberapa, tidak semuanya juga) sudah bisa membuat ini-itu, terjun ke berbagai kelompok dan komuniatas yang menunjang minatnya, lalu bisa berkembang bersama, hingga juga ada yang sudah bisa menghasilkan uang dari minatnya itu. Hal itu seringkali membuatku merasa terpacu, tapi setelah dipacu malah bingung dan mentok (namun kenyataannya bukannya stuck, hanya saja pergerakannya yang lambat/terkadang beberapa waktu mentok, lalu beberapa waktu berikutnya berjalan pesat, seperti roda yang berputar namun tidak beraturan dan sulit untuk diatur) karena berbagai macam hal, mulai dari referensi yang kurang, semangat yang padam, tidak menemukan komunitas/kelompok yang sesuai dan bisa masuk, kemampuan yang kurang (misal problem-solving nya), atau waktu yang terpakai untuk mengerjakan proyek dan kegiatan di KPB. Saat kelas 11 aku juga sempat mengobrol bersama kak Leo mengenai hal ini dan memang menurut kak Leo hal tersebut membutuhkan proses yang lama, tapi aku sudah ada pada jalan yang benar, jadi aku harus sabar sambil terus berjuang dan berusaha untuk memperbaiki diri, menambah ilmu, serta memperkuat keterampilan, karena aku memang memiliki minat di banyak hal maka bergeraknya sedikit demi sedikit namun bersamaan.

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Votes: 0
Email me when people reply –