Kata Kasar dalam Komunikasi - Farah

Dalam percakapan sehari-hari, kita semua memiliki pola tutur kata yang berbeda-beda, ini  dapat dipengaruhi oleh lingkungan, kebiasaan, budaya, emosi, dan lawan bicara. Ketika sudah sampai pada titik di mana masing-masing merasa nyaman untuk ‘mengumpat’ mereka dapat diasumsikan sudah memiliki hubungan yang cukup dekat. Persepsi ini ada karena mengucapkan kata kasar pastinya tidak sopan, dan ketika masing-masing sudah dapat meninggalkan formalitas tersebut (baca: bersikap sopan) berarti keduanya sudah merasa nyaman. Beberapa orang lebih mudah mengucapkan kata kasar dibanding yang lain, karena sudah menjadi kebiasaan atau mungkin sudah merupakan budaya. Kata kasar dianggap hal yang normal.

Aku sendiri pastinya sering menggunakan kata-kata kasar diantara kalimat yang aku ucap, tapi aku tetap membaca ruang untuk penggunaanya. Ironisnya kata yang ‘kasar’ ini justru dapat mencairkan suasana yang kaku, dengan menambahkan nya diakhir kalimat yang terlalu formal atau terlalu serius; kalimat tersebut akan terkesan lebih friendly. Contoh; kalimat “kamu nyebelin,” mungkin terdengar tajam,tapi dengan menambahkan kata “anjir kamu nyebelin,” kalimat tersebut seketika terkesan lebih hangat. Bisa juga digunakan untuk memberikan respon jawaban saat bingung. Seperti saat ada teman yang bilang; “tugasku udah selesai,”  kamu bisa dengan singkat membalas “tai,” atau “sialan.”

Selain menandakan kedekatan dengan seseorang, menurut aku penggunaan kata kasar dalam percakapan sehari-hari juga memberi tahu bagaimana cara seseorang melihat satu sama lain. Sebut saja dengan guru, orang tua, kakak, serta saudara; aku tidak mungkin mengucapkan kata kasar dengan mudah. Bukan karena tidak dekat atau menjaga jarak, tapi karena rasa hormat. Karena ya bagaimanapun juga, kata kasar tetaplah kata kasar. Dan aku bisa merasa dekat dengan seseorang tanpa bantuan menggunakan kata kasar sekalipun. 

Kata kasar sudah menjadi slang dan bahasa wajib sehari-hari, sudah digunakan keluar dari proporsinya, hingga arti dari katanya sudah tidak memiliki makna atau impact yang dimaksudkan. Mulai sekarang aku akan mulai menggunakan kata kasar dengan lebih bijak, bukan karena ingin terlihat lebih sopan, tapi untuk sekedar ‘melestarikan’ kata tersebut sesuai dengan makna yang dimaksudkan. Tapi entah kenapa kata kasar bahasa Indonesia terdengar berkali-kali lipat lebih kasar dari bahasa Inggris. Mungkin karena kata kasar bahasa Inggris lebih sering diucapkan, jadi lebih dinormalisasi hingga tidak terdengar kasar lagi. 

Tapi tentu saja ada kata kasar yang akan selalu terdengar kasar di telinga aku, yang tidak bisa digunakan sebagai pencair suasana. Baik dalam bahasa Indonesia, maupun inggris. Kata-kata cemoohan berhubungan dengan ejekan gender, seksualitas, ras, ‘kelainan,’ agama, dan hierarki. Kategori ini punya satu kesamaan, merendahkan orang lain bukan karena aksi, tapi karena keadaan terlahir mereka, dibuat berdasarkan streotipe dan memandang sebelah mata.  Ada banyak cara menjatuhkan orang lain, tapi jika menggunakan kata cemooh, terdengar murahan, tidak kreatif dan “kampong.” Apalagi menggunakan kata-kata kotor jorok yang tidak enak didengar. Bagaimanapun juga, setajam apapun kata celaan yang dipilih, tidak akan mengalahkan ejekan yang dibuat dengan pilihan kata-kata yang lihai dan cerdik.

 

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Votes: 0
Email me when people reply –