Kata KASAR, baik atau buruk? (tulisan opini)

Halo teman-teman, setelah lama vakum (untuk yang kesekian kalinya), aku ingin kembali menulis dan membagikan lagi cerita kepada kalian. Kali ini aku akan membagikan hasil diskusiku bersama dengan teman-teman sekelas mengenai opini, pandangan, dan argumen terkait dampak kata kasar yang sebenarnya ada pada kehidupan sehari-hari. Diskusi ini awalnya dipicu dari pertanyaan saya,
“Apakah bahasa kasar atau bicara kasar itu sebenarnya buruk atau baik? Apakah itu hanya berupa preferensi gaya saja? Apa pengaruhnya untuk pribadi dan kelompok? Perlu diingat, hasil diskusi yang aku bahas pada tulisan ini bersifat opini, sehingga bersifat sangat subjektif dan tidak bisa ditentukan secara absolut atau pasti kebenarannya.

Oke, jadi berdasarkan dari pertanyaan-pertanyaan itu, kami membicarakan mengenai pandangan dan hipotesis awal kami masing-masing. Aku berhipotesis, bahwa percakapan atau omongan yang seringkali disertai oleh kata kasar mungkin sebenarnya akan membuat orang yang menggunakannya menjadi cenderung lebih sulit dalam mengendalikan dirinya. Menurut aku, pengendalian diri tersebut menjadi terpengaruh karena pada saat kita terbiasa untuk mudah berbicara kasar saat mengobrol, bersenda gurau, atau justru saat marah, maka kita secara tidak sadar tidak menahan perasaan atau keinginan untuk berbicara kasar tadi. Akan tetapi, selain itu aku juga berasumsi, bahwa berbicara kasar sebenarnya dapat meningkatkan keterbukaan atau kepercaya diri, walaupun menurutku, kadarnya tidak begitu besar. Aku menduga bahwa dengan menggunakan kata-kata kasar dalam obrolan sehari-hari, misalnya saat bercakap-cakap dengan kelompok pertemanan, kita bisa jadi makin terbuka dan berani untuk menyatakan pendapat atau perasaan kita, karena terbiasa “berani” saat berbicara kasar, tidak ditahan, atau pun merasa, “Aduh gak enak euy.” Akan tetapi, menurut temanku yang lainnya, pengaruh bicara kasar terhadap keterbukaan atau kepercaya diri tidak terbukti terjadi pada semua orang, karena memiliki teman yang tidak suka berbicara kasar tapi juga terbuka dan berani. Lalu, ada satu lagi manfaat yang menurutku disebabkan oleh berbicara kasar, yaitu sebagai media penyaluran emosi. Hal ini menjadi positif apabila digunakan secara terukur dan tidak malah menjadi kebiasaan.

Selain dampak, dalam diskusi ini kami juga membicarakan tentang tujuan dari digunkannya kata-kata kasar dalam percakapan. Kami semua setuju, bahwa dalam percakapan biasa, kata-kata kasar biasanya sebenarnya digunakan sebagai “bumbu” tambahan agar membuat pertemanan terasa semakin akrab dan seru. Setelah itu, kami juga membuat tingkatan (tier) bahasa kasar menurut kami masing-masing. Pada tingkatan ini, kami semua memiliki kesamaan, yaitu anti terhadap kata kasar yang melibatkan kelamin atau hubungan seksual. Hal tersebut disebabkan karena konteksnya yang sudah terlalu menyimpang dan membuat tidak nyaman. Terakhir, apabila ditanya, “Kesimpuan apa yang bisa diambil dari tulisan ini?” aku tidak bisa memberikan jawaban pasti, karena keadaan kita semua berbeda-beda, sehingga pastinya kesimpulannya akan bersifat personal. Namun, satu hal yang pasti, bahwa kita harus terus merefleksikan diri dan memutuskan, hal mana yang terbaik untuk dilakukan. Bagaimana kalau menurut teman-teman? Tulis di kolom komentar ya, tanggapan, respon, pandangan, atau mungkin argumen yang kalian miliki!

Demikianlah tulisan aku kali ini. Semoga dengan tulisan yang cukup singkat ini, teman-teman tetap bisa mengambil makna dan informasi yang ada di dalamnya. Semoga kita semua bisa menjadi lebih mind-full lagi, terhadap apa yang kita katakan dan dampaknya terhadap orang lain serta juga terhadap karakter kita sendiri. Semoga komunikasi kita bisa menjadi lebih tepat dan berpengaruh positif terhadap diri kita juga. Terima kasih dan sampai jumpa!


Referensi:

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Votes: 0
Email me when people reply –