CRITICAL THINKING

Seorang bisa dinilai bahwa ia memiliki pemikiran yang kritis (critical thinking) atau tidak, melalui beberapa aspek yang termasuk di dalam universal intellectual standard. Namun, untuk mengerti apa itu critical thinking, kita perlu menelisik secara lebih jauh lagi, yaitu kenapa manusia bertanya, kenapa manusia memiliki rasa penasaran dan mempertanyakan hal yang ada di dunia ini, sedangkan hewan-hewan yang lain tidak (bahkan kera dan simpanse yang bisa menguasai bahasa isyarat dan menghitung matematika, tidak/belum pernah terobservasi memberikan pertanyaan (bertanya) apa pun)? Selama melakukan riset, saya tidak (belum) berhasil menemukan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan tersebut, namun tidak berarti kita tidak bisa memahami dan memiliki critical thinking, karena critical thinking tidaklah melulu terkait pertanyaan, tapi ada satu kutub lain yang tidak kalah pentingnya, yakni kemampuan mengolah pernyataan (pengetahuan) yang kita dapatkan dari berbagai sumber.

Berdasarkan hal itu, berarti kemampuan critical thinking secara garis besar bisa dibagi menjadi dua, yaitu kemampuan mengelola pertanyaan yang kritis dan kemampuan mengelola pernyataan atau pengetahuan yang kita miliki untuk menghasilkan suatu inovasi dan akhirnya membawa kita kepada pertanyaan lainnya yang lebih mendalam lagi. Pengertian critical thinking sendiri yang berdasarkan dari https://philosophy.hku.hk/think/critical/ct.php adalah:

Critical thinking is the ability to think clearly and rationally about what to do or what to believe. It includes the ability to engage in reflective and independent thinking.

Maka, apabila dirangkum ke dalam bahasa Indonesia, critical thinking adalah kemampuan untuk berpikir jelas dan rasional. Kata kritis sendiri bila dilihat pada KBBI artinya adalah tajam (tajam = jelas/clear) dalam penganalisisan (penganalisisan = rasional/rational).

Jadi intinya,

Critical thinking adalah kemampuan yang berada di dalam benak kita masing-masing dalam mengolah informasi/ide/keyakinan/dsb dengan tajam dan rasional. Kemampuan ini pada akhirnya akan berpengaruh pada pertanyaan atau pernyataan yang kita keluarkan (baik output-nya dalam berkomunikasi atau untuk diri sendiri) dengan bertujuan akhir untuk menciptakan inovasi dan ide baru.

 versi pengertian saya sendiri

Dari pengertian abstrak tersebut, critical thinking bisa dijabarkan lagi menjadi hal-hal yang lebih mendasar dan riil, yakni dengan universal intellectual standard yang sudah sempat disinggung di atas.

Standar ini merupakan hasil dari penelitian yang dijadikan buku dengan judul Critical thinking oleh Gregory Bassham. Standar tersebut menunjukkan bahwa orang yang disebut dengan intelek atau memiliki critical thinking adalah orang yang menguasai kedelapan aspek yang terdapat di dalam standar tersebut. Aspek-aspek tersebut berupa kejelasan (clarity), ketepatan (accuracy), ketelitian (precision), relevansi (relevance), konsistensi (consistency), logika (logical), kelengkapan (completeness), dan keadilan (fairness).

Aspek yang pertama adalah kejelasan (clarity), maksudnya adalah kejelasan pertanyaan atau pernyataan yang kita keluarkan pada saat berkomunikasi.

Aspek berikutnya adalah ketepatan. Yang dimaksud dengan ketepatan adalah akurasi dari informasi yang kita miliki. Contoh sederahana untuk aspek yang satu ini adalah informasi HOAX atau informasi yang salah ditangkap karena belum mengerti seluruh isinya. Cara untuk melatih ketepatan informasi yang kita gunakan adalah dengan mengupayakan untuk selalu melakukan recheck di internet (simplenya) atau bertanya pada orang yang ahli di bidang tersebut, atau dengan melakukan eksperimen mandiri guna membuktikan informasi tersebut. Aspek yang kedua ini sebenarnya harus dikembangkan dengan hati-hati, karena apabila kita luput, bisa jadi kita bukan hanya tidak mudah untuk langsung mempercayai sesuatu, tapi malah kesulitan untuk mempercayai sesuatu, dan mungkin juga itu keterusan hingga yang terjadi pada diri adalah paranoid. Saya pribadi pernah berada dalam tahapan yang menuju kepada kesulitan untuk mempercayai sesuatu yang ternyata ada di luar prinsip saya dan tidak saya ketahui sebelumnya. Hal tersebut juga menyebabkan saya terkadang merasa bahwa prinsip/informasi/keyakinan yang saya miliki adalah yang paling benar dan menjadi keras kepala serta tidak open-minded (tapi versi menuju ke sananya, tidak se-extreme itu). Namun saya beruntung bisa cepat menyadarinya dan langsung berusaha untuk memperbaiki diri agar tidak menjadi “terlalu” kritis, karena semua hal haruslah seimbang, tidak kurang dan tidak kelebihan yang malah akan membuat value dari critical thinking ini juga menurun dan akhirnya menghilang.

Aspek yang selanjutnya adalah ketelitian. Artinya adalah, informasi yang kita sampaikan terhadap orang lain atau pertanyaan yang kita gaungkan harus diperhatikan informasi yang ada di dalamnya haruslah informatif dan detil. Panduan utama yang bisa membantu dalam melatih ketelitian adalah metode 5W+1H (what, where, who, when, why, how).

Lalu, aspek yang keempat adalah relevansi. Aspek yang satu ini sebenarnya cukup sederhana, yang dibutuhkan untuk menguasainya adalah kemampuan diri untuk mem-filter dan memisahkan emosi, keinginan yang subjektif, dan berbagai hal lainnya yang bisa membuat pemikiran, pertanyaan, atau pernyataan yang kita keluarkan menjadi bias dan tidak objektif.

Berikutnya adalah konsistensi. Yang dimaksud dari konsistensi adalah konsistensi dalam berpikir, bertanya, atau berpendapat. Konsistensi sebenarnya juga dipengaruhi dengan aspek ketelitian, kejelasan, dan relevansi. Kita harus konsisten dalam menyatakan suatu ide/gagasan, contohnya seperti berikut: Tidak diperbolehkan apabila seorang sebelumnya menyatakan bahwa gelombang radio tidak dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh mahluk hidup, tapi selanjutnya ia menyatakan bahwa gelombang radio dapat menembus kulit hingga menyebabkan kanker, karena kedua pernyataan tersebut saling kontradiktif terhadap satu sama lain. Salah satu cara agar kita tidak terjebak pada pernyataan yang tidak konsisten adalah dengan peka terhadap hal yang sedang dibahas (baik oleh orang lain maupun oleh kita sendiri) dan tetap objektif, serta menjelaskan segala hal dengan jelas (tidak ambigu, kata yang digunakan sesuai, dsb).

Aspek selanjutnya adalah logika. Aspek ini sangatlah berhubungan dengan konsistensi. Hal itu dikarenakan untuk mencapai pernyataan yang konsisten, diperlukan logika yang bagus, karena bila semua hal yang kita keluarkan bisa dibuktikan secara logis, pastinya itu menjadi konsisten.

Aspek berikutnya adalah kelengkapan. Yang dimaksudkan oleh kelengkapan adalah kepenuhan informasi. Hal ini sangatlah berkaitan dengan ketelitian. Untuk bisa mencapai informasi yang lengkap, dibutuhkan ketelitian yang baik, agar 5W+1H dari informasi tersebut terpenuhi.

Aspek yang terakhir adalah keadilan. Aspek ini sangatlah berpengaruh dengan aspek relevansi. Sebab, untuk mencapai keadilan, (keadilan yang dimaksud adalah fair not justice) kita butuh untuk relevan dan netral (objektif) dalam menyatakan atau menilai segala bentuk ide/gagasan/pemikiran baik dari diri sendiri maupun orang lain. Jadi, satu-satunya cara untuk adil adalah dengan tetap menempatkan relevansi dalam menyampaikan atau menerima segala macam hal.

 

Sumber:

  1. https://www.youtube.com/watch?v=nsZ8XqHPjI4
  2. https://www.youtube.com/watch?v=aZIuAQw8RA4
  3. https://www.youtube.com/watch?v=u9hauSrihYQ
  4. https://www.edge.org/response-detail/11928
  5. https://philosophy.hku.hk/think/critical/ct.php
  6. http://www.criticalthinking.org/pages/universal-intellectual-standards/527
  7. https://www.linovhr.com/critical-thinking/
  8. https://www.jojonomic.com/blog/critical-thinking/
  9. https://www.zenius.net/blog/2572/cara-pikir-orang-intelektual
  10. https://theelementsofthought.org/the-intellectual-standards/
  11. Pengalaman pribadi

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Votes: 0
Email me when people reply –