Pandemi global COVID-19 tidak hanya merugikan manusia. Satwa, khususnya satwa liar pun ikut terdampak. Baik satwa yang berada dalam rawatan manusia, maupun satwa yang berada dalam kurungan manusia. Kebun binatang tidak mendapatkan penghasilan dari penjualan tiket pengunjung, lembaga konservasi lain seperti Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) tidak mendapatkan pemasukan dari donor dan volunteer yang biasanya dominan berasal dari negara lain (volunteer di PPS harus membayar sejumlah uang untuk kemudian dijadikan biaya operasional) Sudah saatnya manusia melepas pandangan-pandangan antroposentris, karena manusia tidak hidup sendiri dan kehadiran makhluk hidup lain pun krusial bagi ekosistem yang pada ujungnya akan berdampak bagi manusia.

Satwa dalam rawatan serta satwa dalam kurungan, apa sih bedanya? Sebelum mendapat konklusi tentang kurungan maupun rawatan, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang Lembaga Konservasi di Indonesia. Lembaga Konservasi adalah lembaga yang bergerak dalam konservasi tumbuhan atau satwa di luar habitat aslinya (ex-situ). Ada berbagai tipe Lembaga Konservasi (LK) di Indonesia, Jika mengacu pada definisi dari Kementerian Kehutanan, Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.31/Menhut-II/2012 tanggal 24 Juli 2012 tentang Lembaga Konservasi, maka lembaga konservasi dibagi ke dalam dua kelompok berdasarkan bentuk. 

Bentuk pertama yaitu LK untuk Kepentingan Umum. Di dalamnya termasuk Kebun Binatang, Taman Safari, Taman Satwa, Taman Satwa Khusus, serta Museum Zoologi. Bentuk kedua yaitu LK untuk Kepentingan Khusus jenis-jenisnya yaitu Pusat Penyelamatan Satwa (PPS), Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) dan Pusat Latihan Satwa Khusus.

Perbedaan yang terlihat jelas di antara kedua bentuk di atas adalah akses terhadap masyarakat. LK Untuk Kepentingan Umum, sesuai dengan namanya, memang terbuka untuk publik bahkan dijadikan sektor wisata. Sementara ada pembatasan ketat untuk interaksi dengan manusia pada LK untuk Kepentingan Khusus. Satwa yang berada dalam LK bentuk kedua merupakan satwa yang berasal dari sitaan oleh aparat maupun penemuan, dan penyerahan oleh masyarakat. Biasanya satwa korban perdagangan ilegal, maupun satwa yang berkonflik dengan manusia karena habitatnya yang berkurang secara drastis karena ekspansi agraris dan pemukiman masyarakat. LK bentuk kedua khususnya PPS, dan PRS secara general berbasis nirlaba dan tidak selamanya merupakan tempat tinggal permanen untuk satwa. Mereka memiliki komitmen untuk mengembalikan satwa ke habitatnya, namun jika kondisinya sudah tidak memungkinkan (bisa karena kemampuan bertahan hidup satwa yang sudah tidak bisa diasah) mereka juga menyediakan tempat tinggal permanen untuk satwa, namun tetap dalam pembatasan interaksi dengan manusia.

Lantas, bagaimana kondisi berbagai LK pada era physical distancing ini? Karena pada dasarnya Kebun Binatang berbasis profit/keuntungan, mereka  dapat menyiasati situasi dengan menjual tiketnya untuk kemudian bisa dipakai setelah Kebun Binatang kembali dibuka. Cara tersebut telah dilakukan oleh Taman Satwa Taru Jurug (Solo Zoo) Sementara Bandung Zoological Garden telah berhasil mendapatkan dana CSR dari Bank BJB sebesar Rp. 100.000.000. Juga ada inisiatif penggalangan dana yang dilakukan oleh Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) yang dibantu oleh figur publik penggiat satwa liar, Alshad Ahmad. Per tanggal 13 Mei 2020, PKBSI telah berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 1.457.914.080 cukup besar, bukan? Kebun Binatang mendapat keuntungan karena lokasinya yang dekat dengan masyarakat kota, sehingga membuatnya lebih familiar dan relevan untuk dibantu masyarakat kota. Maka kondisinya relatif menguntungkan. Tetapi bagaimana nasib LK lain yang berjuang di lokasi-lokasi yang lebih terpencil?

Sebagai contoh, PPS Cikananga yang terletak di dekat kota Sukabumi telah mengandalkan biaya dari donor dan volunteer internasional. Dalam wawancara saya dengan Arfah Nasution, selaku Research and Administration Officer PPSC, beliau mengatakan bahwa lebih dari 50% pendapatan PPSC berasal dari program Volunteer. PPSC membuka program bagi mahasiswa maupun animal keeper dari negara lain untuk belajar dan membantu PPS Cikananga dengan membayar sejumlah biaya. Biaya yang telah dibayar oleh para volunteer kemudian digunakan untuk kebutuhan pakan dan medis 610 satwa yang sedang dalam perawatannya. Basisnya sejak awal memang nirlaba, independen (tidak memiliki pendonor tetap) dan bukan merupakan sektor wisata, sehingga tidak sembarang orang bisa berkunjung. Ditambah situasi pandemi yang membuat seluruh pendapatan dari donor dan volunteer internasional terhenti seketika.

Merawat satwa bukan perkara mudah. Dibutuhkan biaya yang besar, bayangkan saja seekor macan seberat 50 kg membutuhkan 5 kg daging per hari. Berbagai jenis burung membutuhkan buah-buahan segar yang harus dibeli dari pasar yang lokasinya cukup jauh dari lokasi konservasi.

Ini merupakan sebuah ironi bahwa masyarakat umum kurang terpapar dengan eksistensi PPS yang berjuang di garis depan, beroperasi secara independen dan nirlaba tanpa ada penyokong dana tetap. Padahal LK yang satu ini berfokus untuk merehabilitasi dan mengembalikan satwa ke habitatnya. Sebuah ironi bahwa nasib LK satu dengan yang lain berbeda, dan bisa dibilang relatif timpang. Sebuah ironi bahwa manusia membiayai pengurungan satwa. Sebuah ironi bahwa satwa tidak dapat mencari pakan untuk dirinya sendiri di ekosistem yang prima. Sebuah ironi bahwa setiap satu satwa ditarik dari habitatnya, akan terjadi instabilitas dalam rantai makanan yang perlahan bisa menimbulkan ledakan populasi pada spesies tertentu yang bisa berlanjut kepada kerusakan ekosistem. Sebuah ironi bahwa Macan Tutul Jawa yang kerap ditemukan telah diracun masyarakat sebenarnya berperan penting untuk memangsa babi hutan yang dapat dikatakan sebagai hama sawah. 

Namun, PPSC, dan berbagai LK lain tentu masih memiliki secercah harap. Mulai muncul berbagai cara untuk membantu LK dalam melestarikan satwa Indonesia. Memang LK lain pun memerlukan panggung untuk bisa berbicara, untuk bisa diangkat ceritanya ke dalam media dan menciptakan urgensi yang sudah seharusnya didapat. 

Mulai muncul berbagai inisiatif untuk membawa cerita dari LK lain, salah satunya adalah FOOZ sebuah gerakan nirlaba dan independen yang berusaha mengumpulkan dana untuk PPSC, sebagai PPS paling rentan di wilayah Jawa Barat. FOOZ juga berusaha untuk membangun kesadaran yang lebih bagi masyarakat luas mengenai eksistensi LK yang selama ini jarang terdengar. Cara yang dilakukan adalah melalui kampanye akun instagramnya @fooz_id dan penggalangan dana yang dilakukan melalui platform kitabisa, maupun donasi secara langsung ke nomor rekening yang telah disediakan. Selain itu, FOOZ juga berkolaborasi dengan berbagai brand pakaian maupun makanan untuk membantu penggalangan dana ini dengan cara berbagi komisi dari hasil penjualannya.

Pilihan akan selalu terbuka, dan pilihan ada di tangan kita sebagai masyarakat Indonesia. Memilih untuk peduli, memilih untuk berdonasi, memilih untuk berdonasi untuk siapa, atau malah memilih untuk mementingkan diri sendiri.

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Email me when people reply –

Replies

  • Ternyata buat ini juga tohh.. mantap syan! 

     

    • HAHAHAHA makasih bin udah baca duluan

  • Terima kasih sharingnya Santi... semoga dapat perhatian dari komunitas Semi Palar juga. 

    • Sama-sama kak. Iya, semoga

This reply was deleted.