Mahkota Dewa, Tumbuhan Obat yang Beracun?

Oleh: Wenseslaus Josemari DJ

TOGA, sebuah gabungan kata yang mungkin kita sering dengar. TOGA atau Tanaman Obat keluarga mungkin dikenal oleh para masyarakat Indonesia. Sebenarnya, tumbuhan obat itu sendiri apa sih? Tumbuhan obat adalah tumbuhan yang memiliki khasiat untuk pengobatan. Tumbuhan obat bisa memiliki khasiat bagi manusia dikarenakan adanya senyawa aktif sebagai produk sampingan dari aktivitas metabolisme tumbuhan (metabolit sekunder). Biasanya tumbuhan obat yang senyawa aktifnya tinggi harus dibuat stress terlebih dahulu, sebagai bentuk mekanisme pertahanan terhadap pemangsa atau alelopati . Khasiat dari tumbuhan tersebut menjadi lebih baik, contohnya tumbuhan jahe. Jahe sebenarnya memiliki rasa yang pedas agar tidak dikonsumsi oleh “predator-predator” diluar. Tapi ternyata kandungan dalam jahe bermanfaat bagi manusia.

Pengetahuan TOGA tentunya banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia terutama yang selalu memakai tumbuhan obat tertentu sebagai obat dari generasi ke generasi. Secara tidak sadar, pengetahuan TOGA di masyarakat adalah suatu bentuk budaya. Para peneliti dari pabrik-pabrik besar obat-obatan mendapat informasi tentang tumbuhan obat dan khasiatnya berdasarkan pengetahuan lokal. Para peneliti pergi ke suatu daerah lalu bertanya-tanya dan riset kepada masyarakat. Hal ini adalah cara termudah untuk mencari tahu jawaban. Cara lainnya lebih kompleks, yang pertama adalah mendata semua tumbuhan di satu daerah dan dipilih tanaman yang ingin dipakai, prosesnya bisa memakan waktu lama sekali. Cara yang kedua disebut analisis filogenetik. Tapi cara yang termudah adalah mencari tahu berdasarkan pengetahuan lokal. Masyarakat setiap daerah tentunya mempunyai pengetahuan tentang tumbuhan obat sendiri-sendiri, jadi ada banyak sekali resep yang berbeda-beda di Indonesia. Tumbuhan obat itu sendiri berbeda-beda jenis dan khasiatnya. Oleh sebab itu masyarakat Indonesia pastinya tahu tentang pengetahuannya sendiri yang
turun-menurun.

Kali ini, kita akan membahas tumbuhan obat yang disebut mahkota dewa. Mahkota dewa atau Phaleria macrocarpa adalah pohon berbatang keras, pohon yang bercabang-cabang. Ketinggiannya sekitar 1,5-2,5 meter namun jika dibiarkan bisa mencapai lima meter. Umur pohon ini bisa mencapai puluhan

tahun dan tingkat produktivitasnya mampu dipertahankan sampai usia 10-20 tahun. Pohon mahkota dewa memiliki batang dengan kulit kayu kehijauan dan putih. Bunga mahkota dewa terdiri dari dua hingga empat kelopak, warnanya dari hijau hingga ada yang merah marun. Buah mahkota dewa memiliki bentuk bulat berwarna hijau saat mentah dan akan berubah warna merah saat sudah
matang.

Mahkota dewa adalah tanaman obat dari Indonesia yang merupakan endemik di Pulau Papua. Tetapi, entah bagaimana caranya, tanaman ini masuk ke Keraton Mangkunegaran di Solo dan Keraton Yogyakarta. Di kedua tempat itu, mahkota dewa dikenal sebagai tanaman obat. Dahulu hanya kedua keraton tersebut yang mengenal khasiat mahkota dewa untuk keperluan pengobatan. Lama-lama, berita tentang khasiat ini menyebar ke luar keraton. Berbagai jenis penyakit dari penyakit ringan sampai yang berat bisa disembuhkan dengan buah dari pohon ini. Dalam cerita wayang purwa, pohon ini sangat dikeramatkan. Pohon yang sangat dihormati, sampai yang ingin memetik buahnya harus menyembahnya terlebih dahulu. Para prajurit yang akan pergi bertempur juga harus memakan buahnya agar sehat, kuat dan dipercaya bisa selamat.

Khasiat dari mahkota dewa untuk kesehatan tubuh sangatlah banyak. Dari mengurangkan rasa sakit kepala, mengobati flu dan batuk, menurunkan risiko penyakit kanker dan tumor, sebagai antivirus dan antibakteri, menurunkan kolesterol, menjaga kesehatan pembuluh darah, mencegah penyakit jantung, mengobati stroke, menurunkan gejala alergi, mengatasi gatal pada kulit, mengobati gejala asam urat, mengontrol kadar gula darah, meningkatkan metabolisme tubuh, meningkatkan sistem imunitas, mencegah hipertensi/tekanan darah tinggi, mengobati berbagai gangguan kulit seperti bisul, eksim dan jerawat dan mencegah penyakit liver, jika dilihat khasiatnya sangat banyak. Selama ini, pembuktian yang ada sebagian besar masih bersifat empiris, pembuktian yang berdasarkan pada pengalaman pengguna. Literatur yang membahasnya juga tidak banyak. Dalam literatur kuno juga, keterangan mahkota dewa terbatas, hanya kegunaan biji buah yang bermanfaat sebagai bahan baku obat luar.

Dari penelitian ilmiah yang tidak banyak, diketahui mahkota dewa memiliki kandungan kimia yang banyak dan kaya, itu juga belum semuanya terungkap. Dalam daun dan kulit buahnya terkandung alkaloid, saponin dan flavonoid. Selain itu, di dalam daunnya juga terkandung polifenol. Terdapat seorang ahli farmakologi dari Fakultas Kedokteran UGM, dr Regina Sumastuti berhasil membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung zat antihistamin. Zat ini berupa penangkal alergi, jadi dari sudut pandang ilmiah, mahkota dewa bisa menyembuhkan aneka penyakit alergi yang

disebabkan histamin seperti gatal-gatal, selesma dan sesak napas. Dibuktikan juga bahwa mahkota dewa mampu berperan seperti oxytocin dan sintosinon yang bisa memacu kerja otot rahim sehingga persalinan bisa berlangsung lebih lancar. Selain itu, Dra. Vivi Lisdawati, MSI. Apt. menemukan kalau mahkota dewa juga mengandung senyawa yang bisa menghambat pertumbuhan sel hela(kanker rahim). Selain itu juga, ekstrak tanaman ini memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan sel leukemia sampai 50%. Juga tumbuhan ini memiliki potensi antioksidan dan antikanker dari ekstrak daging buah mahkota dewa.

Walaupun mahkota dewa kaya akan kandungan kimia, bukan berarti mahkota dewa bisa dikonsumsi secara langsung. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memakainya. Jika pemakaiannya sebagai obat, sangat berbahaya untuk memakan buah mahkota dewa mentah-mentah. Akibatnya bisa cukup serius, pernah ada yang mencoba memakan buahnya langsung, hasilnya orang itu langsung mabuk. Ada yang menelan bijinya mentah-mentah serta hasilnya lebih parah. Ia merasakan tubuhnya sangat panas seperti terbakar dan buang air terus-menerus. Tetapi setelah tidur, keesokan harinya tubuhnya terasa sangat segar dan sehat. Tapi, ada orang-orang tertentu yang merasa tidak ada masalah saat mengkonsumsi mahkota dewa mentah-mentah. Untuk ibu-ibu yang hamil muda tidak boleh mengkonsumsi mahkota dewa, karena kemampuan mahkota dewa yang bisa meningkatkan kontraksi otot rahim sangat berbahaya bagi kondisi kehamilan.

Efek yang biasanya muncul setelah mengkonsumsi mahkota dewa adalah merasa ngantuk. Efek ini normal, efek yang lain adalah mabuk dan untuk menghilangkan efek ini adalah banyak minum air putih. Dosis mahkota dewa juga harus dikurangi jika anda meminumnya lagi, jika mabuk lagi, jangan mengkonsumsinya lagi untuk sementara. Untuk penyakit-penyakit dalam dan sangat serius, seperti kanker rahim, setelah mengkonsumsi mahkota dewa badan bisa panas dingin dan kadang-kadang mengeluarkan gumpalan darah yang berbau busuk, dan gumpalan darah ini bisa berukuran
sebesar bola kasti. Tetapi hal ini adalah proses pembersihan penyakit. Uniknya, menurut seorang peneliti, tanaman yang beracun biasanya sangat bagus untuk menanggulangi tumor dan kanker ganas. Sama seperti ular kobra yang terkenal sangat mematikan, tetapi empedunya sangat bagus untuk pengobatan.

Tapi sebenarnya cara yang benar untuk menggunakannya seperti apa? Dari buahnya sendiri, buah mahkota dewa sering dikonsumsi sebagai teh, cara membuat teh ini dimulai dari mengiris tipis buah tersebut. Tetapi jangan lupa membuang bijinya karena biji ini adalah bagian yang paling racun. Lalu keringkan buah mahkota dewa yang telah diiris dan dimasukan ke suatu wadah, lalu jemur di tempat

yang teduh. Jika sudah kering, ambil tiga irisan buah mahkota dewa ke air panas secukupnya dan diamkan sekitar lima menit. Lalu air seduhan buah mahkota dewa siap diminum dalam keadaan hangat. Selain untuk teh, daun mahkota dewa juga bisa digunakan, daun mahkota dewa digunakan sebagai salep dan masker. Cara menggunakannya, dari menghaluskan daun mahkota dewa dengan cara menumbuk atau diblender hingga benar-benar halus. Kemudian, langsung balurkan ke kulit. Daun yang sudah dihaluskan ini juga terkenal untuk mengobati eksim dan jamur. Selain daun dan buahnya, batang dari mahkota dewa itu sendiri bisa bermanfaat. Mengkonsumsi air rebusan batang tumbuhan buah mahkota dewa dipercaya bisa mengobati kanker, termasuk kanker tulang. Cara mengolahnya, hanya perlu mengambil kulit dari batang tersebut, cuci bersih lalu keringkan dan direbus.

Pohon mahkota dewa tumbuh besar dalam jangka waktu bertahun-tahun. Tetapi kalau ingin menanam dari benihnya, caranya seperti ini. Dari awal proses penyemaian(proses benih jadi bibit), siapkan wadah penyemaian dan bagian bawahnya harus diberi lubang secukupnya untuk sirkulasi air. Sehari sebelum menaruh benih, isi wadah dengan tanah(pasir/sekam) : kompos=1:1:1. Lalu masukan biji mahkota dewa dengan kedalaman 0.8-1,2 cm dan ketebalan tanah yang menutupi biji 0.8-12 cm juga. Setelah itu airkan dengan spray ke tanah lalu tutup dengan tutupnya jika ada atau pakai plastic wrap dan beri 2-6 lubang yang tidak terlalu besar, taruh wadah di tempat yang teduh. Jika kering,
semprot dengan air sampai lembab tetapi setelahnya tutup lagi. Saat biji sudah berkecambah, buka plastiknya dan pindahkan wadah ke tempat yang terang, jaga tanahnya agar tidak kering dalam waktu 12-19 hari. Proses persemaian diakhiri setelah memiliki 2-5 daun.

Setelah proses penyemaian ini selesai, proses penanaman bibit dilakukan seperti ini. Siapkan tempat menanam seperti pot besar yang memiliki lubang di bagian bawahnya, masukan batu-batu kecil agar lubang tidak tersumbat tanah. Sehari sebelum menanam, isi pot dengan tanah hingga 3/4nya, komposisi tanahnya adalah pasir/sekam : kompos=2 : 1 : 1. Pindahkan ke pot/drum, ambil bibit dan tanah di sekitarnya lalu masukan ke lubang yang sudah dibuat dengan posisi tegak, tambahkan tanah di sekitarnya. Letakan pot di bawah tempat yang teduh, setelah tumbuh daun baru, letakan pot di
tempat yang lebih terang. Untuk merawatnya, Jika kondisi tanah lebih sering kering, siram 2 kali sehari pagi dan sore. Jika kondisi tanah lebih sering lembab, siram 1 kali sehari pagi atau sore. Untuk pemupukan, lakukan sesuai petunjuk di kemasan pupuk. Lakukan penyulaman jika bibit tumbuh tidak sempurna atau rusak, kalau tumbuh gulma/tumbuhan lain bersihkan dan jika tanah disekitar tanaman tergerus, tambahkan tanah. Jika terserang hama atau terserah penyakit, berilah obat.

Pemakaian obat sudah biasa bagi manusia untuk dikonsumsi, tetapi ada obat tradisional dan juga obat modern. Obat modern ini biasanya yang berbentuk pil. Sedangkan obat tradisional biasanya berbentuk jamu. Beberapa obat-obatan modern ada efek sampingnya yang bisa berbahaya. Jadi jika dilihat, rata-rata masyarakat Indonesia, banyak yang lebih percaya pada obat-obatan tradisional. Tapi sebenarnya obat modern juga tidak apa-apa kalau dipakai sesuai dan tidak berlebihan. Tetapi untuk obat tradisional yang seperti jamu, tidak terstandarisasi sebagai obat, tidak seperti obat yang modern.

Sebaiknya, setiap keluarga mempunyai sedikitnya 1-2 tanaman obat yang bisa dipakai, bisa saja terpakai di masa yang akan datang. Selain itu, bagi anda yang mempunyai pohon mahkota dewa atau ingin menanam, semoga informasi yang kuberikan bisa bermanfaat bagi anda. Dan selalu diingat, hati-hati dengan racun yang tersimpan di pohon mahkota dewa ini, terutama pada bijinya. Kalau ada masalah yang cukup fatal, harap hubungi rumah sakit terdekat. Berhati-hatilah dan tetap sehat!

Sumber:
https://hot.liputan6.com/read/4212638/12-manfaat-daun-mahkota-dewa-untuk-kesehatan-
perhatikan-cara-konsumsinya
https://www.bola.com/ragam/read/4137744/20-manfaat-buah-mahkota-dewa-untuk-tubuh-ketahui-
cara-mengolahnya
https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=3UqqCgAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR2&dq=mahkota
+dewa&ots=6F8eMSiqQA&sig=fzDdTfEDeQcBuICm6xlFA-
gclF0&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false
http://www.andrafarm.com/_andra.php?_i=0-tanaman-
kelompok&topik=menanam&kelompok=Mahkota%20Dewa 
Pak Angga, Dosen di ITB

Wenseslaus Josemari De Jesu