Musik Sore: Sebuah Kearifan Lokal yang Menutup Kisah Sekolah   

 

Penulis: Ezekiel Xanders Manik

 

 

Pada dasarnya sebuah kearifan lokal merupakan sebuah gagasan dari sebuah kelompok masyarakat tertentu, yang mengandung nilai baik, dan diturun-temurunkan secara lisan agar menjaga hubungan antar manusia dan juga alam sendiri. Kearifan lokal terdengar seperti kebiasaan yang dilakukan dalam sebuah budaya perkampungan atau pedesaan. Karena kebanyakan dari kita pasti membayangkan bahwa kearifan lokal selalu bersikap lokal. Walau memang itu benar, namun sekarang kearifan lokal sudah banyak ditemukan di luar perkampungan/pedesaan saja. Karena semua kebiasaan yang memenuhi definisi  di atas (atau setidaknya mengandung makna baik) dapat disebut sebagai sebuah kearifan lokal. Kearifan lokal dapat ditemukan di sekitar kita, mau itu dalam keluarga, sebuah kelompok organisasi, setau bahkan sekolah. Dengan begitu saya akan melanjutkan topik pembicaraan ini menuju kearifan lokal yang ada pada sekolah tercinta kita, Semi Palar.

 

Rumah Belajar Semi Palar merupakan salah satu sekolah terunik dengan sistem pembelajaran yang sangat berbeda dari kebanyakan sekolah lain. Karena di Smipa materi bukanlah yang terpenting, namun karakterlah yang penting. Dengan begitu seluruh sistem pembelajaran dan kegiatan di Smipa dibuat khusus untuk membangun karakter para murid-muridnya Walau begitu kami masih tetap diajarkan tentang materi biasa Dari situlah muncul kearifan-kearifan lokal pada Smipa. Seperti memanggil guru dengan sebutan Kakak, hari rumput, Jabawaskita, leukas dan masih banyak lagi. Semua gagasan-gagasan ini dapat disebut sebagai kearifan lokal, karena yang pasti semuanya bertujuan baik.

 

Sekarang saya pun akan menceritakan tentang salah satu kearifan lokal milik Smipa. Kearifan lokal ini berbentuk sebuah acara, yang hanya diadakan sekali setiap satu semester. Acara di mana seluruh masyarakat Smipa dapat berkumpul untuk berbaur, atau juga untuk menunjukan keterampilan mereka dalam berseni. Acara yang sangat meriah dan besar hingga selalu ditunggu-tunggu oleh semua masyarakat Smipa. Sebuah acara penghujung akhir yang bisa dibilang menutup kegiatan sekolah pada satu semester itu sebelum akhirnya libur.

Acara itu tentu saja adalah Musik Sore.

 

Musik Sore, sama seperti namanya berarti sebuah acara bermusik pada sore hari. Walaupun sekarang sudah tak hanya musik yang dapat dipentaskan saja, namun saya akan masuk ke topik itu nanti. Pertama-tama sejarah dari Musik Sore. Bagi yang belum tahu Musik Sore awalnya hanyalah kegiatan iseng-iseng yang dibuat Kakak-Kakak. Jadi dulu Kakak-Kakak akan berkumpul di Teater setiap hari Jumat setelah beres Jumatan. Di sana Kakak-Kakak akan menyanyikan lagu-lagu bertema anak-anak. Tujuannya agar Kakak-Kakak memiliki bahan saat nanti berkegiatan di kelas masing-masing. Tak lama dari kebiasaan ini, datang sebuah usulan untuk mencoba mengaplikasikan kegiatan ini kepada murid-murid. Dari situlah Musik Sore pertama diadakan. Masih sebuah acara yang sifatnya biasa, belum ada pementasan, hiasan meriah atau acara kelulusan. Hanya bermusik di sore hari, karena memang dari awal tujuan Musik Sore adalah kebersamaan.

 

Dari situ pun Musik Sore terus diadakan setiap akhir semester dan setiap tahun pasti terus meningkat keseruannya. Perubahan Musik Sore yang cukup drastis mulai terlihat semenjak angkatan pertama lulus SMP yang disusul dengan terbentuknya OSIS Smipa. Semenjak itu acara Musik Sore mulai diurus oleh anggota OSIS. Membuat tema Musik Sore menjadi semakin kekinian, karena kebanyakan dari idenya berasal dari anak-anak OSIS. Walau begitu tentu saja pembuatan  Musik Sore masih dibantu seluruh masyarakat Smipa.

 

Musik Sore yang kita kenal pun muncul. Sebuah tempat berkumpul tak hanya untuk merekatkan kebersamaan kita saja. Namun menjadi tempat melatih keberanian teman-teman Smipa menampilkan kelebihannya, yang juga membuat para penonton menjadi terhibur dengan rasa girang, tempat dimana banyak kenang-kenangan akan terbentuk, serta yang terpenting sebuah acara penghujung klimaks terbaik, yang dapat menutup semua kisah kita selama bersekolah satu semester terakhir.

 

Pada akhirnya menurut saya Musik Sore merupakan salah satu bentuk kearifan lokal Smipa yang berhak dipertahankan. Sudah jelas Musik Sore itu bukanlah sekedar pesta atau acara perayaan biasa seperti pensi pada sekolah-sekolah lain. Namun sebuah tempat dimana kita masyarakat Smipa berkumpul, untuk berbaur, menonton sebuah pementasan, melakukan sebuah pementasan, makan-makan bersama dan membuat memori bersama. Dimana kebersamaan kita sangat besar, membuat semua orang yang berkumpul menjadi sebuah keluarga besar Semi Palar.