Kenop, Menghias dan Berkhasiat

Oleh: Putu Kirana Chandra Kasih

 

Saat ini, tanaman obat masih banyak digunakan di kalangan masyarakat. Tanaman obat sendiri berarti tanaman yang berkhasiat untuk pengobatan yang memiliki senyawa aktif sebagai produk sampingan dari aktivitas metabolisme tumbuhan. Senyawa aktif tersebut digunakan tanaman sebagai bentuk pertahanan terhadap lingkungan sekitar yang bisa mengancam hidupnya. Hal ini disebut metabolit sekunder. Secara keseluruhan, hampir semua tanaman obat memiliki metabolit sekunder. Tidak ada minimal atau kriteria kandungan yang harus dimiliki oleh suatu tanaman berkhasiat agar dapat disebut tanaman obat. Selama diakui masyarakat dan ada bukti studinya, maka tanaman tersebut dapat disebut tanaman obat. Hal yang menarik adalah sebagian besar tanaman obat berasal dari pengetahuan tradisional. Pengetahuan tradisional mengenai tanaman obat merupakan hal yang sangat berharga, karena merupakan pengetahuan yang diturunkan dari zaman dahulu. Dan pada zaman dahulu, belum ada teknologi yang canggih seperti saat ini untuk mengetahui bahan atau senyawa yang terkandung dalam suatu tanaman. Sehingga untuk mengetahui khasiat suatu tanaman, dipertaruhkan nyawa. Karena saat itu, mereka mengambil tanaman dan langsung mencobanya untuk mengetahui efeknya pada tubuh. Tanaman yang didapat bisa jadi memang berkhasiat, atau bisa juga beracun. 

Penggunaan tumbuhan obat juga sudah ada yang dijadikan bahan dari obat modern. Sebagian besar obat-obatan modern bersumber dari tanaman obat. Namun, tanaman obat yang dijadikan obat modern perlu melewati empat tahap sebelum akhirnya bisa digunakan. Mulai dari pengoleksian serta identifikasi tanaman yang akan digunakan, hingga proses screening, pengembahangan, dan komersialisasi. Tanaman obat juga ada yang digunakan dengan cara dijadikan herbal. Minuman herbal pun saat ini sudah ada yang dipatenkan, seperti herbal yang biasanya diminum ketika masuk angin yang telah dibungkus dan bisa langsung diminum sehingga memudahkan kita. Beberapa contoh dari tanaman obat adalah jahe, sereh, kayu manis, adas, mint, kumis kucing, kayu secang, dan bunga kenop. Kali ini, saya akan membahas tentang bunga kenop. Kenapa? Karena mungkin sebagian besar orang lebih mengenalnya sebagai tanaman hias, padahal dapat digunakan sebagai tanaman obat karena memiliki berbagai khasiat yang dapat membantu proses penyembuhan penyakit tertentu.

Bunga kenop atau Gomphrena globosa merupakan tanaman hias yang juga termasuk dalam kategori tanaman obat. Tanaman ini juga sering kali disebut bunga kancing atau di Jawa disebut dengan nama kembang gundul. Bunga ini disebut juga bunga kancing dikarenakan bentuknya yang menyerupai kancing pada pakaian wanita. Tanaman ini tumbuh tegak dengan tinggi sekitar 20 cm hingga 60 cm. Seluruh bagian tanamannya diselimuti bulu-bulu yang halus. Bunganya berbentuk bulat dan ada yang berwarna ungu tua, putih, atau merah muda. Bunganya tunggak dan keluar dari ujung tangkainya. Batangnya ada yang berwarna hijau kemerahan dan ada yang hijau kekuningan. Daunnya berbentuk bulat telur sungsang dengan ujung yang meruncing. Bagian permukaan dari daunnya berambut kasar sedangkan bagian bawahnya berambut lebih halus dibanding permukaannya.

Bunga ini pada awalnya berasal dari Guatemala dan Panama di Amerika Tengah. Namun sekarang sudah menyebar ke seluruh dunia hingga ke Indonesia juga. Bagaimana perjalanannya hingga bisa sampai ke Indonesia masih belum jelas. Biasanya tanaman ini dijadikan tanaman hias bagi orang-orang atau ditanam di pekarangan rumah, tetapi dapat tumbuh liar di ladang asalkan mendapat cukup sinar matahari. Bunga Kenop dapat ditemukan di ketinggian 1 - 1.400 m dpl. Salah satu fakta menarik dari tanaman ini adalah di Hawai, bunganya yang sudah kering akan dijadikan kalung. Di India dan Bali juga seringkali digunakan untuk bahan beribadah. 

Walaupun seringkali dijadikan tanaman hias, ternyata bunga kenop memiliki berbagai khasiat bagi tubuh. Bagian yang digunakan adalah bunga maupun seluruh bagian tanaman. Bisa dalam keadaan segar maupun sudah dikeringkan. Bunga kenop ketika diolah dapat digunakan untuk obat dalam yaitu dikonsumsi ataupun obat luar seperti untuk luka luar. Rasanya manis dan bersifat netral. Kandungan kimia yang terkandung dalam bunga kenop adalah Gomphrenin I, II, III, V, VI, dan amarathin. Tanaman ini berkhasiat sebagai obat batuk, obat sesak, peluruh dahak, dan obat radang mata. Kandungan minyak atsiri, flavon dan saponin memiliki khasiat untuk meluruhkan dahak. Kandungan senyawa yang terkandung dalam tanaman ini dapat memberikan manfaat baik bagi tubuh termasuk menjadi antioksidan, anti bakteri, dan anti jamur. 

8255908658?profile=RESIZE_400x

Bunga Kenop memiliki berbagai cara untuk diolah menjadi obat. Untuk obat minum, rebus 9-15 g bunga segar atau 3-9 g bunga kering dengan air secukupnya. Kemudian airnya diminum. Untuk obat luar, cuci seluruh bagian tanaman yang segar. Setelah dicuci hingga bersih, digiling atau dihancurkan hingga halus. Jika sudah digiling atau dihancurkan hingga halus, usapkan ke bagian tubuh yang sakit. Misalnya bengkak atau memar akibat terbentur benda yang keras. Tanaman segar yang direbus airnya juga dapat digunakan untuk mencuci luka yang telah mengering. Daun bunga kenop juga bisa dikonsumsi sebagai sayuran. Daunnya biasanya digunakan dalam ramuan penambah nafsu makan, disentri, obat sesak napas, serta mengatasi penyakit prostat. 

Walaupun begitu, beberapa penyakit yang bisa disembuhkan dengan bunga kenop membutuhkan bahan tambahan atau resep khusus. Seperti untuk asma, direbus 10 kuntum bunga kenop dalam tiga gelas air hingga tersisa satu gelas air saja. Kemudian ditambahkan arak kuning sebanyak satu sloki dan diminum tiga kali sehari sebanyak ⅓ gelas. Ramuan lainnya adalah direbusnya 10 kuntum bunga dan sepuluh gram jahe dalam 400 ml air. Rebus hingga tersisa 200 ml atau setengahnya dan diminum ketika masih hangat. Untuk disentri ada tiga resep yang dapat dipilih. Untuk yang pertama, rebus 10 kuntum bunga segar dalam 100 ml arak kuning selama 15 menit atau kira-kira hingga mendidih. Ketika sudah dingin, rebusan disaring dan diminum sekaligus. Resep yang kedua, rebus 10 kuntum bunga kenop segar dan 30 gram krokot segar dalam air secukupnya. Kemudian disaring dan diminum secara rutin tiga kali sehari. Resep yang terakhir adalah 10 kuntum bunga kenop dan 30 gram patikan kebo direbus dalam 500 ml air hingga tersisa setengahnya atau 250 ml. Kemudian disaring dan diminum ketika sudah dingin. Salah satu yang menarik adalah untuk bronkitis kronis, disuntikan ramuan obat suntuk bunga kenop pada beberapa titik akupuntur. Tapi sekitar 10% penderita yang mendapatkan suntikan ini merasakan rasa kering di tenggorokan walaupun hanya sementara. Serta masih ada lagi beberapa resep khusus untuk penyakit atau gangguan seperti buang air kecil kurang lancar, demam pada anak karena gangguan hati, migren, penglihatan kurang tajam dan terang, perut kembung pada anak-anak, dan masih banyak lagi. 

Namun, ada beberapa larangan, aturan, atau himbauan untuk dikonsumsinya bunga kenop agar tetap berdampak baik bagi tubuh kita. Tentunya akan sayang jika kita mengkonsumsi tanaman obat untuk maksud yang baik, tapi malah berdampak buruk dan merugikan diri sendiri. Bunga kenop juga bermanfaat untuk menurunkan kadar gula secara signifikan. Hal ini bisa berdampak buruk bagi orang yang memiliki kadar gula rendah. Hal ini dapat menyebabkan reaksi hipoglikemia yaitu kadar gula yang terlalu rendah. Bagi yang alergi terhadap serbuk bunga, bunga kenop dapat menyebabkan kambuhnya alergi tersebut. Hal ini ditunjukan dengan terjadinya gatal-gatal di kulit atau adanya ruam. Terakhir, jika bunga kenop dikonsumsi dengan jumlah yang berlebih (melebihi 200 mg/kg berat badan) dapat memunculkan reaksi keracunan akibat kandungan asam yang dimilikinya. Keracunan ini ditandai dengan terjadinya kram perut dan diare. 

Dengan mengetahui khasiatnya, tidak ada salahnya kita membudidayakan bunga kenop. Karena dengan membudidayakannya, kita dapat menggunakannya untuk diri sendiri, keluarga, teman, serta bisa juga menjadi tanaman hias dan tentunya membantu dalam menjaga populasi bunga kenop. Bunga ini dapat dibudidayakan dengan biji. Dari bunga yang masih basah maupun kering, kita bisa menemukan biji yang bisa ditanam kembali. Cara menanam bunga kenop tidak jauh berbeda dengan cara menanam tanaman lainnya. Awalnya dilakukan proses penyemaian. Penyemaian adalah kegiatan memproses benih hingga menjadi bibit. Kemudian, ketika tanaman ini sudah tumbuh setinggi kurang lebih 5-7 cm, maka tanaman bisa dipindahkan ke tempat yang lebih luas. Misalnya pot yang ukurannya besar atau lahan. Setelah 2-3 bulan dari waktu disemai, bunga akan mulai mekar. Waktu mekarnya pun terhitung cukup panjang, jadi tidak hanya beberapa hari saja. Untuk bunga kenop, tidak dibutuhkan perlakuan khusus. Namun, pastikan terkena matahari yang cukup karena pada dasarnya, bunga kenop bisa tumbuh liar asalkan tempatnya memiliki matahari yang cukup. Tentunya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan yang perlakuan tidak jauh berbeda dengan ke tanaman pada umumnya. Seperti menyiramnya dengan tidak sedikit maupun berlebih, hindari dari hama berupa hewan maupun tanaman liar, potong atau cabut bagian yang layu dan mati, serta berikan pupuk atau bahan lain yang bisa membuat tanah dan tanaman tetap sehat. 

Jadi, bunga kenop baik dikonsumsi untuk menyembuhkan beberapa penyakit secara perlahan. Khasiatnya juga banyak, mulai dari menyembuhkan penyakit pernapasan, pencernaan, demam, hingga diabetes. Diabetes juga merupakan salah satu penyakit yang cukup banyak diderita orang-orang. Tentunya, tetap dikonsumsi sesuai dosis serta aturannya sehingga berdampak baik pada tubuh. Namun, mengkonsumsi tanaman obat lainnya juga bermanfaat bagi kita. Saat ini memang jika pergi ke dokter banyak diberikan obat-obatan kimia. Dampaknya juga cepat pada tubuh, sehingga lebih cepat menyembuhkan penyakit. Namun efek sampingnya, karena bahannya yang keras membuat kerja hati menjadi lebih kuat sehingga bisa berdampak buruk juga. Oleh sebab itu, banyak orang yang lebih memilih menggunakan tanaman obat atau herbal agar tidak merusak atau menimbulkan penyakit lain. Walaupun efek positifnya berjalan secara perlahan dan membutuhkan waktu yang panjang, tanaman obat lebih mudah dicerna oleh tubuh, tidak mengalami banyak proses kimia, serta lebih sehat. Dan pada dasarnya, nenek moyang kita juga membuat obat dari bahan organik yaitu tanaman obat. Oleh sebab itu, yuk kita konsumsi tanaman obat untuk menguatkan imunitas tubuh maupun menjauhkan tubuh dari berbagai penyakit ringat maupun mematikan. Pertimbangkan juga untuk menggunakan tanaman obat dibandingkan obat kimia.


Daftar Pustaka:

idnMedis. Bunga Kenop: Manfaat – Efek Samping dan Cara Penggunaan. https://idnmedis.com/bunga-kenop (diakses tanggal 5 November 2020)

Tawalapi, Ade Surya. 2018. Penyemaian. https://sayurankita.com/2018/10/29/penyemaian/ (diakses tanggal 5 November 2020)

Dalimartha, Setiawan. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. Jakarta: Trubus Agriwidya

Wijayakusuma, Hembing. 2000. Ensiklopedia Milenium Tumbuhan Berkhasian Obat Indonesia. Jakarta: PT Prestasi Insan Indonesia

Hariana, Arief. 2013. 262 Tumbuhan Obat & Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya

Megumi, Sarah R. 2019. Bunga Kenop, Tidak Hanya Cantik Tapi Juga Berkhasiat Obat. https://www.greeners.co/flora-fauna/bunga-kenop-tidak-hanya-cantik-tapi-juga-berkhasiat-obat/ (diakses tanggal 5 November 2020)

Toemon, Slyvana. 2017. Bunga Kancing, Bunga Bulat Beraneka Nama. https://bobo.grid.id/read/08673545/bunga-kancing-bunga-bulat-beraneka-nama?page=all (diakses tanggal 5 November 2020)

 

Ilustrasi:

Bibit Bunga. Cara Menanam dan Merawan Bunga Kancing (Gomphera). https://bibitbunga.com/cara-menanam-dan-merawat-bunga-kancing-gomphrena/ (diakses tanggal 9 November 2020)

Wikipedia. 2019. Bunga Kenop. https://id.wikipedia.org/wiki/Bunga_kenop (diakses tanggal 9 Bovember 2020)