Penulis: Khalifazayyan Nauval

Tanaman obat keluarga atau yang sering disebut sebagai TOGA, merupakan tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat-obatan keluarga. Masyarakat sendiri menggunakan tanaman-tanaman yang berkhasiat sebagai alternatif dari obat-obatan modern atau konvensional. Pengonsumsian tersebut dilakukan untuk mencegah, meringankan, bahkan mengobati berbagai penyakit ringan, bahkan berat. Tanaman obat pun masih banyak digunakan karena tidak memungut biaya dibandingkan obat kimia. Penggunaan tanaman obat atau obat herbal pun telah dilakukan sejak dahulu kala yang telah menjadi bagian dari kultur kita dan diwariskan secara turun-temurun.

 

Walaupun tak sedikit yang percaya bahwa tanaman obat dapat meringankan atau mengobati penyakit berat seperti kanker. Tetapi, bukti ilmiah untuk mengklaim hal tersebut masih belum cukup kuat karena masih bersifat dugaan awal. Dibalik hal-hal tersebut, kebanyakan masyarakat menggunakan tanaman obat untuk mengobati penyakit-penyakit ringan seperti flu, batuk, demam, peradangan, diare, nyeri otot, luka bakar, dan masih banyak lainnya.

 

Penggunaan tanaman obat sendiri telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Menurut sumber, tanaman obat pertama kali dipraktekkan di Mesir kuno sejak tahun 1550 sebelum masehi lewat buku Ebers Papyrus. Buku tersebut berisi tentang penggunaan tanaman-tanaman yang berkhasiat sebagai pengobatan dengan total 850 jenis tanaman herbal. Tercantum pula resep-resep penggunaannya, gejala penyakit, dan diagnosanya. Salah satu contohnya adalah bangsa Mesir kuno memberikan ransum bawang kepada para budak untuk menghilangkan berbagai macam penyakit dan infeksi umum yang sedang melanda pada masanya.

 

Namun, ternyata India telah mempraktikkan pengobatan herbal tradisional sejak tahun 3300 hingga 1300 sebelum masehi. Namun ada pula sumber lain yang berkata bahwa praktik tersebut telah dilakukan sejak tahun 6000 sebelum masehi. Hal yang dimaksud adalah Ayurveda yang merupakan metode pengobatan mengenai bagaimana cara untuk hidup sehat. Ayur yang berasal dari bahasa Sansekerta berarti hidup, sementara veda berarti ilmu pengetahuan. Dilakukan beberapa metode yang bertujuan untuk mengembalikan keharmonisan dan menyeimbangkan dosha di dalam tubuh. Dosha merupakan kombinasi dari  tanah, air, udara, api, dan ruang yang membentuk tiga pasangan energi.

 

Akan tetapi, penggunaan metode Ayurveda masih belum terbukti secara medis. Sebagian dokter juga tidak menyarankan penggunaannya karena ditemukannya kandungan logam yang berbahaya, seperti merkuri, arsenik, dan timah di beberapa jenis obatnya. Selain dari kedua sejarah penggunaan tanaman obat tersebut, masih banyak bukti-bukti penggunaan tanaman obat di sejumlah tempat atau negara.

 

Hingga saat ini, penggunaan tanaman obat masih dilakukan. Namun, dengan banyaknya obat-obatan konvensional atau kimia membuat banyak orang lebih memilih untuk menggunakannya dibandingkan tanaman obat. Walaupun disebut dengan obat-obatan kimia, tak berarti bahwa tidak ada kandungan alami di dalamnya. Nyatanya, bahan dasar yang ada pada obat-obatan kimia berasal dari tanaman yang telah dipilih dan diambil ekstraknya atau senyawa aktif tertentu. Tentunya, ada proses panjang yang harus dilakukan hingga terciptanya sebuah produk. Obat kimia pun telah diatur secara ketat dan dilakukan kontrol kualitas beserta inspeksi yang wajib dijalankan terlebih dahulu. Obat kimia telah melalui tes ilmiah dan terbukti efektif, bahkan dapat bekerja lebih cepat ataupun secara instan. 

 

Sementara, obat-obatan herbal berasal dari tanaman utuh tanpa penyaringan dan proses khusus untuk mendapatkan bahan aktif. Obat-obatan herbal juga mengandung lebih sedikit bahan kimia, sehingga kemungkinan menyebabkan iritasi dan alergi lebih sedikit. Walaupun begitu, tetap ada efek samping dari penggunaan tanaman obat ataupun obat herbal. Dan, di sini saya akan membahas mengenai tanaman jahe yang sering sekali digunakan sebagai bahan masakan maupun obat. Pemilihan ini didasarkan atas seringnya penggunaan jahe di rumah saya dan juga khasiatnya yang banyak dan unik.

 

Jahe atau yang disebut dengan zingiber officinale, merupakan tanaman yang sering ditemukan dan digunakan di Indonesia sebagai bahan masakan maupun obat. Selain di Indonesia, jahe juga digunakan sebagai pengobatan alternatif di Tiongkok, India, bahkan hingga Timur Tengah. Jahe dipercaya berasal dari India, namun ada pula yang percaya bahwa jahe berasal dari Tiongkok. Dengan dibawanya jahe oleh bangsa India sebagai rempah perdagangan ke Asia hingga Timur Tengah. Maka dari itu, munculah jahe di Indonesia yang diadopsi pula hingga bisa berkembang biak.

 

Jahe sendiri ada tiga jenis, yaitu jahe putih atau jahe gajah, jahe putih kecil atau jahe emprit, dan jahe merah. Ukuran jahe putih merupakan yang terbesar dari ketiganya yang terdapat garis melintang putih kekuningan, serat yang sedikit, terasa lebih lembut, dan seringkali dikonsumsi saat masih muda. Jahe putih kecil pun memiliki karakteristik yang sama dengan jahe putih, hanya berbeda di ukurannya saja. Sementara, jahe merah yang ukurannya hampir sama seperti jahe putih kecil memiliki aroma yang lebih tajam, paling pedas, berserat lebih kasar, dan dipanen saat sudah tua. Jahe merah lebih sering digunakan sebagai bahan obat tradisional karena kandungan dan khasiatnya yang paling baik. Jahe putih kecil lebih sering digunakan sebagai obat sehari-hari, dan jahe putih lebih sering digunakan sebagai bahan masakan. 

 

Jahe mengandung minyak atsiri yang terdapat zat-zat seperti sesquiterpene, zingiberene, zingerone, oleoresin, camphene, limonene, borneol, cineol, citral, zingiberol, dan phellandrene. Terdapat pula gingerol, beta-carotene, capsaicin, caffeic acid, curcumin, salicylic acid, magnesium, phospor, zinc, folate, vitamin B6, vitamin A, riboflavin, dan niacin. Minyak atsiri-lah yang menyebabkan aroma harum pada jahe. Sementara, oleoresin menyebabkan rasa pedas pada jahe. Dan, walaupun tidak ada banyak vitamin yang terkandung pada jahe, jahe dipenuhi oleh antioksidan yang dapat melindungi sel-sel dari kerusakan dan mencegah penyakit.

 

Dengan berbagai macam kandungan yang ada di dalam sebuah jahe, maka tak sedikit pula manfaatnya bagi kesehatan. Jahe dipercaya dapat mengatasi gangguan degeneratif  (radang sendi dan rematik), pencernaan (sembelit dan maag), kardiovaskular (aterosklerosis dan hipertensi), muntah, mual, diabetes, sakit kepala atau migrain, anti-inflamasi, antimikroba, dan anti-oksidatif, mengontrol kadar gula darah, meredakan nyeri dan sakit badan seperti nyeri haid, menyehatkan otak, menurunkan glukosa darah dan kolesterol, meningkatkan kesehatan jantung, membakar lemak dan kalori (menurunkan berat badan), mencegah timbulnya jerawat, memperkuat sistem imun, mengatasi pilek dan flu, meredakan sakit otot dan  morning sickness, menambah nafsu makan, penawar racun ular, dan menghambat infeksi bakteri. Sementara, dalam masakan jahe berfungsi sebagai penyedap, menghilangkan bau anyir pada masakan tertentu, dan untuk menambah aroma.

 

Namun tetapi, dengan banyaknya manfaat dari jahe ada pula efek samping dari penggunaannya. Berdasarkan penelitian herbalist, mengkonsumsi jahe lebih dari 4 gram sehari dapat mengakibatkan rasa mulas, mual, kembung, atau gangguan pencernaan. Lalu, walaupun jahe memang dapat mencegah pembekuan darah dan meningkatkan sirkulasi darah. Namun, hal ini dapat meningkatkan risiko pendarahan, terutama bagi seseorang yang memiliki kelainan darah atau tengah menjalani pengobatan memperlambat pembekuan darah. Berdasarkan teori, jahe dapat mengurangi kemampuan sel darah (trombosit) untuk berkumpul dan menutup luka sehingga meningkatkan risiko perdarahan. Namun, hal tersebut masih menjadi perdebatan. Pengonsumsian jahe dua minggu sebelum menjalankan operasi juga dapat meningkatkan resiko pendarahan internal. Selain itu, jahe dapat merangsang produksi empedu dan tidak dianjurkan untuk pasien penderita batu empedu. Pengonsumsian obat-obatan tertentu yang dikonsumsi bersamaan dengan jahe pun, dapat mengurangi efektivitas dari obat-obatan tersebut.

 

Jahe memang banyak disarankan untuk ibu hamil karena diyakini dapat mengurangi mual dan muntah. Namun, jika dosisnya berlebihan maka dikhawatirkan dapat berdampak negatif, seperti rasa terbakar dalam lambung. Yang terakhir, jahe dapat mengurangi kadar gula darah, sehingga penderita diabetes harus waspada. Konsumsi jahe yang berlebih dapat mengakibatkan rasa lemas atau pusing kepada penderita diabetes. Sebenarnya, efek samping dari konsumsi jahe sering kali timbul akibat konsumsi yang berlebihan. Sehingga, jika yang dikonsumsi berupa makanan atau minuman jarang sekali menimbulkan efek samping. Itupun hanyalah efek samping ringan. Dan, walaupun bukti ilmiah mengenai efek samping jahe masih menjadi perdebatan. Sebaiknya kita, terlebih bagi orang-orang penderita penyakit atau gangguan tertentu, harus tetap waspada.

 

Dosis yang disarankan untuk ibu hamil adalah 1000 -1500 mg yang dibagi menjadi 2-4 kali konsumsi. Sementara, dosis umum yang disarankan adalah tak lebih dari 4 gram per hari. Cara pengonsumsiannya pun ada beberapa, jika tujuannya sebagai pengobatan dan penghangat dapat dibuat menjadi teh jahe atau wedang jahe. Cara membuatnya pun cukup mudah, cuci dan iris-iris atau parut rimpang jahe sesuai dosis yang disarankan. Lalu, direbus dengan takaran 1 gelas air jika konsumsinya individual hingga air mendidih, dan teh jahe pun siap untuk dikonsumsi. Dapat ditambahkan pula madu atau jeruk nipis jika dirasa kurang enak. 

 

Tanaman jahe dapat tumbuh subur di ketinggian 0-1700 mdpl di daerah tropis atau subtropis. Di Indonesia, jahe biasanya ditanam di ketinggian 200-600 mdpl. Dibutuhkan curah hujan 2500-4000 mm per tahun, kelembaban 60%-90%, suhu berkisar 20°C-25°C, dan tanah berkualitas dengan pH 6,8- 7,4. Jahe juga memerlukan sinar matahari secara langsung ketika sudah berumur 2,5 bulan lebih. Cara penanamannya adalah dengan menggunakan rimpang jahe yang sudah tua (10-12 bulan) dengan kualitas yang baik. Rimpang tersebut akan disemai menggunakan kokopit sebagai media tanamannya hingga muncul tunas. Lalu, pindahkan tanaman ke media tanam campuran dari tanah, sekam, dan pupuk kandang. Media tanamnya pun tidak boleh terlalu basah, apalagi menggenang. Sehingga, disarankan untuk disiram jika media tanam sudah cukup kering. Jahe dapat dipanen dan digunakan ketika sudah berumur 8-10 bulan.

 

Di sini, dapat disimpulkan bahwa tanaman obat, termasuk jahe merupakan tanaman yang sudah sejak lama digunakan sebagai alternatif pengobatan. Khasiatnya yang banyak membuat tanaman obat ini unggul, namun harus waspada pula akan efek sampingnya. Dan, menurut saya, jahe ini sangat layak untuk dikonsumsi karena bisa dijadikan sebagai alternatif dari obat-obatan konvensional atau kimia yang cukup berbahaya bagi kita. Penyakit-penyakit ringan pun ampuh untuk ditangani dengan tanaman yang satu ini. Apalagi, jahe sangat mudah untuk ditemukan di Indonesia. Jadi, marilah kita gunakan tanaman obat sebagai alternatif dari obat-obatan konvensional atau kimia! Walaupun begitu, penggunaan obat-obatan kimia tetap diperkenankan dan jika penyakit yang diidap sudah semakin parah, harus segera cek ke dokter, ya! 

Khalifazayyan Nauval