Film Bumi Manusia: Menjunjung Tinggi Hak Manusia

8537914486?profile=RESIZE_400x

Tahun Rilis Film : 2019

 

Rating usia : 17+

 

Genre : Fiksi sejarah

 

Rumah Produksi : Falcon pictures

 

Sutradara : Hanung Bramantyo

 

Pemeran : Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, Ine Febriyanti, 

Jerome Kurnia, Giorgino Abraham, Peter Sterk, Hans de 

Kraker, dll.

 

Durasi : 03:01:00 jam




Pembuka

 

Bumi dan manusia, secara keseluruhan film ini mengingatkan tentang keadilan yang seharusnya dimiliki setiap bangsa. Berawal dari sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer yang divisualisasikan oleh Hanung Bramantyo ke dalam bentuk film. Mengambil latar masa kolonial di abad ke 20 awal, bagaimana kisahnya? Simak berikut ini.

 

Sinopsis Film

 

Menceritakan sepasang pemuda yang menjalin cinta di tengah masa kolonial. Minke yang berdarah Jawa, pribumi asli dengan Annelies, Indo-Belanda. Banyak pihak yang tidak menyetujui hubungan mereka, ditambah ibu Annelies merupakan seorang Nyai. 

8537897680?profile=RESIZE_710x

Ulasan Film

 

Menurut saya pribadi, film ini sudah baik dalam menceritakan suasana dan latar pada zaman abad ke-20 awal, terlebih lagi penggunaan bahasanya dan pakaian yang dikenakan. Alurnya pun jelas memperlihatkan keseharian hidup penganiayaan orang pribumi oleh orang Belanda di jaman itu. Secara keseluruhan film ini bercerita tentang sejarah masa kolonial Belanda di Indonesia, dimana orang-orang Belanda memiliki pangkat yang lebih tinggi dan mereka berhak menyimpan wanita sebagai gundik, biasa disebut Nyai. 

 

Bahasa yang digunakan merupakan Jawa baku dan Bahasa Belanda, terdapat kata kasar juga tapi menurutku itu mendukung suasana. Ada pula adegan dewasa, itu sebabnya film ini dibatasi untuk anak berumur 17 tahun ke atas. 

 

Menurutku film ini bagus dalam menceritakan sejarah, namun terlalu serius dan drama, sehingga terkesan membosankan. Menurutku beberapa pemeran terlalu berlebihan saat akting dan film sejarah ini lebih terlihat seperti drama.

 

[MENGANDUNG SPOILER!] 

Seperti Annelies yang seketika panik ketika Minke menyebutnya cantik, saat Minke pertama berkunjung ke rumah Nyai. Lalu mungkin terlalu berlebihan saat Annelies sakit dan enggan dipegang tangannya kecuali oleh Minke. Adapun adegan saat penyerbuan warga ke rumah Nyai, sangat dramatis.

8537896282?profile=RESIZE_710x

Saya secara pribadi menyukai akting Ine Ferbiyanti, yang terlihat tegas dan sifat keibuan yang besar. Saya juga menyukai tokoh Jean Marais yang diperankan oleh Hans de Kraker, karena ia merupakan sosok yang bijak di film ini. 

 

Pesan moral yang dapat diambil dari film ini ada banyak, yang utama adalah mengenai penjajahan, dimana semua bangsa berhak memiliki kemerdekaan dan kesatuan sendiri, tanpa ada perbudakan yang dipaksakan. Lalu mengenai derajat wanita, yang tidak bisa dijadikan gundik seenaknya. Juga mengenai cinta, cinta tidak memandang fisik, mau pribumi atau pun indo, semua manusia berderajat sama.

 

Dengan mengamati karya seni berbentuk film ini, kita dapat mengambil banyak pesan dan pengetahuan mengenai sejarah Indonesia terutama Jawa di masa kolonial. 

 

Penutup/Simpulan

 

Dari film ini kita mendapat banyak pesan moral, tirukan yang baik saja ya, juga ambil pengetahuan mengenai sejarah di Indonesia.



Rating/nilai Film Secara Keseluruhan: 6 dari 10, karena untuk ukuran film sejarah dan dikaitkan dengan zaman modern sekarang, akan terlihat lebih membosankan. Dan biasanya film sejarah menceritakan kehidupan zaman dahulu dengan menarik. Sedangkan film ini lebih bergenre drama, walaupun menceritakan sejarah masa kolonial Indonesia, menjadikannya kurang menarik untuk sebuah film sejarah.

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Email me when people reply –