Worker Cooperative

Worker Cooperative

Kapitalisme adalah pohon keserakahan yang berbuah kesenjangan sosial. Kelas 1% menguasai peradaban — mengeksploitasi 99% manusia lainnya. Perusahaan-perusahaan di dunia dan juga di Indonesia (yang katanya mengusung ekonomi kerakyatan) berfokus pada pengerukan keuntungan sebesar-besarnya bagi para pemilik modal.

Worker Cooperative adalah antitesis kapitalisme. Ia adalah format bisnis yang lebih adil dan manusiawi.

Dalam bernegara, kita menerapkan demokrasi: satu warga negara = satu suara. Seharusnya dalam dunia usaha pun demikian. Worker cooperative adalah demokrasi dalam dunia usaha. Pada worker cooperative, semua pegawai adalah pemegang saham dengan jumlah kepemilikan suara yang setara: satu pegawai = satu suara.

Bagi sebagian kalangan, barangkali terdengar utopis dan muluk-muluk. Perusahaan macam itu mana mungkin bisa besar dan sukses?

Mondragon

Mondragon adalah sebuah worker cooperative dan merupakan perusahaan terbesar ketujuh di Spanyol. Di awal berdirinya, hanya ada lima pegawai. Sekarang sudah seratus ribu lebih, dengan beraneka jenis unit usaha. Sebuah worker cooperative ternyata bisa juga menjelma jadi gurita konglomerasi, hanya saja bukan konglomerasi yang semata-mata memperkaya segelintir orang.

Pada tulisan terdahulu, telah disampaikan bahwa "average wage gap" di Amerika adalah 1:312. Di industri fast food bahkan ada yang mencapai 1:1000.

Wage gap di Mondragon 1:6! Gaji CEO Mondragon hanya enam kali lebih besar ketimbang gaji office boy-nya. Itu baru gaji, ya. Office boy itu akan menerima pula dividen dari sahamnya. CEO itu tidak bisa memecat Sang Office Boy, sebab Sang Office Boy adalah pemilik perusahaan dengan kekuatan suara yang setara dengan dirinya.

Perusahaan kapitalis juga kerap merusak lingkungan. Mengapa?

Karena para pemilik modal dan eksekutif perusahaan-perusahaan besar yang unit usahanya berserakan di mana-mana itu tidak tinggal di lingkungan yang mereka cemari! Mereka tidak peduli jika aktivitas bisnis mereka mengotori sebuah sungai sebab anak-anak mereka tidak mandi di sana, dan mereka tidak minum air dari sungai tersebut. Yang penting profit, profit, profit.

Tidak demikian halnya di Mondragon. Para eksekutif Mondragon tidak akan berani mengambil kebijakan yang mencemari lingkungan tempat tinggal para pemilik sahamnya.

Apa yang terjadi pada sebuah unit produksi perusahaan kapitalis jika ditemukan teknologi otomatisasi yang lebih efisien dan ekonomis dibandingkan tenaga manusia? Mesinnya dibeli, para pekerja di unit produksi itu di-PHK.

Tidak demikian halnya di Mondragon. Mesinnya tetap dibeli, tapi para pekerja di unit itu akan dipindahkan ke unit lain. Jika perlu, mereka akan di-training ulang untuk tugas baru di unit lain tersebut. Unit lain itu akan kelebihan pekerja, dong? Apa yang Mondragon lakukan? KURANGI JAM KERJA seluruh pegawai di unit itu! Gaji tetap sama, kerja tambah santai. Luar biasa, bukan?

Motif utama Mondragon adalah kesejahteraan dan kebahagiaan bagi para pegawainya seraya tetap tidak melupakan efisiensi, kemajuan teknologi, dan keuntungan perusahaan.

4821170070?profile=RESIZE_710xJohann Hari, peneliti depresi, mengungkapkan salah satu penyebab utama depresi adalah pekerjaan. Hal yang sudah jamak kita ketahui. Tapi apanya yang bikin stres? Gajinyakah? Jam kerjanya?

Johann Hari mengutip penelitian Prof. Michael Marmot tentang "stress at work". Prof. Michael Marmot menceritakan tentang dua pegawai toko sepeda di Amerika yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Keduanya memutuskan keluar dari toko sepeda itu, lalu mendirikan toko sepeda mereka sendiri. Segala aspek dan keputusan bisnis mereka diskusikan berdua. Mereka kemudian merasa "lebih hidup". Tidak muram lagi seperti sebelumnya. Jadi, ini bukan soal passion. Kalau mereka berhenti dari toko itu, lantas beralih jadi rocker, okelah. Tapi ini dagangsapedah-dagangsapedah deui oge kok. Ternyata menurut Prof. Marmot ini soal "kontrol". Pada perusahaan tradisional (kapitalis), para pegawai diperlakukan layaknya robot. Mereka tidak dilibatkan. Capitalism dehumanizes human. Ketika pegawai punya kontrol dan rasa memiliki perusahaan, mereka akan lebih bahagia.

Resistansi/Inersia

Tempo hari ada debat di ILC tentang pernyataan Ketua BPIP (agama adalah musuh utama Pancasila) yang bikin heboh negeri ini. Pihak pemerintah diwakili dua "pakar bertengkar": Ali Mochtar Ngabalin dan Fadjroel Rachman. Mereka berdua mampu dengan tangkas dan berapi-api menjawab setiap serangan dari kubu MUI dan tokoh-tokoh oposisi tentang betapa Pancasila menjunjung tinggi nilai-nilai semua agama, kesetaraan, demokrasi, dan blah, blah, blah.

Namun ketika tokoh MUI menyinggung soal ekonomi: jika memang Indonesia ekonominya Pancasila, mengapa bukan koperasi yang berjaya di sini, mengapa perusahaan-perusahaan kapitalis yang menguasai ekonomi kita? Kedua tokoh itu seperti kehilangan kata-kata.

Acara debat ditutup oleh sejarawan Anhar Gonggong. Beliau mengingatkan bahwa tujuan awal negara ini didirikan adalah untuk "memberikan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat".

Kita menyaksikan hal yang sangat klasik dalam debat tersebut: tokoh-tokoh yang mengaku progresif sebagian besar sudah berada dalam genggaman kapitalisme. Mereka menyala-nyala mendukung toleransi antar etnis dan antar umat beragama, HAM, hak perempuan, pelestarian lingkungan, dsb. Namun kalau sudah diungkit-ungkit tentang masalah keadilan ekonomi, mereka balik badan.

Ini juga terjadi di Amerika. Alyssa Milano yang dulu lantang menyuarakan gerakan #MeToo — dia yang menentang pencalonan Brett Kavanaugh sebagai Hakim Agung karena Kavanaugh dituduh memperkosa perempuan semasa kuliah — kini malah tidak peduli ketika ada perempuan (Tara Reade) melaporkan Joe Biden telah melecehkannya di masa lalu. Pokoknya, bagi mereka, jangan sampai Bernie Sanders yang jadi Democratic nominee. Buat mereka, bahkan lebih baik Trump kembali terpilih asalkan kejayaan kapitalisme tetap terjaga.

Para seleb yang "woke" itu, mereka-mereka yang tercerahkan itu, yang cinta lingkungan, penyayang binatang, dietnya vegan, meditasi dan yoganya rutin, ...mereka itu munafik.

Apakah mereka tidak tahu (atau menolak untuk tahu?) bahwa semua "kebaikan" yang mereka dukung itu bermuaranya ke sana? Bagaimana mungkin ada kebijakan pro-manusia, pro-lingkungan, pro-semua-yang-baik-baik dapat hadir, jika para pembuat kebijakannya sudah tersandera oleh kapitalisme? Mana mungkin mereka berani membuat UU yang bakal merugikan kepentingan bisnis para donor politik mereka? Banyak sudah buktinya. Salah satunya, pembahasan Green New Deal (yang dimotori politisi muda cemerlang Alexandria Ocasio-Cortez) gagal dilanjutkan di kongres AS.

Harapan

Jeremy Rifkin mengatakan banyak revolusi akan terjadi di dunia bisnis dan ekonomi di masa mendatang. Perubahan itu sudah dimulai sejak sekarang: open source, zero marginal cost, decentralization, dll. Juga ramainya wacana seputar Universal Basic Income (yang malah akibat adanya pandemi sudah mulai diterapkan di beberapa negara). Trennya menuju ke arah yang lebih baik, lebih adil, lebih manusiawi, lebih egalitarian.

Hari ini kapitalisme sudah menjadi raksasa yang kejam. Tapi sesungguhnya kapitalisme dahulu awalnya juga kecil-kecil saja. Menjelang feodalisme (sistem yang lebih kejam lagi) tutup usia, lahirlah perusahaan-perusahaan kecil kapitalis di Eropa sana. Jika ini adalah saat-saat sakaratul maut kapitalisme, jangan hendaknya kita berdiri di tempat yang salah. Sejarah tidak pernah alpa mencatat. Kita bersama perubahan atau musuh perubahan?  

Worker Cooperative itu sebetulnya kalau di Indonesia adalah koperasi. Entitas bisnis yang sesuai dengan Pancasila dan budaya gotong royong Nusantara. Mohammad Hatta, Founding Father bangsa ini yang merancangnya.

Namun telah sejak lama nasib koperasi di Indonesia jadi seperti arisan saja. Kita ambil contoh sebuah perusahaan migas milik seorang konglomerat Indonesia. Di perusahaan itu ada koperasi pegawai. Namun fungsinya cuma buat simpan pinjam dan menjual beberapa produk ala kadarnya. Keuntungan triliunan perusahaan migas itu tentunya masuk ke kantong keluarga si konglomerat.

Koperasi sering dipersepsikan sebagai badan usaha yang stagnan, mainan pejabat, bahkan kerap pula terdengar dijadikan kedok penipuan investasi.

Koperasi harus direvitalisasi. Kalau perlu di-rebranding jadi Worker Cooperative saja (mengingat image-nya yang sudah telanjur lemah). Yang penting kan esensinya.

Semoga dari keluarga besar Semi Palar akan segera lahir Worker Cooperative. Salam Smipa! 

 

* Ini film dokumenter tentang Worker Cooperative: "Shift Change":   https://semipalar.ning.com/solusi/shift-change

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa