Teori 1 = 3

Teori 1 = 3

Di Quora pernah muncul pertanyaan: "Do you have a theory?" Jawaban para quorawan/quorawati kocak-kocak dan menyegarkan. Ada beberapa yang filosofis dan mendalam. Nah, saya juga punya sebuah teori kecil-kecilan yang ingin saya bagikan di sini.

*disclaimer: ini teori becandaan penambah semarak Ririungan, tidak untuk ditanggapi secara serius.

Nama teori saya adalah 1 = 3. Satu sama dengan Tiga.

Begini bunyi teorinya:

  • Banyak hal di kehidupan dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian: Bagian Satu, Bagian Dua, Bagian Tiga.
  • Bagian Satu selalu mirip dengan Bagian Tiga. Namun alasan eksistensial Bagian Satu dan Bagian Tiga berbeda.

Berikut ini beberapa contoh untuk menjelaskan sekaligus membuktikan teori tersebut.

Penampilan (pakaian, kendaraan, dsb).

  • Bagian Satu: orang-orang yang belum sukses tidak peduli penampilan. Mereka tidak mampu membiayai penampilan.
  • Bagian Dua: orang-orang sukses sangat peduli penampilan.
  • Bagian Tiga: orang-orang super duper sukses tidak peduli penampilan. Jati diri mereka, prestasi hidup mereka sudah tidak butuh balutan apa-apa lagi untuk membuat mereka bersinar.

Ada pemeo menyebalkan yang sangat populer di masa-masa kuliah ”Those who can’t do, teach.” Menurut orang-orang yang percaya pemeo itu: para mahasiswa yang nilainya tinggi akan masuk ke industri dan mendapat gaji tinggi; mereka akan bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional, jadi konsultan, dll. Sementara mereka yang nilainya rendah akan jadi dosen atau peneliti karena tidak diterima oleh industri.

Tapi sesungguhnya mereka yang mengolok-olok itu tidak menyadari bahwa Teori 1 = 3 bekerja di sini.

  • Bagian Satu: Para mahasiswa yang nilainya rendah akan jadi dosen atau peneliti. Mereka tidak lolos seleksi masuk ke industri.
  • Bagian Dua: Para mahasiswa yang nilainya tinggi masuk ke industri.
  • Bagian Tiga: Para mahasiswa yang nilainya super duper tinggi akan menjadi dosen dan peneliti. Mereka tidak masuk ke industri karena mereka ingin membuat terobosan-terobosan baru dan memajukan bidang keilmuan mereka. Mereka tidak tertarik dengan materi dan gaji tinggi.

Mangga, silakan teman-teman cobakan Teori 1 = 3 dalam menganalisis hal-hal lain. Teori ini bisa jadi bekal Leapfrogging. Saya tambahkan dua contoh lagi.

Pembicaraan (dalam diskusi, debat kusir, dsb).

  • Bagian Satu: orang yang tidak pintar lebih banyak diam. Pengetahuan mereka terhadap materi pembicaraan sangat terbatas.
  • Bagian Dua: orang yang pintar akan banyak bicara (Dunning–Kruger effect).
  • Bagian Tiga: orang yang super duper pintar lebih banyak diam. Mereka sadar bahwa topik pembicaraan terlihat sederhana di permukaan, padahal di bawahnya tersembunyi berlapis-lapis pertanyaan yang tak sanggup mereka jawab.

Lukisan.

  • Bagian Satu: Lukisan murah. Bentuknya jelek.
  • Bagian Dua: Lukisan mahal. Bentuknya bagus.
  • Bagian Tiga: Lukisan super duper mahal. Bentuknya jelek. Abstrak. Modern art(y-farty) and of course, …blah blah blah the meaning behind.

Tadi malam Kak Andy mengirimkan tulisan (oleh penulis anonim) yang membahas betapa absurd sesungguhnya kehidupan kita prapandemi. Esai itu menyoroti fenomena hiperealitas. Ini cuplikan esainya:

---------------------------------

Sederhananya ketika anda beli segelas kopi starbuck seharga 40an ribu. Mengapa segelas kopi bisa begitu mahal ? anggaplah harga dasar kopi itu 7 ribu, maka 33 ribu sisanya anda membayar harga sewa sofa outlet dan membeli simbol starbuck. Angka 33 ribu itulah hiperealita. Sebuah kondisi mental yg menganggap sesuatu itu nyata dan kita butuhkan melebihi kebutuhan dasar kita sendiri.

Pandemi covid19 ini ibarat tombol reset. Sekali ditekan langsung semua berbondong2 menuju ke titik awal. Kita sudah merasakan PSBB, di mana pada masa itu kita diarahkan untuk melakukan segala hal yg kita butuhkan saja. Ini kabar buruk untuk usaha seperti pariwisata, hotel, mall, kafe2 dan semua usaha yg menjadikan CITRA, LUXURY atau PRESTISE sebagai core bisnisnya.

---------------------------------

Pada dasarnya, saya bersetuju dengan pesan utama yang hendak disampaikan sang penulis anonim:

  1. Situasi prapandemi itu TIDAK NORMAL karena kehidupan manusia telah disesatkan hiperealitas
  2. Covid-19 adalah obat pahitnya

Tapi sayang... sungguh sayang sekali, penulisnya telah melakukan kesalahan yang luar biasa fatal. Dia membandingkan situasi prapandemi Covid-19 dengan sebelum Revolusi Industri.

Sang penulis mengatakan:

---------------------------------

Sebelum revolusi industri, kehidupan itu relatif sangat normal. Manusia setara bekerja untuk kebutuhannya.

---------------------------------

Zaman sebelum Revolusi Industri adalah zaman feodalisme dan monarki. Ketika itu mayoritas manusia adalah commoners (rakyat jelata) yang bekerja keras membanting tulang agar kaum bangsawan ningrat dan keluarga-keluarga kerajaan dapat bersantai, bersosialisasi, berpesta dansa-dansi, dan yah, ...minum-minum kopi. Ada pula kelompok lain yang lebih sial dangkal lagi kehidupannya di masa itu — mereka berada di lapisan terbawah: para budak (literally, not metaphorically as in "the slaves of 1 percenters capitalist class" we often speak of. These are human beings that you could own the way you own dogs today — bought and sold at slave markets). Di era sebelum Revolusi Industri tidak ada kesetaraan. Kaum bangsawan ningrat dan anggota keluarga kerajaan tidak perlu dan tidak pernah bekerja seumur hidup mereka, sejak hari mereka lahir sampai hari mereka mati.

Pepatah bijak mengatakan: Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Namun yang dilakukan penulis ini bukanlah sekadar membiarkan nila setitik masuk ke dalam sebelanga susu — yang membikin susu terasa asam karena basi, yang akibatnya paling-paling mencret. Mengatakan kehidupan di zaman raja-raja dan kaum bangsawan ningrat lebih baik ketimbang prapandemi Covid-19 adalah seumpama memasukkan segelas racun ke dalam susu sebelanga. Ia tak hanya mematikan kenikmatan susu, tapi bisa membuat orang yang meminum susu itu mati beneran.

Namun, bagaimanapun juga, esai anonim ini telah berhasil membangunkan teori lawas lucu-lucuan saya. Bagaimana jika ternyata peradaban manusia adalah juga 1 = 3?

  • Bagian Satu: Zaman Purba. Belum ada revolusi ini-itu.
  • Bagian Dua: Zaman ketika segala macam revolusi terjadi. Diawali dengan revolusi biologis, yakni Revolusi Kognitif. Volume otak manusia mendadak membesar secara signifikan yang membuat kita lantas mampu menciptakan berbagai macam revolusi “cara hidup”. Mulai dari revolusi pertanian, revolusi politik, revolusi industri, hingga revolusi relasi antargender.
  • Bagian Tiga: Revolusi Terakhir. Revolusi Artificial Intelligence. Para futuris menyebut titik waktu ketika kecerdasan buatan sudah melampaui kecerdasan manusia sebagai “singularity”. Ini sebuah istilah yang dipinjam dari kosmologi. Singularitas adalah titik waktu ketika Big Bang terjadi. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi Pra Big Bang. Sebab, bila kita runut kejadian alam semesta menggunakan sains dari detik ini surut hingga ke detik awalnya: tepat ketika Big Bang terjadi, seluruh besaran fisika (kerapatan materi, temperatur, kelengkungan ruang-waktu) nilainya tidak terhingga. Dalam bahasa Stephen Hawking: teori-teori fisika runtuh di titik tersebut karena seluruh besaran fisika saat itu nilainya infinite. Sains tidak sanggup “masuk” melewati singularity “dengan selamat” guna mengamati/menghitung kondisi Pra Big Bang. Ini serupa dengan jika kelak AI telah sempurna. Manusia menginputkan problem-problem peradaban mereka ke dalam komputer. Kita tidak dapat menerka apa yang bakal diputuskan AI bagi kita. Tapi, siapa tahu, AI barangkali akan menyiapkan tatanan peradaban yang mirip-mirip dengan Zaman Purba.

Di masa sebelum Revolusi Pertanian (sebelum ada segala raja dan bangsawan), kehidupan manusia sebenarnya menyimpan berbagai kehebatan yang diimpi-impikan para pemikir paling progresif sekarang. Ketika itu:

  1. Umat manusia masih hidup nomaden (Non-Sedentary ---> Active Life)
  2. Umat manusia hidup di dalam kelompok-kelompok kecil (Localization ---> Dunbar's Number)
  3. Tidak ada institusi raksasa bernama kerajaan atau negara yang memaksa jutaan manusia tunduk dan patuh di dalamnya (Decentralized Power)
  4. Tidak ada genosida dan peperangan masif yang membinasakan berjuta-juta manusia, sebab tidak ada konsentrasi-konsentrasi kekuatan maha besar (World Peace)
  5. Tidak ada hak atas kepemilikan tanah (kesenjangan ekonomi nyaris nihil ---> Gini Index terendah sepanjang sejarah peradaban manusia adalah pada masa itu)
  6. Manusia bertukar value hanya dengan barter (tidak ada sentralisasi moneter ---> Cryptocurrency)

Kita mencapai Bagian Tiga yang mirip Bagian Satu karena pekerjaan-pekerjaan penopang peradaban (sebagian besar) sudah diserahkan kepada robot-robot. No more bullshit jobs — kita jadi punya banyak waktu lagi untuk bercengkerama dengan keluarga dan handai tolan. Sudah ada direct democracy (TRUE Democracy) yang menjadi feasible karena manusia hidup di dalam komunitas-komunitas kecil dan karena teknologi voting penunjangnya pun sudah memungkinkan (internet dan blockchain). Sudah ada Universal Basic Income. Dan seterusnya, dan sebagainya.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Amin, jika kita mencapai bagian ke 3 semoga benar bahwa kita akan kembali kepada esensi hidup, yaitu mencintai dan berbagi. Manusia prapandemi mungkin sudah lupa bahwa kekuatan tertinggi terletak dalam hati bukan pada otak, sehingga lebih banyak mengandalkan kekuatan otak dan mati hatinya. Padahal ketika seorang manusia terkoneksi baik dengan hatinya maka ia akan mengenali siapa dirinya yang sejati dan untuk apa dia hadir di kehidupan ini. Ia akan hidup sesuai dengan 'progam perutusan' yang dimilikinya. Ia akan mencintai diri apa adanya tanpa membandingkan dirinya dengan manusia lain karena ia sadar keunikan masing-masing. Ia akan hadir utuh dengan potensi dirinya yang unik sebagai kelengkapan bagi individu lainnya. 

    When we fulfill our function, which is to truly love ourselves and share love with others, then true happiness sets in. - Gabrielle Bernstein

    • Terima kasih banyak, Bu Yuli. Semoga Bu, ..semoga kita bisa kembali pada esensi hidup itu.

  • Baru baca tulisan ini. Menarik sudut pandangnya. Mungkin ini terjadi karena semua dilakukan tanpa kesadaran... ada batas2 yang semestinya diperhatikan tapi tidak disadari, tidak dilihat bahkan dilanggar. Hukum sebab akibat kan tetap berlaku. Hidup dalam tataran jasmaniah kan terbatas. Definisinya fisikalitas adalah keterbatasan... kalau perkembangan teknologi membawa manusia ke kehancuran karena daya dukung lingkungan yang terlampaui... ya kita harus menerima... seperti covid ini... 

    • Hmm...Untuk banyak hal (terutama hal-hal negatif), sepertinya memang begitu, Kak.. Semua dilakukan tanpa kesadaran.. Lalu ketika tersadar (oleh sebab apa pun), saat ingin kembali ke kondisi  awal, ...sudah tidak bisa lagi. Maka dicarilah bentuk aproksimasi situasi awal tersebut.

  • hmm.. jadi serius berpikir!!!

  • Wah, menarik sekali, teorinya. Terima kasih, sudah menuliskannya. 😀

    • Terima kasih atas apresiasinya, Mas Panji. 🙏🏻

This reply was deleted.

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.