Judul Resensi: Sebuah Karya Hebat Indonesia Dalam Sinematografi (Bumi Manusia) 

Ditulis oleh: Ezar

8537456055?profile=RESIZE_400x

Tahun Rilis Film : 9 Agustus 2019.

Rating usia : 17+ tahun.

Genre : Drama, Sejarah.

Rumah Produksi : Falcon Pictures.

Sutradara : Hanung Bramantyo.

Pemeran : Iqbaal Ramadhan

   Rose Eva de Jongh

   Sha Ine Febriyanti

   Ayu Laksmi

   Donny Damara

   Bryan Domani

   Giorgino Abraham

   Jerome Kurnia

Durasi : 181 menit.



Pembuka

Aku memang jarang menonton film Indonesia, tetapi film yang satu ini memang menarik untuk ditonton. Sekolah memberi aku kesempatan untuk menonton film satu ini, yang berkisah tentang seorang pribumi bernama Minke. Tepat sekali, film tersebut tidak lain berjudul Bumi Manusia.


8537462464?profile=RESIZE_710x

 

 

Sinopsis Film

Berlatar di Surabaya pada tahun 1898, Minke, seorang pribumi siswa sekolah H.B.S yang diperankan oleh Iqbal Ramadhan, memperjuangkan nasib bangsanya melalui tulisan-tulisan. Suatu hari, dia diajak oleh temannya, Robert Suurhof yang diperankan oleh Jerome Kurnia, untuk mengunjungi temannya Robert Mellema di Buitenzorg. Di saat itulah Minke pertama kali bertemu dengan Annelies yang diperankan oleh Mawar de Jongh, anaknya Nyai Ontosoroh yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti. Dikarenakan statusnya sebagai Nyai atau istri simpanan, Nyai Ontosoroh tidak mendapatkan hak asasi manusianya yang seharusnya ia dapatkan, dia harus berjuang keras dalam hal itu. 


8537480877?profile=RESIZE_710x

 

Ulasan Film

Pada dasarnya film ini adalah film yang berdasar dari sejarah dan didramatisasikan, tetapi aku tidak melihat adanya drama di dalam diri Minke seperti yang ada di buku. Terlihat bahwa dia sangat pasif terhadap Robert Mellema, sedangkan harusnya ia memberi sedikit perlawanan secara tidak langsung menggunakan kata-katanya. Untuk film Indonesia, aku harus mengapresiasi mereka sudah bisa membuat latarnya terasa hidup, seperti di masa kolonialisasi. Jarang ada film Indonesia yang begitu memperhatikan detail atmosfer dan hal itu harus diapresiasi. Untuk ceritanya, sebenarnya masih bisa diperpanjang sedikit lagi agar sesuai dengan yang di bukunya seperti tidak diberitahu langsung seperti yang di bagian Nyai langsung memberi tahu bahwa suaminya itu ke rumah candu, tetapi secara keseluruhan penyuntingannya sudah baik. Menurut yang di buku, Nyai tidak memberi tahu langsung di awal-awal kepada Annelies, dia hanya memberitahu bahwa ayahnya pulang malam terus. Semuanya terasa disampaikan agak buru-buru, terutama saat-saat terakhirnya. Aku tahu, filmnya tidak bisa terlalu lama, tetapi bagaimanapun juga, mereka harus mencari cara yang efektif untuk menyampaikannya secara pendek tetapi tetap sama. Mereka tidak terlalu berhasil di bagian itu, tapi setidaknya itu berfungsi. Aktornya, aktornya semuanya pas kecuali Nyai Ontosoroh yang terlihat kurang tegas dan keibuan. Dan suaminya, Herman Mellema yang diperankan oleh Peter Sterk yang terlihat sedikit kurang pas saja, tidak sesuai dengan yang di bayangkanku secara personal seperti janggutnya dikurangi sedikit dan lebih gemuk lagi. Tetapi aku merekomendasikan film ini, kualitasnya memang bagus dan mungkin cerita ini bisa menyentuh hati anda. Aku sangat merekomendasikan membaca bukunya jika ingin tahu secara detail tentang Bumi Manusia, penyampaiannya lebih baik.

 

 

Penutup/Simpulan

Sebuah film yang hebat untuk standar film Indonesia. Aku merekomendasikan bukunya dibandingkan filmnya, tetapi bagaimanapun juga filmnya tetap bisa memenangkan atmosfer zaman kolonialisme. Aku tetap menikmati setiap menitnya.



Rating/nilai Film Secara Keseluruhan: 8.3/10



 

Have a g’day.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6, 2020

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.