Satu Tahun Bareng Kalian

Satu Tahun Bareng Kalian

Di tahun ajaran ini 2019-2020 (TP15), saya merasa banyak belajar. Sebelumnya saya pernah mengajar jenjang SD Besar pada saat magang, lalu selanjutnya selalu ditempatkan di jenjang kecil. Banyak yang perlu saya genapi, banyak juga yang perlu saya pahami. Mulai dari proses membaca kembali materi jenjang SD Besar yaitu SD 4, menelaah kembali matriks holistik jenjang SD Besar, bahkan menggali kembali potensi saya yang sesuai dengan proses pembelajaran di jenjang besar. 

 

Saya paham, saya bukanlah orang yang cepat bisa. Saya perlu proses, proses di mana saya perlu menyimak, membaca, bertanya, dan akhirnya mengalami. Saya pun sadar betul, selama berproses ini tidak mudah bagi saya untuk mengaplikasikannya kepada anak didik saya. Di tahun ini saya berkesempatan menjadi fasilitator teman-teman SD4 atau Batik Mega Mendung. Mereka ini adalah tipikal anak-anak yang banyak bicara. Semua hal dibahas. Tak pernah berhenti bicara. Hampir semua senang bercerita, dan juga berpendapat. Mereka juga sangat kritis bahkan sangat senang mengkritik Kakak fasilitatornya. Haha. Mereka dengan mudah menyampaikan langsung apa yang menurut mereka kurang tepat, dengan mudah mereka menyampaikan bahwa itu tidak cocok, begini lebih cocok, itu kurang jelas, lebih baik begini, dan lain-lain. Itu semua mereka sampaikan dengan lugas, walaupun kadang membuat Kakak ciut (kecil hati). Baper. Saya seringkali dikomentar terkait cara penyampaian materi yang saya bawakan kurang jelas, terlalu cepat, atau dikomentar tentang program kelas yang kurang menantang, gak seru, gak asik, dll. Sempat ketika awal-awal mengajar mereka, saya merasa kecil hati, sampai berpikiran "yasudah terserah kalian"! Kemudian saya berpikir, apa benar yang saya lakukan akan mendatangkan kebaikan buat saya dan buat mereka. Jawabannya tidak akan! Dari situ saya menyimak apa yang mereka harapkan dari Kakak-kakaknya, kemudian saya pun bertanya : "Apa yang bisa Kakak-kakaknya lakukan untuk dapat membuat mereka semangat belajar di jenjang ini?" "Apa upaya saya untuk dapat membuat mereka bisa menerima prosesnya di jenjang ini?" 

 

Hari demi hari, saya mencoba mengenali setiap individu dari mereka. Mulai sering ngobrol tentang hobi, diskusi tentang beragam hal yang ada di sekitar, lalu membuka diri untuk dapat menerima setiap masukan dari mereka. Gak baperan. Semua saya terima dengan hati lapang. Lama kelamaan kami semakin dekat dan lebih enak ngobrolnya. Mereka semakin bisa menyampaikan kritik namun tidak dalam tendensi meminta Kakak-kakaknya untuk jadi sempurna. Mereka mulai bisa menerima semua kekurangan kami. Saat semua terasa dekat dan lebih nyaman, tiba-tiba kami semua harus berjarak. Tidak bertemu secara langsung di sekolah, namun bertemu secara virtual. Kami melakukan ini sejak pertengahan Maret 2020. Kami semua terpaksa harus belajar dari rumah, bekerja dari rumah dan beribadah dari rumah. Hal ini kami lakukan sebagai cara memutus mata rantai penularan virus Corona. Tapi, selama belajar dari rumah, teman-teman pun cukup kooperatif menuntaskan semua tanggung jawabnya dengan upaya terbaik. Walaupun di awal kegiatan dari rumah, situasinya tidak mudah. Teman-teman kewalahan dengan tanggung jawabnya, apalagi orang tuanya sangat kewalahan karena harus mendampingi mereka belajar dari rumah, padahal mereka sendiri harus tetap bekerja dari rumah. Semua ini tidak mudah. Begitu pula buat Kakak-kakaknya. Saya pun harus bisa membagi waktu mendampingi anak saya (peran ibu), juga harus bisa mendampingi teman-teman ketika mereka kesulitan belajar (peran guru). Seiring berjalannya waktu, semua semakin terbiasa, dan tak terasa kita semua tiba di penghujung tahun ajaran 2019-2020. Huft, rasanya satu tahun bersama tidak terasa. Rasanya satu tahun ini banyak hal baru. Rasanya baru kemarin mengenal mereka. Rasanya berat ketika mereka akan berpindah jenjang. Tapi, satu tahun ajaran ini banyak rasa yang masih bisa disyukuri. Bersyukur pernah mengenal mereka, bersyukur semakin mengenal mereka, dan bersyukur bisa diberi waktu untuk belajar bersama mereka. Terima kasih ya semuanya, sudah pernah jadi bagian dari cerita ini. Cerita yang membawa saya semakin banyak menarik napas untuk lebih sabar. Terima kasih semua.  

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Luar biasa kak Ana. Menerima kritik memang sungguh tak mudah, saya sendiri kadang kurang bisa legowo menerima kritik. Apalagi dari anak-anak. Proses belajar yang luar biasa!

    • terima kasih. kalau gak gitu sayanya bakal baperan dan mungkin akan berpikir tanpa hati, pragmatis, yaitu ngajar saja. semoga kita semua bisa terus belajar dari mereka. 

This reply was deleted.

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.