Resensi salah satu buku favoritku

Judul: Burlan-Serial Anak-anak Mamak

Penulis : Tere-Liye

Penerbit: Republika

 Cetakan:IV, Oktober 2011

 Tebal:341 halaman

Burlian sendiri adalah anak kedua dari 3 bersaudara, dia memiliki adik perempuan bernama Amelia dan seorang kakak bernama Pukat. Di kampung dimana ia tinggal penduduknya mayoritas bekerja sebagai pekebun atau bertani. Ayahnya sendiri selain bekerja di kebun juga seorang yang sangat di hormati di kampungnya sebagai penjaga hutan.

Dalam novel ini pada bab-bab awal di isi dengan cerita-cerita kesederhanan dan kesahajaan orang-orang dusun (kampung). Bagaimana mereka membela kehormataan bagaimana mereka memegang tradisi dan nilai luhur. Dan itu ada pada diri Burlian, seorang anak yang istimewa, berbeda dari anak-anak SD seusianya. Saat kelas 2 SD Burlian sudah bisa mengerti tentang kesedihan Ahmad temannya yang diperolok-olok oleh kakak-kakak kelasnya. dan juga mengerti keadaan Ahmad tentang kebangkrutan pabrik karet yang dimiliki Ayahnya hingga meninggalkan kampung.

Bukan itu saja novel ini juga memiliki cerita yang begitu mengharu-biru. Di mana Burlian masuk di kelas 5 atau 6 SD. Pada hari Senin ketika baru saja selesai menunaikan upacara bendera secara tiba-tiba bangunan sekolahnya runtuh. Burlian mengalami ”insiden” tertimpa atap sekolah yang runtuh hingga kepalanya bocor. Dan lebih mengharukan ketika dua teman sekelasnya yang kembar Juni dan Juli satu-satunya di kampung itu meninggal. Hingga akhirnya kabar sekolah runtuh itu pun mengemparkan sampai-sampai di liput oleh TVRI channel televisi—yang ada satu-satunya saat itu.

TNI yang bertugas mengadakan lomba lari dengan hadiah Rp 5.000.000-15.000.000. Saat itu burlian menang dengan menduduki posisi pertama.

Hal itulah membuat banyak pejabat yang mengunjungi kampung itu. Dan yang paling menohok saat kejadian itu adalah Pak Bin. Sang guru SD yang bersahaja mengabdikan hidupnya di sekolah kecil di sebuah. Walau impiannya hanya (memiliki) mimpi menjadi seorang PNS meski sepuluh kali gagal ujian PNS. Ia sangat menyesal atas kejadian itu. Ia sangat merasa bersalah terhadap kecelakaanitu—yang menimpa murid-muridnya sekaligus ingin marah terhadap pemerintah yang selama ini tidak memberikan bantuan apapun untuk sekolah itu.

Namun kesedihan Burlian berangsur-angsur hilang ketika ia berkenalan dengan seorang insinyur asal Jepang bernama Nakamura yang sedang membangun jalan lintas Sumatera. Dalam perkenalan itu Burlian sampai mendengarkan Nakamura bercerita tentang anak perempuannya seorang gadis kecil yang cantik bernama Keiko yang seumuran dengan Burlian. Hal itu sampai membuka cakrawala Burlian terhadap dunia luar termasuk membangun mimpinya lebih besar lagi untuk keliling dunia.

Saran saya untuk buku ini adalah dikitkan typonya.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Seru banget...

    Ditunggu review bukunya lagi yaa....

This reply was deleted.

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.