Procrastination and Teenagers (Bagi2 pengalaman)

5478839265?profile=RESIZE_180x180

Hari Sabtu! Pagi-pagi sesudah ngobrol kangen dengan teman-teman Smipa menggunakan Google Meet aku duduk di depan TV. Kopi sudah dari tadi habis dan mangkuk bekas sarapan masih di depanku. Kebetulan tadi aku masih punya Cajun Style Jambalaya soup kegemaran. Soup ini sebetulnya khas makanan daerah selatan sekitar Louisiana yang terkenal dengan ciri khas cajunnya yang merupakan akulturasi budaya Southern dengan Perancis, dalam bidang kuliner menciptakan makanan yang khas seperti sosis pedas Andouille yang dicampur dengan rempah-rempah seperti cajun seasoning yang aromatik dengan bubuk garlic, paprika, chayene pepper, oregano dan lain-lain, ayam, nasi dan puree tomat. Hasilnya sajian sup yang berwarna coklat kemerah-merahan yang nikmat. 

TV isinya berita tentang demonstrasi sebagai aksi protes gara-gara polisi di Minnesota melakukan keteledoran pada saat menangkap seorang berkulit hitam yang kemudian meninggal karena si polisi menekan lehernya dengan lutut di tepi jalan selama bermenit-menit. Aksi kebrutalan polisi ini mengakibatkan timbulnya demonstrasi  setidak-tidaknya di 30 kota di seluruh negeri. Demo ini semakin diperparah gara-gara presiden kurang bijak dalam memberikan komentarnya di twitter yang justru membangkitkan kemarahan. 

Bosan dengan huru-hara di TV, aku mulai merenung. Kejadian 3 bulan terakhir ini sama sekali tidak mudah. Sekolah Kano secara resmi sudah berakhir pada tanggal 28 kemarin, report card sudah dapat dilihat di parenvue, sebuah platform virtual yang dapat dikunjungi oleh orang tua untuk melihat perkembangan study anaknya. Di sini aku mulai kembali terkenang dengan asyiknya membaca buku raport Smipa selama 6 tahun Kano di sana. Rapot Smipa memang sangat unik, tidak ada duanya dan selama ini belum pernah dimana pun juga aku menjumpai buku laporan perkembangan pendidikan siswa seperti ini. Aku bilang laporan pendididkan bukan laporan study loh. Sebab pendidikan mencakup banyak aspek, tidak hanya soal nilai evaluasi mata pelajaran! 4 tahun yang lalu aku pernah menulis tentang ini di sini

:https://justjosite.wordpress.com/2016/11/30/mirror-elephant-and-blind-men/

Yang aku peroleh saat ini dari hasil laporan perkembangan pendidikan anakku hampir tidak ada! Kondisi ini diperparah dengan masalah virus Corona, dimana komunikasi antara guru dan orang tua hanya sebatas email atau kalau memungkinkan dengan tele conference. Aku tidak membebankan kesalahan pada siapa-siapa karena memang sistem pendidikan di sini ya seperti itu, hanya saja kekecewaan tidak dapat aku sembunyikan. 

3 bulan terakhir ini sangat berat. Aku baru menyadari sesudah terlambat bahwa remaja dalam masa isolasi ini tantangannya sangat luar biasa.Aku mempercayai Kano 1000% sebagai seorang anak yang bertanggung jawab terlebih ketika lulus Middle School dia sudah membuktikan sebagai seorang anak yang berprestasi dengan memperoleh President Award yang ditanda-tangani langsung oleh president Trump. Semester pertama memang prestasi dia menurun dan aku anggap wajar karena masih masa transisi dan penyesuaian diri, terutama dia kehilangan banyak sahabat kentalnya. Semester 2 hanya berlangsung sebentar karena sesudah Spring Break, anak-anak tidak kembali lagi ke sekolah tetapi belajar di rumah. Setiap hari kami memonitor kegiatan Kano selama belajar mandiri. Biasa saja, setiap hari dia lapor semua kegiatan belajar berjalan lancar. 2 minggu terakhir aku seperti kebakaran jenggot karena ternyata Kano banyak berhutang tugas, tidak tanggung-tanggung, seluruhnya ada 65!!!! 2 minggu terakhir rumah sangat heboh karena dia harus bekerja keras mengejar ketinggalannya.   

Aku bingung sekaligus tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kalau melihat selama belajar di rumah, aku bisa menyaksikan bahwa Kano bekerja keras, kadang harus mengerjakan pekerjaan sekolah hingga lewat tengah malam. Yang aku tahu, seperti yang dia akui, dia kehilangan motivasi, dia kehilangan pergaulan sosialnya dengan peer groupnya. Selama ini memang tidak jarang aku mendengar dia berbicara di telepon atau bahkan ngobrol online dengan teman-temannya. Itu semua sebetulnya menyita banyak waktu belajarnya, tetapi ya harap dimaklumi karena anak remaja itu sangat membutuhkan relasi sosial dengan kelompoknya. Ini adalah saat di mana mereka secara intens berhubungan. 

Apakah anakku pemalas? itu menjadi pertanyaan yang agak tendensius sekaligus judgemental. Tidak! bahkan dari beberapa buku yang aku baca tentang perkembangan anak remaja, dijelaskan panjang lebar apa itu pemalas. Anak ini ternyata terjebak dalam masalah procrastination!!! Menunda-nunda!

Dari sebuah artikel yang aku baca tentang masalah ini, ternyata kecenderungan remaja mengalami masalah ini sangat besar dan sangat banyak dijumpai. Orang-orang dewasa sangat mudah secara judgmental menuduh anak-anak ini sebagai pemalas, padahal sesungguhnya banyak alasan mengapa anak-anak remaja bergumul dengan kondisi ini.  Prokrastinasi (hmm.. ini gitu bahasa Indonesia serapannya?) memberikan perasaan yang menyesatkan para remaja bahwa mereka secara optimistik merasa "in control", mereka over estimate situasi serta kemampuan sendiri dan kemudian bersantai-santai melakukan sesuatu yang mereka sukai misalnya asyik nonton Youtube tentang topik yang mereka sukai, ngobrol dengan teman-temannya atau bermain game. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa waktu terus bergerak dan tugas baru dikerjakan di detik-detik terakhir. Mereka senang menunda melakukan tanggung jawabnya karena  memberikan ilusi tentang kebebasan. Prokrastinasi bukanlah bentuk kemalasan tapi lebih merupakan kebiasaan yang tidak tepat dalam mengorganisasikan waktu secara efisien. 

Kenapa para remaja sering terjebak dalam situasi ini? ternyata ada beberapa penyebabnya. Yang pertama adalah kemarahan! Ini mungkin yang Kano alami karena dia merasa tidak suka, jengkel bahkan marah karena selama 3 bulan ini dia tidak bisa bertemu dengan teman-temannya. Dia bilang bahwa dia suka ke sekolah bukan karena sekolah itu menarik (hmm.. beda banget sama Smipa ya), tetapi karena di situ dia bisa berinteraksi dengan peer group-nya, di situ dia mereasa sebagai somebody karena dia merasa penting di antara teman-temannya, sementara jika di rumah, dia bukan sosok yang penting atau berkuasa. Rasa ketidak-sukaannya diungkapkan dengan melakukan sesuatu yang dapat membuat dia senang, yaitu dengan sibuk berseda gurau dengan teman-temannya secara online, ngobrol berjam-jam di telepon atau melakukan sesuatu yang dia sukai bukannya mengerjakan tanggung jawab sekolahnya, toh dia merasa tugas itu mudah dan bisa dia lakukan in no time. Dia tidak sadar bahwa kebiasaan itu terus mengakibatkan pekerjaannya menumpuk. Dia memang melakukan tugas-tugas itu tapi tidak sampai tuntas dan tidak dia submit ke gurunya.

Kedua, Kambing Hitam! Misalnya begini, Kano tidak menyukai pelajaran Bahasa Inggris karena dia tidak suka dengan literatur yang harus membahas novel William Shakespeare, membuat puisi dan sebagainya. "it's ridiculous!" katanya. Pola kambing hitam ternyata seperti ini, Kano tidak suka pelajaran dan membuat dia tidak nyaman dan kesulitan dalam mengerjakan tugas, lalu buat apa dikerjakan? 

 Ketiga, Ketidak-yakinan pada diri sendiri, Kano mulai sekolah di sini di semester ke-2 di kelas 6, Banyak hal yang dia tidak pernah pelajari sebelumnya seperti sejarah Amerika. Yang sebelumnya dia belajar perang Diponegoro, tiba-tiba dituntut harus megetahui apa yang terjadi selama perang sipil di Amerika. Matematika buat dia bukan masalah, karena di Indonesia sepertinya lebih advance. Tapi dalam beberapa mata pelajaran Kano masih buta. Bahasa Inggris walaupun sebetulnya itu bahasa pertama dia, tapi di sekolah di Indonesia berbeda dengan di sini, dia harus mempelajari literatur, membaca buku-buku sastra yang bagi orang lain yang terbiasa membaca buku Harry Potter, misalnya, buku sastra seperti membaca buku kuno yang bahasanya aneh! Nah mungkin beberapa hal ini membuat dia kurang percaya diri palagi dia harus mengejar ketinggalan. Beban semakin berat, bahan semakin menumpuk, menjaikan tantangan semakin besar. kesulitan ini mungkin mengakibatkan dia berpikir tidak cukup pandai. Mencoba mengejar ketinggalan bukan menjadi opsi yang disukai karena melibatkan kemungkinan gagal, lalu berusaha menutupinya dengan mengatakan semuanya sudah "beres"!

Keempat, Perfeksionis! Suatu saat Kano turun ke bawah dari tempat kerjanya dan terlihat sangat emosional.

Aku tanya,"Are you ok?" 

"No! I hate school, I hate online classes! I have tried over 300 possible answers, I have tried to do the same test over and over again, hundred times. Still it did not take my answer. I could not get perfect score because of that stupid number 7!" katanya sambil matanya berkaca-kaca. 

Kano sudah mengerjakan soal test yang sama selama lebih dari 2 jam. Dia berusaha memperoleh nilai tertinggi, tetapi sepertinya ada masalah karena dia sudah mecoba jawaban yang berbeda-beda dari pilihan yang disediakan, tidak ada satupun yang benar. Pada hari itu dia harus menyelesaikan 3 kelas dan selama 2 jam dia terjebak dengan sebuah test yang aneh itu. Kano hapal semua jawabannya, dan akhirnya dia menyerah dan menyelesaikan 3 buah test kurang dari 10 menit karena dia sudah hapal semua, tapi dia sudah kehilangan lebih dari 2 jam.

Semester ini menjadi pelajaran sangat berharga bagi Kano dan juga bagi kami orangtuanya. Kami baru melihat permasalahan ketika waktu sudah sangat terlambat. Dari 65 tugas yang tertinggal, masih ada banyak yang tidak mampu terselesaikan. Aku bayangkan jika sekolah di Smipa di mana interaksi antara guru dan orang tua terjalin sangat erat dimana komunikasi menjadi sesuatu yang normal dilakukan sehari-hari, maka masalah seperti ini mungkin sudah akan terdeteksi sejak awal. Di sini jangankan kami dapat berkomunikasi dengan lancar, guru-gurunya Kano hanya kami kenal namanya saja. Aku baru 1 kali bertemu dengan mereka dan itupun tidak semua! Baru 2 minggu terakhir kami memperoleh banyak email bahwa banyak tugas Kano terbengkalai. Dalam waktu pendek itu kami berjuang dan berusaha mencari tahu ada masalah apa di balik keteterannya. Baru beberapa hari terakhir ini mataku terbuka dan sudah terlambat. Nilai kacau balau walau Geometri masih ada di puncak dengan nilai A, selebihnya hancur. Well, 4 tahun lalu aku menulis bahwa nilai bukan hal utama karena karakter secara holistik yang lebih berperan dalam pendidikan. Nilai akademik bisa diperbaiki tapi karakter tetap menjadi fondasi sebuah pribadi yang berhasil. 

Lalu apa yang kami akan lakukan di semester pendek di musim panas ini? Banyak contoh yang bisa diperoleh dari artikel-artikel yang dapat dijumpai di internet, beberapa diantaranya adalah dengan menmbantu mem-break down tugas tugas dari mulai yang termudah; membantu Kano untuk lebih percaya diri untuk menyelesaikan tugas; membantu mengantisipasi rintangan yang mungkin dihadapi dan membimbingnya untuk melalui rintangan itu, bahkan bila perlu dengan jalan memutar; Membantu mengidentifikasi waktu terbaik untuk mengerjakan tugas tertentu, misalnya jika harus meneliti bunga maka dikerjakan ketika hari masih terang bukannya malam-malam keluar rumah dan mulai meneliti; membantu untuk mengembangkan kebiasaan "mulai sekarang" daripada melakukan hal yang lain baru kemudian keteteran di akhir, untuk hal ini sepertinya Kano sudah belajar di 2 minggu terakhir ini. Nanti deh aku bagi ceritanya di akhir semester pendek musim panas apakah strategi ini berhasil baik.*** 

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Procrasteenager ini ya, Pak Jo. 😊

    • super procrasteenager! skg mulai banyak berubah karena dia set up goal. Kalo gagal dia akan kehilangan privilege yg dia suka, jadi ada motivasi besar. 😀

    • Tapi beberapa pemikir orisinal memang procrastinator. Ini ada talk menarik tentang hal itu:

      https://www.youtube.com/watch?v=fxbCHn6gE3U

    • wah mantap ini 👍👍👍

  • Selalu senang membaca pengalaman orang tua berproses bersama anak remaja. Buat bekal perjalanan bersama si bocah yang masih panjang menuju remaja. 

    Terima kasih pak Jo!

    • Sama-sama Mbak Dyah 🙏

This reply was deleted.

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.