NormalBaru #2

5176302658?profile=RESIZE_400xKita sudah dibekali di dalam diri suatu kemampuan primitif yang kita gunakan untuk bertahan hidup. Kemampuan ini juga diperoleh sejak janin masih di dalam kandungan. Sehingga pada saat kita mengalami ancaman maka secara naluriah biasanya kita memiliki respon untuk menghadapi situasi atau lari dari situasi berbahaya tersebut.

.

Sama halnya di tengah ketidakpastian masa pandemik kali ini, secara naluriah kita memiliki responnya masing-masing dalam menyikapi situasi. Meskipun respon yang ditunjukan akan beragam bentuk, namun pada umumnya respon tersebut bisa dikategorikan dalam dua bentuk, yakni mau menghadapi dan lari atau menyangkal apapun yang terjadi di masa pandemik.

.

Kita bisa menyadari bahwa di tengah ketidakpastian ini banyak sekali yang menawarkan jawaban. Kemudian secara naluriah pula kita akan berusaha mencari dan memilih jawaban yang cocok sebagai bentuk mekanisme pertahan diri untuk memenuhi naluri keingintahuan kita. Dan lucunya terdapat kemungkinan bagi kita untuk tersesat karena banyaknya pilihan jawaban atas ketidakpastian dan ketidaktahuan.

.    

Salah satu persoalan yang dapat menghantarkan diri pada ketersesatan dalam memilih jawaban diawali oleh hal-hal yang sifatnya transaksional. Artinya, ada pertimbangan tawar menawar dalam memilih sesuatu dan nampaknya kita terlatih untuk hal ini. Sebagai contoh adalah melakukan sesuatu agar memperoleh sesuatu, menjalankan ritual tertentu agar memperoleh sesuatu. Meskipun demikan tidak ada yang salah dengan sesuatu yang sifatnya transaksional ini.

.
Terdapat keunikan di masa pandemi ini, seolah mengajarkan sesuatu yang lain. Dia seperti memberikan pesan agar manusia mulai percaya pada penyelenggara kehidupan. Dalam kondisi serba tidak pasti ini dan dalam kondisi ketidaktahuan, segala sesuatu yang transaksional nyatanya tidak mampu melenyapkan ketidakpastian dan ketidaktahuan itu sendiri. Sehingga melatih diri membangun kepercayaan pada penyelenggara kehidupan adalah sarana untuk melewati ini semua. Bahkan untuk masa-masa selanjutnya.

 

 

Ilustrasi oleh Erik Brede

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.