AES#11 Menulis, Untuk Siapa? (dan Untuk Apa)

AES#11 Menulis, Untuk Siapa? (dan Untuk Apa)

 

Menulis lagi tentang menulis nih... Kalau ditanya apa manfaat menulis sepertinya banyak orang bisa menjawabnya. Kalau ditanya lagi untuk siapa kita menulis, di sini jawabannya bisa mulai menarik. Apalagi di jaman media sosial seperti sekarang ini… Menulis itu untuk siapa, untuk kita sendiri atau untuk orang lain? 

Buat saya pribadi, menulis itu sebetulnya untuk diri saya sendiri. Menulis bagi saya adalah proses reflektif yang luar biasa. Karena pada saat kita menuangkan gagasan atau pemikiran ke dalam sebuah media penulisan, posisi kita adalah seperti menempatkan diri mengambil jarak untuk bisa mengamati gagasan dan pemikiran kita sendiri. Proses reflektif ini tidak serta merta muncul karena menurut saya, proses reflektif membutuhkan sebentuk proses kesadaran juga. Perlu ada kesadaran bahwa saya sedang mengamati pemikiran dan gagasan saya muncul melalui apa yang sedang saya tuliskan.

Kalau kita cermat mengamati, buku-buku yang dituliskan penulis-penulis besar menggambarkan proses reflektif yang luar biasa dari orang-orang tersebut. Karya tulis yang dihasilkan memang mencerminkan kualitas individu dari orang-orang tersebut.

Saya menulis juga untuk mengkristalisasi banyak pemikiran yang seringkali tumpang tindih bahkan semrawut dalam benak saya. Menulis membantu saya untuk memfokuskan diri, dan menata berbagai pemikiran ke dalam satu rangkaian yang lebih terstruktur. Apa yang terserak dalam benak kita tentunya hadir dari berbagai sumber, apa yang kita baca, kita amati, kita alami, kita imajinasikan dan lain sebagainya. Menulis adalah proses yang sekuensial (berurutan) jadi kalau tulisan saya mudah dipahami, berarti saya berhasil menata pikiran2 yang ada menjadi lebih tertata baik.

Blog saya yang pertama, saya beri tagline: leaving some traces behind, meninggalkan jejak. Untuk siapa? Buat orang-orang yang terdekat, orang-orang yang paling saya sayangi. Karena proses kehidupan setiap orang tentunya sangat berharga. Seringkali kita merasa kisah kita ga bermakna, padahal setiap individu adalah kepingan dari satu puzzle besar semesta. Kita adalah bagian daripadanya, dan dengan demikian setiap kepingan menjadi berharga. Kisah kita bisa jadi inspirasi buat orang lain, karena kepingan kita pasti bertaut dengan kepingan lainnya...

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • sudah dipindah nih ke Ririungan baru. 👌

  • quotes lagiiii... hahahaha...

    setuju pake banget ka andy... karena biasanya manusia cenderung mencari kisah dan cerita yg mirip kisah hidupnya... selain hanya untuk sekedar mencari yg memiliki kisah serupa dengan dirinya, juga utk mencari inspirasi, siapa tau menemukan solusi atas masalahnya...

    • Maapken ka Fifin. Saya memang penggemar Quotes. Dulu hanya sekedar ngumpul2in yang bagus2... Sekarang lagi berusaha naik level lah... Berusaha memaknai. Sejauh mana quotes2 itu bukan hanya jadi kata2 yang keren tapi terkoneksi sama apa yang kita alami...  

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa