writing (12)

AES076 Semua Orang Bisa Menulis

Siang tadi rekan-rekan orangtua KPB berkumpul untuk sesi Taki-taki (ancang-ancang) Pembelajaran KPB di TP17 ini. Setelah membicarakan berbagai hal, perbincangan menyentuh Atomic Essay Smipa. Teman-teman KPB sendiri sudah mulai mencoba, membangun rutin menulis satu esai pendek setiap hari. 

Hal ini menarik berbagai respon orangtua. Selesai pertemuan ditutup, muncul di benak saya bahwa semua orang bisa menulis. Pasti bisa. Kalau teman2 ingat, sejak kita duduk di bangku SD, kita belajar menulis. Dan di sepanjang perjalanan kita belajar, kita juga terus diminta menulis. Apakah itu membuat karangan atau merangkum satu pelajaran. Di SMP dan SMA kita selalu diminta membuat laporan setelah melakukan percobaan di laboratorium. Di bangku kuliah kita diminta membuat berbagai tugas dan esai dan di penghujung bangku kuliah, kita diminta menuntaskan sebuah tulisan ilmiah dan mempertanggung jawabkannya dalam sidang skripsi. Masih ingat ya? Betapa kita terus menerus menulis. Perkara suka atau tidak, itu hal lain. Saya tau banyak juga teman yang dulu punya buku harian (diary). Waktu saya SMP dulu, ada yang punya buku kenangan, buku yang diedarkan dari teman ke teman, dan kita diminta menuliskan sesuatu di dalam buku itu yang kemudian dihias sesuai kesukaan kita. 

Semua orang bisa menulis. Saya yakin itu. Hal kedua yang mungkin muncul adalah pernyataan bahwa "aku tuh bingung mesti nulis apa". OK, kita coba jawab ya. Dulu di sekolah atau di bangku kuliah, segala suatu perkara menulis kita datang dari perintah guru. Tapi kalau sekarang kita diperbolehkan menulis tentang apapun, apapun juga, masa sih ga ada sesuatupun yang kita bisa tuliskan? 

Respon ketiga yang mungkin muncul adalah "tapi aku tuh ga bisa nulis banyak-banyak..." Baiklah. Saya coba copas teks di atas ini ke Word atau Google Docs ya. 
Hasilnya, Word Count menunjukkan 275 kata. Sudah melampaui apa yang jadi acuan Atomic Essay. Tidak banyak... Di atas ini ada empat paragraf, dengan paragraf kedua yang paling panjang. Lalu soal waktu. Sejak saya mulai menuliskan ini, saya kira-kira menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Tidak banyak juga. Kalau ditanya berapa banyak kita menghabiskan waktu memelototi media sosial, rasanya bisa jauh lebih lama dari ini... 

Jadi begitulah teman-teman, kembali ke judul di atas, semua orang bisa menulis. Saat kita mencoba melakukannya setiap hari lewat Atomic Essay ini, kita akah terkagum-kagum, bangga dan bahagia terhadap diri sendiri, tentang apa yang berhasil kita lakukan... Satu-satunya yang perlu dilakukan adalah mencoba memulainya...  Saya tutup esai ini dengan 390+ kata. Selamat malam semua. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya besok.  

Photo by Etienne Girardet on Unsplash

Read more…

AES072 Berbagi Kepingan Kehidupan

Pada saat memulai Atomic Essay ini, apa yang dituangkan dalam tulisan-tulisan ini sangat jauh dari bayangan saya. Awalnya esai-esai ini hanyalah sekedar tulisan - kisah-kisah sporadis dari berbagai sudut pandang dan pengalaman. Ada yang nyambung, ada yang garing, ada yang serius juga - ada juga yang sulit dipahami. 

Setelah beberapa waktu, saat tulisan-tulisan ini mulai terkumpul cukup banyak, mulai ada hal yang menarik yang muncul dari sana. Kita yang terlibat di dalamnya mulai terasa nyambung satu dan lainnya. Tanpa diduga. Karena beberapa dari kita yang menulis di sini belum lama juga saling mengenal. 

Semakin lama, semakin menarik mengamati apa yang dituangkan. Sepertinya ini adalah akibat dari rutinitas kita menulis. Awalnya mungkin receh, tapi komitmen kita menulis sepertinya mendorong kita menggali lebih jauh ke dalam diri kita. Tidak bisa terhindarkan - karena bisa jadi kita juga semakin kehabisan receh-recehnya kita - dan ini mendorong kita merogoh lebih jauh ke dalam diri kita masing-masing. 

Tidak jarang kita membaca catatan yang cukup mendalam dari teman kita. Buat saya hal ini luar biasa. Pertama-tama hal ini hanya mungkin terjadi karena lingkungan ini adalah lingkungan di mana teman kita itu merasa aman. Aman untuk berbagi kepingan kehidupan yang mungkin biasanya terpendam dalam-dalam. Ada juga yang menuliskan tentang kendala atau tantangan apa yang dihadapi dalam melangkah dalam kehidupannya. 

Cukup sering juga kita membaca kisah sejarah, atau kesukaan yang sangat personal. Hal-hal yang mungkin juga tidak banyak diungkap dalam percakapan sehari-hari. Ada juga yang bicara tentang orang-orang terdekat, memori atau kerinduan diri. Duh buat saya semua ini luar biasa. Bukan hanya itu, ini kehormatan besar buat saya, buat kita semua yang dipercaya untuk membaca dan mencerna tulisan-tulisan ini... Jujur saya merasakan ada koneksi yang mendalam yang lahir lewat proses menulis di dalam ruang kolektif ini. 

Di dalam situasi pandemi yang menjauhkan diri kita secara fisik, ada bentuk koneksi lain yang berhasil ditemukan. Mudah2an saya ga lebay - dan hal ini juga dirasakan oleh teman-teman semua. Lebih jauh, saya berharap lebih banyak teman2 yang bergabung. Dalam konteks belajar - menjadi manusia seutuhnya, menurut saya tidak ada yang lebih berharga daripada kepingan kehidupan yang bisa kita bagikan...  

Read more…

AES062 Menjelang Tengah Malam

Sejak sekitar 2 bulan yang lalu, ada satu waktu yang tanpa disadari jadi sangat saya nantikan. Setiap hari, tanpa terputus. Waktunya ya sekitar jam segini ini - menjelang tengah malam... Biasanya saya sudah mulai mengantuk, tapi sekarang ada yang sangat saya tunggu. Menunggu tulisan teman2 muncul. 

Saya sangat menikmati apa yang dituliskan teman-teman membagikan kisahnya lewat kata-kata di ruang penulisan ini. Kantuk saya hilang, saya menanti-nanti posting demi posting muncul di layar, dengan penuh tanda tanya apa yang akan disampaikan. Dulu saya lebih sibuk dengan apa yang saya tuliskan, tapi sekarang agak berbeda, karena setelah sekian lama membaca kepingan-kepingan kisah, kita jadi semakin kenal teman kita tersebut. Di esai saya yang ke 31, saya menulis tentang Connecting People. Tidak lama setelahnya Jo juga menulis tentang hal yang sama : Connecting People (esai Jo ke 49). Jadi kita punya kesimpulan yang sama. 

Kalau dipikir ini luar biasa ya, bahwa ruang virtual - digital ini bisa jadi tempat kita berbagi rasa, dan mengoneksikan kehidupan kita satu sama lain - dalam situasi kita semua berjarak dan tidak berjumpa karena pandemi. 

Apa yang dialami buat saya jadi sangat berharga. Sangat berbeda dari sekedar saling menyapa atau memforward info-info yang setiap hari terus keluar masuk lewat WhatsApp atau media lainnya. Saya yakin ini satu kekuatan lain dari Atomic Essay. 250 kata ini mendorong kita untuk mengungkap sesuatu yang tidak sekedar basa-basi atau omong kosong belaka - bahkan pada saat kita tidak punya ide menuliskan apa... 

Jadi ya begitulah, menjelang tengah malam, selalu menjadi happy hour-nya saya. Dan selalu setiap malam, saya bisa menutup hari saya dengan rasa bahagia karena terkoneksi dengan teman-teman yang membagikan kisahnya lewat tulisan-tulisan pendek di sini. Secara khusus malam ini juga saya bahagia membaca tulisan Rico, No More Zero Days

Terima kasih buat yang selalu setia menulis dan berbagi di sini, semoga bahagia yang sama juga ada di hati teman2 semua. Selamat malam, selamat beristirahat...  

Read more…

Masih ada yang harus disiapkan untuk esok hari... Tapi saya memilih untuk menulis esai saya lebih dahulu. Hari ini satu pencapaian besar buat saya pribadi. Ini esai saya yang ke 60, jadi saya berhasil menulis konsisten selama dua bulan penuh. Sejak 13 Mei hingga hari ini 13 Juli. Jujur saya merasa bangga pada diri saya sendiri. Sesuatu yang tidak pernah saya duga sebelumnya - sejak saya mulai menulis di blog saya yang pertama di tahun 2007. Alamat blog saya yang pertama adalah create-n-live.blogspot.com sebelum pindah ke wordpress di andysutioso.com

9240663471?profile=RESIZE_400xPosting pertama saya tuliskan pada tanggal 5 Mei 2007. Judulnya sederhana : My First Post.

Hari ini saya buka lagi blog saya yang lama sambil tersenyum-senyum sendiri. Perjalanan saya menulis sudah cukup panjang juga. Dan saya senang membacanya - karena semua itu adalah jejak kehidupan saya - setidaknya sejak tahun 2007. 

Di antara periode 2007 s/d 2016 sebelum saya berpindah ke wordpress, tahun saya paling produktif menulis adalah pada tahun 2010. Tahun itu saya menuliskan 32 blogpost. Hari ini selama 2 bulan penuh saya menghasilkan 60 buah tulisan pendek. Bahagia sekali rasanya. Itu sedikit cerita tentang proses tulis menulis saya. 

Tadi setelah makan malam, saya membaca-baca tulisan sahabat-sahabat menulis saya di sini. Pernahkan teman-teman melakukannya? Luar biasa lho apa yan dituangkan dalam esai-esai pendek yang ada di sini. Sebelum saya mulai menulis, angka menunjukkan Atomic Essay Smipa telah mencatatkan 418 buah esai - hasil kontribusi 22 penulis. Meminjam kata-kata kang Wawan Husin : TE O PE BE GE TE! TOP Banget! Tadi Ahkam bilang hitung-hitung kumpulan esai ini telah mencatatkan sekitar 18.000 kata. Juara! 

Secara kuantitas keren ya... Tapi tidak berhenti di situ, coba teman-teman cermati apa yang dituangkan dalam esai-esai ini... Kata-kata yang datang dari hati... Duh isinya menurut saya begitu jujur, tulus, apa adanya. Esai dituliskan bukan sekedar untuk cari sensasi, untuk cari like seperti di media sosial lainnya tapi karena ruang ini adalah ruang penulisan di mana kita bisa menampilkan diri apa adanya - menjadi diri kita sendiri, menuangkannya dalam kata-kata agar kita satu sama lain bisa terkoneksi melalui kemanusiaan kita... Sesederhana, sekaligus seluhur itu juga... 

Buat saya ini adalah satu hal yang membahagiakan, sekaligus membanggakan juga, karena ini ruang kolektif penulisan yang saling terkoneksi. Ini juga yang membedakan dengan platform lain seperti blogger, wordpress dan lainnya. Mudah-mudahan lebih banyak warga Smipa yang mau bergabung di sini... Jujur, selama 2 bulan terakhir ini ini jadi ruang kebahagiaan bagi saya. Hari demi hari menulis esai di sini adalah dosis kecil kebahagiaan buat saya. Mari sisihkan 15-20 menit dari 24 jam waktu kita dalam sehari untuk membagikan hati kita bagi kita satu sama lain di sini, lewat kata-kata... Dalam situasi kita berjarak karena pandemi, ruang ini jadi ruang koneksi yang sangat berharga.

Kalian luar biasa! Merayakan esai saya yang ke 60, tulisan ini saya dedikasikan buat semua sahabat penulis di sini... Hatur nuhun sadayana...

Read more…

AES049 Menjaga Keseimbangan

Beberapa waktu lalu saya menuliskan tentang Do Be Do Be Do... yang intinya adalah bagaimana kita menjaga keseimbangan antara Doing dan Being. Kak Yanti sempat juga menuliskan tentang Mandala, yang secara visual memang merujuk pada keseimbangan dan secara makna memang menekankan pentingnya keseimbangan. Yin-yang yang saya jadikan ilustrasi tulisan ini dengan gamblang menggambarkan tentang keseimbangan. 

Menurut saya ini memang salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan manusia. Tentunya banyak dimensi yang bisa dikaitkan dengan soal keseimbangan ini. Saya ambil  contoh sederhana, kalau kita punya kendaraan bermotor, roda kendaraan kita harus dijaga dalam keseimbangan yang baik, karenanya perlu diseimbangkan - di balancing dari waktu ke waktu. Kalau kita biarkan roda kendaraan kita tidak seimbang, kendaraan kita mudah rusak. Apakah ban-nya akan aus sebelah, atau bearing roda kita yang mudah rusak, mobil terasa bergetar saat dikendarai atau bisa juga mengganggu kerja rem saat kita ingin menghentikan kendaraan kita. Intinya ketidak-seimbangan ini akan mengganggu dan lebih jauh lagi bisa merusak. 

Kalau kita makan tidak seimbang, apakah terlalu banyak makan gorengan atau kurang makan buah, biasanya kita akan jatuh sakit. Saat sekarang kita banyak di rumah dan bekerja di depan komputer, tantangan paling besar adalah menyeimbangkan aktivitas kita yang sangat statis (banyak duduk di depan komputer) dengan gerak atau olah fisik. Omong-omong, sudah dua minggu ini rutin bersepeda saya hilang karena pandemi yang sedang meledak - den membuat saya tidak nyaman banyak berkegiatan di luar rumah.  

Lebih jauh. tentang keseimbangan ini saya ingin mengaitkan dengan menulis - karena dengan segala informasi yang kita terima dari waktu ke waktu, semuanya tersimpan dalam memori kita. Sejauh saya rutin menulis, saya merasakan sesuatu yang berbeda, karena hal-hal yang bertumpuk dalam memori, lewat menulis saya jadi punya kesempatan dan wadah untuk menuangkannya. Saya merasa pikiran saya lebih jernih. Walaupun saya tidak bisa memilah secara jelas apa yang menyebabkan hal itu. Apakah rutin menulis yang saya lakukan setiap hari atau waktu hening yang saya jalankan setiap pagi.  

Tapi toh akhirnya itu ga terlalu penting juga, yang lebih penting ada dampak positif buat saya dari ritual yang sekarang saya lakukan setiap hari. Saya merasa jauh lebih seimbang. Dan apapun itu, keseimbangan adalah hal baik bukan? 

Photo by Дмитрий Хрусталев-Григорьев on Unsplash  

 

Read more…

AES045 A Small Dose of Happiness, Every Day

Hmm ini esai saya yang ke 45. Wow, wow, wow, wow... sudah satu setengah bulan saya konsisten menulis di ruang ini. Sekarang bukan hanya membiasakan menulis, tapi juga sudah mulai masuk menikmati menulis... Dulu menulis adalah sesuatu yang harus diupayakan. Perlu enerji besar untuk mendorong diri menulis. Sekarang saya mulai senang saat selesai makan malam, sambil menuntaskan sisa-sisa pekerjaan2 saya, saya sangat menanti-nanti momen di mana saya membuka laman Ririungan, mengintip sudah berapa angka counter AES. Dan dalam waktu beberapa waktu ke depan saya mulai menebak bahwa beberapa tulisan baru, teman-teman saya menulis akan mulai bermunculan... Tidak lama biasanya muncul gagasan apa yang akan dituliskan, saya mengklik tombol Add Blog Post dan mulai menarikan jemari saya di atas papan kunci... 

Ruang menulis ini mulai terisi dengan kehidupan. Berbagai gambar, dan pemikiran disimpan teman-teman saya di sana. Saya biasa mengamati gambar-gambarnya, membaca judulnya dan memilih beberapa di antaranya untuk saya baca... Tentunya tidak lupa meninggalkan tanda like dan meninggalkan comment. 

Dua hari yang lalu, saya dan Ahkam - walaupun sudah larut malam, ternyata menulis dan memposting di saat yang nyaris bersamaan. Saya buka aplikasi WA saya di desktop dan mengetik pendek, "Selamat malam, Ahkam". Tidak lama pesan sayapun berbalas, "Met malam kak Andy, wah masih belum tidur". Dan akhirnya sayapun ngobrol singkat dengan Ahkam di kesempatan itu. 

Di momen itu, saya menyadari bahwa saya melakukan hal itu sambil tersenyum. Dan itu selalu saya dapatkan setiap malam saat saya menulis... Saya bilang sama Ahkam, sekarang ini, setiap menulis dan memeriksa Ririungan, kok saya jadi tersenyum-senyum sendiri. Tak diduga, Ahkam bilang, "wah sama kak Andy..."

Menarik ya. Buat saya di situasi yang serba tidak menentu, kita ga bisa ke mana-mana, di rumah aja, pandemi sedang melonjak, banyak orang ketularan dan lain sebagainya, saya masih punya waktu, setiap malam, untuk merasakan kebahagiaan kecil. A Small Dose of Happiness...  Konon kabarnya kebahagiaan diri akan meningkatkan imunitas kita... Wah jadi luar biasa ya benefit dari AES ini. Oh iya, saya jadi menemukan topik tulisan baru, terkait hal di atas ini. Badan manusia adalah pabrik kimiawi (a chemical factory). Setiap emosi yang kita rasakan akan memicu aktifnya kelenjar-kelenjar yang menghasilkan hormon-hormon tertentu juga. Ada yang disebut dengan happiness hormones... Nanti kita coba bahas ya...  

Oh iya, hari ini saya buat akun di unsplash.com untuk menemukan ilustrasi yang cocok (gratis) untuk tulisan-tulisan saya. Semoga lebih menambah semangat saya menulis, dan teman-teman di sini untuk menikmatinya. 

Photo credit : Photo by Alejandro Escamilla on Unsplash  

Read more…

AES026 Mari Bergabung

Tulisan saya hari ini saya tujukan untuk mengajak teman-teman semua untuk bergabung di gerakan menulis Atomic Essay Smipa. Sebuah inisiatif yang sampai hari ini sudah menghasilkan 138 buah tulisan pendek, esai-esai singkat dari berbagai topik… Dituliskan oleh, sejauh ini 14 penulis, orangtua, kakak2, alumni…

Gerakan ini kami mulai dari obrolan kecil di sekitar pertengahan bulan Mei 2021. Di tempat ngopi kecil di Babakan Siliwangi yang namanya Escape. Ceritanya ada di tautan ini. Gerakan menulis ini digagas oleh Ahkam, orangtua Smipa yang sudah lama punya kegemaran menulis juga, blogging. Saya juga sama, punya blog dari sejak tahun 2006, yang setelah sekian lama sulit sekali terisi… Gagasan banyak, tapi nyatanya toh sulit juga menuangkannya ke dalam tulisan. Ternyata banyak teman-teman punya pengalaman yang sama. Sampai suatu waktu di Escape itu muncul gagasan tentang Atomic Essay ini. Cerita tentang gagasan ini sendiri saya tuliskan di esai pertama yang berjudul Membangun Tuman (habit/kebiasaan baru). Ahkam sendiri sempat menuliskan apa yang seringkali jadi kendala saat kita menulis di esainya yang ketiga dengan tulisan yang berjudul Perfeksionisme.

Di Esai yang ke delapan, saya membuat posting berjudul Kerennya Atomic Essay – muncul karena sedang terkagum-kagum sendiri karena sejak esai yang kedua, saya berhasil mempostingkan tujuh esai berturut-turut tanpa terputus. Kemudian di esai saya yang ke empat belas, saya menuliskan esai dengan judul 14D 13B 61E – yang sebetulnya singkatan dari 14 hari, 13 blogger dan 61 esai…

Di postingan yang ke 21 saya menulis tentang bagaimana proses ini memberikan saya satu tambahan waktu untuk merefleksikan diri… Tulisan yang ini berjudul 15 Minutes of Me-Time. Betul, memang hanya perlu waktu 15 menit untuk membuat tulisan-tulisan ini. Waktu ini kemudian jadi sangat berharga karena ini waktu yang betul-betul reflektif buat si penulisnya. Oh iya jadi ingat, sebelumnya saya sempat juga menulis satu esai tentang Menulis, Untuk Siapa? (dan Untuk Apa) – di tulisan saya yang ke sebelas.

Tulisan saya yang ke dua puluh lima ini bisa dibilang semacam perayaan – karena apa yang saya rasakan selama ini, bahwa ternyata menulis seperti ini sangat membahagiakan. Ada perasaan menyenangkan setiap saat tangan mengarahkan mouse untuk mengklik publish. Jadi tulisan ini adalah ajakan, undangan buat teman-teman yang saya tahu suka menulis atau pernah menulis. Semoga ajakan ini bersambut – supaya kepingan esai-esai ini bisa jadi tempat cerita kita bersama… tempat pengalaman, gagasan, perasaan bahkan impian bisa kita tuangkan bersama. Dalam situasi pandemi, saat kita berjarak, kita bisa tetap terkoneksi melalui rangkaian kata-kata yang kita bagikan setiap hari… Selamat mencoba…

 

Read more…

AES#21 15 Minutes of Me-Time 

Hari ini adalah hari ke 21 saya menulis esay saya – berturut-turut. Buat saya pribadi ini pencapaian yang spesial. Dulu yang saya tahu, membangun kebiasaan (apapun) itu perlu dilakukan 21 hari, tanpa terputus. Kalau itu rumusnya sebetulnya di hari ini, seharusnya habit itu sudah terbangun. Tapi ternyata ga sesederhana itu. Penjelasannya ada di tulisan saya yang berjudul Habits (Kebiasaan) : Bagaimana Pikiran Manusia Bekerja

Sebetulnya kita semua sudah punya kebiasaan-kebiasaan tertentu. Misalnya kebiasaan kita makan siang, membersihkan diri, ibadah dan lain sebagainya. Tapi kalau diamati, kebiasaan-kebiasaan tersebut kita miliki karena kebiasaan kita sejak kecil atau memang hal-hal tersebut harus dilakukan.

Di luar hal-hal itu, kebiasaan lebih sulit dilakukan. Padahal untuk banyak hal, kita tahu itu baik dan penting juga dilakukan. Contohnya meditasi atau olahraga… Contoh lainnya, misalnya mengolah sampah atau bikin EcoBricks… Masalah mulai timbul karena kita merasa kalau tidak melakukan itu ga apa-apa. Ga ada yang membuat kita harus melakukan hal tersebut. Karenanya untuk hal-hal tersebut hanya sedikit orang yang berhasil memotivasi dirinya untuk melakukan itu.

Hari ini hari ke 21 saya membuat esai. Kalau dilihat ditabelnya, cukup banyak juga teman-teman yang cukup berhasil mendorong dirinya untuk menulis setiap hari. Saya sendiri punya motivator sendiri yang cukup berhasil. Karena saya tidak ingin capaian saya yang sudah sejauh ini (21 hari) terputus… Di tabel Atomic Essay yang kita isi sama-sama kita bisa melihat bagaimana saya atau teman saya berhasil memotivasi dirinya untuk menulis secara konsisten. Semakin lama, tentunya motivasi ini semakin besar. Semacam efek bola salju. Dan kalau di dalam komunitas kita melihat ada teman yang bisa – tentunya ini akan semakin memotivasi… Dia aja bisa, masak sih saya ga bisa… Semacam itu.

Tapi di luar itu, menulis Atomic Essay buat saya jadi sangat menyenangkan. Semacam me time yang spesial buat saya… Berdialog dengan pikiran-pikiran saya sendiri. Proses yang terjadi sambil saya menuangkan kata-kata ke dalam esai saya ini. Saat berhasil menuntaskan satu esai ada suatu kebahagiaan tersendiri. Dan hal ini tidak perlu waktu lama, hanya 15 menit – setiap hari

Jadi... mari maju terus... 

Read more…

AES#13 14D 13B 61E

Hari ini adalah hari ke 14 sejak posting pertama dituliskan untuk menginisiasi Atomic Essay Smipa. Angka dan huruf yang dituliskan sebagai judul di atas ini menggambarkan statistik dari proses 14 hari ini: 14 Days, 13 Bloggers, 61 Essays...

Menurut saya ini pencapaian luar biasa – setelah bertahun2 mencoba mengajak keluarga besar Semi Palar untuk membangun budaya menulis. Menulis kita pahami punya begitu banyak manfaat bagi penulisnya. Literasi adalah salah satu hal penting yang kita sadari betul di Semi Palar. Tapi kenyataannya, begitu banyak upaya kita cobakan untuk membangun budaya dan kebiasaan menulis di Semi Palar. Kita sempat punya lingkar blogger, saya sempat mengajak kakak2 melakukan freewriting setiap selesai koordinasi mingguan, kita menyiapkan platform menulis bersama di Ririungan, tapi ternyata ikhtiar-ikhtiar tersebut tidak membuahkan hasil.

Atomic Essay, sepertinya membuahkan hasil, ada beberapa indikator yang membuktikan hal itu. Sederhananya, blog-count di Ririungan – setelah satu tahun lebih menunjukkan angka sekitar 100 lebih. Sebagian besar daripadanya masih merupakan tugas menulis yang diberikan kakak-kakak bagi teman-teman di kelas. Jadi intinya, sebagian besar masih berupa penugasan – bukan tulisan dari inisiatif atau gagasan dan pemikiran murni penulisnya. Dalam waktu 14 hari, sudah muncul 61 posting dalam konteks Atomic Essay ini.

Lebih jauh, ada dua konsep penting di Semi Palar yang juga mendasari gerakan ini. Pertama adalah apa yang disampaikan Aki Muhidin, yang kedua adalah gerakan yang kita gaungkan di TP15 : Mulai dari Yang Kecil. Dua hal inilah yang menjadi dasar dari gagasan Atomic Essay. Atomic Essay sendiri muncul dari konsep Atomic Habits yang digagas oleh James Clear. Di tulisan berikutnya saya akan coba jabarkan lebih jauh mengenai dua konsep ini. Tapi di titik ini, saat saya menuliskan esai saya yang ke 13, saya sangat berbahagia mengamati penghitung Atomic Essay di Ririungan setiap hari bertambah sejalan dengan berjalannya hitungan hari. Jadi buat teman2 semua mari bergabung di gerakan ini.

 

Read more…

 

Menulis lagi tentang menulis nih... Kalau ditanya apa manfaat menulis sepertinya banyak orang bisa menjawabnya. Kalau ditanya lagi untuk siapa kita menulis, di sini jawabannya bisa mulai menarik. Apalagi di jaman media sosial seperti sekarang ini… Menulis itu untuk siapa, untuk kita sendiri atau untuk orang lain? 

Buat saya pribadi, menulis itu sebetulnya untuk diri saya sendiri. Menulis bagi saya adalah proses reflektif yang luar biasa. Karena pada saat kita menuangkan gagasan atau pemikiran ke dalam sebuah media penulisan, posisi kita adalah seperti menempatkan diri mengambil jarak untuk bisa mengamati gagasan dan pemikiran kita sendiri. Proses reflektif ini tidak serta merta muncul karena menurut saya, proses reflektif membutuhkan sebentuk proses kesadaran juga. Perlu ada kesadaran bahwa saya sedang mengamati pemikiran dan gagasan saya muncul melalui apa yang sedang saya tuliskan.

Kalau kita cermat mengamati, buku-buku yang dituliskan penulis-penulis besar menggambarkan proses reflektif yang luar biasa dari orang-orang tersebut. Karya tulis yang dihasilkan memang mencerminkan kualitas individu dari orang-orang tersebut.

Saya menulis juga untuk mengkristalisasi banyak pemikiran yang seringkali tumpang tindih bahkan semrawut dalam benak saya. Menulis membantu saya untuk memfokuskan diri, dan menata berbagai pemikiran ke dalam satu rangkaian yang lebih terstruktur. Apa yang terserak dalam benak kita tentunya hadir dari berbagai sumber, apa yang kita baca, kita amati, kita alami, kita imajinasikan dan lain sebagainya. Menulis adalah proses yang sekuensial (berurutan) jadi kalau tulisan saya mudah dipahami, berarti saya berhasil menata pikiran2 yang ada menjadi lebih tertata baik.

Blog saya yang pertama, saya beri tagline: leaving some traces behind, meninggalkan jejak. Untuk siapa? Buat orang-orang yang terdekat, orang-orang yang paling saya sayangi. Karena proses kehidupan setiap orang tentunya sangat berharga. Seringkali kita merasa kisah kita ga bermakna, padahal setiap individu adalah kepingan dari satu puzzle besar semesta. Kita adalah bagian daripadanya, dan dengan demikian setiap kepingan menjadi berharga. Kisah kita bisa jadi inspirasi buat orang lain, karena kepingan kita pasti bertaut dengan kepingan lainnya...

 

Read more…

AES#08 Kerennya Atomic Essay

8956063062?profile=RESIZE_400xKemarin saya menambahkan sesuatu di Beranda Ririungan, terkait Atomic Essay ini - yang notabene di luar dugaan, sepertinya bekerja juga. Menggunakan Google Sheets, saya menempatkan counter (penghitung sederhana) – yang mencatatkan berapa total esai yang sudah berhasil dituliskan oleh berapa orang penulis yang berpartisipasi dalam gerakan ini).

Ada beberapa indikator keberhasilan – setidaknya di tahapan awal ini, sebagai berikut :

Saya sendiri berhasil menulis 8 esai (tepatnya 7 esai) berturut-turut dan mempostingkan sebuah tulisan pendek setiap harinya. Ahkam yang awalnya menggagas gerakan ini juga sama, hari ini Ahkam mempostingkan tulisannya yang ke enam. Jojo Felus yang diajak mulai menulis beberapa hari yang lalu – juga sejauh ini sudah mempostingkan postingnya yang ke tiga. Sebelumnya dia bercerita bahwa dia menyimpan sangat banyak draft di blognya. Hal yang sama juga terjadi pada Rico – yang di suatu titik pernah menyimpan sampai 40 judul draft di akun Wordpressnya.

Rico sendiri setelah dimotivasi sekian waktu melihat bahwa ternyata ada sesuatu yang berbeda dengan Atomic Essay ini dan hari ini – setelah sekian lama berhenti membuat posting apapun di blognya – membuat posting pertamanya hari ini dengan judul Starting Over.

Sepertinya kekuatan Atomic Essay ini terletak pada kesederhanaannya. Sebetulnya ini mirip-mirip dengan jargon yang sering kita sebut di Semi Palar dengan MDK (Mulai Dari yang Kecil). Problemnya, di jaman sekarang, manusia terjebak dalam budaya instan yang membuat manusia ingin serba cepat. Di sisi lain, dia juga ingin mendapatkan hasil hebat – dalam waktu cepat juga. Inilah yang sepertinya ga nyambung dengan proses-proses yang bekerja di alam semesta ini. Pada dasarnya semua butuh proses. Kembali ke tulisan saya sebelumnya tentang bagaimana pikiran manusia bekerja, selain butuh Intensi, Atensi dan Aksi, membangun kebiasaan menulis perlu Repetisi… Melihat apa yang sekarang berjalan – Gerakan Atomic Essay Smipa ini punya harapan besar untuk berhasil.

Silakan sering-sering mampir ke Ririungan dan melirik penghitung Atomic Essay di Beranda Ririungan. Di sana kita akan lihat perkembangannya. Salam Smipa.

Read more…

AES#1 Starting Over

It has been a while since I’ve written anything that I didn’t have to. Every so often my father would ask me to write again, since it used to be a good habit of mine back at school. But when you’ve stopped doing something for a long time, it’s always very difficult to pick it up again because you’re basically re-learning how to do it from the start, with the added pressure in your mind that it needs to be good, perfect even. That is a deadly combination for someone like me, and in the end I just don’t bother attempting it. But this atomic essay concept is interesting to me because it removes a lot of the pressure that’s been pulling me back, you don’t have to write a whole book in one go, just several paragraphs each day. And today I’m going to try it!

Here’s something to think about, if you were to die tomorrow, what would your regrets be? For me, I wish I would have written more, I feel like there’s so much I need to say. Everything will fade away eventually, but a piece of your soul that you’ve poured onto a page will still be there (whether if there will be people willing to read it is a different matter)

For me, there’s something special and seemingly magical about the written word, and I think it’s the crowning achievement of humankind. For someone who’s been dead hundreds of years can still make an impact on us with just a few sentences. Your ideas, feelings, insights and experiences are fragile, and would all be lost if you didn’t take action to preserve them. And that’s what so magical about written words, it transcends time and space, it endures.

For someone whose preoccupation involves a lot of thinking and conceptualizing, the ideal medium to share my thoughts is through writing. So, I’m going to continue my journey, writing just a measly 250 words a day, which is a very doable goal if you think about it. Just a 15 minute commitment to sit down and write every day. But it definitely adds up, and in the end it will be an achievement to be proud of. In writing this I’m reminded of the quote, “The best time to plant a tree is 20 years ago, the second best time is now”. And I hope by reading this, you can join me too!

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa