waktu (4)

AES#2 PPKM - Peluang Pribadi Kelola Motif

Selamat pagi, salam hangat.
Semoga teman-teman dalam keadaan baik-baik saja.

Sekali lagi saya kembali menanyakan, apa kabar teman-teman?
2nd Wave of COVID-19 ini nyata terbukti melumpuhkan mayoritas kondisi masyarakat. Baik dari aspek raga dan jiwa, berita duka dan kehilangan, hinggga ke isi dompet. Apapun itu tantangan yang dialami, saya sangat berharap, teman-teman baik-baik saja.

Walaupun ada beberapa sektor yang "melemah" karena pandemi, alhamdulillah saya pribadi tetap berkegiatan menjalani sektor yang tidak begitu terganggu kondisi diluar. Sambil berjalan, intensitas waktu saya untuk berkegiatan diluar memang berkurang karena selain menjaga diri, juga demi menjaga keluarga dan kerabat dekat.

This pandemic and all of their regulations we must "obey" to, menjadi tema yang hangat diperbincangkan di sekitar. Saya akui bahwa kecenderungannya memang ke arah buah pikir yang berakhir negatif dan bermuara keluhan yang terucap. Saya melihat perspektif lain, bahwa ini adalah waktu dimana saya diingatkan bahwa saya memiliki waktu. Waktu ini memberikan saya peluang untuk kembali merenungkan hari. Action yang sudah saya lakukan, Plan yang sudah saya rancang, dan segala bentuk prosesnya yang saya tempuh. Waktu ini berharga, menjadi reminder bagi saya untuk me-re-arrange segalanya, termasuk niat dan motif. Waktu ini memberikan saya nafas lebih untuk kembali ke hal yang mendasar, terlebih mengingatkan saya pribadi ke soal "apa yang sudah saya berikan terhadap lingkungan sekitar".

Saya menemukan ini penting, setidaknya bagi saya, untuk mengumpulkan kembali energi positif untuk saya simpan dan curahkan nanti ketika tiba kesempatannya. Untuk kembali menetralisir isi hati dan menjernihkan isi kepala, mengasah empati dan simpati karena "harus" ikut memikirkan kondisi keluarga, kawan, dan masyarakat pada umumnya yang begitu terdampak kondisi (perih rasanya ketika tidak bisa banyak membantu). Banyak hal yang saya tidak bisa "buang muka" dan menganggap kekalutan ini tidak terjadi. Waktu ini sangat penting bagi saya memulihkan diri, lalu memperkuat diri, sebelum pada akhirnya bisa memperkuat orang lain.

"The measure of intelligence is the ability to change"
- Albert Einstein

Saya berharap teman-teman tetap bisa menjaga semangat. Tetap menjaga momentum yang terasa bergejolak di dalam diri untuk take action dan berandil dalam kebaikan. Jangan khawatir, jangan bersedih, la tahzan, kita akan disanggupkan pada waktunya. Tentunya diiringi semangat untuk beradaptasi. Pada dasarnya, kita (manusia) ada dan bertahan hingga detik ini karena terus beradaptasi.

Read more…

AES054 Mari Segera Memperlambat

Dari hari ke hari, membaca dan menulis di AES semakin seru, karena kok ternyata apa yang dituangkan dalam tulisan kita bisa jadi sambung menyambung. Saya sempat menuliskan tentang ini di esai saya ke 32 : Connecting People waktu itu tentang musik. Esai Ahkam yang terakhir, Tentang Waktu ternyata juga merangkai beberapa tulisan teman-teman di sini... Yang... mengingatkan saya tentang blogpost saya di bulan April 2017, bertajuk antara Waktu, Kehidupan dan Kebahagiaan

Ternyata dari berbagai sudut pandang, kita punya pemikiran yang sama tentang waktu, tentang ritme kehidupan. Saya teringat lagi sama salah satu video dari kanal Youtube favorit saya Green Renaisance. Segera (wah kok malah jadi terburu-buru ya) saya menelesuri mencari video itu dan menemukannya. Barusan saja saya saksikan lagi video tersebut. Hmm, Bagus banget pesannya. Buat teman-teman di sini silakan kenakan earphone / headphone, cari waktu yang tepat, agak larut malam atau pagi-pagi betul saat suasana masih sepi, saksikan filemnya (jangan lupa tombol fullscreen) sambil menyeruput kopi hangat. Dijamin maknyus bener filem di bawah ini. Isinya apa, judulnya tentunya cukup menjelaskan.   

Judul saya di atas sengaja dibuat paradoksikal (bertentangan) - supaya lebih provokatif... Tapi hal itulah yang ada di benak saya sejak saya berpikir tentang ritme kehidupan - dan karenanya muncul tulisan saya di tahun 2017 lalu. Sedikit bercerita, tulisan itu muncul saat saya dan Rico sedang duduk di angkot di dalam perjalanan pulang ke terminal Bus Temanggung untuk menuju Stasiun Kereta Api di Jogjakarta. Saat itu kami baru saja survey kemungkinan Rico menjalani magang di Spedagi - di tempatnya mas Singgih di desa Kandangan. Di angkot itulah muncul perbincangan tentang waktu. Kisah lengkapnya ada di blogpost di atas tadi. Silakan klik tautannya. 

Tapi, seriusan (seriously...) hal ini perlu kita pikirkan dan carikan solusinya. Selama ini kita sepertinya terbawa arus peradaban - yang semakin lama semakin cepat. Masalahnya terjadi karena ritme peradaban manusia modern yang diakselerasi teknologi, sudah tidak selaras lagi dengan ritme alam. Padahal secara hakiki, manusia adalah bagian dari siklus alam semesta. Hal inilah yang menjadikan manusia tidak lagi bahagia... penuh stress, gelisah, resah, galau, depresif dan lain sebagainya. Inilah yang coba digambarkan Ahkam bagaimana manusia sampai bisa melawan insting alamiahnya untuk bertahan hidupnya dengan bunuh diri... Terkait hal ini, filem di atas menggambarkan dengan sangat indahnya. 

Ini adalah ironi terbesar kehidupan manusia. Manusia yang konon punya kapasitas berpikir paling besar di antara makhluk hidup lainnya. Manusia gagal mengendalikan apa yang jadi hasil pemikiran-pemikirannya sendiri dan secara mendasar gagal menemukan tujuan hidupnya - menemukan kebahagiaannya. Seperti Sadhguru bilang, cacing aja bisa dengan bahagia menjalankan hidupnya dan menjadi full-fledged creature. Makhluk2 lain selama sudah menemukan santapannya hari itu bisa tidur tenang dan damai, menikmati hidupnya... Perut penuh, tidak ada masalah. Lain halnya dengan manusia. Manusia itu kalau lapar hanya ada satu masalah. Begitu perut kenyang, muncul seratus masalah... 

Buat kita di Smipa, semoga wacana-wacana seperti ini bisa kita temukan solusinya. Hal-hal yang dituliskan dalam esai-esai di ruang ini adalah bentuk-bentuk kesadaran yang kita miliki. 

Read more…

AES050 What's Next?

Ini esay saya ke lima puluh... Sayangnya saya lagi bingung juga mau nulis apa. Sejak siang tadi simpang siur segala berita tentang COVID dll. Adanya varian baru (lagi) setelah varian Delta, vaksinasi anak-anak dibuka, PPKM Jawa Bali hari ini dimulai, saya lihat foto-foto Bandung yang sepi di jalan-jalan protokol, termasuk ada orangtua baru yang tanya, kak Andy bagaimana semester depan? 

9198124892?profile=RESIZE_400xBeberapa esai saya menulis tentang waktu hening, tentang menemukan jawaban di dalam diri. Tapi entah hari ini belum ketemu juga. Yang ada hanya kebingungan. Mungkin saya berharap terlalu banyak juga.

Sambil bingung saya lihat-lihat posting teman2 di Ririungan. Saya baru ingat kak Tesa menuliskan tentang mencari solusi di dalam diri kita, di dalam hening – di mana kita bisa menemukan jawaban. Karena di sana Tuhan juga berdiam. Bener juga ya… Saya jadi ingat lagi siang tadi, salah satu quotes dari Sadhguru juga mengingatkan akan hal yang sama – untuk melihat ke dalam diri, dalam hening, di sana ada solusi untuk segalanya. Kalau diamati lebih jauh, Sadhguru bilang, bahwa yang akan kau temukan di dalam diri adalah ruang di mana ada solusi untuk segala sesuatu… Jadi ya solusi itu masih tetap harus kamu temukan. Tapi ya, solusi itu ada di sana. Di dalam diri kita adalah tempat untuk menemukan solusi.

Rupanya apa yang saya pikirkan – segala sesuatu yang mondar-mandir dalam pikiran saya, bikin semua jadi keruh, padahal untuk melihat dengan jelas, kita perlu mengendapkan segala sesuatu, supaya pikiran kita jernih…

Sepertinya yang bikin keruh adalah juga ekspektasi kita atas masa depan, padahal, seperti tulisan Fifin mengenai waktu. Waktu yang terus berjalan memberi kita pilihan sederhana, apakah kita bisa membiarkannya berlalu begitu saja atau memberinya makna.

Saat jawaban belum ada, ya begitulah adanya, mungkin jawaban belum waktunya hadir. Ada kalanya, pertanyaan nanti bagaimana perlu dijawab dengan bagaimana nanti… Maknai saat ini, syukurilah segala momen yang ada. Mengalir mengikuti waktu, momen demi momen, dalam hening… Jawaban akan hadir pada waktunya…

Saat ini saya memaknainya dengan penuh syukur, saat saya dapat jawaban dari apa yang dituliskan teman-teman di ruang ini… Luar biasa bukan? Terima kasih banyak teman-teman semua…

illustration : susatalan.com

Read more…

AES27 Tentang Waktu [Pilihan]

Apa yang akan kau lakukan ketika waktu terhenti pada detik ini?

 

Ketika kau sedang menikmati makan malam… 

Ketika kau sedang bercengkrama dengan keluarga… 

Ketika kau sedang menonton film drama Korea favorit… 

Ketika kau membaca buku kesayangan… 

Ketika kau sedang buang air kecil atau besar… 

Mungkin, ketika kau sedang asik menulis atomic essay… 

Ataupun ketika kau sedang khusyuk berbicara dari hati ke hati dengan Tuhan…

 

Hitung berapa jutaan bahkan milyar detik sudah kau lalui… 

Bermakna? Sia-sia? Atau hanya berlalu begitu saja?

 

Kau tahu betul bahwa hidup ini hanya sementara…

Kau bertanya kemana kau pergi berikutnya…

 

Waktu kau, waktu aku, waktu kita, apa bisa diatur seenaknya?

 

Apa kau percaya dengan mesin waktu?

 

Bagaimana dengan reinkarnasi?

 

Waktu… Antara ruang atau dimensi… Ada atau tiada...

 

Kau bisa memilih satu diantaranya…

 

Membiarkannya berlalu, atau memberinya makna.

 

Hanya kau yang tahu jawabnya...



Sambil merenungi waktu yang telah berlalu, mungkin alunan musik dan merdu suara Ken Hirai bisa menenangkan malam…

 

“Both happy and sad things

The clock knew all

Now the clock will run no more”

( Ken Hirai - Ookina Furudokei )

 

Semoga kita selalu memberi makna pada setiap detik waktu yang ada, sebelum waktu berhenti selamanya...

 

Salam,

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa