thoughts (1)

AES061 Berbeda Pandang dengan Descartes

Pertama mendengar kata2 filsuf terkenal Descartes, COGITO ERGO SUM, dulu saya spontan manggut-manggut... Wah bener juga ya. Kita berpikir, karenanya kita ada. Waktu berjalan, belajar, dan terus belajar... Sekarang ternyata saya berbeda pandang dengan Descartes. Punten ya bung... Boleh dong kita berbeda sudut pandang, walaupun anda filsuf... 

Orang yang belajar itu katanya adalah orang-orang yang pikirannya terbuka. Ada kata-kata yang bilang begini...

Your mind is like a parachute. It works best when it is open.

Nah ini saya setuju betul. Saat belajar memahami sisi dalam dan sisi luar, banyak hal yang merujuk bahwa sisi dalam manusia, kedirian yang sejati, adalah lepas dari pikiran-pikirannya. Seperti yang dibilang oleh Deepak Chopra dalam video meditatifnya : 

You my friend are not your thoughts...
You are the thinker of the thoughts...
The thoughts come from you...
So where are you?
You are in the stillness, the silence between your thoughts...
That stillness, that stillness is you...

Saya juga belajar dari Sadhguru, bahwa segala sesuatu yang ada dalam memori yang direkam dalam otak kita datang dari luar, di rekam sejak kita kecil hingga kita dewasa. Karena datang dari luar, itu bukan kita, memang bagian dari kita, tapi bukan diri kita yang sejati (not our own true self). Nah hal ini kalau tidak disadari betul bisa jadi sumber masalah. Karena otak kita (sumber pikiran-pikiran kita) seringkali jadi sumber masalah. Nah inilah yang dijabarkan dengan gamblang lewat video ke empat dari serial Inner Worlds, Outer Worlds, yang berjudul Beyond Thoughts.

Video di atas ini menjadi salah satu bahan belajar bersama kakak-kakak Smipa dalam rangkaian merencanakan pembelajaran TP17. Di semester lalu, video-video ini kita bedah dan diskusikan bersama di lingkar belajar tim LingKung. Kenapa? Karena sejak awal, konsep pembelajaran holistik meyakini bahwa ada dimensi dalam kedirian manuysia yang utuh. Dulu kita belum terlalu paham apa dan bagaimana - baru sebatas tahu (Nyaho). Pandemi COVID ternyata mendorong kita di Semi Palar untuk memahami lebih jauh soal ini. Buat saya pribadi, setelah lebih paham (Ngarti), saya mencoba melakukan supaya Bisa dan saat ini - mudah-mudahan saya sudah masuk tahapan Tuman. Masih ingat ya kata2 mutiaranya Aki Muhidin... Bener banget kok... 

Setelah lebih dari satu tahun, setiap pagi saya memulai hari saya lewat waktu hening. Mengenai ini saya coba jelaskan di posting saya yang berjudul My Morning Sadhana. Ya memang kalau kata Aki Muhidin, kalau kita ingin Ngajadi, ya kita harus melewati Tuman dulu. Ga ada jalan lain. 

Saya juga senang membaca posting Ahkam yang sedang berproses membiasakan diri melakukan Waktu Hening. Kakak2 juga di berbagai tulisannya juga sedang berusaha menemukan - dengan caranya masing-masing waktu hening yang membantu kita semua untuk menemukan BEING-nya kita. Di dalam filem di atas ini, ada kata-kata menarik: "... After all, we are human being, not human doing..."

Kembali ke Descartes, dia bilang manusia berpikir, karenanya manusia ada... Saya lebih setuju pemikiran Sadhguru, "Manusia ada, karenanya manusia berpikir"...

Nyambung sedikit tentang ini, di dalam waktu hening saya, di tahap awal, sejalan dengan tarikan dan hembusan nafas saya mengulang-ulang kata-kata berikut ini secara mental, "Saya bukan badan, saya bukan juga pikiran". Begitu berulang-ulang, semacam mantra. Saya belajar ini dari pendekatan meditasinya Sadhguru. Tujuannya adalah mengambil jarak dari badan dan pikiran kita. Kalau kita berjarak, kita bisa mengamati segala sesuatu dengan lebih jernih.

Ada analogi yang menarik tentang mengambil jarak ini. Dulu (bahkan sekarang juga) ada perdebatan besar tentang bumi kita, apakah bumi kita bulat atau datar. Kabarnya perdebatan itu berjalan sampai berabad-abad. Sebetulnya perdebatan ini segera terjawab saat manusia bisa pergi keluar angkasa. Dari jarak tertentu dari muka bumi, secara jelas manusia bisa melihat bahwa bumi itu bulat. Masalah selesai, case closed. Yang masih keukeuh bumi itu datar ya mungkin mereka2 yang pikirannya tertutup.   

Segala sesuatu yang terjadi di luar diri manusia akan ditangkap oleh panca indera, dan diolah dalam otak lewat pikiran-pikiran kita. Hal inilah yang seringkali bikin masalah buat kita. Kita sering tersinggung, marah, kecewa, sedih, dan lain sebagainya karena hal-hal yang terjadi di luar diri kita. Saat berjarak, kita bisa mengamati lebih jernih, apa adanya... Kita jadinya tidak reaktif, kompulsif - tapi bisa merespon dengan kesadaran, karena kita tau persis apa yang sebetulnya terjadi... lebih asik kan? 

Kembali lagi, kita itu Human Being, bukan Human Doing... Jadi pertama-tama Being dulu, Doingnya ya belakangan... 

 Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash  

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa