silence (4)

AES064 Sepi...

Hari ini Sabtu, sepi sejak pagi. Grup WA sepi.  Jalan depan rumah juga kedengerannya sepi. Hari ini bangun agak siang, saat waktu hening kerasa jalan lebih sepi dari biasanya. Saya sendiri juga sama sakali ga mood ngobrol. 

PPKM sepertinya bakal diperpanjang. Angka positif COVID kemarin sdh menembus angka 50.000 kasus per hari. Semakin banyak berita duka yang terdengar, termasuk orang-orang yang kita kenal. Setiap pagi saat pegang hape selalu berdebar-debar, akankah jumpa berita duka lagi pagi ini. Semakin banyak yang terpapar, tentunya semakin besar juga kemungkinan orang2 yang tidak tertolong karena tidak tertangani dengan baik. Yang mau isolasi dan penyembuhan mandiri juga sulit karena segala sesuatu semakin sulit didapat...

Belum lagi masyarakat kecil yg pasti menjerit karena penghasilan untuk makan ya bergantung pada kerja hari itu. Bertahan PPKM 2 minggu mungkin masih bisa dipaksakan. Tapi kalau diperpanjang lagi, banyak keluarga pasti bingung dapat makan dari mana. Tidak heran PPKM sulit ditegakkan, semakin banyak yang melanggar karena melanggar juga adalah bagian dari bertahan hidup. TIdak bisa disalahkan juga sebetulnya. Sebagian kecil yang memang bandel dan cari masalah - bahkan ga percaya adanya COVID juga tentunya ada. Pemerintah pasti dalam posisi sulit. Keputusan apa yang paling baik bisa diambil. Jadi pemimpin di situasi seperti ini pasti tekanannya luar biasa. Ga kebayang Jokowi dan jajaran menterinya yang harus membawa bangsa ini selamat dari krisis - sementara di masyarakat situasinya begitu kompleks... Semoga kuat ya pak Jokowi untuk bisa membawa bangsa Indonesia selamat lahir batin keluar dari krisis dan pandemi ini...  

Bagi kita yang masih bisa #dirumahaja, situasi ini bukan masalah survival tapi lebih ke urusan matigaya. Bingung. GeJe. Ga Jelas mau ngapain karena hanya bisa di rumah aja entah sampai kapan; ya jadinya rencana-rencana jadi pada berantakan. Yang bisa dilakukan hanya buka hape dan melototin gawai... Ya akhirnya jadi sepi...

Buat rekan-rekan di sini yang mengalami juga - mudah2an sepinya membawa makna... Salam...

Photo by freestocks on Unsplash

Read more…

AES048 Menemukan Diri Sendiri

Nyambung dengan tulisan saya sebelumnya : Berdiri di tengah 7 Milyar Manusia - yang ternyata nyambung juga dengan tulisan Rico yang berjudul The Journey We are All OnSaya mengutip paragraf pertama dari tulisan Rico di bawah ini. 

In a world where there are 7 billion unique human beings, it’s unavoidable that at some point in our lives, we start to question our own personal importance in scale to everything that is happening in the world.

“Who am I?”

The question that everyone has asked themselves, and still remains unanswered for most of us. This question will take a lifetime of searching to answer.

Menjawab pertanyaan di atas ini: Siapa Saya? bukan hal mudah. Menemukan diri sendiri, menyadari diri sendiri sepenuhnya bukan perkara sederhana. Apalagi di jaman yang serba bising seperti sekarang ini. Begitu banyak distraksi dari dunia luar jadi tantangan luar biasa. Perhatian kita terus ditarik keluar dari dalam diri kita ke dunia luar. Apalagi saat kita menggenggam teknologi di tangan kita, layar kecil gawai kita bisa menghadirkan segala sesuatu ke hadapan kita begitu saja. Media sosial membuat kita kehilangan fokus dari diri kita sendiri terhadap segala sesuatu yang ada di luar diri kita. Kita lebih suka memberikan like pada posting orang-orang lain di media sosial, kita menghabiskan waktu entah berapa banyak untuk mengikuti orang-orang terkenal, pada selebritis dan bermimpi menjadi seperti mereka.

Masyarakat modern mencoba mendefinisikan apa itu bahagia, apa itu sukses, dan membuat kita semua percaya bahwa semua itu ada di luar sana. Pada akhirnya semua ini jadi distraksi yang sangat berbahaya, karena menjauhkan kita dari diri kita yang sejati - our own true self. Fokus kita ada di dunia luar, sehingga kita jadi menjauh dari diri kita yang sejati. Semakin jauh, semakin sulit kita menjawab pertanyaan di atas, menjawab pertanyaan siapa saya, menemukan diri kita sendiri yang sejati.    

 Kita bahagia, saat kita terkoneksi dengan diri kita sendiri. Tidak pernah kita akan merasa bahagia saat kita berusaha menjadi orang lain. Lalu caranya bagaimana? Kita perlu menyisihkan banyak waktu untuk diri kita sendiri, Bagaimana kita berjumpa dengan diri kita sendiri, dengan diriku. Aku akan hadir dalam keheningan, dalam dia... Saat kita tenang, kita diam, kita akan bisa melihat dan bertemu dengan diri kita di dalam diri kita sendiri - bukan di luar sana. Saat kita bisa menemukan diri kita, berjumpa dengan aku yang sejati, dengan sendirinya, kita akan mengekspresikan diri kita berdasarkan keunikan diri kita sendiri - secara otentik... 

Read more…

AES036 DOBEDOBEDO

Kali ini saya mau menulis tentang topik di atas ini. DoBeDoBeDo… Saya mendengar ini dari salah satu ahli fisika kuantum, Dr. Amit Goswami yang fotonya ada di atas ini. Dr. Amit juga tampil sebagai salah satu pakar yang mengisi filem tentang Fisika Kuantum yang judulnya What The Bleep Do We Know. Saya sempat bercerita tentang filem ini juga di salah satu tulisan saya

Do Be Do Be Do pada dasarnya adalah bagaimana manusia menjaga keseimbangan hidupnya antara dimensi dalam dan dimensi luar. Antara Doing dan Being. Being adalah non Doing. Masalahnya manusia sekarang sangat terpaku pada doing, doing dan doing. Business (kesibukan) jadi penanda bahwa hidupnya sukses. Bagaimana tidak, orang sepertinya harus sibuk karena waktu adalah uang. Time is Money. Jargon ini begitu membekas di benak kita. Segala sesuatu harus efektif dan efisien. Hal-hal itu adalah jargon-jargon ekonomi. Tapi hidup kita bukanlah melulu tentang ekonomi. Hidup kita adalah mengenai badan, pikiran, emosi dan enerji kita. Ada dimensi kesadaran di dalamnya. Ekonomi, kerja, profesi, prestasi, sukses dan lain sebagainya adalah dimensi luar – pengalaman hidup kita. Bagaimanapun manusia mestinya mewujudkan eksistensinya sebagai Human Being, bukan Human Doing.

Dr. Amit Goswami menemukan hal itu setelah kehidupannya kacau, karirnya mentok, dia tidak bahagia, keluarganya berantakan dan lain sebagainya. Di filem di bawah dalam wawancaranya dengan Iain McNay, Amit bercerita bagaimana dia menemukan keseimbangan hidupnya melalui praktik DoBeDoBeDo tadi.

Being – sejauh saya pahami hanya bisa diwujudkan melalui keheningan dan praktik-praktik meditasi. Karena dalam keadaan meditatif itulah kita bisa mengakses dimensi dalam hidup kita. Tulisan ini melengkapi posting saya mengenai Hening itu Penting, juga sedikit menjelaskan tentang rutin saya setiap pagi dalam tulisan yang berjudul My Morning Sadhana.

Bagi saya ini adalah kepingan penting dalam proses pencarian panjang untuk menggenapi pemahaman tentang pendidikan holistik, lebih jauh lagi kehidupan yang holistik. Saya temukan dalam situasi pandemi COVID19. Situasi yang memaksa kita untuk berhenti, berjeda dan masuk dalam ritme kehidupan yang lebih lambat dari sebelumnya. Saya kira bukan sekedar kebetulan bahwa saya menjumpai hal-hal seperti ini. Saya beruntung juga bisa menuliskan ini di sini. Mudah2an lambat-laun bisa menjadi pemahaman kita bersama di Semi Palar. Salam…

Read more…

AES#12 Hening itu Penting

Hmm, tulisan ini masih nyambung dengan tulisan saya sebelumnya (AES#11 Menulis Untuk Siapa (dan Untuk Apa)? Dalam tulisan itu saya menggambarkan bagaimana menulis adalah sarana untuk mengambil jarak dari segala kesemrawutan pemikiran kita. Tulisan ini juga akan bercabang ke dua esai yang berbeda. Yang pertama tentang pentingnya hening bagi kita semua manusia modern yang seakan tidak pernah punya waktu untuk berhenti… Orang yang punya banyak kesibukan ibarat orang yang sukses (businessman, julukannya). Banyak bisnis, banyak kesibukan… Pertanyaan lanjutnya, adalah apakah kesibukan adalah tujuan utama hidup manusia?

Cabang yang kedua terkait sesuatu yang saat ini jadi ruang virtual kehidupan kita: apa yang disebut-sebut sebagai Media Sosial. Diskusi pagi ini di Escape bersama Rico dan Ahkam, sempat mengulas tentang ini, bagaimana media sosial yang jadi bagian dari kesibukan manusia dan sangat membanjiri pikiran manusia dengan segala sesuatu (yang belum tentu berguna) sangat membuat pikiran kita keruh dan tambah semrawut. 

Lalu apa inti dari tulisan ini? Intinya sederhana, semakin gaduh, semakin hiruk-pikuk hidup kita, hening menjadi semakin penting… Kenapa penting, karena di dalam ruang keheningan itulah kita bisa berjumpa dengan diri kita yang terdalam… di sisi terdalam hidup kita. Walaupun tampak sederhana, sejauh saya menelusuri topik ini, memang semakin lama semakin membukakan tanda tanya2 baru. Sisi dalam hidup manusia memang sisi yang jarang sekali ditelaah manusia modern. Kita dididik untuk banyak melihat sisi luar hidup manusia. Jadi tulisan ini sekedar jadi pengantar dari tulisan-tulisan lain yang mengupas mengenai hal ini.Tulisan ini juga terkait dengan apa yang saya tuliskan di posting sebelum ini - yang bertajuk Happiness Inside (Atomic Essay #09). Mudah2an saya bisa.

Sebagai pemicu, saya titipkan video keren bertajuk The Stillness Is You, yang narasinya dibawakan oleh Deepak Chopra. Sedikit tips saat menonton video ini, gunakan earphone, saya anjurkan menggunakan laptop dan klik tombol fullscreen supaya filem luar biasa ini bisa dicerap sebanyak-banyaknya oleh kita... 

|
|

The Stillness is You

Relax your body...
Observe your breath as it goes in and out...
Now move your awareness into the area of your heart...
Allow your ego to move out of the way...
And you will get in touch with your spirit...

Be grateful...

You my friend are not your thoughts...
You are the thinker of the thoughts...
The thoughts come from you...
So where are you?
You are in the stillness, the silence between your thoughts...
That stillness, that stillness is you...

And that you is the window to the infinite mind...
The mistery we call God is whispering to you in the silent space between your thoughts...
It is for this reason that the great wisdom traditions say, be still and know that I’m God...

Between every inbreath and every outbreath, is the stillness...
Between every thought that arises and every thought that subsides is the stillness...

Watch the stillness between your breath, between your thought.
Just observe, and then watch the one who is watching and as you listen to me now,
turn your attention to the one who’s listening

You have found the secret to that part of you that transcend space and time.
You have found the secret to that part of you that is immortal.
That part of you that fire cannot burn, water cannot wet,
wind cannot dry, weapons cannot shatter.

That part of you which is beyond fear,
that part of you that is without beginning without ending,
that part of you which is the divine in you.
You have found the secret to that part of you
that will continue to evolve as the universe evolves.

Now relax into your body and remember,
anytime the stress and the worries overwhelm you,
comeback into the sacred space of your heart.
You are the stillness, you are the silence between your thoughts.
Return to your stillness, that stillness, that silence is you…

|
|
|

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa