sampah (2)

AES024 Siapa yang Membayar Biaya Ekologis?

Lebih dari satu dekade lalu, saya menjumpai satu situs web yang namanya OneEarth.org. Situs ini masih eksis, dan masih konsisten memberitakan berbagai hal tentang lingkungan hidup – membangunkan kesadaran lingkungan buat kita semua. Ada satu artikel yang saya baca dan mengubah secara mendasar kesadaran saya tentang lingkungan hidup. Intinya adalah tentang Biaya Ekologis. Istilah Bahasa Inggrisnya environmental cost.

Artikel yang saya baca (singkat saja) menuliskan bahwa proses produksi sebuah mobil dari bahan baku (biji besi, karet, kwarsa yang dibuat kaca, minyak bumi yang dikonversi jadi plastik, kulit untuk jok mobil) dan lain sebagainya – sampai hasil akhirnya sebuah mobil yang kita pergunakan menghasilkan limbah sebesar 21 ton

21 ton limbah… Angka itu sangat mengejutkan dan membuat saya berpikir… Harga mobil yang kita bayarkan – katakan sekian juta rupiah… Apakah biaya itu cukup untuk membayar pengolahan limbah yang dihasilkan untuk memproduksi mobil itu… Kita hanya membayarkan harga mobilnya. Kita membelinya karena merasa itu harga yang pantas untuk dibayarkan. Tapi kemudian, siapa yang membayar pengolahan limbah dari proses produksi mobil tersebut? Pertanyaan besarnya adalah siapa yang membayar biaya ekologis tersebut.

Pertanyaan ini saya kira valid bagi setiap produk yang kita beli dan manfaatkan setiap hari. Tidak heran kalau kita melihat sampah bertumpuk di setiap pojok bumi – yang tersentuh manusia. Sementara kalau ditanya, berapa biaya yang kita keluarkan untuk mengolah sampah rumah tangga kita? Lima puluh ribu? Seratus Ribu Rupiah? Cukupkah biaya yang kita bayarkan itu untuk mengolah sampah kita dengan baik – sehingga tidak menjadi pencemaran atau masalah setelah segala sesuatu yang kita manfaatkan telah habis kemanfaatannya.

Ini yang jadi pemikiran saya setiap kali membeli barang – apapun itu. Pertama-tama yang saya pikirkan adalah kebermanfaatannya. Kemudian masa pakainya. Kendaraan yang saya pakai sehari-hari usianya sudah mendekati 20 tahun. Yang saya lakukan adalah memeliharanya sebaik yang saya bisa – sepanjang kebermanfaatannya masih bisa saya dapatkan.

Itupun saya masih merasa berhutang – karena biaya ekologis yang seharusnya saya keluarkan, belum saya bayarkan. Sampai hari ini saya masih berpikir, bagaimana saya bisa melunasi hutang saya tersebut…

Read more…

AES#15 COVID dan Lingkungan Hidup Kita.

Salah satu hal yang paling mengganggu bagi saya sejak pandemi berlangsung adalah perkara sampah. Mestinya kita langsung terbayang kenapa. Sebelum pandemi, Semi Palar belum lama menggulirkan fasilitas pilah sampah sekaligus juga gerakan MDK (Mulai Dari Yang Kecil). Di awal TP15 kami mencoba lebih membangun kesadaran tentang bagaimana masalah lingkungan perlu jadi perhatian kita bersama… Saat itu kami menyaksikan gerakan global bertajuk #wedon’thavetime – yang intinya kita tidak punya banyak lagi waktu untuk melakukan sesuatu untuk memperlambat dan kemudian mencegah dampak buruk dari krisis iklim.

Ada satu hal nyata yang bisa dilakukan bersama untuk membangun kesadaran bersama bahwa kita bisa melakukan hal kecil untuk bumi kita ini. Pandemi menghentikan semuanya. Bulan Maret 2020, saat kita harus #dirumahaja, lockdown membuat kita semua semakin banyak menghasilkan sampah. Karena kita semua di rumah, aktivitas belanja dilakukan online. Tas belanja yang kita gunakan untuk berbelanja rutin hanya dilipat di rumah. Karena COVID, semua serba dibungkus semakin tebal, lapis demi lapis… Kita tidak lagi berani memakai ulang banyak hal. Sekarang kita juga harus belanja masker, ada yang memilih memakai face-shield ke mana-mana, jutaan botol desinfektan dipakai, belum lagi APD dan lain sebagainya.

Di rumah dengan cepat sampah plastik menggunung. Di awal-awal pandemi saya masih berusaha membuat EcoBricks – dan tidak lama menyerah – karena sampah plastik yang dihasilkan begitu banyak – sejauh-jauhnya kita berusaha mengurangi. Di rumah kami masih berusaha mengolah sampah. Kami masih memilah. Sampah plastik yang kami hasilkan kami upayakan dalam keadaan bersih. Di rumah kami juga sempat belajar membuat EcoEnzyme – untuk sisa-sisa sayuran dan buah. Tapi hanya sedikit yang bisa lakukan.  

Sampai di titik ini, belum tau juga apa yang bisa kita lakukan – dan apa yang akan terjadi ke depan. Situasi masih sangat tidak menentu, dan saya sendiri masih terus cari solusi. Tapi yang saya yakin kita tidak boleh berhenti. Karena setelah pandemi bisa teratasi, ada situasi lain yang bisa segera melanda setelahnya

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa