ririungan (2)

AES074 Ririungan : Mewujudkan Ruang Koneksi

Tulisan ini sempat tersimpan sebagai draft. Di suatu titik saya memutuskan menutup draft ini dan beralih ke topik lain. Hari ini, kak Gina menuliskan sesuatu yang nyambung banget sama tulisan ini dan bisa saya jadikan pijakan untuk esai saya malam ini. Jadi nuhun pisan kak Gina untuk esainya yang berjudul The Social Dilema.

Kita semua kenal dengan yang disebut Media Sosial. MedSos seakan jadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Saya sendiri punya akun FB, sempat mencoba Twitter dan Instagram. Punya juga akun LinkedIn yang hampir ga pernah saya buka. Saat ini media sosial saya sudah nyaris tidak saya sentuh. Kenapanya, tulisan kak Gina secara singkat menjelaskan penyebabnya. Saat ini saya melihat social media sudah membuat manusia jadi anti sosial. Terlalu banyak isinya yang membangun kebencian, hoax atau berita tidak benar, orang-orang yang pamer berbagai hal, menumbuhkan rasa iri dan tidak percaya diri, selain juga saat ini Media Sosial dimanfaatkan oleh berbagai pihak oleh kepentingan2 mereka. Dari sudut pandang yang berbeda, Rico juga permah menuliskan tentang hal ini dalam esainya yang berjudul The Anti Social Network. Di alinea ke dua, Rico menjelaskan bagaimana Social Media pada umumnya bekerja.    

Sejak awal di Semi Palar kita sangat berusaha membangun kesadaran media - literasi media, istilahnya. Karena kita tahu bagaimana media sosial sangat berpotensi membawa dampak buruk pada diri kita, terutama bagi anak-anak. Sebelum situasi pandemi Semi Palar sangat berusaha menjauhkan anak-anak dari komputer dan gawai - media sosial juga tentunya. Di jenjang SMP Semi Palar baru membolehkan anak-anak memiliki gawai sendiri. Entah berapa kali kita menggelar berbagai topik Pertemuan Orangtua Smipa - mendatangkan narasumber agar kita paham dampak gawai dan juga media sosial bagi anak-anak kita. 

Situasi Pandemi membuat segala sesuatu jadi berbeda. Pembelajaran Jarak Jauh mensyaratkan anak-anak bersentuhan dengan gawai untuk bisa mengikuti proses pembelajaran. Bahkan untuk jenjang terkecil sekalipun - yang kita tahu bahwa anak-anak belajar lewat pengalaman jasmaniah, persentuhan dengan gawai, belajar melalui layar gawai tidak terhindarkan. Walaupun kita tahu dampak-dampaknya, hal ini agak sulit dihindari. Banyak orangtua yang khawatir terhadap hal ini. Tapi saya sempat bertanya kembali, apakah kita pernah membayangkan kalau kita masuk ke dalam situasi pandemi pada saat Internet belum ditemukan? 

Lebih dari dua bulan yang lalu, gerakan Atomic Essay kita mulai. Setelah beberapa waktu berjalan, saya pribadi merasakan bahwa inilah media sosial yang sesungguhnya. Media di mana orang-orang di dalamnya bisa lebih kenal satu sama lain dan semakin terkoneksi - karena dalam situasi yang berjarak - media ini bisa membuat kita lebih dekat satu sama lain, belajar antara satu sama lain.    

Dalam situasi pandemi, teknologi bisa menjadi solusi - kalau kita bisa memanfaatkannya dengan penuh kesadaran. Video TEDx di bawah ini dibawakan oleh Kristin Galluci - salah satu pelaku industri Media Sosial yang melihat dan merasakan langsung apa yang dilakukan di dalam perusahaan2 ini. Salah satu contoh nyata dari apa yang diceritakan dalam tulisan kak Gina tentang filem The Social Dillema. Kristin bilang, yang jadi masalah adalah bukan teknologinya, tapi manusia para penggunanya. 

Ririungan Semi Palar (khususnya versi baru ini) kita coba wujudkan untuk menjadi ruang koneksi dan lebih jauh lagi sebuah ruang belajar bersama karena kami meyakini bahwa belajar adalah sebuah proses kolektif. Proses yang saat ini terkendala karena situasi pandemi. Teknologi bisa menjadi solusinya. Pembelajaran Holistik bertumpu pada koneksi dan keterkaitan satu sama lain. Ruang ini bisa mewadahinya, kalau kita semua bisa memanfaatkannya secara positif. 

Read more…

Menghidupi Ririungan

Bagi warga yang mengikuti pertumbuhan Ririungan sejak awalnya dilahirkan di 30032020 - mestinya bisa mengamati sesuatu yang menarik. Awalnya rumah ini sepi... kosong tidak ada aktivitas, tidak ada kehidupan. Beberapa anggota yang awal bergabung masuk ke rumah ini dan pergi lagi... Belum ada yang menarik rupanya - karena sepertinya tidak ada kehidupan. 

5653715283?profile=RESIZE_400x

Gagasan tentang Ririungan muncul sudah lama dari obrolan saya dengan Ahkam (ayah Yori) saat memperbincangkan aktivitas Lingkar Blogger. Lingkar Blogger seperti halnya kelompok aktivitas lainnya di Semi Palar digulirkan melalui grup WA. Tujuannya mendorong agar kita semua semangat menulis. Gagasannya adalah semacam writing platform - seperti Medium.com, di mana tulisan (blogposts) yang dibuat bisa muncul di satu ruang. Supaya kita semua belajar dari tulisan teman-teman penulis lainnya. 

Masuk periode Pandemi, gagasan tersebut muncul lagi - dan atas saran Ahkam, kita mulai mencoba platform ini (ning.com). Hasilnya apa yang kita lihat sekarang ini. Dalam hal blogposts, dalam waktu 2 bulan sudah muncul 60 lebih blogposts yang dihasilkan kakak, orangtua dan teman-teman KPB. Sangat aktif dan interaksinya juga semakin terlihat... pendek kata Ririungan ini semakin hidup. Setiap hari selalu ada yang baru, pertanda Ririungan ini terus berdetak dan semakin aktif.  

Ternyata di samping itu Ririungan bisa mewadahi jauh lebih banyak aktivitas kita dari sekedar tulisan-tulisan / blogposts, seperti yang kita coba di minggu depan kita melaksanakan Gelaran Karya Virtual menggantikan kegiatan yang biasa dilakukan di sekolah. Sebuah inovasi baru, yang membuktikan bahwa keluarga besar Semi Palar tetap kreatif dan produktif di masa pandemi ini...   

Di sebelah kiri adalah gambar kehidupan Ririungan di seminggu terakhir - sebelum Gelaran Karya - saya ambil dari Dashboard Ririungan Semi Palar... semacam gambaran statistik kehidupan dari Ririungan Semi Palar. 

Kenapa bisa sampai di titik ini, beberapa orangtua murid punya peran khusus, tanpa menyebutkan namanya satu per satu, Semi Palar sangat berterima kasih atas apa yang sudah dikontribusikan.  

Semoga para warga yang baru bergabung, orangtua murid, alumni bahkan relasi dekat kita bisa memahami apa dan bagaimana Ririungan ini, lebih jauh lagi berkontribusi menghidupi, menyumbang enerji untuk rumah kita bersama ini. 

Mari hidupi, mari ramaikan, mari bercerita. 

Di salah satu bahan perbincangan (forum) saya pernah menyampaikan pertanyaan : "Apa bedanya platform ini dengan media sosial lainnya?"
Mudah2an teman-teman bisa berpendapat di sana nanti, tapi salah satu pandangan saya, Ririungan bukan sekedar media sosial, ririungan adalah media untuk berjejaring. 
Kalau kita hayati dari konten yang sudah ada banyak sekali dimensi yang bisa dibagikan di sini - termasuk pemikiran, opini, pengalaman atau bahkan impian atau angan-angan. Dan semua yang kita tuangkan bersama di sini adalah milik kita, milik bersama... 

Jadi saya ingin mengajak teman-teman untuk menuliskan cerita... karena dari salah satu video yang saya tonton selama pandemi ini, saya menemukan kata-kata bagus di bawah ini... 

People are creatures of naratives. Stories are the means by which we navigate the world...

 

Yang mudah-mudahan mengingatkan kita tentang beberapa video pendek yang bertajuk New Story of the People oleh dan New Story of Humanity.

|||

5682267094?profile=RESIZE_400x


Blogpost saya sebelum ini berkisah tentang ini
... yang intinya menyampaikan bahwa saya tidak terlalu tertarik tentang New Normal...

Kalau kita mau, bersama-sama kita bisa mulai menuliskan narasi baru... sebuah New Story...
dan hal itu bisa kita mulai bersama di sini, di Ririungan ini
...

 Setidaknya itulah yang saya maknai tentang kesempatan yang dibukakan bagi kita dengan kehadiran pandemi COVID ini... 

 

|||

Karena seperti apa yang dituliskan Pramoedya - dan dipostingkan Alry - salah satu alumni Smipa di Instagram KPB : 

5682175455?profile=RESIZE_584x 
Mari... 

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa