pandemi (3)

AES064 Sepi...

Hari ini Sabtu, sepi sejak pagi. Grup WA sepi.  Jalan depan rumah juga kedengerannya sepi. Hari ini bangun agak siang, saat waktu hening kerasa jalan lebih sepi dari biasanya. Saya sendiri juga sama sakali ga mood ngobrol. 

PPKM sepertinya bakal diperpanjang. Angka positif COVID kemarin sdh menembus angka 50.000 kasus per hari. Semakin banyak berita duka yang terdengar, termasuk orang-orang yang kita kenal. Setiap pagi saat pegang hape selalu berdebar-debar, akankah jumpa berita duka lagi pagi ini. Semakin banyak yang terpapar, tentunya semakin besar juga kemungkinan orang2 yang tidak tertolong karena tidak tertangani dengan baik. Yang mau isolasi dan penyembuhan mandiri juga sulit karena segala sesuatu semakin sulit didapat...

Belum lagi masyarakat kecil yg pasti menjerit karena penghasilan untuk makan ya bergantung pada kerja hari itu. Bertahan PPKM 2 minggu mungkin masih bisa dipaksakan. Tapi kalau diperpanjang lagi, banyak keluarga pasti bingung dapat makan dari mana. Tidak heran PPKM sulit ditegakkan, semakin banyak yang melanggar karena melanggar juga adalah bagian dari bertahan hidup. TIdak bisa disalahkan juga sebetulnya. Sebagian kecil yang memang bandel dan cari masalah - bahkan ga percaya adanya COVID juga tentunya ada. Pemerintah pasti dalam posisi sulit. Keputusan apa yang paling baik bisa diambil. Jadi pemimpin di situasi seperti ini pasti tekanannya luar biasa. Ga kebayang Jokowi dan jajaran menterinya yang harus membawa bangsa ini selamat dari krisis - sementara di masyarakat situasinya begitu kompleks... Semoga kuat ya pak Jokowi untuk bisa membawa bangsa Indonesia selamat lahir batin keluar dari krisis dan pandemi ini...  

Bagi kita yang masih bisa #dirumahaja, situasi ini bukan masalah survival tapi lebih ke urusan matigaya. Bingung. GeJe. Ga Jelas mau ngapain karena hanya bisa di rumah aja entah sampai kapan; ya jadinya rencana-rencana jadi pada berantakan. Yang bisa dilakukan hanya buka hape dan melototin gawai... Ya akhirnya jadi sepi...

Buat rekan-rekan di sini yang mengalami juga - mudah2an sepinya membawa makna... Salam...

Photo by freestocks on Unsplash

Read more…

Teori 1 = 3

Di Quora pernah muncul pertanyaan: "Do you have a theory?" Jawaban para quorawan/quorawati kocak-kocak dan menyegarkan. Ada beberapa yang filosofis dan mendalam. Nah, saya juga punya sebuah teori kecil-kecilan yang ingin saya bagikan di sini.

*disclaimer: ini teori becandaan penambah semarak Ririungan, tidak untuk ditanggapi secara serius.

Nama teori saya adalah 1 = 3. Satu sama dengan Tiga.

Begini bunyi teorinya:

  • Banyak hal di kehidupan dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian: Bagian Satu, Bagian Dua, Bagian Tiga.
  • Bagian Satu selalu mirip dengan Bagian Tiga. Namun alasan eksistensial Bagian Satu dan Bagian Tiga berbeda.

Berikut ini beberapa contoh untuk menjelaskan sekaligus membuktikan teori tersebut.

Penampilan (pakaian, kendaraan, dsb).

  • Bagian Satu: orang-orang yang belum sukses tidak peduli penampilan. Mereka tidak mampu membiayai penampilan.
  • Bagian Dua: orang-orang sukses sangat peduli penampilan.
  • Bagian Tiga: orang-orang super duper sukses tidak peduli penampilan. Jati diri mereka, prestasi hidup mereka sudah tidak butuh balutan apa-apa lagi untuk membuat mereka bersinar.

Ada pemeo menyebalkan yang sangat populer di masa-masa kuliah ”Those who can’t do, teach.” Menurut orang-orang yang percaya pemeo itu: para mahasiswa yang nilainya tinggi akan masuk ke industri dan mendapat gaji tinggi; mereka akan bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional, jadi konsultan, dll. Sementara mereka yang nilainya rendah akan jadi dosen atau peneliti karena tidak diterima oleh industri.

Tapi sesungguhnya mereka yang mengolok-olok itu tidak menyadari bahwa Teori 1 = 3 bekerja di sini.

  • Bagian Satu: Para mahasiswa yang nilainya rendah akan jadi dosen atau peneliti. Mereka tidak lolos seleksi masuk ke industri.
  • Bagian Dua: Para mahasiswa yang nilainya tinggi masuk ke industri.
  • Bagian Tiga: Para mahasiswa yang nilainya super duper tinggi akan menjadi dosen dan peneliti. Mereka tidak masuk ke industri karena mereka ingin membuat terobosan-terobosan baru dan memajukan bidang keilmuan mereka. Mereka tidak tertarik dengan materi dan gaji tinggi.

Mangga, silakan teman-teman cobakan Teori 1 = 3 dalam menganalisis hal-hal lain. Teori ini bisa jadi bekal Leapfrogging. Saya tambahkan dua contoh lagi.

Pembicaraan (dalam diskusi, debat kusir, dsb).

  • Bagian Satu: orang yang tidak pintar lebih banyak diam. Pengetahuan mereka terhadap materi pembicaraan sangat terbatas.
  • Bagian Dua: orang yang pintar akan banyak bicara (Dunning–Kruger effect).
  • Bagian Tiga: orang yang super duper pintar lebih banyak diam. Mereka sadar bahwa topik pembicaraan terlihat sederhana di permukaan, padahal di bawahnya tersembunyi berlapis-lapis pertanyaan yang tak sanggup mereka jawab.

Lukisan.

  • Bagian Satu: Lukisan murah. Bentuknya jelek.
  • Bagian Dua: Lukisan mahal. Bentuknya bagus.
  • Bagian Tiga: Lukisan super duper mahal. Bentuknya jelek. Abstrak. Modern art(sy-fartsy) and of course, …blah blah blah the meaning behind.

Tadi malam Kak Andy mengirimkan tulisan (oleh penulis anonim) yang membahas betapa absurd sesungguhnya kehidupan kita prapandemi. Esai itu menyoroti fenomena hiperealitas. Ini cuplikan esainya:

---------------------------------

Sederhananya ketika anda beli segelas kopi starbuck seharga 40an ribu. Mengapa segelas kopi bisa begitu mahal ? anggaplah harga dasar kopi itu 7 ribu, maka 33 ribu sisanya anda membayar harga sewa sofa outlet dan membeli simbol starbuck. Angka 33 ribu itulah hiperealita. Sebuah kondisi mental yg menganggap sesuatu itu nyata dan kita butuhkan melebihi kebutuhan dasar kita sendiri.

Pandemi covid19 ini ibarat tombol reset. Sekali ditekan langsung semua berbondong2 menuju ke titik awal. Kita sudah merasakan PSBB, di mana pada masa itu kita diarahkan untuk melakukan segala hal yg kita butuhkan saja. Ini kabar buruk untuk usaha seperti pariwisata, hotel, mall, kafe2 dan semua usaha yg menjadikan CITRA, LUXURY atau PRESTISE sebagai core bisnisnya.

---------------------------------

Pada dasarnya, saya bersetuju dengan pesan utama yang hendak disampaikan sang penulis anonim:

  1. Situasi prapandemi itu TIDAK NORMAL karena kehidupan manusia telah disesatkan hiperealitas
  2. Covid-19 adalah obat pahitnya

Tapi sayang... sungguh sayang sekali, penulisnya telah melakukan kesalahan yang luar biasa fatal. Dia membandingkan situasi prapandemi Covid-19 dengan sebelum Revolusi Industri.

Sang penulis mengatakan:

---------------------------------

Sebelum revolusi industri, kehidupan itu relatif sangat normal. Manusia setara bekerja untuk kebutuhannya.

---------------------------------

Zaman sebelum Revolusi Industri adalah zaman feodalisme dan monarki. Ketika itu mayoritas manusia adalah commoners (rakyat jelata) yang bekerja keras membanting tulang agar kaum bangsawan ningrat dan keluarga-keluarga kerajaan dapat bersantai, bersosialisasi, berpesta dansa-dansi, dan yah, ...minum-minum kopi. Ada pula kelompok lain yang lebih sial dangkal lagi kehidupannya di masa itu — mereka berada di lapisan terbawah: para budak (literally, not metaphorically as in "the slaves of 1 percenters capitalist class" we often speak of. These are human beings that you could own the way you own dogs today — bought and sold at slave markets). Di era sebelum Revolusi Industri tidak ada kesetaraan. Kaum bangsawan ningrat dan anggota keluarga kerajaan tidak perlu dan tidak pernah bekerja seumur hidup mereka, sejak hari mereka lahir sampai hari mereka mati.

Pepatah bijak mengatakan: Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Namun yang dilakukan penulis ini bukanlah sekadar membiarkan nila setitik masuk ke dalam sebelanga susu — yang membikin susu terasa asam karena basi, yang akibatnya paling-paling mencret. Mengatakan kehidupan di zaman raja-raja dan kaum bangsawan ningrat lebih baik ketimbang prapandemi Covid-19 adalah seumpama memasukkan segelas racun ke dalam susu sebelanga. Ia tak hanya mematikan kenikmatan susu, tapi bisa membuat orang yang meminum susu itu mati beneran.

Namun, bagaimanapun juga, esai anonim ini telah berhasil membangunkan teori lawas lucu-lucuan saya. Bagaimana jika ternyata peradaban manusia adalah juga 1 = 3?

  • Bagian Satu: Zaman Purba. Belum ada revolusi ini-itu.
  • Bagian Dua: Zaman ketika segala macam revolusi terjadi. Diawali dengan revolusi biologis, yakni Revolusi Kognitif. Volume otak manusia mendadak membesar secara signifikan yang membuat kita lantas mampu menciptakan berbagai macam revolusi “cara hidup”. Mulai dari revolusi pertanian, revolusi politik, revolusi industri, hingga revolusi relasi antargender.
  • Bagian Tiga: Revolusi Terakhir. Revolusi Artificial Intelligence. Para futuris menyebut titik waktu ketika kecerdasan buatan sudah melampaui kecerdasan manusia sebagai “singularity”. Ini sebuah istilah yang dipinjam dari kosmologi. Singularitas adalah titik waktu ketika Big Bang terjadi. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi Pra Big Bang. Sebab, bila kita runut kejadian alam semesta menggunakan sains dari detik ini surut hingga ke detik awalnya: tepat ketika Big Bang terjadi, seluruh besaran fisika (kerapatan materi, temperatur, kelengkungan ruang-waktu) nilainya tidak terhingga. Dalam bahasa Stephen Hawking: teori-teori fisika runtuh di titik tersebut karena seluruh besaran fisika saat itu nilainya infinite. Sains tidak sanggup “masuk” melewati singularity “dengan selamat” guna mengamati/menghitung kondisi Pra Big Bang. Ini serupa dengan jika kelak AI telah sempurna. Manusia menginputkan problem-problem peradaban mereka ke dalam komputer. Kita tidak dapat menerka apa yang bakal diputuskan AI bagi kita. Tapi, siapa tahu, AI barangkali akan menyiapkan tatanan peradaban yang mirip-mirip dengan Zaman Purba.

Di masa sebelum Revolusi Pertanian (sebelum ada segala raja dan bangsawan), kehidupan manusia sebenarnya menyimpan berbagai kehebatan yang diimpi-impikan para pemikir paling progresif sekarang. Ketika itu:

  1. Umat manusia masih hidup nomaden (Non-Sedentary ---> Active Life)
  2. Umat manusia hidup di dalam kelompok-kelompok kecil (Localization ---> Dunbar's Number)
  3. Tidak ada institusi raksasa bernama kerajaan atau negara yang memaksa jutaan manusia tunduk dan patuh di dalamnya (Decentralized Power)
  4. Tidak ada genosida dan peperangan masif yang membinasakan berjuta-juta manusia, sebab tidak ada konsentrasi-konsentrasi kekuatan maha besar (World Peace)
  5. Tidak ada hak atas kepemilikan tanah (kesenjangan ekonomi nyaris nihil ---> Gini Index terendah sepanjang sejarah peradaban manusia adalah pada masa itu)
  6. Manusia bertukar value hanya dengan barter (tidak ada sentralisasi moneter ---> Cryptocurrency)

Kita mencapai Bagian Tiga yang mirip Bagian Satu karena pekerjaan-pekerjaan penopang peradaban (sebagian besar) sudah diserahkan kepada robot-robot. No more bullshit jobs — kita jadi punya banyak waktu lagi untuk bercengkerama dengan keluarga dan handai tolan. Sudah ada direct democracy (TRUE Democracy) yang menjadi feasible karena manusia hidup di dalam komunitas-komunitas kecil dan karena teknologi voting penunjangnya pun sudah memungkinkan (internet dan blockchain). Sudah ada Universal Basic Income. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Read more…

Kehidupan Pascapandemi Covid-19

Ketika wabah ini nanti berlalu, akankah kita teruskan kehidupan seperti yang sudah-sudah? Ataukah kita lakukan perubahan mendasar?

Mari kita tinjau sejenak problem yang ada pada cara hidup kita sebelum pandemi.  Ada dua jenis problem: 1. Problem Paradigma, 2. Problem Sistematika

 

1. Problem Paradigma 

Problem terdapat pada cara pandang/pola pikir.

Contoh problem paradigma: Kemajuan. Fokus peradaban kita prapandemi adalah kemajuan.

Tapi, apa definisi maju? Apakah “bergerak/pindah ke tempat yang lebih baik”? Atau “pokoknya bergerak/pindah, tidak diam di tempat”?

Kalau kita cermati peradaban semut, misalnya. Peradaban semut saat ini dapat dikatakan tidak berubah dengan ketika nenek moyang manusia menemukan api 400.000 tahun lalu. Semut tidak maju-maju.

Tapi apakah kemajuan peradaban manusia membuat hidup manusia jadi lebih berkualitas? Atau hanya sekadar jadi lebih mudah?

Apakah kemajuan itu lebih banyak manfaatnya atau mudaratnya bagi kemaslahatan hidup manusia dan seisi alam? Bagaimana "derajat" tiap-tiap manfaat vs. mudarat tersebut? (Manfaat = tambah tampan vs. mudarat = jadi gila --> no contest.)

Mari kita pakai dua variabel penting untuk menakarnya: Kebahagiaan Spesies dan Kelanggengan Spesies.

Kebahagiaan Spesies

Yuval Noah Harari menyimpulkan bahwa manusia purba lebih bahagia ketimbang manusia modern. Alasannya: manusia modern menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk melakukan pekerjaan. Pekerjaan yang, menurut Rutger Bregman, kebanyakan hanyalah “bullshit jobs”. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak esensial. (Pandemi ini juga telah membukakan mata banyak orang: apa-apa saja sesungguhnya profesi yang esensial itu.) Di zaman batu, manusia hanya perlu sebentar untuk bekerja (berburu). Mereka punya banyak waktu untuk bercengkerama dengan keluarga dan handai tolan. Homo sapiens IS homo socius.

Kelanggengan Spesies

Pada 26 September 1983, Letkol. Stanislav Petrov menyelamatkan dunia dari perang nuklir. Kekuatan bom nuklir di era 80-an sudah jauh di atas kekuatan bom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki pada PD II. {Bagaimana dengan sekarang? Kekuatan bom nuklir Rusia terkini: RDS-202 (nickname: Tsar Bomba) adalah 50 Megaton. Itu setara dengan 3.333 kali kekuatan gabungan kedua bom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki tersebut.} Seandainya Stanislav Petrov mengambil langkah sesuai SOP, sebagian besar populasi manusia sudah binasa. Sisanya yang selamat — yang sedikit itu — akan menjalani hidup super berat di tengah winter nuclear yang panjang dan kepungan radiasi. Jika coronavirus ini saja sudah membuat manusia merana setengah mati, bayangkan radiasi radioaktif yang "tak butuh inang" dan bisa “menular” tak hanya lewat udara tapi bahkan sanggup menembus dinding-dinding beton. Untung saja, ketika itu Stanislav Petrov yang sedang bertugas. Untung instingnya benar. Akan sampai kapan manusia bermain untung-untungan seperti ini?

 

4822690677?profile=RESIZE_710x

2. Problem Sistematika

Problem terdapat pada sistem yang dipakai

Contoh problem sistematika: Kapitalisme

Motif Kapitalisme: Perusahaan didirikan untuk menghasilkan profit sebesar-besarnya bagi para pemilik saham.

Motif ini ibarat Dasar Negara bagi perusahaan. Ia menjadi rujukan utama bagi segala-galanya: bagaimana perusahaan dijalankan, kebijakan yang diambil, strategi yang dilakukan, budaya kerja, hubungan antar pegawai, hubungan perusahaan dengan manusia lain/dengan lembaga lain/dengan alam sekitar, dsb.

Ilustrasi penerapan Motif Kapitalisme: Sebuah brand rokok sedang mempertimbangkan untuk menyumbang dana kepada yayasan kanker paru-paru. Jika sumbangan tersebut dirasa bakal mendongkrak penjualan rokok mereka, atau minimal tidak mengurangi, maka itu bisa dilakukan. Namun jika sumbangan tersebut dirasa bakal menjatuhkan penjualan (karena kontradiktif), ide itu tidak akan dieksekusi. Baik atau buruknya tindakan “menyumbang ke yayasan kanker paru-paru” harus diukur terlebih dahulu dengan Motif Kapitalisme.

Konsekuensi Motif Kapitalisme: jika ada benturan kepentingan apa pun (misalnya, pelestarian alam) dengan Motif tadi, kepentingan lain itu akan diupayakan agar kalah oleh perusahaan.

Not So Fun Fact: Perusahaan-perusahaan Amerika menggelontorkan dana sekitar $2,6 miliar setahun untuk keperluan lobi — lebih banyak daripada yang dialokasikan pemerintah Amerika ($2 miliar) untuk mendanai House of Representatives ($1,18 miliar) dan Senate ($860 juta).

Kesenjangan Ekonomi

Harta 4 orang terkaya Indonesia setara dengan gabungan harta 100 juta penduduk termiskinnya. Harta 3 orang terkaya Amerika setara dengan gabungan harta setengah penduduk termiskinnya. Pendapatan setahun pegawai bergaji terendah di Amazon sama dengan pendapatan Jeff Bezos dalam 11,5 detik. Average wage gap Amerika adalah 1:312. Di industri fast food bahkan gap-nya ada yang mencapai 1:1000.

Kapitalisme hanya baik untuk sekelompok kecil manusia saja. Sistem organisasi yang menyengsarakan mayoritas anggotanya adalah sistem yang buruk. Kesempatan memang terbuka bagi siapa pun, termasuk bagi orang-orang dari golongan bawah untuk naik kelas — bergabung ke dalam kelompok elit tersebut. Namun peluangnya sangat sangat minim. 

Meritokrasi yang dijadikan salah satu landasan pemikiran kapitalisme terbukti konyol. Kata mereka: hasil yang dicapai seseorang sebanding dengan usaha, kecerdasan, atau bakatnya.

IQ rata-rata manusia adalah 100. (Meskipun kita tidak percaya IQ, mari kita pakai ukuran itu karena kapitalisme sangat percaya IQ). Ada orang pintar hingga IQ-nya 140 atau bahkan 200. Tapi tidak ada orang yang IQ-nya 1.000 atau 10.000.

Demikian juga dengan “usaha atau kerja” yang diukur dengan waktu. Ada orang-orang rajin yang bekerja lebih lama daripada orang kebanyakan. Tapi semua orang sama-sama punya waktu hanya 24 jam sehari. Tidak ada orang yang bekerja miliaran jam lebih banyak daripada orang lain.

Tapi ketika kita lihat hasilnya, beberapa orang menghasilkan uang miliaran bahkan triliunan lebih banyak dari orang-orang kebanyakan.

Alessandro Pluchino dan kawan-kawan dari  University of Catania,  Italia, membuat model komputer yang merepresentasikan bakat manusia dan usaha mereka dalam menggunakan bakat tersebut. Tim peneliti ini mampu menghitung seberapa besar faktor keberuntungan dalam keberhasilan seseorang. Model mereka dengan akurat dapat mereplikasi distribusi kekayaan dunia  saat ini. Namun yang mengejutkan: orang-orang yang terkaya bukanlah orang-orang yang paling berbakat  atau yang paling rajin bekerja. Mereka hanyalah yang paling beruntung.   Akan sampai kapan manusia bermain untung-untungan seperti ini?

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa