new story (2)

AES067 Melipir ke Luar Kota

Oke... esai hari ini belum sampai cerita pindah ke desa, tapi ini kisah nyata tentang teman saya Yusuf dan Tina. Keduanya satu almamater. Yusuf sendiri teman seangkatan waktu kuliah, dulu sempat kerja bareng satu kantor, teman diskusi, sahabat sampai sekarang. Di sekitar tahun 2000 an, kami bertiga sempat beraktivitas bersama di suatu komunitas yang kami dirikan dan berjalan sekitar 4 tahunan. Komunitas itu namanya Trimatra Center, komunitas anak2 muda di bidang seni, desain dan budaya.

Salah satu jejak komunitas Trimatra yang bisa dilihat di Smipa, adalah pendopo Semi Palar yang dibuat persis seperti pendopo Trimatra dulu. Bentuk, ukuran dan lain2nya persis sama. Di Semi Palar sendiri masih kumpul teman2 eks Trimatra seperti mas Woto dan mba Esih juga pa Muhlis dan kak Yuyun. Ada juga orangtua murid Natsir (ayahnya Dira dan Rheina), Andry (ayahnya Keenan) dan Iwan (papanya Calva) yang sejarahnya berawal dari Trimatra.

9279979066?profile=RESIZE_584xKembali ke teman saya Yusuf dan Tina, beberapa tahun lalu saya mendengar dari Yusuf mereka membeli sebidang tanah kebun di Ciwidey. Mungkin sekitar tahun 2017an kurang lebih di saat saya juga sempat beberapa kali mampir ke Desa Kandangan dan Dusun Ngadiprono tempat digelarnya Pasar Papringan. Di saat itu dalam diri saya muncul kuat sekali keinginan untuk Pindah ke Desa. Di sekitar saat itulah saya menuliskan blog saya yang berjudul [ingin] pindah ke desa

Tanah di Ciwidey tersebut adalah lahan kebun teh, yang juga ditanami sedikit sayuran- luasnya tidak terlalu besar, lokasinya bersebelahan dengan hutan lindung Perhutani. Sekitar setahun lalu saat saya dan kak Lyn pergi ke Gambung, kami buat janji untuk jumpa di kebun Yusuf di Ciwidey.   

Akhirmya kamipun bertemu dan berbincang di sana. Senang sekali rasanya. Seperti bertemu sahabat di perantauan. Memang sudah lama sekali kami tidak berjumpa. Kami duduk di sebelah tampungan air, di atas rumput di perbatasan antara kebun teh dan kebun Perhutani. Di sebelah Yusuf dan TIna, duduk Riki, anak muda yang mengurus kebun Yusuf dan Tina. Ternyata sahabat saya sudah duluan melipir ke luar kota, mencoba mencari ruang kehidupan yang lebih tenang, lebih damai. Lepas dari ritme dan hiruk pikuk kota besar...

Di dalam banyak esai di ruang penulisan ini ternyata cukup banyak yang menulis tentang keinginan, angan-angan atau setidaknya kerinduan terhadap suasana kehidupan di desa. Dengan pandemi yang berlangsung sudah lebih dari setahun dan sepertinya akan berlangsung panjang, 

Saya jadi teringat video di atas ini tentang bagaimana pandemi ini mengubah banyak hal dari kehidupan manusia. Seperti yang sudah dimulai teman-teman saya Yusuf dan Tina, mulai dari melipir ke desa dan mulai beralih ke kehidupan yang lebih holistik. 

Photo by Nithin P John on Unsplash

Read more…

AES#23 Menjelajah Kemungkinan Baru

Hari ini muncul berita meledaknya kasus COVID di berbagai daerah - seperti yang diperkirakan, 2 minggu setelah libur lebaran dan segala kegiatan yang mengiringinya. Sebetulnya semua ini sudah diprediksi - karena pola-nya sudah terbaca di waktu-waktu sebelumnya. Yang terdekat adalah liburan akhir tahun – di mana kasus COVID selalu meningkat signifikan setelahnya.

Yang jadi pertanyaan adalah kapan ini akan berakhir? Karena sebelum sempat turun, waktu berjalan dan kemudian bertemu momen liburan dan kasus positif COVID naik lagi. Sudah setahun lebih pandemi berjalan, saya menduga dengan pola yang seperti ini, tahun depan sepertinya situasi belum akan banyak berubah. Baru saja vaksinasi berjalan dan baru menyentuh beberapa juta orang, sudah muncul kabar bahwa varian ke 3 dari COVID ini sudah masuk Indonesia – sementara varian ke 3 ini dikabarkan lebih sulit dideteksi dengan Rapid Test juga vaksinasi yang sekarang ada tidak terlalu efektif terhadap varian baru COVID19 ini…

Hmm, OK. Kita masih belum bisa memastikan apa yang akan terjadi ke depan. Bagi saya ketidak pastian ini membuka peluang bagi kita untuk melakukan sesuatu. Harus ada sesuatu yang baru yang kita coba – hal-hal yang bisa memberikan harapan di tengah ketidak-pastian yang ada. Selama ini kita semua cenderung lebih banyak menunggu pandemi berakhir untuk lalu bisa melanjutkan segala sesuatu yang terhenti. Selain survival, kita perlu mencoba revival…

Semakin ke sini, semakin panjang waktu berjalan saya semakin meyakini, ini peluang besar untuk membuat narasi baru. Sepertinya COVID menuntun kita ke sana. Kalau pandemi ini muncul dari ketidak seimbangan yang terjadi karena apa yang dilakukan oleh peradaban manusia. Saya berpendapat perlu pandangan2 baru, gagasan baru dan banyak sistem yang perlu dirancang kembali agar kehidupan kita bisa lebih baik ke depannya.

Yang paling penting diyakini, saat banyak hal tidak menentu, segala kemungkinan juga terbuka…  

 

 

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa