musik (8)

AES16 musik untuk anak

Aku bukan pemusik, rasanya tidak banyak juga paparan musik yang aku dapat saat kecil. Hingga sekarang pun aku lebih banyak menikmati musik yang ringan, mudah dicerna. Tapi terasa sekali bahwa di keseharian musik semakin banyak menemani kegiatan di rumah. Karena itu kalimat yang ditulis pak Akham dalam essaynya mengenai musik, bahwa ‘musik adalah jenis seni yang paling intim bagi manusia’ terasa sangat pas. Lalu jadi ingat bahwa musik juga  merupakan jenis seni yang dapat mendukung perkembangan berbagai aspek dalam diri seorang anak. Hal ini baru aku sadari ketika membahas program bermusik.

Secara luas, musik ada di berbagai celah kehidupan manusia. Musik punya banyak sekali peran dan fungsi. Musik mengisi keseharian manusia. Dari mulai masyarakat tradisional di desa-desa dan rimba, hingga manusia modern di kota-kota besar. Musik mengalunkan kisah dan tradisi dari generasi ke generasi, hadir sebagai bagian dalam upacara keagamaan hingga upacara militer, juga di perayaan momen2 bahagia keluarga. Belum lagi untuk promosi barang dan jasa yang suka nempel tak mudah hilang dari benak. Atau sebagai ekspresi diri, untuk menggugah rasa, membangun suasana.

Meski demikian, secara khusus bila seorang anak mendapat paparan musik yang tinggi; diperdengarkan, diperkenalkan, diajak bermain dan menikmati musik sejak kecil, ternyata sungguh banyak manfaat yang bisa didapat. Bahwa memperkenalkan musik dan bunyi-bunyian sejak usia dini, bahkan sejak masih dalam kandungan, dapat merangsang pertumbuhan otak anak. Khususnya di bagian otak kiri yang berpengaruh pada kemampuan berbahasa dan menyerap informasi di sekitarnya. Ini sudah menjadi pengetahuan umum. Di samping itu, bermain musik membuat anak-anak terbiasa untuk mengekspresikan perasaan mereka. Biasanya mereka tumbuh lebih ekspresif dan periang. Rasa senang atau sedih pun bisa ditangkap bahkan lewat bunyi-bunyian yang mereka mainkan sekenanya.

Sebagai bagian dari seni, anak-anak yang terbiasa mendengar atau bermain musik cenderung lebih kreatif. Mereka lebih luwes menemukan solusi ketika menghadapi situasi atau masalah sehari-hari. Mengenalkan anak pada musik dan seni, selain membuat mereka terbuka dengan nilai-nilai budaya, juga mengajarkan mereka lebih peka dan mudah berempati terhadap sekitarnya. Saat memainkan instrumen misalnya, anak-anak akan menangkap nada yang mereka mainkan. Apakah sudah tepat atau belum, dan mendorong mereka untuk terus belajar agar bisa memainkan setiap nada dengan tepat.

Bermain musik juga melatih kemampuan untuk bekerja dalam tim. Bergabung dalam sebuah band atau orkestra melatih anak –anak mengerti pentingnya sebuah kerja tim, menciptakan kekompakan antar pemain untuk menghasilkan musik yang harmonis, hingga menentukan jadwal latihan bersama misalnya. Hal-hal semacam ini bisa melatih anak agar tumbuh jadi pribadi yang tidak egois dan bisa diajak kompromi. Belajar memainkan alat musik mengajak anak berlatih untuk mengalahkan rasa takut. Mereka pun menjadi lebih percaya diri, tidak canggung untuk tampil di depan orang lain.

Intinya dengan berbagai manfaat yang dapat dipetik, baik sekali untuk menghadirkan musik dalam kehidupan anak sejak kecil. Dengan sekadar mendengarkan suara yang menenangkan dan irama yang menyenangkan, musik dapat memperindah dan memperkaya kehidupan anak-anak. ;)

Read more…

AES15 lagu untuk anak

Tentang musik untuk anak. Salah satu pemusik yang memiliki passion untuk membuat lagu anak, yang aku sukai adalah Elizabeth Mitchell. Ia mulai mengolah lagu-lagu untuk anak ketika menjadi asisten guru di sebuah taman kanak-kanak di New York, sejak tahun 1990an. Dengan banyaknya murid yang berasal dari berbagai negara, ia menggunakan musik sebagai media komunikasi yang mudah dipahami. Ia mulai dengan menggali musik tradisional Amerika, hingga lagu-lagu dari berbagai negara seperti Jepang atau Spanyol. Dengan suaranya lembut dan indah, ia menghadirkan kembali lagu-lagu anak yang sederhana seperti You Are My Sunshine, This Little Light of Mine, Little Bird Little Bird, dll. 

https://youtu.be/GVQdC8YrrZI

Di tanah air, kita juga punya banyak sekali lagu-lagu anak, lagu-lagu daerah dan lagu-lagu nasional yang bagus. Beberapa pencipta lagu anak yang legendaris adalah Ibu Soed dan AT Mahmud. Ibu Soed merupakan tokoh musik Indonesia sejak sebelum masa kemerdekaan. Lagu-lagu ciptaannya sangat beragam. Mulai dari yang berirama ceria seperti Hai Becak, Tik-tik Bunyi Hujan, berlirik puitis seperti Desaku, Pergi Belajar, Nenek Moyangku, pun bernada patriotik seperti Berkibarlah Benderaku, Tanah Airku. A T Mahmud, adalah pencipta lagu Anak Gembala, Bintang Kejora, Pelangi, Libur Tlah Tiba, Paman Datang, Ambilkan Bulan Bu. Lagu-lagu yang terus populer. Karya mereka layak disebut lagu anak yang bagus. Meski diciptakan untuk anak, tidak lantas jadi hanya menggunakan kata-kata yang biasa atau kalimat yang sederhana. Pilihan kata dalam liriknya tetap indah, tidak meremehkan anak. Lirik lagu-lagu tersebut mengajak anak mengenal budaya lokal dan membangun nilai-nilai. Belakangan cukup banyak lagu anak yang mungkin dibuat semata untuk kepentingan komersiil, pragmatis, semisal mengorbit penyanyi cilik yang punya penampilan menggemaskan. Namun tema yang diangkat, bahasa yang digunakan, tidak jelas dan tidak membangun. Karenanya lagu-lagu anak yang baik menjadi kekayaan budaya yang perlu dilestarikan.

Disclaimernya, aku sendiri belum sempat menonton. Tapi dapat info bahwa ada satu program setiap Sabtu pagi di Net TV yang mengangkat kembali lagu-lagu anak jaman dulu dengan arransemen yang lebih modern dan bervariasi. Sofa Kuning nama programnya. Dibawakan oleh satu keluarga muda, Mas Aqi Singgih, dengan istrinya, Audrey dan 2 anak mereka yang masih kecil-kecil. Sudah tayang beberapa episode selama masa pandemi ini. Mereka membawakan lagu-lagu seperti Potong Bebek Angsa, Apuse, Halo-halo Bandung, atau Kring-kring Ada Speda. Mereka bahkan membuat app yang mengajak penonton berinteraksi dan bisa mendapat hadiah. Semoga menjadi alternatif tontonan keluarga yang mengedukasi :)

Read more…

AES16 Kalimba

Kalau jodoh memang enggak akan kemana :)

Sejak pertemuan pertama dengannya beberapa tahun yang lalu, sebenernya sudah jatuh cinta. Tapi berhubung hanya melihatnya dari jauh karena sedang dimainkan orang lain, dan belum mengenal cara mainnya. Jadi saya hanya menikmati bunyinya saja. Bunyinya unik, saat didengarkan selalu mengantarkan pada moment-moment menenangkan. Hingga beberapa bulan yang lalu, seorang teman menawarkan untuk meminjamkan satu kepunyaannya pada saya. Katanya dia punya beberapa, jadi saya bisa menggunakan yang jarang dia gunakan. Akhirnya kami bersepakat, teman saya meminjamkannya dan saya menerima. Kalimba namanya, nada-nadanya ternyata mampu membuat jiwa saya ikut bernyanyi. Dari banyak alat musik yang pernah saya coba dan semuanya enggak ada yang bener-bener bisa juga hahahaha. Kalimba ini yang paling menyenangkan, walaupun mainnya masih belum lancar, tapi rasanya tiap bermain kalimba ada ruang pertemuan di dalamnya. Ada sesuatu yang disampaikan dalam setiap bunyi dari nada-nadanya. Katanya, setiap pertemuan gelombang yang sama akan mengantarkan pertemuan yang selaras sekaligus dapat menyembuhkan. Kalau jodoh memang enggak akan kemana. Kita dipertemukan dengan apa yang kita cari, mungkin karena energi yang selalu tarik menarik. Bisa jadi, yang kita cari juga mencari kita. Kalau sudah waktunya bertemu, akan bertemu dengan caranya yang beragam :)

Ada lagu pengantar tidur dari kalimba yang saya coba mainkan. Semoga berkenan mendengarkan :)

https://www.youtube.com/watch?v=_Jcnv7T58lI

Selamat beristirahat, semoga mengantarkan pada ingatan manis kita masing-masing.

 

 

Read more…

AES044 Musik Sore, Pemikiran di Belakangnya

Menutup pembelajaran TP16, Semi Palar kembali menggelar Musik Sore - walaupun dalam situasi pandemi seperti saat ini, untuk kedua kalinya Semi Palar diselenggarakan secara daring (online). Tahun lalu, ini jadi inisiatif pengurus OSIS SMP tahun lalu (Evan dkk) yang walaupun 3 bulan memasuki masa pandemi berupaya untuk tetap mewujudkan Musik Sore Smipa. 

Di tulisan kali ini saya ingin mencoba menceritakan pemikiran di balik Musik Sore Smipa. Awalnya gagasan ini muncul dari obrolan kakak2 di Smipa. Sudah cukup lama, saya tidak ingat kapan persisnya. Waktu itu masih ada kak Taufan, kak Yudha, kak Sarita, kak Dhila juga... Waktu itu kami juga sempat kedatangan Yala Roesli, sahabat kami dari Rumah Musik Harry Roesli, yang dulu sempat berbincang tentang kegelisahan kami tentang dunia musik. Kenapa gelisah, karena musik juga mulai rusak karena komersialisasi. 

9150559457?profile=RESIZE_400xSaya pikir ini nyambung juga dengan tulisan Ahkam tentang Progres Musik. Kalau ada asumsi kenapa musik dulu jauh lebih berkualitas menurut saya ini bukan asumsi, memang demikian adanya. Gambar di sebelah ini mungkin menggambarkan sedikit situasi itu. Nah nyambung juga dengan posting Rico di esainya yang ke 18, menulis tentang Bohemian Rhapsody

Gambar di sebelah kiri ini sangat jelas kan ya menggambarkan bagaimana industri musik sangat mengikis musikalitas yang ada. Dari lirik lagunya aja udah jelas bagaimana kualitas makna yang dihantarkan lewat musik sudah nyaris hilang. Lalu bagaimana kualitas musik bisa tetap tinggi... 

Ada satu riset juga yang meneliti tentang hal ini yang mudah2an suatu waktu bisa saya ceritakan juga di sini. 

Kembali ke perbincangan saya dengan kakak2 tentang musik. Sebelum musik masuk ranah industri, yang kita kenal adalah di tanah air adalah Musik Rakyat. Kalau teman2 pernah berkunjung ke satu tempat istimewa di Bandung yang namanya CCL (Celah-celah Langit) asuhan kang Iman Soleh, di sana kita bisa berjumpa dengan tempat hidupnya Teater Rakyat. 

Maksudnya bagaimana? Ya musik adalah milik bersama, musik adalah bagian dari kebudayaan masyarakat. Jadi kalau ada panggung musik, yang manggung ya rakyat, yang main musik rakyat, yang nonton juga masyarakat di daerah situ. Semua jadi bagian dari pertunjukkan yang ada, karena musik adalah bagian dari nafas kebudayaan masyarakat setempat. Tidak ada itu yang ngundang artis lalu dibayar... 

Saat pertama saya berkunjung ke CCL dan menonton pertunjukkan teater di sana, saya terkagum-kagum mendengar bahwa aktornya adalah kenek angkot dan penjaga warung di Terminal Ledeng. Ya, CCL memang terletak di sebuah gang kecil di belakang terminal Ledeng. Kita duduk di sana dan mengapreasiasi rakyat memainkan pertunjukkan teater. Keren banget kan? 

Nah Musik Sore Smipa dibangun dari pemikiran ini. Bagaimana panggung adalah milik bersama. Siapapun punya hak untuk memainkan musik di panggung Smipa ini. Ga perlu ngundang2 dan bayar2 artis segala. Toh kita lebih senang kalau musik2 yang hadir ditampilkan oleh warga Smipa, oleh keluarga kita sendiri. Dari kita, Oleh kita, Untuk kita. Music should Connect People... 

Di bincang2 yang di atas saya ceritakan itu, Yala bercerita bagaimana sedihnya dia saat diminta membantu penyelenggaraan PenSi (Pentas Seni) di SMA-SMA favorit di Bandung. Mereka sekarang sudah tidak menampilkan lagi karya atau permainan musik siswanya tapi berlomba menghadirkan artis2 beken. Yang ujung-ujungnya membuat panitia sampai berhutang ratusan juta rupiah walaupun sudah jualan tiket dan cari sponsor ke sana kemarin... Ya itu dia... industri dan komersialisasi jadinya merusak apa yang sejatinya bisa sangat sederhana tapi bermakna. 

Sampai saat ini, Musik Sore Smipa masih hadir dengan konsep tersebut di belakangnya. Yang tampil adalah kita semua, sehingga pertunjukkan yang ada - sesederhana apapun menjadi milik kita. Semoga spirit ini bisa terus kita jaga seterusnya. Salam Smipa.  

Read more…

AES043 Sinkronisitas

Okay, wah ini bakalan seru nih, karena tak dinyana, rencana saya menuliskan esai ini nyararambung. 

Pertama, ini esai saya yang ke 43 - yang jumlah angkanya adalah 7. Kemarin malam saya bekerja sambil mendengarkan lagu di bawah ini yang dibawakan oleh musisi favorit saya STING, yang judulnya SEVEN DAYS... Musiknya keren banget... I really, really love the sound of it... Permainan drumnya, woaah keren abiss... Ijin bicara sedikit tentang musiknya... Setau saya itu ketukan (drum beat) nya salah satu yang paling sulit dimainkan... dibawakan oleh Vinnie Colauita. Sting sendiri memainkan Bass Guitar... yang seperti biasa, menakjubkan...  


Lanjut lagi... Yang... tanpa direncanakan, saya menuliskannya segera setelah kak Fifin selesai menuliskan esainya tentang Keajaiban Angka 7 (Miracles of Seven) yang temanya MUSIK... Nah ini juga keren banget kan - 7 esai kak Fifin tentang Keajaiban Angka 7.  

Whoaa, keren banget kan... Jadi saya bisa numpang di atas segala hal yang nyambung di atas ini dan menuliskan esai pendek tentang coincidences (peristiwa-peristiwa kebetulan)... Sejak saya pertama membaca novelnya James Redfield, yang berjudul The Celestin Prophecy, saya jadi meyakini segala sesuatu terjadi atas sebuah alasan. Dari buku ini, saya menemukan hal penting yang bagi saya pribadi sangat berdampak. 

There are No Coincidence. Everything Happens for A Reason 

Tulisan ini sampai saya jadikan teks di profil WhatsApp saya. Seperti contoh di atas tadi... apakah itu sebuah kebetulan? Saya ga berpikir begitu. Saat kita meyakini hal di atas tadi, segala sesuatu menjadi berbeda. karena kita jadi selalu berusaha memaknai segala peristiwa yang terjadi. Kenapa? Karena tidak ada peristiwa kebetulan.Segala sesuatu, ada maknanya. Lebih jauh lagi, saat semua kita pandang dalam sudut pandang seperti ini, tidak ada peristiwa baik atau buruk, karena semua punya makna dan saling melengkapi... Akhirnya kita lebih peka juga terhadap semua peristiwa yang terjadi, orang-orang yang saya jumpai, karena semua ini akan jadi rangkaian utuh yang membuat hidup kita punya makna... 

Dari sudut pandang Mekanika Kuantum, ceritanya begini... Segala sesuatu di alam semesta ini adalah enerji. Pikiran, intensi, tindakan, ucapan... material maupun non material adalah enerji yang termanifestasikan dalam berbagai bentuk. Enerji sendiri muncul dalam berbagai bentuk, bisa dalam bentuk partikel atau gelombang atau getaran. Karena semua enerji, segala sesuatu bisa saling mempengaruhi. Saat ada gelombang-gelombang yang selaras, terjadilah yang namanya sinkronisitas... 

Jadi... terima kasih banyak kak Fifin, posting sebelumnya telah menjadikan tulisan ini lengkap karena ada contoh nyata-nya dari esai saya hari ini... Bukan kebetulan... sinkronisitas... 
  

 

Read more…

AES#20 Miracle of 7 [Musik]

Ini dia, tulisan penutup tentang keistimewaan angka 7. Setelah pada tulisan sebelumnya saya garap dengan serius, kali ini agak bersenang-senang nulisnya. Pokoknya nulis!!!

Di hari ketujuh, untuk tujuh tulisan tentang keistimewaan angka 7 akan saya kisahkan dalam dunia musik. 

Do - re - mi - fa - sol - la - si … Mari kita mulai … 

Mari kita mengawali dengan dunia musik klasik Hindustan. Mereka percaya bahwa tiada tarian tanpa musik, tarian lahir dari musik. Apakah ada yang pernah mendengar “Nirtan”? Nirtan dikenal dengan istilah The Dance of the Soul, bukan sekedar tarian biasa, tetapi “Tarian Jiwa” atau Tarian Rohani. Untuk dapat mempelajari tarian ini, ada 7 langkah yang harus dipelajari:

  1. Alankara: Ornamentasi. Hiasan. Sebuah ide yang diungkapkan dengan indah.
  2. Sura: Sebuah not. Tuhan berbicara lewat jiwa yang tercerahkan.
  3. Tana: Getaran (suara). Dialog jiwa dengan alam semesta.
  4. Gamaka: Sesuatu yang berasal dari hati penyair dan disampaikan lewat musik.
  5. Boula: Lirik. Sesuatu yang disampaikan lewat kata-kata dalam sebuah lagu.
  6. Tala: Ritme. Perpaduan suara, penyelarasan.
  7. Chala: Tema. Sesuatu yang mencerahkan.

Berikut beberapa kutipan yang saya suka dari buku Nirtan, The Dance of the Soul karya Hazrat Inayat Khan yang diterjemahkan oleh Anand Krishna:

“The essence of reason is the knowledge of God.” (Akal budi dimaksudkan untuk mengenal Tuhan) - Boula

“Befool not, O night, the morn will break; beware, O darkness, the sun will shine; be not vain, O mist, it will once more be clear; my sorrow, forget not, once again joy will rise.” (Jangan sombong, wahai Kegelapan Malam, sesaat lagi Matahari akan terbit dan kau lenyap tak berbekas. Jangan angkuh, wahai Kabut, kau tak akan bertahan lama. Jangan lupa, wahai Duka, tak lama lagi Suka akan menggusurmu) - Tala

Angka 7 berikutnya datang dari Indonesia, siapa yang tak kenal God Bless? Pada tahun 2016 lalu band beranggotakan Ahmad Albar, Ian Antono, dkk merilis album bertajuk “Cermin 7”. Angka 7 mewarnai rilisan album ini, menandakan album ketujuh mereka setelah tujuh tahun jarak melakukan rekaman dari album sebelumnya. Tahun 2016 ini juga God Bless tepat berusia 43 tahun (4 + 3 = 7), dan tepat dengan usia Ahmad Albar yang ke-70 tahun (ada angka 7 nya).

Angka 7 juga mewarnai album boyband asal Korea yang sedang viral, siapa yang tak tahu BTS alias Bangtan Boys. BTS merilis album bertajuk “Map of The Soul: 7” pada 21 Februari 2020 lalu. Angka 7 memiliki makna penting dalam perilisan album ini, disamping karena mereka beranggotakan 7 personil, album ini juga menandakan bahwa mereka sudah 7 tahun bersama. Nah, siapa yang bisa menyebutkan personil BTS? Silahkan tulis di kolom komentar. (^.^)d

Untuk kalian penyuka britpop, pasti kenal dengan band asal Inggris, Shed Seven. Debut single mereka dirilis pada tanggal 7 Maret 1994 silam, kemudian single ke-7 mereka “ Going for Gold” menduduki chart tertinggi pada tahun yang sama.

Yup, itulah angka 7 yang mewarnai dunia musik. Mungkin masih banyak yang lainnya jika ingin dicari. (^.^)'

Sebagai teman bermalam minggu, saya hadirkan video musik “Going for Gold” dari Shed Seven nih... 

https://www.youtube.com/watch?v=IzkPadoNnzU


Salam,

Read more…

AES031 Connecting People

Generasi saya pasti tau slogan di atas, Connecting People, marketing tagline yang digunakan salah satu brand Hape terkenal di dunia... Merek itu namanya NOKIA. Mereka sejaman dengan hape merek Ericsonn, Motorola, Alcatel dan lainnya. Merek-merek yang sudah hilang terhapus oleh jaman - padahal mereka itu dulu inovator dan pemimpin inovasi teknologi komunikasi pada jamannya... 

Hmm, tapi saya ga mau bahas itu, saya mau bahas apa yang saya lihat terjadi, alami dan rasakan langsung di ruang interaksi di Ririungan ini, Salah satunya terjadi karena beberapa dari kita mulai mencoba menuliskan esai-esai pendek, apapun topiknya dan mempostingkannya di sini. Ini bagian dari gerakan Atomic Essay Smipa. 

Ceritanya begini... kepingan-kepingannya ada tersimpan di antara Seratus Tujuh puluh Esai yang berhasil dituliskan dan disharingkan di ruang koneksi ini. Kenapa saya bilang ruang koneksi ya karena begitulah kenyataannya. Kita coba telusuri ya... Awalnya, Rico menulis tentang Talent, Skill and Practice. berkisah tentang prosesnya belajar bermain gitar elektrik selama masa pandemi ini. Tidak lama, Ahkam merespon lewat tulisannya tentang DU.68.Tempat favorit Ahkam untuk menemukan koleksi kaset dan CD dari lagu2 kesukaannya. 

9094954267?profile=RESIZE_400xTidak lama kemudian, entah di esainya yang keberapa, Rico menulis tentang Bohemian Rhapsody... Nah dari sini bola salju mulai bergulir, karena tulisan Rico ini lagi-lagi memantik respon Ahkam yang menuliskan tentang Progres Musik. Tulisannya menarik, saya langsung komen di bawahnya, "nantikan tulisan saya tentang musik". Begitu respon spontan saya selepas membaca posting Ahkam. Belum sempat saya menulis, Ahkam sudah memposting lagi tulisan pendek tentang Jimi Hendrix. Di esai saya yang ke 27, akhirnya saya menulis tentang inspirasi keren dari bassist Victor Wooten yang punya pandangan keren : Music as a Language. Dalam tulisan itu saya menyebut beberapa musisi dan vokalis favorit saya, yang ternyata juga musisi favorit dari Ahkam dan Jo juga... Membaca tentang ini membangkitkan perasaan bahagia, karena tulisan-tulisan ini ternyata mengoneksikan kita satu sama lain... Hal yang tidak kita ketahui sebelumnya... 

Dalam situasi pandemi, dalam kondisi kita berjauhan, ternyata hal ini sangat mungkin terjadi. Dalam salah satu komentar saya di salah satu posting, saya menulis:" Ini nih media sosial yang sesungguhnya" Media ini mengoneksikan kita satu sama lain. Di sisi lain kita melihat bahwa Twitter, Instagram, Facebook dan lain2nya malahan membuat manusia jadi anti sosial. Saling menghujat, membandingkan, menuding satu sama lain atau media ini jadi ajang pamer kepemilikan atau status mereka. Belum lagi hoax yang dilontarkan terus dan membuat manusia saling curiga bahkan membenci satu sama lain... 

Kita semua, manusia pada dasarnya saling terkoneksi dan di sini kita bisa mengalaminya secara nyata...   

 

Read more…

AES#08 D.U. 68 Musik

Salah satu tempat nongkrong favorit saya adalah D.U. 68 Musik. Toko CD, piringan hitam, dan kaset bekas yang dinamai sesuai alamatnya: Jl. Dipati Ukur No. 68.

Saya berteman baik dengan Bang Vikri, sang pendiri toko itu. Usia kami tidak terpaut jauh sehingga selera musik kami banyak kesamaan. Di toko Bang Vikri sering berkumpul para pencinta musik. Kami yang semula hanya pelanggan Bang Vikri kemudian jadi saling berteman.

Ada fenomena menarik yang saya amati setiap kali ngopi-ngopi di sana. Anak-anak muda yang masih kuliah banyak yang datang mencari kaset. Mengapa mereka mengoleksi kaset-kaset itu? Bukankah semuanya sekarang sudah tersedia di berbagai platform audio streaming semacam Spotify, Apple Music, atau bahkan di YouTube?

Saya jadi teringat masa remaja di desa dahulu. Ketika SMP, saya dan seorang teman rutin menyimak American Top 40 dari siaran radio Voice Of America, stasiun Malaysia. Gelombangnya SW 2. Program itu hanya sekali seminggu. Meskipun suaranya kresek-kresek timbul tenggelam, tapi senangnya minta ampun.

Di masa SMA hingga kuliah, selain radio, saya juga mendengarkan musik dari tape recorder. Maka kalau saya membeli kaset di toko Bang Vikri guna menghadirkan kembali suasana masa lampau yang pernah saya lalui, itu bisa dimengerti.

Apakah kemudahan yang diberikan teknologi masa kini telah menghilangkan sesuatu aspek dalam pengalaman dan penghayatan kita? Apakah karena sekarang semuanya serba gampang, makna yang diresapi jadi malah berkurang?

Andaikata kebahagiaan atau fulfillment atau apapunlah itu namanya bisa diukur secara kuantitatif: apakah levelnya lebih tinggi yang saya alami dulu saat mendengar lagu-lagu dari radio butut sekali seminggu ketimbang yang anak-anak muda sekarang dapatkan dari Spotify—yang tinggal pilih jutaan lagu, kapan saja, di mana saja, dengan kualitas audio yang lebih unggul? Itukah sebabnya mereka memburu kaset-kaset bekas di D.U. 68 Musik? Mencari kelangkaan di tengah-tengah keberlimpahan?

Kak Andy pernah menuliskan pengalamannya sewaktu berkunjung ke Bumi Langit, Imogiri, Yogyakarta. Tatkala meninggalkan desa itu, ada kesenduan yang lirih mengendap di hatinya.

Rasa rindu selazimnya panggilan nostalgia. Tapi ini sebentuk kerinduan yang berbeda. Kangen kepada yang bukan masa lalu kita.

 

"In contradiction and paradox, you can find truth."Denis Villeneuve

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa