literasi (6)

Literasi : Membaca Semesta

 

"Learn how to see. Realize that everything connects to everything else" (Leonardo da Vinci)

diawali dengan kalimat dari da Vinci. Literasi tidak hanya sebatas kegiatan baca buku secara text. Namun, membaca semua hal termasuk gesture, kejadian/tanda-tanda alam semesta, bahkan membaca pengalaman atau kejadian yang sudah berlalu baik ataupun buruk. Hal ini, mengingatkan saya pada cerita turunya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw.

Perintah Alloh yang disampaikan oleh Jibril yaitu “iqra” berarti bacalah. Saat Jibril mendatangi Nabi Muhammad memerintah untuk “baca” bukan berarti Jibril membawa tulisan.

Ketika Jibril berkata “Iqro” nabi Muhammad menjawab “saya tidak bisa membaca”. Hal ini berulang dua kali, sampai ketiga kalinya Nabi Muhammad menjawab “apa yang harus saya baca?”  jibril melanjutkan “biismi rabbika alladzi khalaqa: dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan”.

Ketika saya menyimak tafsir Al Misbah dari Quraish Shihab, Iqro disini tidak berobjek sehingga maksud Iqro “membaca” bukan terbatas pada tulisan melainkan segala hal di alam semesta yang baik maupun buruk dengan kata kunci menyertakan Allah dalam setiap halnya. Dari sesuatu yang buruk, kita bisa mengambil insight atau pembelajarannya. Membaca dapat memberi manfaat untuk dirinya maupun untuk makhluk lainnya untuk mencapai ridho Allah.

Begitu luas makna membaca baik dalam kaca mata religi maupun pengetahuan. Membaca tidak hanya menyertakan satu indera (mata) namun semua indera bahkan kalbu (hati). Membaca menumbuhkan kepekaan atau kesadaran pada diri dan lingkungan yang akhirnya mengarah/mengantarkan pada tujuan diri diciptakan (setiap manusia punya peran/tujuan dari penciptaanya dimuka bumi).

Seperti setiap bagian tubuh yang saling terhubung satu dengan lainnya, begitu pun kehidupan ini. Ketika melibatkan panca indera dan meluaskan sudut pandang mendapati sebuah kenyataannya bahwa segala hal dalam semesta ini saling berhubungan satu sama lain.

 

Read more…

AES#09 Belajar Menulis dari BA(K)SO

B-A-K-S-O atau B-A-S-O ?

Tergantung... 

Pokoknya kalian tau yang saya maksud, kan... 

ヽ(^。^)ノ

Tulisan ini terinspirasi dari bekal makan siang tadi, saya bawa bekal baso buatan mama mertua. 😁 (saya ga pernah masak, kecuali kalo lagi pengen banget)

Ngomong-ngomong soal baso, kalian tau ga baso yang paling enak di Bandung? 

Saya tanya suami, jawaban dia baso Unyil dan baso Serayu. Berbeda dengan Mama mertua saya yang lebih suka baso kampung mamang-mamang yang lewat depan rumah, tapi mamangnya harus mamang yang itu. Saya sendiri suka baso Pak Gatot, pokonya kalo ngebaso, harus baso Pak Gatot. (^o^)

Saya lebih suka baso bening pake cuka dan cenderung asin. Suami lebih suka baso pedas dengan kecap yang kental, kuahnya sampai berwarna hitam.

Baso versi kalian yang seperti apa? Rasanya gimana? Jawabannya pasti beda setiap orang… 

Itu kan relatif, Fin… Semua orang punya selera yang berbeda. YES!!! Exactly!!!

Saya menganalogikan proses menulis sama dengan makan baso… Ga bisa disamain, dan ga bisa dipaksa untuk sama dengan orang lain, ini masalah selera… 

Selera yang saya maksud disini adalah 'style'.

Masing-masing orang punya gaya penceritaan yang unik, berbeda dengan orang lain. Setiap tulisan akan mencerminkan karakter penulisnya. (beberapa kali saya sisipkan pesan ini dalam tulisan saya sebelumnya) 

Kalau kalian masih berpikir dan terus berpikir tulisan saya bagus atau tidak, tulisan saya nanti dibaca orang atau tidak, ina ini ina itu… Kapan mulai nulisnya… Mulai aja dulu!!!

Mulai menulis dari hal yang paling diminati,, hal sederhana yang ditemukan dalam keseharian,, jika sudah menemukan pola nanti akan lebih mudah menuangkan ide/gagasan penceritaan dalam bentuk tulisan.

Balik lagi ke baso... Pernah ada yang iseng hitung diameternya baso ga? Bulat iya, tapi ga presisi ya... Ga ada baso yang bulatnya sempurna...

Sama dengan tulisan, ga ada tulisan yang sempurna... Balik lagi ke 'selera'.

Mulai aja dulu... 

Malam gini makan baso enak kali ya.... \(^o^)/

(*˘︶˘*).。.:*♡

 

Salam,

Read more…

Ini dia cerita hasil pertemuan saya dengan Ka Lyn, yang ibarat cahaya masuk dari lubang kecil di kamar yang suram…

 

NB : Bacanya ga usah terlalu serius ya!!!

 

Ada tiga tahapan olah pikir dalam diri manusia, INPUT, PROSES, dan OUTPUT. Input terjadi ketika ada sebuah informasi yang masuk, ada fokus, diperkuat dengan daya ingat, inilah yang kita sebut LITERASI. Dalam proses, ada kemampuan mengaitkan informasi, kemampuan menganalisis, dan menyimpulkan, erat kaitannya dengan kemampuan logika Matematika ya… Ini yang kita sebut NUMERASI. Yang menjadi output adalah bagaimana kemampuan dalam pengungkapan dalam berbagai bentuk; gagasan, ide, maupun karya. Disini kita bisa melihat KARAKTER seseorang kan… Bisa dipahami, pilar pendidikan Indonesia sudah mengarah pada sesuatu yang tepat, kan?! Ada secercah harapan…

 

Hal penting lainnya, di dalam output, jika ada masalah kita harus melihatnya secara holistik. Apakah prosesnya belum tepat, atau inputnya yang kurang. Dan, ajaibnya… Semua aspek saling berkaitan. Saya ambil contoh, seorang yang kreatif itu seperti apa sih? Imajinatif? Yes! Apa dengan pandai berimajinasi saja sudah dikatakan dia kreatif? Belum tentu… Apakah dia mampu merepresentasikan hasil imajinasinya dalam bentuk karya? Apakah dia mampu berkreasi, menghasilkan, merealisasikan imajinasinya? Disini ada keterkaitan dengan karakter (bagaimana dia berusaha, mencoba jika gagal, tekun, dll), berkaitan juga dengan nalar (kemampuan mengolah bahan), dan tentu berkaitan dengan aspek jasmani (kesiapan motorik).

 

Keren ya… Jika pendidik mampu mengaitkan semua aspek dalam diri peserta didik, sehingga mendapatkan simpulan peserta didik secara utuh.

 

Saat ini, saya sedang dalam mendapat tantangan dan mengalami proses ini. Sama sekali tidak mudah… Bahkan untuk saya yang bertahun-tahun berkecimpung di dunia pendidikan, bertahun-tahun membuat raport untuk anak, masih perlu belajar!! Tapi, tidak menjadi mustahil… Semua pasti bisa!! Hanya butuh proses dan latihan yang konsisten.

 

Nah,,, Bicara latihan yang konsisten… Saya mulai paham kenapa Ka Andy dan Ka Ahkam menggagas “atomic essay” ini… Untuk melatih… (ganti ah,,, melatih udah terlalu biasa… saya pake bahasa 'merangsang'). Pertama, merangsang nalar untuk mengaitkan semua aspek dalam diri anak dan menuangkannya dalam bahasa tulisan secara utuh. Kedua, merangsang nurani untuk lebih peka pada “rasa bahasa”… Bahasa penulisan, bahasa penyampaian.

 

Jadi… Semangat ya nulisnya!!! Gaspoollllllll… Jangan sampai kendor!!!



Salam,

Read more…

AES#13 14D 13B 61E

Hari ini adalah hari ke 14 sejak posting pertama dituliskan untuk menginisiasi Atomic Essay Smipa. Angka dan huruf yang dituliskan sebagai judul di atas ini menggambarkan statistik dari proses 14 hari ini: 14 Days, 13 Bloggers, 61 Essays...

Menurut saya ini pencapaian luar biasa – setelah bertahun2 mencoba mengajak keluarga besar Semi Palar untuk membangun budaya menulis. Menulis kita pahami punya begitu banyak manfaat bagi penulisnya. Literasi adalah salah satu hal penting yang kita sadari betul di Semi Palar. Tapi kenyataannya, begitu banyak upaya kita cobakan untuk membangun budaya dan kebiasaan menulis di Semi Palar. Kita sempat punya lingkar blogger, saya sempat mengajak kakak2 melakukan freewriting setiap selesai koordinasi mingguan, kita menyiapkan platform menulis bersama di Ririungan, tapi ternyata ikhtiar-ikhtiar tersebut tidak membuahkan hasil.

Atomic Essay, sepertinya membuahkan hasil, ada beberapa indikator yang membuktikan hal itu. Sederhananya, blog-count di Ririungan – setelah satu tahun lebih menunjukkan angka sekitar 100 lebih. Sebagian besar daripadanya masih merupakan tugas menulis yang diberikan kakak-kakak bagi teman-teman di kelas. Jadi intinya, sebagian besar masih berupa penugasan – bukan tulisan dari inisiatif atau gagasan dan pemikiran murni penulisnya. Dalam waktu 14 hari, sudah muncul 61 posting dalam konteks Atomic Essay ini.

Lebih jauh, ada dua konsep penting di Semi Palar yang juga mendasari gerakan ini. Pertama adalah apa yang disampaikan Aki Muhidin, yang kedua adalah gerakan yang kita gaungkan di TP15 : Mulai dari Yang Kecil. Dua hal inilah yang menjadi dasar dari gagasan Atomic Essay. Atomic Essay sendiri muncul dari konsep Atomic Habits yang digagas oleh James Clear. Di tulisan berikutnya saya akan coba jabarkan lebih jauh mengenai dua konsep ini. Tapi di titik ini, saat saya menuliskan esai saya yang ke 13, saya sangat berbahagia mengamati penghitung Atomic Essay di Ririungan setiap hari bertambah sejalan dengan berjalannya hitungan hari. Jadi buat teman2 semua mari bergabung di gerakan ini.

 

Read more…

Sudah sampai pada hari dimana saya dan rekan-rekan lain berusaha menggenapi dengan mencari dan mengumpulkan setiap kepingan tentang Pendidikan Holistik.

Tiga hari pembekalan, saya kembali menemukan kepingan-kepingan baru untuk saya rangkai dengan kepingan sebelumnya.

Saya dikenalkan pada "panduan SmiPa" yang tentu saja masih berproses. Saya memahami bahwa 'panduan' diperlukan sebagai pengingat atau semacam rambu agar proses Pendidikan Holistik yang dijalankan di Semi Palar tetap pada jalurnya, jika suatu saat keluar dari jalur, akan mudah untuk dikembalikan ke jalurnya lagi.

Di awal saya berproses, saya mempelajari Semi Palar dari tulisan dan cerita di website. Saya masih ingat yang menjadi titik perhatian Semi Palar, tepat di nomor 1 adalah "literasi". Kemudian muncul pertanyaan, kenapa harus "literasi" ? Yang saya tahu, anak-anak, maupun kakak di SmiPa memang dibiasakan untuk membaca buku dan menulis blog, anak SMP malah mampu menuliskan buku dari perjalanan besar mereka. Tapi, sepenting itukah "literasi" dalam Pendidikan Holistik di SmiPa?

Sepanjang proses, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tanpa disadari saya menemukan jawabannya sendiri. Saya belajar dari Ka Andy, bahwa tidak ada jawaban yang benar atau salah, karena setiap orang merupakan individu yang unik, demikian juga dari cara berpikir, melihat, merasakan, mengamati, sampai pada menyimpulkan. Saya belajar bahwa setiap orang bebas dengan cara pandangnya sendiri. Bersyukurnya adalah selama berproses di SmiPa, kami bisa saling menggenapi dengan berbagai cara berpikir dan berdiskusi, setiap ide masing-masing dari kami, maupun dari kakak-kakak SmiPa yang membimbing proses kami.

Hingga sampai pada kesimpulan bahwa "literasi" itu tidak selebar daun kelor… Cakupannya begitu luas, bukan hanya sekedar membaca dan menulis. Dan ternyata, kemampuan literasi dapat menjadi modal dasar dari memahami proses belajar manusia, khususnya anak-anak maupun kakak SmiPa. Melatih kemampuan literasi adalah mengasah kepekaan diri (raga, pikiran, emosi, dan energi), tentang memahami alam semesta, sebuah peristiwa, pengalaman hidup, bahkan perasaan orang lain. Indah ya, jika semua manusia di bumi ini memiliki kemampuan literasi yang baik… Bumi akan damai.

Kembali kepada tujuan dari Pendidikan Holistik adalah mendidik manusia secara utuh yang diinterpretasikan sebagai lima aspek dari bintang SmiPa, yaitu nalar, nurani, kreativitas, karakter, dan jasmani. Melihat keunikan individu dari nurani dan karakternya menjadi dasar untuk memunculkan kreativitas dengan bantuan kemampuan berpikir (nalar) dan jasmani.

Kreativitas menjadi sangat penting ketika kita ingin melihat hasil dari proses berpikir, olahan dari proses belajar, yang dituangkan dalam sebuah karya atau gagasan. Inilah yang mendasari mengapa di SmiPa anak-anak membiasakan diri mereka membuat karya, sebagai hasil olahan proses belajar anak.

Kenapa harus "karya" ?

Karya/gagasan merupakan bentuk originalitas dari proses dan hasil belajar anak, dan ini bisa dijadikan asesmen yang otentik untuk mengetahui sejauh apa pemahaman anak terhadap topik atau informasi yang diberikan selama proses pembelajaran.

Dalam sebuah karya, sudah mencakup proses melatih semua ranah/aspek dalam diri anak. Misalnya dalam karya Maket Pembangkit Listrik Tenaga Microhydro yang dibuat oleh kelas 4 SD di SmiPa, terlihat bagaimana anak melatih daya nalar (kognitif) dengan mencari informasi tentang komponen yang ada pada PLTMH (dibutuhkan kemampuan literasi). Pemilihan media atau bahan yang digunakan dapat melatih aspek sensorik anak, misalnya ada yang menggunakan bahan bubur kertas, karton tebal atau tipis, benang, kabel, dll. Aspek motorik anak dilatih ketika mereka merangkai setiap komponennya, menggunakan gunting, lem, lakban, dll membutuhkan kemampuan perhitungan yang presisi (ada mata pelajaran atau kemampuan yang terintegrasi-matematika-numerasi) , serta koordinasi mata dan tangan yang membutuhkan kekuatan otot besar maupun kecil (motorik kasar dan halus).

Aspek emosi (ranah nurani) bisa juga dilatih saat mereka memikirkan manfaat dari PLTMH ini bisa memberikan daya listrik untuk berapa rumah, hubungannya dengan saat merangkai dan membuat denah PLTMH, penempatan baling-baling dimana (tentu harus dekat dengan sumber air), generator atau turbin dimana (tentu sebisa mungkin jauh dari pemukiman supaya tidak mengganggu). Apa yang bisa dilihat dari sini? Sejauh mana anak peduli pada lingkungan sekitarnya, respon anak terhadap sumber alam yang merupakan pemberian Tuhan, juga kebermanfaatan untuk sekitar. Ya… Kita berbicara empati.

Sebuah karya olahan kreativitas anak, mampu memperlihatkan karakter anak kan… Tergantung bagaimana kita melihat dan menyadarinya. Lagi-lagi kita bicara tentang kemampuan literasi, khususnya kakak fasilitator dalam mengamati hal besar dalam diri anak yang bisa dijadikan sebagai laporan perkembangan atau kemampuan dan pemahaman anak terhadap konsep yang diberikan dalam sebuah karya.

Itulah simpulan yang saat ini saya pahami, semoga seiring dengan proses lainnya dapat menggenapi sehingga sampai pada kesimpulan yang tepat ketika saya memandangnya secara holistik.

 

 

Salam,



Read more…

Sudah melek kah kita? makna literasi

Tulisan ini saya beri judul "Sudah melekkah kita? Makna literasi".

Sebuah judul yg terfikirkan dari serangkaian proses yg saya alami selama saya mengenal Semipalar. Kenapa kita harus melek akan literasi?

Dalam konteks pembelajaran, saya pribadi mendefinisikan literasi mengarah pada kesadaran terhadap yg tampak secara kasat mata maupun yg tak tampak. Hal ini berkaitan dengan 5 dimensi dari manusia (nalar, nurani, kreativitas, fisik/jasmani & emosi) dari dimensi itu ada yg kasat mata dan tidak.

Lalu mengapa manusia harus melek? Karena bisa jadi matanya melihat fenomen, tetapi nalurinya tidak melihat itu. Lantas serentetan kejadian yg tampak oleh mata sering kali sebagai suatu momen saja, kita tidak mengerti apa maksudnya, lalu apa simbol yg diharapkan dan bagaimana kita sebaiknya merespon hal itu? selanjutnya manusia menjadi seonggok daging tanpa makna. Kehilangan arah dan dirinya. Sampai akhirnya kesadaran atau makna melek baru kita rasakan, setelah serangkaian kejadian panjang yg membuat kita banyak kehilangan, baik itu dari diri kita sendiri atau orang-orang sekitarnya.

Lalu bagaimana kita sebagai manusia dalam konteks pendidik, bisa membuat siswa kita melek? Jika Kita yang katanya manusia dewasa belum melek? Sepertinya konsep sadar itu dimulai dari hal kecil dan dari diri kita sendiri.

Sadar diri, sadar tujuan & sadar lingkungan.

Kemudian setelah merasakan pukulan dari serangkaian kejadian yg mulanya hanya kasat mata kemudian menjadi sarat makna.

Lalu apakah melek itu sudah terlambat? Atau sia-sia? Sepertinya setiap bagian dari diri kita punya jawaban versinya masing-masing.

Paling tidak setidaknya kita sudah mau menyadari hal-hal yg terjadi dari diri kita, setelahnya kita akan lebih peka lagi sehingga bisa melek dengan sendirinya tanpa harus lagi terkena pukulan dari serangkaian fenomena yang ada.

Karena kita sudah satu langkah didepan dan bisa melihat lebih dekat.

Jadi menurut kamu? Kenapa kita manusia dewasa harus melek? Lalu apakah kita manusia dewasa ukuran meleknya sama dengan peserta didik?

Melek literasi, bukan berarti dalam prosesnya tanpa celah. Bisa jadi belum sempurna pemahamannya, tetapi sudah berproses.

Hidup memang tentang berproses begitu juga belajar dalam konsep holistik, setiap orang punya ukuran tersendiri dari setiap proses belajarnya. Tapi tidak semua orang bisa menghargai setiap prosesnya bukan? Tidak apa-apa, kita berproses untuk diri kita sendiri. Karena setiap niat baik yang melibatkan nurani dia akan menjadi ketenangan setidaknya untuk diri kita sendiri.

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa