life (3)

AES072 Berbagi Kepingan Kehidupan

Pada saat memulai Atomic Essay ini, apa yang dituangkan dalam tulisan-tulisan ini sangat jauh dari bayangan saya. Awalnya esai-esai ini hanyalah sekedar tulisan - kisah-kisah sporadis dari berbagai sudut pandang dan pengalaman. Ada yang nyambung, ada yang garing, ada yang serius juga - ada juga yang sulit dipahami. 

Setelah beberapa waktu, saat tulisan-tulisan ini mulai terkumpul cukup banyak, mulai ada hal yang menarik yang muncul dari sana. Kita yang terlibat di dalamnya mulai terasa nyambung satu dan lainnya. Tanpa diduga. Karena beberapa dari kita yang menulis di sini belum lama juga saling mengenal. 

Semakin lama, semakin menarik mengamati apa yang dituangkan. Sepertinya ini adalah akibat dari rutinitas kita menulis. Awalnya mungkin receh, tapi komitmen kita menulis sepertinya mendorong kita menggali lebih jauh ke dalam diri kita. Tidak bisa terhindarkan - karena bisa jadi kita juga semakin kehabisan receh-recehnya kita - dan ini mendorong kita merogoh lebih jauh ke dalam diri kita masing-masing. 

Tidak jarang kita membaca catatan yang cukup mendalam dari teman kita. Buat saya hal ini luar biasa. Pertama-tama hal ini hanya mungkin terjadi karena lingkungan ini adalah lingkungan di mana teman kita itu merasa aman. Aman untuk berbagi kepingan kehidupan yang mungkin biasanya terpendam dalam-dalam. Ada juga yang menuliskan tentang kendala atau tantangan apa yang dihadapi dalam melangkah dalam kehidupannya. 

Cukup sering juga kita membaca kisah sejarah, atau kesukaan yang sangat personal. Hal-hal yang mungkin juga tidak banyak diungkap dalam percakapan sehari-hari. Ada juga yang bicara tentang orang-orang terdekat, memori atau kerinduan diri. Duh buat saya semua ini luar biasa. Bukan hanya itu, ini kehormatan besar buat saya, buat kita semua yang dipercaya untuk membaca dan mencerna tulisan-tulisan ini... Jujur saya merasakan ada koneksi yang mendalam yang lahir lewat proses menulis di dalam ruang kolektif ini. 

Di dalam situasi pandemi yang menjauhkan diri kita secara fisik, ada bentuk koneksi lain yang berhasil ditemukan. Mudah2an saya ga lebay - dan hal ini juga dirasakan oleh teman-teman semua. Lebih jauh, saya berharap lebih banyak teman2 yang bergabung. Dalam konteks belajar - menjadi manusia seutuhnya, menurut saya tidak ada yang lebih berharga daripada kepingan kehidupan yang bisa kita bagikan...  

Read more…

AES036 DOBEDOBEDO

Kali ini saya mau menulis tentang topik di atas ini. DoBeDoBeDo… Saya mendengar ini dari salah satu ahli fisika kuantum, Dr. Amit Goswami yang fotonya ada di atas ini. Dr. Amit juga tampil sebagai salah satu pakar yang mengisi filem tentang Fisika Kuantum yang judulnya What The Bleep Do We Know. Saya sempat bercerita tentang filem ini juga di salah satu tulisan saya

Do Be Do Be Do pada dasarnya adalah bagaimana manusia menjaga keseimbangan hidupnya antara dimensi dalam dan dimensi luar. Antara Doing dan Being. Being adalah non Doing. Masalahnya manusia sekarang sangat terpaku pada doing, doing dan doing. Business (kesibukan) jadi penanda bahwa hidupnya sukses. Bagaimana tidak, orang sepertinya harus sibuk karena waktu adalah uang. Time is Money. Jargon ini begitu membekas di benak kita. Segala sesuatu harus efektif dan efisien. Hal-hal itu adalah jargon-jargon ekonomi. Tapi hidup kita bukanlah melulu tentang ekonomi. Hidup kita adalah mengenai badan, pikiran, emosi dan enerji kita. Ada dimensi kesadaran di dalamnya. Ekonomi, kerja, profesi, prestasi, sukses dan lain sebagainya adalah dimensi luar – pengalaman hidup kita. Bagaimanapun manusia mestinya mewujudkan eksistensinya sebagai Human Being, bukan Human Doing.

Dr. Amit Goswami menemukan hal itu setelah kehidupannya kacau, karirnya mentok, dia tidak bahagia, keluarganya berantakan dan lain sebagainya. Di filem di bawah dalam wawancaranya dengan Iain McNay, Amit bercerita bagaimana dia menemukan keseimbangan hidupnya melalui praktik DoBeDoBeDo tadi.

Being – sejauh saya pahami hanya bisa diwujudkan melalui keheningan dan praktik-praktik meditasi. Karena dalam keadaan meditatif itulah kita bisa mengakses dimensi dalam hidup kita. Tulisan ini melengkapi posting saya mengenai Hening itu Penting, juga sedikit menjelaskan tentang rutin saya setiap pagi dalam tulisan yang berjudul My Morning Sadhana.

Bagi saya ini adalah kepingan penting dalam proses pencarian panjang untuk menggenapi pemahaman tentang pendidikan holistik, lebih jauh lagi kehidupan yang holistik. Saya temukan dalam situasi pandemi COVID19. Situasi yang memaksa kita untuk berhenti, berjeda dan masuk dalam ritme kehidupan yang lebih lambat dari sebelumnya. Saya kira bukan sekedar kebetulan bahwa saya menjumpai hal-hal seperti ini. Saya beruntung juga bisa menuliskan ini di sini. Mudah2an lambat-laun bisa menjadi pemahaman kita bersama di Semi Palar. Salam…

Read more…

AES#7 5200 Weeks

If you are reading this, then you are among the lucky few blessed with this thing called life. It can be beautiful, scary, sad, funny and a million other things, but what it is most of the time, is overwhelming. Most of us spend every day busy with work or studies that we simply do not have the time or energy to grasp the context, meaning and direction of our lives. And I think it’s important to evaluate your life sometimes, and doing so within the point of view of time can be very profound, so let me give you some perspective.

The average human being has a lifespan of around 72 years old globally, and very few people get to live to 100, but for the sake of this anecdote, let’s assume you’re one of the lucky ones. If you do get to live to 100, you have around 5.200 weeks of your life to spend, now that might sound like a lot to you, or maybe it sounds scarily low, but that’s the best case scenario any of us could hope for. 

I am now 20 years old, I’ve gone through childhood and my teenage years, in doing so I’ve used more than 1000 weeks of my life, and the scary thing is that it passed by so quickly, and it will go by even quicker each year. Our lives are precious and fleeting, we have to discover what’s truly important for us, because if we just keep blowing through each day without meaning and purpose, someday, we will run out of time. Don’t take anything for granted, because the things and people that are here today may not be tomorrow. Think about your dreams, your goals, the people that you love, and what you want out of this life, because in the end, it may be the only one that we get.

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa