kesadaran (4)

AES054 Mari Segera Memperlambat

Dari hari ke hari, membaca dan menulis di AES semakin seru, karena kok ternyata apa yang dituangkan dalam tulisan kita bisa jadi sambung menyambung. Saya sempat menuliskan tentang ini di esai saya ke 32 : Connecting People waktu itu tentang musik. Esai Ahkam yang terakhir, Tentang Waktu ternyata juga merangkai beberapa tulisan teman-teman di sini... Yang... mengingatkan saya tentang blogpost saya di bulan April 2017, bertajuk antara Waktu, Kehidupan dan Kebahagiaan

Ternyata dari berbagai sudut pandang, kita punya pemikiran yang sama tentang waktu, tentang ritme kehidupan. Saya teringat lagi sama salah satu video dari kanal Youtube favorit saya Green Renaisance. Segera (wah kok malah jadi terburu-buru ya) saya menelesuri mencari video itu dan menemukannya. Barusan saja saya saksikan lagi video tersebut. Hmm, Bagus banget pesannya. Buat teman-teman di sini silakan kenakan earphone / headphone, cari waktu yang tepat, agak larut malam atau pagi-pagi betul saat suasana masih sepi, saksikan filemnya (jangan lupa tombol fullscreen) sambil menyeruput kopi hangat. Dijamin maknyus bener filem di bawah ini. Isinya apa, judulnya tentunya cukup menjelaskan.   

Judul saya di atas sengaja dibuat paradoksikal (bertentangan) - supaya lebih provokatif... Tapi hal itulah yang ada di benak saya sejak saya berpikir tentang ritme kehidupan - dan karenanya muncul tulisan saya di tahun 2017 lalu. Sedikit bercerita, tulisan itu muncul saat saya dan Rico sedang duduk di angkot di dalam perjalanan pulang ke terminal Bus Temanggung untuk menuju Stasiun Kereta Api di Jogjakarta. Saat itu kami baru saja survey kemungkinan Rico menjalani magang di Spedagi - di tempatnya mas Singgih di desa Kandangan. Di angkot itulah muncul perbincangan tentang waktu. Kisah lengkapnya ada di blogpost di atas tadi. Silakan klik tautannya. 

Tapi, seriusan (seriously...) hal ini perlu kita pikirkan dan carikan solusinya. Selama ini kita sepertinya terbawa arus peradaban - yang semakin lama semakin cepat. Masalahnya terjadi karena ritme peradaban manusia modern yang diakselerasi teknologi, sudah tidak selaras lagi dengan ritme alam. Padahal secara hakiki, manusia adalah bagian dari siklus alam semesta. Hal inilah yang menjadikan manusia tidak lagi bahagia... penuh stress, gelisah, resah, galau, depresif dan lain sebagainya. Inilah yang coba digambarkan Ahkam bagaimana manusia sampai bisa melawan insting alamiahnya untuk bertahan hidupnya dengan bunuh diri... Terkait hal ini, filem di atas menggambarkan dengan sangat indahnya. 

Ini adalah ironi terbesar kehidupan manusia. Manusia yang konon punya kapasitas berpikir paling besar di antara makhluk hidup lainnya. Manusia gagal mengendalikan apa yang jadi hasil pemikiran-pemikirannya sendiri dan secara mendasar gagal menemukan tujuan hidupnya - menemukan kebahagiaannya. Seperti Sadhguru bilang, cacing aja bisa dengan bahagia menjalankan hidupnya dan menjadi full-fledged creature. Makhluk2 lain selama sudah menemukan santapannya hari itu bisa tidur tenang dan damai, menikmati hidupnya... Perut penuh, tidak ada masalah. Lain halnya dengan manusia. Manusia itu kalau lapar hanya ada satu masalah. Begitu perut kenyang, muncul seratus masalah... 

Buat kita di Smipa, semoga wacana-wacana seperti ini bisa kita temukan solusinya. Hal-hal yang dituliskan dalam esai-esai di ruang ini adalah bentuk-bentuk kesadaran yang kita miliki. 

Read more…

AES039 Makro Kosmos dan Mikro Kosmos

Awal mula alam semesta dipercaya dimulai dari sebuah ledakan besar yang disebut dengan The Big Bang. Sebelumnya yang ada hanya kekosongan. Ledakan besar itu selama milyaran tahun menyebarkan berbagai energi dan materi ke mana-mana membentuk alam semesta yang saat ini kita ketahui terdiri dari miliaran Galaxi. Salah satu di antaranya adalah Milky Way yang terdiri juga dari miliaran bintang salah satunya Matahari. Matahari sebagai pusat tata surya kita, salah satu planetnya adalah planet bumi. 

Lalu dari mana galaksi, bintang, planet terbentuk ya mestinya semua ini terjadi dari ledakan yang terjadi miliaran tahun silam. Sebelum terjadi kehidupan, yang ada hanya komponen2 pembentuk kehidupan. Dalam definisi elemen kimiawi, segala sesuatu dalam bentukan unsur kima tercatat di tabel periodik. Jadi logika sederhananya, manusia dan semua makhluk hidup yang kita liat saat ini terbentuk dari debu-debu bintang semata

Lalu entah apa yang memungkinkan terjadinya kehidupan. Yang pasti kehidupan hanya bisa terjadi saat ada air. Tapi tidak hanya air, ada empat elemen lain yang juga harus ada untuk mewujudkan kehidupan yaitu tanah, udara, dan energi. Dan satu elemen yang paling misterius yang disebut ether atau akasha. Mengenai ini saya tuliskan di esai saya yang berjudul Elemen Pembentuk Kehidupan. Kalau direnungkan betul betapa luar biasanya kehidupan ini. Lebih ajaib lagi bagaimana manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang berkesadaran. Human Being karena manusia sejatinya tahu bagaimana ngajadi (know how to be). Manusia bisa memilih dan tidak sekedar mengikuti nalurinya seperti apa spesies lainnya. 

Rupanya ini yang jadi bahan perenungan manusia sejak jaman dulu kala. Saat berkembangnya peradaban besar di berbagai penjuru bumi. Saya kira, dibangunnya piramida di mesir, Candi Borobudur, Angkor Wat di Kamboja ataupun kuil2 di Yunani maupun Stonehenge di Inggris adalah gambaran upaya peradaban manusia memahami kehidupan dan semesta di sekitarnya. Karena pemahaman di atas tadi bahwa kitapun berasal dari debu-debu bintang, tidak heran juga saat kita mengenal istilah mikro kosmos dan makro kosmos. Ada juga yang bicara tentang self dan Self atau Buana Alit dan Buana Ageng. Saya kira itu semua bermula dari hasil perenungan yang sama.

Saat ini para ilmuwan sedang berusaha menjelajah semesta dengan mengirimkan satelit dan teleskop yang bisa meneropong jauh ke semesta raya, melihat apa yang ada di sana. Menghabiskan entah berapa banyak biaya untuk bisa mengirimkan teknologi canggih itu ke luar angkasa. Menariknya ada pendekatan lain yang bisa ditempuh, yaitu memahami alam semesta dengan melihat ke dalam diri manusia. Ada konsep yang disebut sebagai as above so below. Apa yang ada di atas sana, sama dengan apa yang ada di bawah sini. Untuk melihat semesta raya, kita bisa melihatnya di mikro kosmos ini - di dalam diri manusia. Bagaimana orang-orang India kuno bisa mengetahui apa yang ada di luar angkasa sana jauh sebelum diketemukannya teleskop. 

Di bawah ini saya tempatkan satu video yang bisa membuat kita berpikir bahwa konsep di atas itu bisa jadi benar adanya. Bawa (Khurshed Batliwala) adalah salah satu tokoh yang menarik juga untuk diikuti. Seorang yang belajar sebagai saintis (matematikawan) dan sekarang profesinya mengajar banyak orang untuk melakukan meditasi dan hal-hal semacam itu. Mungkin itu cerita untuk lain kali. Untuk saat ini silakan saksikan video di bawah ini. Salam.  

 

Read more…

AES 030 Kata dan Idea

Sudah larut malam, saya belum mulai menulis esai saya yang ke 30. Jadi tulisan ini akan pendek saja. 

Tulisan ini nyambung sama tulisan saya yang sebelumnya tentang perubahan. Robin Williams, di filem keren Dead Poets Society, membisikkan lirih kata2 ini kepada murid-muridnya. "No matter what anybody tells you, words and ideas can change the world"

Apakah mungkin ini gegara saya kuliah di jurusan Arsitektur, bidang yang penuh dengan gagasan dan imajinasi, tapi sampai sekarang saya memang sangat suka berangan-angan. Saya juga sering bercerita (berbagi kata) kepada teman2 yang saya kenal tentang berbagai gagasan saya. Seperti kata-kata di atas tadi, Kata dan idea (gagasan) dapat mengubah dunia. Saya percaya itu. 

Semua hal-hal besar bermula dari imajinasi manusia. Demikian luar biasanya kekuatan pikiran manusia. Contoh sederhana, kalau manusia tidak pernah berpikir bagaimana caranya sampai ke bulan, atau bagaimana bisa manusia mengatasi gaya gravitasi dan terbang di angkasa, tidak pernah akan ada program Apolo atau juga Wright Brothers yang pertama kali membuat pesawat - yang memungkinkan manusia terbang melintasi benua. Bahkan dari yang paling sederhana, roda... Pastinya di suatu waktu ada yang berpikir atau berhayal tentang roda.

Dalam situasi dan perkembangan teknologi saat ini, manusia tidak pernah berhenti dengan kata dan idea. Tapi pertanyaan besarnya, kata-kata yang bagaimana dan gagasan yang seperti apa?. Peradaban manusia modern sampai hari ini tampaknya menuju ke banyak keburukan. Dan itu semua juga akibat kata dan gagasan manusia. Krisis iklim, berbagai sistem kehidupan (sistem ekonomi, sistem politik, sistem pendidikan, dll.) yang ada seperti mengarahkan manusia ke kehancurannya sendiri

Kata dan Idea masih tetap jadi kekuatan kita, apa yang kita punya untuk bergerak mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Saya pikir kuncinya adalah kesadaran. Kata dan Idea yang berlandaskan kesadaran, saya yakin bisa membawa kita ke berbagai kebaikan. Dan... di dalam dunia yang serba bising ini, kesadaran ada di dalam diri manusia, sebelum berkata-kata dan melontarkan gagasan, manusia perlu hening dan lebih banyak mendengarkan dirinya... di dalam sana ada jawabannya...  

Read more…

Sudah melek kah kita? makna literasi

Tulisan ini saya beri judul "Sudah melekkah kita? Makna literasi".

Sebuah judul yg terfikirkan dari serangkaian proses yg saya alami selama saya mengenal Semipalar. Kenapa kita harus melek akan literasi?

Dalam konteks pembelajaran, saya pribadi mendefinisikan literasi mengarah pada kesadaran terhadap yg tampak secara kasat mata maupun yg tak tampak. Hal ini berkaitan dengan 5 dimensi dari manusia (nalar, nurani, kreativitas, fisik/jasmani & emosi) dari dimensi itu ada yg kasat mata dan tidak.

Lalu mengapa manusia harus melek? Karena bisa jadi matanya melihat fenomen, tetapi nalurinya tidak melihat itu. Lantas serentetan kejadian yg tampak oleh mata sering kali sebagai suatu momen saja, kita tidak mengerti apa maksudnya, lalu apa simbol yg diharapkan dan bagaimana kita sebaiknya merespon hal itu? selanjutnya manusia menjadi seonggok daging tanpa makna. Kehilangan arah dan dirinya. Sampai akhirnya kesadaran atau makna melek baru kita rasakan, setelah serangkaian kejadian panjang yg membuat kita banyak kehilangan, baik itu dari diri kita sendiri atau orang-orang sekitarnya.

Lalu bagaimana kita sebagai manusia dalam konteks pendidik, bisa membuat siswa kita melek? Jika Kita yang katanya manusia dewasa belum melek? Sepertinya konsep sadar itu dimulai dari hal kecil dan dari diri kita sendiri.

Sadar diri, sadar tujuan & sadar lingkungan.

Kemudian setelah merasakan pukulan dari serangkaian kejadian yg mulanya hanya kasat mata kemudian menjadi sarat makna.

Lalu apakah melek itu sudah terlambat? Atau sia-sia? Sepertinya setiap bagian dari diri kita punya jawaban versinya masing-masing.

Paling tidak setidaknya kita sudah mau menyadari hal-hal yg terjadi dari diri kita, setelahnya kita akan lebih peka lagi sehingga bisa melek dengan sendirinya tanpa harus lagi terkena pukulan dari serangkaian fenomena yang ada.

Karena kita sudah satu langkah didepan dan bisa melihat lebih dekat.

Jadi menurut kamu? Kenapa kita manusia dewasa harus melek? Lalu apakah kita manusia dewasa ukuran meleknya sama dengan peserta didik?

Melek literasi, bukan berarti dalam prosesnya tanpa celah. Bisa jadi belum sempurna pemahamannya, tetapi sudah berproses.

Hidup memang tentang berproses begitu juga belajar dalam konsep holistik, setiap orang punya ukuran tersendiri dari setiap proses belajarnya. Tapi tidak semua orang bisa menghargai setiap prosesnya bukan? Tidak apa-apa, kita berproses untuk diri kita sendiri. Karena setiap niat baik yang melibatkan nurani dia akan menjadi ketenangan setidaknya untuk diri kita sendiri.

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa