kehidupan (2)

AES071 Bersepeda

Tulisan hari ini akan singkat saja - saya akan mengutip satu teks yang saya dapatkan pagi tadi melalui pesan WhatsApp. Tidak tahu siapa yang menuliskan tapi isinya menurut saya bagus, saya sepakat dengan intinya bahwa Hidup, seperti halnya bersepeda yang terpenting adalah perjalanannya, bukan tujuannya. Tujuan hanya ada satu - dicapai pada saat kita mencapai tujuan kita. Tapi kalau kita terlalu fokus pada tujuannya, kita akan kehilangan atau melewatkan segala sesuatu yang ada / terjadi selama perjalanan. 

Bicara tentang bersepeda, saya sempat ingat juga esai kak Yanti, kenapa bersepeda itu sangat menyenangkan, karena dalam hal kecepatan, sepeda itu tidak terlalu cepat, tapi tidak juga terlalu lambat. Kita bisa bersepeda selambat kita berjalan kaki. Tapi di waktu-waktu tertentu kita bisa melaju cukup cepat untuk merasakan bagaimana angin menerpa wajah kita. Sepeda juga kendaraan yang hening. Dia tidak bising seperti kendaraan lainnya. Walaupun melaju dengan tenaga manusia, sepeda juga memungkinkan kita untuk mencapai jarak yang cukup jauh. Saya sempat membaca satu artikel - yang menuliskan bahwa semestinya inovasi kendaraan berhenti pada saat manusia menemukan sepeda. Cukup sampai di situ. Sekarang, kendaraan bermotor - jadi ciptaan manusia yang terus mengotori atmosfir. 

Sejak PPKM beberapa waktu lalu, rutin saya bersepeda terhenti. Sempat mencoba keluar bersepeda di minggu ke 3 PPKM, tapi saya baru tahu ssesampai di rumah bahwa bersepeda juga sebetulnya tidak diperbolehkan. Menjelang akhir PPKM darurat pagi tadi saya kembali mengeluarkan sepeda saya dan kembali menikmati perjalanan saya bersepeda. Menyenangkan sekali rasanya. 

 

BERSEPEDA.

Bersepeda merupakan kegiatan yang pernah dilakukan oleh hampir semua orang. Sejak masih balita, kita sudah memanjakan anak-anak kita dengan membelikan sepeda mini yang memiliki tiga atau empat roda. Saat anak beranjak remaja, kita juga membelikan sepeda dua roda yang lebih besar. Saat dewasa, mungkin diantara kita ada yang membeli sepeda untuk keperluan berolahraga.

Dalam bersepeda, kita pasti akan melalui tiga jalur yang berbeda yaitu menanjak, mendatar dan menurun.
Saat sedang menanjak, energi kita akan terkuras lebih banyak, memperkuat ayunan pedal agar dapat melalui tanjakan. Namun, janganlah kita terlalu bernafsu mencapai puncak secepat mungkin, sebab kita sendiri harus mengukur batas kemampuan. Jika tanjakan terlampau curam, tidak ada salahnya, kita turun sejenak dari sepeda dan berjalan bersama sepeda hingga ke puncak. Jika kita terlalu memaksakan diri, padahal kemampuan tidak cukup mumpuni, dipastikan kita akan jatuh terjungkal karena tidak sanggup mengayuh pedal sepeda. Jika kita merasa sanggup untuk melampauinya, sebaiknya kita mengatur nafas dan tenaga untuk mengkonstankan putaran ayunan pedal, supaya sepeda melaju stabil. Tetap menjaga konsentarasi untuk menghadapi rute turunan yang mungkin tiba-tiba muncul di depan.

Saat menghadapi turunan, kita tidak boleh kaget hingga terlalu cepat menarik rem. Sebab kita akan terjungkal, jatuh terpuruk dan dapat mengakibatkan luka.
Cobalah untuk mengikuti alur jalannya, menyeimbangkan sepeda dan mengatur pengereman dengan penuh kehati-hatian. Saat berada di jalan mendatar, kita hanya perlu mengayuh dengan santai sambil mempersiapkan kemungkinan munculnya rute tanjakan atau turunan. Bersepeda itu sesungguhnya bukan pada masalah berapa jumlah kilometer yang berhasil ditempuh. Namun yang lebih diutamakan adalah cara menikmati setiap kayuhan pedal untuk melaju hingga mencapai tujuan akhir.

Bersepeda itu identik dengan kehidupan yang sedang kita jalani. Hidup itu menarik dan mengasyikkan bukan karena semakin banyak jumlah umur yang dijalani, namun bagaimana kita menikmati detik demi detik untuk mendapatkan umur tersebut. Bersepeda juga bukan masalah bentuk sepeda atau aksesoris cantik dan canggih yang terpasang pada sepeda, namun sesungguhnya bagaimana cara memanfaatkan sepeda dan aksesorisnya untuk memperoleh pengalaman perjalanan yang menarik. Bersepeda adalah suatu kegiatan yang dapat dinikmati sendirian atau bersama orang lain. Dengan bersepeda, akan tercipta pengalaman selama mengarungi perjalanan, yang dapat diceritakan kepada orang lain. Bukan sekadar berlomba-lomba membanggakan kehebatan maupun kecanggihan dan harga sepeda.

Demikian juga dengan kehidupan manusia. Kita hidup bukan melulu membicarakan mengenai harta kekayaan dan jabatan yang diperoleh, namun sesungguhnya kita harus memanfaatkan semua yang dimiliki agar hidup kita menjadi lebih berharga, bukan hanya sekadar nilai nominal.

Sobatku yang budiman…
Mengutip pepatah Jawa yang menyebutkan : “Urip kuwi golek jeneng, ojo golek jenang” yang artinya : “Hidup itu untuk mencari nama, bukan mencari makan…”
Hidup itu seyogyanya bukan untuk dinikmati sendiri, namun harus bermanfaat bagi orang banyak. Hidup bukan sekadar untuk mencari harta dan jabatan, namun bagaimana memanfaatkan kelebihan yang dimiliki untuk sebesar-besarnya kebahagian orang lain. Alhasil, kita akan menjadi manusia yang mempunyai nama yang baik.

Untuk apa kita memiliki sepeda, jika kita hanya mempunyai cerita tentang saat kita membelinya, bukan pada saat mengayuh pedalnya menyusuri aneka rute perjalanan yang mengasyikkan? Bukankah menaiki sepeda itu terlihat lebih menarik dan terasa lebih mengasyikkan, apalagi dapat menempuh perjalanan bersama rekan-rekan yang lain dalam suasana ruang gembira dan penuh kebahagiaan? 
“It is about the journey, not the destination… Because life is a Journey…” 

 Photo by Rikki Chan on Unsplash  

Read more…

AES057 Menemukan Esensi Pendidikan Holistik

Tulisan ini dipicu salah satu chat WA saya dengan Ahkam - saya lupa persisnya kapan. Tapi intinya Ahkam bilang, ka Andy perlu suatu saat menulis buku tentang perjalanan Semi Palar. Wah sebetulnya ini sudah jadi cita-cita sejak lama. Tapi memang belum sempat terlaksana karena segala kesibukan yang ada. Tapi sebetulnya banyak hal yang jadi pemikiran saya juga jejak pengalaman-pengalaman di Semi Palar yang saya coba tuangkan di dalam esai-esai pendek di AES ini. Walaupun dalam bentuk kepingan-kepingan kecil, setidaknya sedikit demi sedikit kepingan-kepingan tersebut terkumpul di sini. Selain di Ririungan ini, banyak kepingan juga terserak di blog saya maupun di blognya Semi Palar. Siapapun suatu saat nanti bisa merangkainya. Lagi pula belum banyak juga karena di titik ini saya baru menginjak esai saya yang ke 57 di AES ini.

Untuk esai ini saya coba mulai dari sini. Pendidikan Holistik itu kompleks - ini bukan mitos, sudah kami buktikan sendiri di sepanjang perjalanan 16 tahun di Rumah Belajar Semi Palar. Kompleks karena kita berusaha melihat manusia (anak-anak) secara utuh dari segala aspek kediriannya dan memfasilitasi proses mereka menjadi manusia seutuhnya - dari waktu ke waktu - sepanjang mereka belajar dan berproses di Semi Palar. Setiap individu dengan segala keunikannya yang hadir dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda-beda pula. Yang jadi tantangan berikutnya adalah bagaimana para kakak (fasilitator pembelajarannya) juga hadir dengan berbagai perbedaan latar belakang dan keunikannya juga. Mulai terbayang ya kompleksitasnya... 

Dalam perjalanannya, kami juga belajar bahwa kompleks tidak berarti harus rumit juga (complex doesn't mean it has to be complicated). Dengan catatan kita bisa memahami apa dan bagaimana kompleksitas itu sesungguhnya. Melihat dengan jernih dan memahami esensinya. Saat kita belum betul-betul paham, tentunya banyak hal akan jadi rumit. Contoh yang paling jitu saya pikir adalah bagaimana Albert Einstein yang bisa merumuskan bagaimana keterkaitan antara massa dan enerji di dalam alam semesta ini dengan hanya 5 karakter saja. Luar biasa ya. 

9229222699?profile=RESIZE_400x

Einstein juga bilang, kalau kamu belum bisa menjelaskan sesuatu dengan cukup sederhana, berarti kamu belum cukup memahaminya. 

Hal ini juga kami alami betul dalam proses menggulirkan Semi Palar. Di suatu titik kami menyadari bahwa kompleksitas ini muncul karena semata-mata kami masih terjebak di hal-hal yang tidak esensial. Mungkin hal-hal tersebut benar adanya, tapi tidak esensial. Analoginya yang sering saya gunakan adalah saat seseorang mau pergi travelling. Di perjalanan pertama atau kedua, bawaannya pasti banyak. Segala sesuatu dibawa - siapa tahu dibutuhkan. Saat sudah beberapa kali perjalanan, kita mulai tau barang-barang apa saja yang dibutuhkan / esensial untuk dibawa. Kurang lebih semacam itu. 

Sekitar perjalanan Semi Palar di tahun ke 13-14, kami mulai menyadari bahwa untuk mengelola kompleksitas yang ada, kita harus menemukan esensinya. Apa esensi, apa hal-hal mendasar dari Pendidikan Holistik. Di titik ini, kami mulai meyakini bahwa esensi pendidikan Holistik ada di kalimat terakhir yang diungkapkan John Dewey. Education is Life Itself. Bahwa untuk memahami bagaimana pendidikan, kita perlu memahami Life - hidup itu sendiri. 

9229245677?profile=RESIZE_584x

Esensinya sudah ketemu. Sesederhana, sekaligus sekompleks itu juga. Pertanyaan lanjutnya adalah Apa itu Hidup? Mengenai ini kita coba jawab di esai selanjutnya. Salam...   

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa