human being (8)

AES075 Memulai dari Being

Memasuki Tahun Pendidikan ke 17 ada sesuatu yang berbeda yang kami coba lakukan bersama. Dalam situasi pandemi COVID-19 ini kami dituntun untuk berkenalan dengan DOBEDOBEDO. Buat generasi saya, kata-kata ini akrab di telinga kita, sesuatu dari filem kartun Scooby Doo. Tapi ini ga ada hubungannya sama sekali dengan filem itu. Buat yang ingin tahu lebih jauh salah satu esai saya menuliskan tentang DOBEDOBEDO ini. 

DOBEDOBEDO pada dasarnya adalah upaya menjadikan hidup kita lebih seimbang. Keberlangsungan alam semesta sampai saat ini adalah karena keseimbangan semata. Segala sesuatu yang tidak seimbang pastinya akan gampang rusak. Karenanya alam semesta selalu bekerja dalam siklus (cycles) - sesuatu yang berputar, berulang dan saling melengkapi. Siklus siang dan malam, siklus musim hujan dan kemarau, perputaran bulan di sekitar bumi dan seterusnya. Dari siklus yang singkat hingga siklus yang perputarannya mencapai puluhan ribu tahun. 

Lalu apa itu Do Be Do Be Do. Eksistensi manusia sebagai insan (human being) ternyata sangat terkait dengan hal ini. BE (Being) erat kaitannya dengan dimensi kesadaran. Doing adalah melakukan segala sesuatu termasuk di dalamnya berpikir. Menarik ya. Ternyata untuk menjadi manusia yang berkesadaran, kita perlu banyak berada dalam Being. Being ini menarik kalau dijabarkan lebih jauh. Tapi kalau disederhanakan lagi Being adalah semata-mata non-Doing. Tidak melakukan apa-apa, jadi manusia perlu meluangkan waktu untuk berada dalam hening dalam diam... DOBEDOBEDO saya terjemahkan sebagai siklus keseimbangan yang dibutuhkan untuk menjadi manusia seutuhnya. 

Hari belajar siang tadi juga membahas lagi tentang hal ini. Rusaknya planet bumi, kacaunya sistem peradaban semata-mata terjadi karena manusia modern sudah tidak tahu lagi bagaimana Being tadi... Manusia sibuk berpikir dan melakukan segala sesuatu - tanpa meluangkan waktu untuk Being... Akhirnya segala sesuatu dilakukan di luar kesadaran dirinya. Lupa pada Being-nya. Padahal manusia adalah Human Being, bukan Human Doing. Kak Gina menuliskan tentang ini dengan sangat menarik dalam tulisannya How To Be Joyful. Ga ada yang harus dilakukan, just Be Joyful... Kalau kesadarannya menyala, manusia bisa bahagia begitu saja... Ga ada itu yang namanya the Pursuit of Hapiness. Ini konsep yang salah, karena kebahagiaan ada di dalam diri. Lalu apa yang mau dikejar? Bagaimana akan ketemu kalau manusia mencari kebahagiaan di luar dirinya... 

Kalau manusia bahagia, konten, damai, tidak akan ada hasrat dalam dirinya untuk melakukan keburukan... Dia akan memancarkan kebaikan. Whatever he or she is doing, everything will be an expression of happiness. Hal yang sama digambarkan dalam filem yang kita bedah bersama di awal Tahun Pendidikan ini, sebelum masuk minggu perencanaan. Tentang ini saya tuliskan dalam esai saya yang berjudul Berbeda Pandangan dengan DescartesDi dalamnya ada filem yang berjudul Beyond Thinking

Walaupun kita (kakak-kakak) masih belajar, karena baru paham (ngarti), mudah2an proses belajar ini menuntun kami pada bisa dan tuman. Mudah2an tidak berlebihan kalau saya merasakan ada Being yang berbeda di tahun ini di kakak2 Smipa. Semoga hal ini membawa kebaikan pada proses yang akan berjalan. Kita lihat apa yang akan terjadi...  

Photo by Majestic Lukas on Unsplash

Read more…

AES073 Siapa (apa) kah Kamu?

Kembali ke pertanyaan yang sebetulnya sudah sering kita dengar. Pertanyaan sederhana yang sama sekali jauh dari sederhana untuk menjawabnya. Kenapa pertanyaan ini muncul terus sepanjang peradaban manusia - sepertinya ini pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya secara meyakinkan. 

Dalam pemahaman Pendidikan Holistik, setidaknya di Semi Palar, proses pembelajaran adalah proses panjang untuk menemukan diri sendiri. Harapannya dalam proses pembelajaran ini, tahapan demi tahapan, teman-teman yang belajar secara holistik mampu mulai mengenali diri mereka sendiri - dan menjawab pertanyaan Siapakah Aku? Saat manusia kenal dirinya, kenal lingkungannya, dia berpotensi mengenali tujuan hidupnya. Dan dengan begitulah ia akan menemukan makna hidupnya - eksistensi dirinya. 

Mengenali diri sendiri kita pahami adalah proses yang bekerja di sisi dalam diri manusia. Karenanya kegiatan2 reflektif (bercermin) dan waktu hening jadi hal-hal penting. Proses ini jadi proses yang sangat personal, sangat individual. Manusia berpeluang menemukan (mengenal) diri sendiri saat dia banyak menelaah sisi dalam dirinya. 

Tapi pertanyaan tentang apa dan bagaimana sisi dalam diri manusia tetap sulit dijawab. Video di bawah ini adalah salah satu video yang menarik untuk dicermati. Karena kalau kita tahu atau setidaknya punya gambaran apa yang sesungguhnya ada di sisi dalam diri manusia, menemukannya akan jadi lebih mudah. Mudah-mudahan... 

Photo by Alexander Jawfox on Unsplash

Read more…

AES072 Berbagi Kepingan Kehidupan

Pada saat memulai Atomic Essay ini, apa yang dituangkan dalam tulisan-tulisan ini sangat jauh dari bayangan saya. Awalnya esai-esai ini hanyalah sekedar tulisan - kisah-kisah sporadis dari berbagai sudut pandang dan pengalaman. Ada yang nyambung, ada yang garing, ada yang serius juga - ada juga yang sulit dipahami. 

Setelah beberapa waktu, saat tulisan-tulisan ini mulai terkumpul cukup banyak, mulai ada hal yang menarik yang muncul dari sana. Kita yang terlibat di dalamnya mulai terasa nyambung satu dan lainnya. Tanpa diduga. Karena beberapa dari kita yang menulis di sini belum lama juga saling mengenal. 

Semakin lama, semakin menarik mengamati apa yang dituangkan. Sepertinya ini adalah akibat dari rutinitas kita menulis. Awalnya mungkin receh, tapi komitmen kita menulis sepertinya mendorong kita menggali lebih jauh ke dalam diri kita. Tidak bisa terhindarkan - karena bisa jadi kita juga semakin kehabisan receh-recehnya kita - dan ini mendorong kita merogoh lebih jauh ke dalam diri kita masing-masing. 

Tidak jarang kita membaca catatan yang cukup mendalam dari teman kita. Buat saya hal ini luar biasa. Pertama-tama hal ini hanya mungkin terjadi karena lingkungan ini adalah lingkungan di mana teman kita itu merasa aman. Aman untuk berbagi kepingan kehidupan yang mungkin biasanya terpendam dalam-dalam. Ada juga yang menuliskan tentang kendala atau tantangan apa yang dihadapi dalam melangkah dalam kehidupannya. 

Cukup sering juga kita membaca kisah sejarah, atau kesukaan yang sangat personal. Hal-hal yang mungkin juga tidak banyak diungkap dalam percakapan sehari-hari. Ada juga yang bicara tentang orang-orang terdekat, memori atau kerinduan diri. Duh buat saya semua ini luar biasa. Bukan hanya itu, ini kehormatan besar buat saya, buat kita semua yang dipercaya untuk membaca dan mencerna tulisan-tulisan ini... Jujur saya merasakan ada koneksi yang mendalam yang lahir lewat proses menulis di dalam ruang kolektif ini. 

Di dalam situasi pandemi yang menjauhkan diri kita secara fisik, ada bentuk koneksi lain yang berhasil ditemukan. Mudah2an saya ga lebay - dan hal ini juga dirasakan oleh teman-teman semua. Lebih jauh, saya berharap lebih banyak teman2 yang bergabung. Dalam konteks belajar - menjadi manusia seutuhnya, menurut saya tidak ada yang lebih berharga daripada kepingan kehidupan yang bisa kita bagikan...  

Read more…

AES061 Berbeda Pandang dengan Descartes

Pertama mendengar kata2 filsuf terkenal Descartes, COGITO ERGO SUM, dulu saya spontan manggut-manggut... Wah bener juga ya. Kita berpikir, karenanya kita ada. Waktu berjalan, belajar, dan terus belajar... Sekarang ternyata saya berbeda pandang dengan Descartes. Punten ya bung... Boleh dong kita berbeda sudut pandang, walaupun anda filsuf... 

Orang yang belajar itu katanya adalah orang-orang yang pikirannya terbuka. Ada kata-kata yang bilang begini...

Your mind is like a parachute. It works best when it is open.

Nah ini saya setuju betul. Saat belajar memahami sisi dalam dan sisi luar, banyak hal yang merujuk bahwa sisi dalam manusia, kedirian yang sejati, adalah lepas dari pikiran-pikirannya. Seperti yang dibilang oleh Deepak Chopra dalam video meditatifnya : 

You my friend are not your thoughts...
You are the thinker of the thoughts...
The thoughts come from you...
So where are you?
You are in the stillness, the silence between your thoughts...
That stillness, that stillness is you...

Saya juga belajar dari Sadhguru, bahwa segala sesuatu yang ada dalam memori yang direkam dalam otak kita datang dari luar, di rekam sejak kita kecil hingga kita dewasa. Karena datang dari luar, itu bukan kita, memang bagian dari kita, tapi bukan diri kita yang sejati (not our own true self). Nah hal ini kalau tidak disadari betul bisa jadi sumber masalah. Karena otak kita (sumber pikiran-pikiran kita) seringkali jadi sumber masalah. Nah inilah yang dijabarkan dengan gamblang lewat video ke empat dari serial Inner Worlds, Outer Worlds, yang berjudul Beyond Thoughts.

Video di atas ini menjadi salah satu bahan belajar bersama kakak-kakak Smipa dalam rangkaian merencanakan pembelajaran TP17. Di semester lalu, video-video ini kita bedah dan diskusikan bersama di lingkar belajar tim LingKung. Kenapa? Karena sejak awal, konsep pembelajaran holistik meyakini bahwa ada dimensi dalam kedirian manuysia yang utuh. Dulu kita belum terlalu paham apa dan bagaimana - baru sebatas tahu (Nyaho). Pandemi COVID ternyata mendorong kita di Semi Palar untuk memahami lebih jauh soal ini. Buat saya pribadi, setelah lebih paham (Ngarti), saya mencoba melakukan supaya Bisa dan saat ini - mudah-mudahan saya sudah masuk tahapan Tuman. Masih ingat ya kata2 mutiaranya Aki Muhidin... Bener banget kok... 

Setelah lebih dari satu tahun, setiap pagi saya memulai hari saya lewat waktu hening. Mengenai ini saya coba jelaskan di posting saya yang berjudul My Morning Sadhana. Ya memang kalau kata Aki Muhidin, kalau kita ingin Ngajadi, ya kita harus melewati Tuman dulu. Ga ada jalan lain. 

Saya juga senang membaca posting Ahkam yang sedang berproses membiasakan diri melakukan Waktu Hening. Kakak2 juga di berbagai tulisannya juga sedang berusaha menemukan - dengan caranya masing-masing waktu hening yang membantu kita semua untuk menemukan BEING-nya kita. Di dalam filem di atas ini, ada kata-kata menarik: "... After all, we are human being, not human doing..."

Kembali ke Descartes, dia bilang manusia berpikir, karenanya manusia ada... Saya lebih setuju pemikiran Sadhguru, "Manusia ada, karenanya manusia berpikir"...

Nyambung sedikit tentang ini, di dalam waktu hening saya, di tahap awal, sejalan dengan tarikan dan hembusan nafas saya mengulang-ulang kata-kata berikut ini secara mental, "Saya bukan badan, saya bukan juga pikiran". Begitu berulang-ulang, semacam mantra. Saya belajar ini dari pendekatan meditasinya Sadhguru. Tujuannya adalah mengambil jarak dari badan dan pikiran kita. Kalau kita berjarak, kita bisa mengamati segala sesuatu dengan lebih jernih.

Ada analogi yang menarik tentang mengambil jarak ini. Dulu (bahkan sekarang juga) ada perdebatan besar tentang bumi kita, apakah bumi kita bulat atau datar. Kabarnya perdebatan itu berjalan sampai berabad-abad. Sebetulnya perdebatan ini segera terjawab saat manusia bisa pergi keluar angkasa. Dari jarak tertentu dari muka bumi, secara jelas manusia bisa melihat bahwa bumi itu bulat. Masalah selesai, case closed. Yang masih keukeuh bumi itu datar ya mungkin mereka2 yang pikirannya tertutup.   

Segala sesuatu yang terjadi di luar diri manusia akan ditangkap oleh panca indera, dan diolah dalam otak lewat pikiran-pikiran kita. Hal inilah yang seringkali bikin masalah buat kita. Kita sering tersinggung, marah, kecewa, sedih, dan lain sebagainya karena hal-hal yang terjadi di luar diri kita. Saat berjarak, kita bisa mengamati lebih jernih, apa adanya... Kita jadinya tidak reaktif, kompulsif - tapi bisa merespon dengan kesadaran, karena kita tau persis apa yang sebetulnya terjadi... lebih asik kan? 

Kembali lagi, kita itu Human Being, bukan Human Doing... Jadi pertama-tama Being dulu, Doingnya ya belakangan... 

 Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash  

 

Read more…

AES051 Tentang Kebahagiaan

Ada pertanyaan menarik dilontarkan oleh Sadhguru kepada pewawancaranya - terkait kebahagiaan manusia. Kurang lebih pertanyaannya begini, "Tentang kebahagiaan dalam hidup. kamu memilih mana? Mengejar kebahagiaan (in pursue of happiness) atau hidup kamu adalah ekspresi kebahagiaan (expression of joy)?" Jawaban pewawancaranya ga penting, tapi pertanyaan ini penting buat kita semua. 

9201579692?profile=RESIZE_400xBagi kebanyakan orang, mungkin apa yang dijalani dalam hidupnya adalah jawaban pertama. Karena memang manusia tidak pernah dihadapkan kepada pertanyaan penting tadi. Sejak kecil, duduk di bangku sekolah dan menjadi dewasa, kebahagiaan adalah sesuatu yang perlu dikejar, perlu diusahakan, lewat belajar, kerja, keberhasilan, sukses, dan lain sebagainya. Kebahagiaan ada di luar sana

Tapi pertanyaan Sadhguru menyadarkan kita sebaliknya, bahwa kebahagiaan ada di dalam diri kita. Kitalah yang jadi sumber kebahagiaan itu. Kehidupan kita adalah ekspresi kebahagiaan yang bersumber dari dalam diri kita. Hal yang penting, tapi kita tidak pernah dibawa dalam kesadaran bahwa kebahagiaan bermula dari diri kita.

Inilah kenapa manusia disebut human being. We, human being have the capacity to be... Untuk menjadi bahagia, kita bahkan tidak perlu melakukan apapun, karena kebahagiaan adalah sebuah situasi menjadi bukan sesuatu yang harus dikerjakan... We just need to be happy, and for that we don't really need to do anything...

Tapi ternyata dengan segala sesuatu yang kita hadapi dalam kehidupan kita, hal ini bukan hal yang mudah juga. Hmm, entah kenapa saya lagi-lagi menulis tentang ini, walaupun sudah sempat menuliskan posting serupa dengan judul Happiness Inside. Sepertinya memang saya sedang dalam proses memahami hal ini, tentang dimensi dalam dan dimensi luar. Sudah lama kita tahu (nyaho) tentang ini dari Konsep Pembelajaran di Semi Palar. Tapi rupanya kita belum cukup paham (ngarti) tentang itu... Apapun, mudah2an apa yang dituliskan di sini bermanfaat - bagi yang sempat membacanya. Salam bahagia...  

 

  

 

Read more…

AES039 Makro Kosmos dan Mikro Kosmos

Awal mula alam semesta dipercaya dimulai dari sebuah ledakan besar yang disebut dengan The Big Bang. Sebelumnya yang ada hanya kekosongan. Ledakan besar itu selama milyaran tahun menyebarkan berbagai energi dan materi ke mana-mana membentuk alam semesta yang saat ini kita ketahui terdiri dari miliaran Galaxi. Salah satu di antaranya adalah Milky Way yang terdiri juga dari miliaran bintang salah satunya Matahari. Matahari sebagai pusat tata surya kita, salah satu planetnya adalah planet bumi. 

Lalu dari mana galaksi, bintang, planet terbentuk ya mestinya semua ini terjadi dari ledakan yang terjadi miliaran tahun silam. Sebelum terjadi kehidupan, yang ada hanya komponen2 pembentuk kehidupan. Dalam definisi elemen kimiawi, segala sesuatu dalam bentukan unsur kima tercatat di tabel periodik. Jadi logika sederhananya, manusia dan semua makhluk hidup yang kita liat saat ini terbentuk dari debu-debu bintang semata

Lalu entah apa yang memungkinkan terjadinya kehidupan. Yang pasti kehidupan hanya bisa terjadi saat ada air. Tapi tidak hanya air, ada empat elemen lain yang juga harus ada untuk mewujudkan kehidupan yaitu tanah, udara, dan energi. Dan satu elemen yang paling misterius yang disebut ether atau akasha. Mengenai ini saya tuliskan di esai saya yang berjudul Elemen Pembentuk Kehidupan. Kalau direnungkan betul betapa luar biasanya kehidupan ini. Lebih ajaib lagi bagaimana manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang berkesadaran. Human Being karena manusia sejatinya tahu bagaimana ngajadi (know how to be). Manusia bisa memilih dan tidak sekedar mengikuti nalurinya seperti apa spesies lainnya. 

Rupanya ini yang jadi bahan perenungan manusia sejak jaman dulu kala. Saat berkembangnya peradaban besar di berbagai penjuru bumi. Saya kira, dibangunnya piramida di mesir, Candi Borobudur, Angkor Wat di Kamboja ataupun kuil2 di Yunani maupun Stonehenge di Inggris adalah gambaran upaya peradaban manusia memahami kehidupan dan semesta di sekitarnya. Karena pemahaman di atas tadi bahwa kitapun berasal dari debu-debu bintang, tidak heran juga saat kita mengenal istilah mikro kosmos dan makro kosmos. Ada juga yang bicara tentang self dan Self atau Buana Alit dan Buana Ageng. Saya kira itu semua bermula dari hasil perenungan yang sama.

Saat ini para ilmuwan sedang berusaha menjelajah semesta dengan mengirimkan satelit dan teleskop yang bisa meneropong jauh ke semesta raya, melihat apa yang ada di sana. Menghabiskan entah berapa banyak biaya untuk bisa mengirimkan teknologi canggih itu ke luar angkasa. Menariknya ada pendekatan lain yang bisa ditempuh, yaitu memahami alam semesta dengan melihat ke dalam diri manusia. Ada konsep yang disebut sebagai as above so below. Apa yang ada di atas sana, sama dengan apa yang ada di bawah sini. Untuk melihat semesta raya, kita bisa melihatnya di mikro kosmos ini - di dalam diri manusia. Bagaimana orang-orang India kuno bisa mengetahui apa yang ada di luar angkasa sana jauh sebelum diketemukannya teleskop. 

Di bawah ini saya tempatkan satu video yang bisa membuat kita berpikir bahwa konsep di atas itu bisa jadi benar adanya. Bawa (Khurshed Batliwala) adalah salah satu tokoh yang menarik juga untuk diikuti. Seorang yang belajar sebagai saintis (matematikawan) dan sekarang profesinya mengajar banyak orang untuk melakukan meditasi dan hal-hal semacam itu. Mungkin itu cerita untuk lain kali. Untuk saat ini silakan saksikan video di bawah ini. Salam.  

 

Read more…

AES036 DOBEDOBEDO

Kali ini saya mau menulis tentang topik di atas ini. DoBeDoBeDo… Saya mendengar ini dari salah satu ahli fisika kuantum, Dr. Amit Goswami yang fotonya ada di atas ini. Dr. Amit juga tampil sebagai salah satu pakar yang mengisi filem tentang Fisika Kuantum yang judulnya What The Bleep Do We Know. Saya sempat bercerita tentang filem ini juga di salah satu tulisan saya

Do Be Do Be Do pada dasarnya adalah bagaimana manusia menjaga keseimbangan hidupnya antara dimensi dalam dan dimensi luar. Antara Doing dan Being. Being adalah non Doing. Masalahnya manusia sekarang sangat terpaku pada doing, doing dan doing. Business (kesibukan) jadi penanda bahwa hidupnya sukses. Bagaimana tidak, orang sepertinya harus sibuk karena waktu adalah uang. Time is Money. Jargon ini begitu membekas di benak kita. Segala sesuatu harus efektif dan efisien. Hal-hal itu adalah jargon-jargon ekonomi. Tapi hidup kita bukanlah melulu tentang ekonomi. Hidup kita adalah mengenai badan, pikiran, emosi dan enerji kita. Ada dimensi kesadaran di dalamnya. Ekonomi, kerja, profesi, prestasi, sukses dan lain sebagainya adalah dimensi luar – pengalaman hidup kita. Bagaimanapun manusia mestinya mewujudkan eksistensinya sebagai Human Being, bukan Human Doing.

Dr. Amit Goswami menemukan hal itu setelah kehidupannya kacau, karirnya mentok, dia tidak bahagia, keluarganya berantakan dan lain sebagainya. Di filem di bawah dalam wawancaranya dengan Iain McNay, Amit bercerita bagaimana dia menemukan keseimbangan hidupnya melalui praktik DoBeDoBeDo tadi.

Being – sejauh saya pahami hanya bisa diwujudkan melalui keheningan dan praktik-praktik meditasi. Karena dalam keadaan meditatif itulah kita bisa mengakses dimensi dalam hidup kita. Tulisan ini melengkapi posting saya mengenai Hening itu Penting, juga sedikit menjelaskan tentang rutin saya setiap pagi dalam tulisan yang berjudul My Morning Sadhana.

Bagi saya ini adalah kepingan penting dalam proses pencarian panjang untuk menggenapi pemahaman tentang pendidikan holistik, lebih jauh lagi kehidupan yang holistik. Saya temukan dalam situasi pandemi COVID19. Situasi yang memaksa kita untuk berhenti, berjeda dan masuk dalam ritme kehidupan yang lebih lambat dari sebelumnya. Saya kira bukan sekedar kebetulan bahwa saya menjumpai hal-hal seperti ini. Saya beruntung juga bisa menuliskan ini di sini. Mudah2an lambat-laun bisa menjadi pemahaman kita bersama di Semi Palar. Salam…

Read more…

Salah satu yang saya pelajari dari sosok yang eksentrik tapi luar biasa, Sadhguru - adalah bagaimana manusia sangat tidak memahami kediriannya. Manusia belajar banyak tentang hal-hal di luar dirinya, tapi sama sekali tidak paham tentang dirinya, hidupnya.

Dari Sadhguru, saya baru memahami kenapa banyak orang-orang di India yang jadi yogi, jadi petapa. Orang-orang yang kerjanya hanya duduk berdiam diri dan bermeditasi. Seakan tidak ada hal lain yang penting di luar dirinya. Saya baru paham bahwa mereka betul-betul memfokuskan diri mereka ke dimensi dalam kehidupannya.

Sadhguru bilang, tubuh manusia itu diciptakan seperti antene televisi (TV jaman dulu) yang dalam posisi dan kondisi yang tepat, yang pas, manusia akan bisa tekoneksi dengan alam semesta. Para yogi ini, misi hidupnya adalah menemukan posisi dan kondisi yang pas agar bisa menembus batasan antara dirinya (mikrokosmos) dan semesta raya (makrokosmos).

Dari Sadhguru juga, saya baru memahami bahwa yang disebut Yoga itu adalah kondisi di mana kedirian manusia sudah melebur dengan semesta di luar dirinya. Dalam kondisi Yoga, manusia sudah melampau batas-batas fisikalitas dirinya, dan di sanalah ia terkoneksi dengan alam semesta. Dan dalam kondisi itu tidak lagi diperlukan lagi intelektualitas (kerja otak) karena yang bekerja adalah kecerdasan (intelegensi manusia) yang ada di seluruh bagian dari dirinya. Di dalam yogic sciences (ya, Yoga adalah sains juga yang dilakukan melalui jalan spiritual – atau dikenal sebagai spiritual science) ada dikenal banyak dimensi kecerdasan manusia - melampaui intelektualitas otak kita, hal yang jadi signifikan di alam pemikiran barat - sampai filsuf Rene DesCartes bilang : Cogito Ergo Sum : Aku berpikir karenanya aku ada. Hal ini sangat terbalik dengan pemikiran Timur yang bilang bahwa Aku ada, karenanya aku bisa berpikir.  

Intelektualitas (kerja otak) adalah terutama bermanfaat untuk bertahan hidup (survival). Karena otak manusia sangat terkoneksi dengan kerja panca indera kita. Tapi tubuh kita menyimpan intelegensi luar biasa di luar sel-sel otak kita. Dimensi kecerdasan ini yang membuat manusia memiliki dimensi kesadaran tertentu, satu misteri yang sulit dipahami – tapi toh ada di dalam diri dan hidup kita sebagai anugerah Sang Maha Pencipta. Ini lah kenapa manusia punya kemampuan menjadi human being, bukan sekedar makhluk (creature) – di antara spesies lain yang hidup di muka bumi ini…  

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa