hope (1)

 

Tidak ingat kapan saya menemukan video ini di antara entah berapa banyak video yang tersimpan di youtube. Video di atas ini sangat menyentuh dan seakan mengatakan apa yang ada di dalam perasaan dan pikiran saya. Di tengah segala kacaunya peradaban dunia dan ketidak menentuan masa depan, selalu ada kemungkinan bahwa dunia yang lebih indah bisa terwujud... Kita yang berpikir bahwa hal itu bisa terwujud tentu meyakini juga bahwa kita bisa melakukan sesuatu, membuat perubahan - bukan sekedar berharap tapi juga melakukan sesuatu - sekecil apapun itu. 

Beberapa waktu lalu, saya membaca kata2 di atas ini : The mind believes, but the heart knows. Saya jadi teringat lagi sama video ini. Karenanya saya memutuskan untuk menulis soal ini. Kalau ditelaah kalimat sederhana ini menyiratkan bahwa hati kita (heart) lebih tahu, lebih tahu dalam pengertian lebih yakin. Otak kita sekedar percaya, karena, memercayai sesuatu ya itu sebatas percaya. Kita tahu kita punya tangan karena kita bisa melihat dan merasakan tangan kita. Hal-hal yang tidak kita bisa kita lihat, rasakan, alami langsung sebatas bisa kita percayai. Karena ini logika-logika kita seringkali juga meleset - atau sebaliknya tidak mampu melihat hal-hal yang mungkin terjadi. 

Sepertinya kita harus lebih terkoneksi dengan apa yang kita rasakan dalam hati. Pikiran-pikiran kita sudah terlalu terdistorsi, terlalu keruh karena begitu banyak hal yang ditangkap dari luar diri kita. Seperti yang digambarkan dalam filem di atas ini, adalah bagaimana sering kali kita merasa 'sakit' melihat segala situasi di luar diri kita. Tapi semua itu datang dari luar - selama kita bisa berpegang pada apa yang datang dari dalam diri, dari hati kita, semua akan jadi lebih baik, karena hati kita yang tahu apa yang sebenarnya bisa terjadi.   

Photo by Jamez Picard on Unsplash

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa