hidup (3)

AES057 Menemukan Esensi Pendidikan Holistik

Tulisan ini dipicu salah satu chat WA saya dengan Ahkam - saya lupa persisnya kapan. Tapi intinya Ahkam bilang, ka Andy perlu suatu saat menulis buku tentang perjalanan Semi Palar. Wah sebetulnya ini sudah jadi cita-cita sejak lama. Tapi memang belum sempat terlaksana karena segala kesibukan yang ada. Tapi sebetulnya banyak hal yang jadi pemikiran saya juga jejak pengalaman-pengalaman di Semi Palar yang saya coba tuangkan di dalam esai-esai pendek di AES ini. Walaupun dalam bentuk kepingan-kepingan kecil, setidaknya sedikit demi sedikit kepingan-kepingan tersebut terkumpul di sini. Selain di Ririungan ini, banyak kepingan juga terserak di blog saya maupun di blognya Semi Palar. Siapapun suatu saat nanti bisa merangkainya. Lagi pula belum banyak juga karena di titik ini saya baru menginjak esai saya yang ke 57 di AES ini.

Untuk esai ini saya coba mulai dari sini. Pendidikan Holistik itu kompleks - ini bukan mitos, sudah kami buktikan sendiri di sepanjang perjalanan 16 tahun di Rumah Belajar Semi Palar. Kompleks karena kita berusaha melihat manusia (anak-anak) secara utuh dari segala aspek kediriannya dan memfasilitasi proses mereka menjadi manusia seutuhnya - dari waktu ke waktu - sepanjang mereka belajar dan berproses di Semi Palar. Setiap individu dengan segala keunikannya yang hadir dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda-beda pula. Yang jadi tantangan berikutnya adalah bagaimana para kakak (fasilitator pembelajarannya) juga hadir dengan berbagai perbedaan latar belakang dan keunikannya juga. Mulai terbayang ya kompleksitasnya... 

Dalam perjalanannya, kami juga belajar bahwa kompleks tidak berarti harus rumit juga (complex doesn't mean it has to be complicated). Dengan catatan kita bisa memahami apa dan bagaimana kompleksitas itu sesungguhnya. Melihat dengan jernih dan memahami esensinya. Saat kita belum betul-betul paham, tentunya banyak hal akan jadi rumit. Contoh yang paling jitu saya pikir adalah bagaimana Albert Einstein yang bisa merumuskan bagaimana keterkaitan antara massa dan enerji di dalam alam semesta ini dengan hanya 5 karakter saja. Luar biasa ya. 

9229222699?profile=RESIZE_400x

Einstein juga bilang, kalau kamu belum bisa menjelaskan sesuatu dengan cukup sederhana, berarti kamu belum cukup memahaminya. 

Hal ini juga kami alami betul dalam proses menggulirkan Semi Palar. Di suatu titik kami menyadari bahwa kompleksitas ini muncul karena semata-mata kami masih terjebak di hal-hal yang tidak esensial. Mungkin hal-hal tersebut benar adanya, tapi tidak esensial. Analoginya yang sering saya gunakan adalah saat seseorang mau pergi travelling. Di perjalanan pertama atau kedua, bawaannya pasti banyak. Segala sesuatu dibawa - siapa tahu dibutuhkan. Saat sudah beberapa kali perjalanan, kita mulai tau barang-barang apa saja yang dibutuhkan / esensial untuk dibawa. Kurang lebih semacam itu. 

Sekitar perjalanan Semi Palar di tahun ke 13-14, kami mulai menyadari bahwa untuk mengelola kompleksitas yang ada, kita harus menemukan esensinya. Apa esensi, apa hal-hal mendasar dari Pendidikan Holistik. Di titik ini, kami mulai meyakini bahwa esensi pendidikan Holistik ada di kalimat terakhir yang diungkapkan John Dewey. Education is Life Itself. Bahwa untuk memahami bagaimana pendidikan, kita perlu memahami Life - hidup itu sendiri. 

9229245677?profile=RESIZE_584x

Esensinya sudah ketemu. Sesederhana, sekaligus sekompleks itu juga. Pertanyaan lanjutnya adalah Apa itu Hidup? Mengenai ini kita coba jawab di esai selanjutnya. Salam...   

 

Read more…

AES049 Menjaga Keseimbangan

Beberapa waktu lalu saya menuliskan tentang Do Be Do Be Do... yang intinya adalah bagaimana kita menjaga keseimbangan antara Doing dan Being. Kak Yanti sempat juga menuliskan tentang Mandala, yang secara visual memang merujuk pada keseimbangan dan secara makna memang menekankan pentingnya keseimbangan. Yin-yang yang saya jadikan ilustrasi tulisan ini dengan gamblang menggambarkan tentang keseimbangan. 

Menurut saya ini memang salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan manusia. Tentunya banyak dimensi yang bisa dikaitkan dengan soal keseimbangan ini. Saya ambil  contoh sederhana, kalau kita punya kendaraan bermotor, roda kendaraan kita harus dijaga dalam keseimbangan yang baik, karenanya perlu diseimbangkan - di balancing dari waktu ke waktu. Kalau kita biarkan roda kendaraan kita tidak seimbang, kendaraan kita mudah rusak. Apakah ban-nya akan aus sebelah, atau bearing roda kita yang mudah rusak, mobil terasa bergetar saat dikendarai atau bisa juga mengganggu kerja rem saat kita ingin menghentikan kendaraan kita. Intinya ketidak-seimbangan ini akan mengganggu dan lebih jauh lagi bisa merusak. 

Kalau kita makan tidak seimbang, apakah terlalu banyak makan gorengan atau kurang makan buah, biasanya kita akan jatuh sakit. Saat sekarang kita banyak di rumah dan bekerja di depan komputer, tantangan paling besar adalah menyeimbangkan aktivitas kita yang sangat statis (banyak duduk di depan komputer) dengan gerak atau olah fisik. Omong-omong, sudah dua minggu ini rutin bersepeda saya hilang karena pandemi yang sedang meledak - den membuat saya tidak nyaman banyak berkegiatan di luar rumah.  

Lebih jauh. tentang keseimbangan ini saya ingin mengaitkan dengan menulis - karena dengan segala informasi yang kita terima dari waktu ke waktu, semuanya tersimpan dalam memori kita. Sejauh saya rutin menulis, saya merasakan sesuatu yang berbeda, karena hal-hal yang bertumpuk dalam memori, lewat menulis saya jadi punya kesempatan dan wadah untuk menuangkannya. Saya merasa pikiran saya lebih jernih. Walaupun saya tidak bisa memilah secara jelas apa yang menyebabkan hal itu. Apakah rutin menulis yang saya lakukan setiap hari atau waktu hening yang saya jalankan setiap pagi.  

Tapi toh akhirnya itu ga terlalu penting juga, yang lebih penting ada dampak positif buat saya dari ritual yang sekarang saya lakukan setiap hari. Saya merasa jauh lebih seimbang. Dan apapun itu, keseimbangan adalah hal baik bukan? 

Photo by Дмитрий Хрусталев-Григорьев on Unsplash  

 

Read more…

AES036 DOBEDOBEDO

Kali ini saya mau menulis tentang topik di atas ini. DoBeDoBeDo… Saya mendengar ini dari salah satu ahli fisika kuantum, Dr. Amit Goswami yang fotonya ada di atas ini. Dr. Amit juga tampil sebagai salah satu pakar yang mengisi filem tentang Fisika Kuantum yang judulnya What The Bleep Do We Know. Saya sempat bercerita tentang filem ini juga di salah satu tulisan saya

Do Be Do Be Do pada dasarnya adalah bagaimana manusia menjaga keseimbangan hidupnya antara dimensi dalam dan dimensi luar. Antara Doing dan Being. Being adalah non Doing. Masalahnya manusia sekarang sangat terpaku pada doing, doing dan doing. Business (kesibukan) jadi penanda bahwa hidupnya sukses. Bagaimana tidak, orang sepertinya harus sibuk karena waktu adalah uang. Time is Money. Jargon ini begitu membekas di benak kita. Segala sesuatu harus efektif dan efisien. Hal-hal itu adalah jargon-jargon ekonomi. Tapi hidup kita bukanlah melulu tentang ekonomi. Hidup kita adalah mengenai badan, pikiran, emosi dan enerji kita. Ada dimensi kesadaran di dalamnya. Ekonomi, kerja, profesi, prestasi, sukses dan lain sebagainya adalah dimensi luar – pengalaman hidup kita. Bagaimanapun manusia mestinya mewujudkan eksistensinya sebagai Human Being, bukan Human Doing.

Dr. Amit Goswami menemukan hal itu setelah kehidupannya kacau, karirnya mentok, dia tidak bahagia, keluarganya berantakan dan lain sebagainya. Di filem di bawah dalam wawancaranya dengan Iain McNay, Amit bercerita bagaimana dia menemukan keseimbangan hidupnya melalui praktik DoBeDoBeDo tadi.

Being – sejauh saya pahami hanya bisa diwujudkan melalui keheningan dan praktik-praktik meditasi. Karena dalam keadaan meditatif itulah kita bisa mengakses dimensi dalam hidup kita. Tulisan ini melengkapi posting saya mengenai Hening itu Penting, juga sedikit menjelaskan tentang rutin saya setiap pagi dalam tulisan yang berjudul My Morning Sadhana.

Bagi saya ini adalah kepingan penting dalam proses pencarian panjang untuk menggenapi pemahaman tentang pendidikan holistik, lebih jauh lagi kehidupan yang holistik. Saya temukan dalam situasi pandemi COVID19. Situasi yang memaksa kita untuk berhenti, berjeda dan masuk dalam ritme kehidupan yang lebih lambat dari sebelumnya. Saya kira bukan sekedar kebetulan bahwa saya menjumpai hal-hal seperti ini. Saya beruntung juga bisa menuliskan ini di sini. Mudah2an lambat-laun bisa menjadi pemahaman kita bersama di Semi Palar. Salam…

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa