habitbuilding (13)

AES053 Beralih Dari Bisa Menjadi Tuman

Hari ini saya memberanikan diri untuk menulis tentang pemahaman bahwa apa yang saat ini berjalan dari gerakan Atomic Essay Smipa ini jadi langkah penting bagi kita semua di Rumah Belajar di Semi Palar. Tulisan ini juga terkait dengan kata-kata Aki Muhidin yang tertulis di dinding biru ruang Bengkel Smipa. Ada satu kepingan puzzle penting yang berhasil kita temukan di peralihan TP16 ke TP17. Mudah2an kita semua ingat betul 4 baris kalimat-kalimat pendek yang dititipkan Aki Muhidin kepada kita.   

9209200278?profile=RESIZE_584x

Pembelajaran Holistik di Semi Palar, saya pikir cukup baik menghantarkan anak-anak untuk mengetahui banyak hal. Anak-anak kita Nyaho cukup banyak hal - terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan, dan hal-hal yang mereka ungkapkan dari berbagai ruang interaksi pembelajaran.

Soal pemahaman: Ngarti, saya pikir anak-anak yang belajar di Semi Palar, juga cukup paham karena mereka - dari pengalaman dan proses belajarnya mereka bisa menangkap keterkaitan satu hal dengan lainnya. Ini adalah bentuk-bentuk pemahaman. Anak-anak kita bisa menjelaskan kenapa satu hal bekerja atau satu fenomena terjadi, atau juga kenapa dia memilih untuk memutuskan sesuatu saat merancang proyek-proyeknya. Sejauh amatan saya, anak-anak di Semi Palar bisa menjelaskan latar belakang pemikirannya. Ini adalah soal pemahaman. 

Mengenai kemampuan: Bisa, ini juga anak-anak di Smipa sepertinya cukup baik karena pembelajaran di Semi Palar berlandaskan Pembelajaran Aktif (Active Learning). Ragam kegiatan yang difasilitasikan oleh kakak-kakak mulai dari bercerita, berkarya, masak, menulis buku, melakukan perjalanan, eksplorasi, berkebun, menulis buku dan lain sebagainya... Terlepas dari tingkat keterampilannya, pembelajaran di Semi Palar memfasilitasikan berbagai kemampuan untuk setidaknya dikenal oleh anak-anak kita. 

Tahap berikutnya, kebiasan atau Tuman masih jadi pe-er buat kita bersama. Seringkali kita melihat bagaimana apa yang anak-anak sudah bisa lakukan, termasuk juga hal-hal baik yang kita kenalkan belum menjadi kebiasaan bagi dirinya. Hal ini sudah bertahun-tahun jadi bahan diskusi kita bersama dan terus kita cari jawabannya. 

Hari ini, gerakan Atomic Essay Smipa yang digagas oleh pak Ahkam (baca esai pertamanya : Membangun Habit) kemudian kita coba bersama beberapa kakak, orangtua murid dan anak-anak juga (termasuk Ara yang jadi penulis termuda) dan alumni sepertinya menampakkan hasilnya. Sejak esai pertama (AES01 Membangun Tuman) saya tuliskan di tanggal 13 Mei 2021, hari ini catatan Atomic Essay sudah mencatatkan 340 buah tulisan pendek yang dikontribusikan 19 penulis. Bukan pencapaian yang buruk ya? Beberapa kakak seperti kak Tesa, kak Yanti dan kak Ine sudah mulai bergabung juga selepas kesibukan Rapotan. Kakak2 yang baru bergabung seperti kak Fifin sudah mencapai esainya yang ke 21 dan kak Mutia sudah menuliskan esainya yang ke 12. Awalnya belum bisa rutin, tapi beberapa kakak sudah bisa menulis konsisten setiap hari tanpa terputus.   

Atomic Essay adalah sebuah gerakan yang didasarkan pada gagasan dari James Clear yang dituliskan di dalam bukunya Atomic Habits (bukunya sendiri masih saya baca). Atomic sendiri adalah konsep yang sebetulnya sudah kita kenal sebelumnya di Smipa, yaitu Mulai dari Yang Kecil. Di esai saya yang pertama saya juga menempatkan video pendek yang menjelaskan bagaimana habits itu terbentuk dalam diri manusia - melalui paparannya Dr. Joe Dispenza. Videonya saya tempatkan lagi di bawah ini untuk referensi kita bersama. 

Di titik ini, saya merasa konsepnya berhasil. It Works. Grafik di atas jadi buktinya, Jadi tulisan ini adalah sebuah ajakan buat kita bersama kalau kita ingin bisa beralih dari Bisa menjadi Tuman. Karena tanpa Tuman, kita ga akan bisa mencapai level Ngajadi... Tentunya kita perlu mulai dulu, dari para kakak, para fasilitator pembelajaran. Kalau banyak orangtua - yang sama-sama pendidik juga bisa dan mampu secara sadar membangun kebiasaan baru - tentunya kita akan mampu memfasilitasi anak untuk beralih dari Bisa, menjadi Tuman dan mudah-mudahan di suatu titik nanti, Ngajadi... 

Photo by Lala Azizli on Unsplash

Read more…

AES#21 15 Minutes of Me-Time 

Hari ini adalah hari ke 21 saya menulis esay saya – berturut-turut. Buat saya pribadi ini pencapaian yang spesial. Dulu yang saya tahu, membangun kebiasaan (apapun) itu perlu dilakukan 21 hari, tanpa terputus. Kalau itu rumusnya sebetulnya di hari ini, seharusnya habit itu sudah terbangun. Tapi ternyata ga sesederhana itu. Penjelasannya ada di tulisan saya yang berjudul Habits (Kebiasaan) : Bagaimana Pikiran Manusia Bekerja

Sebetulnya kita semua sudah punya kebiasaan-kebiasaan tertentu. Misalnya kebiasaan kita makan siang, membersihkan diri, ibadah dan lain sebagainya. Tapi kalau diamati, kebiasaan-kebiasaan tersebut kita miliki karena kebiasaan kita sejak kecil atau memang hal-hal tersebut harus dilakukan.

Di luar hal-hal itu, kebiasaan lebih sulit dilakukan. Padahal untuk banyak hal, kita tahu itu baik dan penting juga dilakukan. Contohnya meditasi atau olahraga… Contoh lainnya, misalnya mengolah sampah atau bikin EcoBricks… Masalah mulai timbul karena kita merasa kalau tidak melakukan itu ga apa-apa. Ga ada yang membuat kita harus melakukan hal tersebut. Karenanya untuk hal-hal tersebut hanya sedikit orang yang berhasil memotivasi dirinya untuk melakukan itu.

Hari ini hari ke 21 saya membuat esai. Kalau dilihat ditabelnya, cukup banyak juga teman-teman yang cukup berhasil mendorong dirinya untuk menulis setiap hari. Saya sendiri punya motivator sendiri yang cukup berhasil. Karena saya tidak ingin capaian saya yang sudah sejauh ini (21 hari) terputus… Di tabel Atomic Essay yang kita isi sama-sama kita bisa melihat bagaimana saya atau teman saya berhasil memotivasi dirinya untuk menulis secara konsisten. Semakin lama, tentunya motivasi ini semakin besar. Semacam efek bola salju. Dan kalau di dalam komunitas kita melihat ada teman yang bisa – tentunya ini akan semakin memotivasi… Dia aja bisa, masak sih saya ga bisa… Semacam itu.

Tapi di luar itu, menulis Atomic Essay buat saya jadi sangat menyenangkan. Semacam me time yang spesial buat saya… Berdialog dengan pikiran-pikiran saya sendiri. Proses yang terjadi sambil saya menuangkan kata-kata ke dalam esai saya ini. Saat berhasil menuntaskan satu esai ada suatu kebahagiaan tersendiri. Dan hal ini tidak perlu waktu lama, hanya 15 menit – setiap hari

Jadi... mari maju terus... 

Read more…

AES#13 14D 13B 61E

Hari ini adalah hari ke 14 sejak posting pertama dituliskan untuk menginisiasi Atomic Essay Smipa. Angka dan huruf yang dituliskan sebagai judul di atas ini menggambarkan statistik dari proses 14 hari ini: 14 Days, 13 Bloggers, 61 Essays...

Menurut saya ini pencapaian luar biasa – setelah bertahun2 mencoba mengajak keluarga besar Semi Palar untuk membangun budaya menulis. Menulis kita pahami punya begitu banyak manfaat bagi penulisnya. Literasi adalah salah satu hal penting yang kita sadari betul di Semi Palar. Tapi kenyataannya, begitu banyak upaya kita cobakan untuk membangun budaya dan kebiasaan menulis di Semi Palar. Kita sempat punya lingkar blogger, saya sempat mengajak kakak2 melakukan freewriting setiap selesai koordinasi mingguan, kita menyiapkan platform menulis bersama di Ririungan, tapi ternyata ikhtiar-ikhtiar tersebut tidak membuahkan hasil.

Atomic Essay, sepertinya membuahkan hasil, ada beberapa indikator yang membuktikan hal itu. Sederhananya, blog-count di Ririungan – setelah satu tahun lebih menunjukkan angka sekitar 100 lebih. Sebagian besar daripadanya masih merupakan tugas menulis yang diberikan kakak-kakak bagi teman-teman di kelas. Jadi intinya, sebagian besar masih berupa penugasan – bukan tulisan dari inisiatif atau gagasan dan pemikiran murni penulisnya. Dalam waktu 14 hari, sudah muncul 61 posting dalam konteks Atomic Essay ini.

Lebih jauh, ada dua konsep penting di Semi Palar yang juga mendasari gerakan ini. Pertama adalah apa yang disampaikan Aki Muhidin, yang kedua adalah gerakan yang kita gaungkan di TP15 : Mulai dari Yang Kecil. Dua hal inilah yang menjadi dasar dari gagasan Atomic Essay. Atomic Essay sendiri muncul dari konsep Atomic Habits yang digagas oleh James Clear. Di tulisan berikutnya saya akan coba jabarkan lebih jauh mengenai dua konsep ini. Tapi di titik ini, saat saya menuliskan esai saya yang ke 13, saya sangat berbahagia mengamati penghitung Atomic Essay di Ririungan setiap hari bertambah sejalan dengan berjalannya hitungan hari. Jadi buat teman2 semua mari bergabung di gerakan ini.

 

Read more…

AES#09 (Digital) Second Brain

 

Tiago Forte memperkenalkan konsep Second Brain guna membantu kita mengelola ide-ide. Saya menuliskan beberapa manfaat membangun second brain di sini sebagai bagian dari proses internalisasi teknik itu bagi saya. Semoga berguna juga bagi yang membaca tulisan ini.

Borrowed Creativity

Kata orang, “There’s nothing new under the sun.” Dunia ini sudah tua. Bahkan jika pun ada pemikiran yang benar-benar murni muncul dari benak kita, kemungkinan besar seseorang sudah pernah memikirkannya. Kita bisa meminjam ide-ide yang sudah ada, lalu menyampaikannya dengan cara kita sendiri. Akan lebih segar jika wujudnya "combinational creativity". Kita menggabungkan berbagai macam gagasan dari luar diri kita.

The Capture Habit

Otak kita bisa sangat baik dalam memproses ide-ide, tapi sering kali kesulitan menyimpannya. Maka itu, sepatutnya ada tempat yang terpusat dan sistematis untuk mengumpulkan ide-ide tersebut. Ketika ada ide yang terpikirkan, kita langsung menyimpannya. Demikian pula jika ada bagian yang rasanya menarik saat kita membaca buku atau mendengarkan podcast.

Projects over Categories (Active vs. Passive)

Catatan kita (dari informasi/pelajaran yang kita minati) biasanya dikelompokkan berdasarkan kategori. Lama-kelamaan isinya bertambah banyak. Sebagian besar catatan itu jadi tidak berguna karena kita tak akan pernah membacanya lagi. Kita hanya menimbun informasi.

Catatan sebaiknya dikelompokkan menjadi proyek-proyek. Proyek itu bisa berupa blog post atau dalam bentuk lainnya. Dengan demikian, informasi yang kita kumpulkan jadi lebih berguna. Hasilnya menjadi karya. Pemahaman kita lebih lengkap karena selalu berinteraksi dengan informasi yang menjadi topik proyek-proyek kita. Ketika hendak membuat sebuah karya, kita tidak memulainya dengan a blank page lagi. Sebetulnya Pak Jo dan Rico yang memiliki banyak draft di blog mereka, secara intuitif sudah membangun second brain.

Slow Burns

Proyek-proyek dalam second brain akan kita selesaikan satu demi satu. Tidak perlu terburu-buru. Selama ini kita cenderung membuat karya dari nol. Kebiasaan itu kerap mengakibatkan burn out. Dengan metode second brain, segala ide dan informasi pelan-pelan terbangun di background. Dimasak dalam proyek-proyek. Jika sudah ada yang matang, tinggal disajikan.

 

"The biggest lie I tell myself is, "I don't need to write that down, I'll remember it."Anonymous

 

Read more…

AES#06 Jurnal

Kita semua sudah sering mendengar manfaat menulis jurnal atau diari. Tulisan tentang hari-hari kita yang sifatnya pribadi sebagai bahan refleksi diri. Tapi kita kebanyakan gagal juga melakukannya secara kontinu.

Ada seorang teman yang telah mencoba berbagai teknik: sebaris kalimat sehari, menulis bebas, doodling, bullet journal—semuanya tak berhasil. Sampai akhirnya dia menciptakan metode sendiri. Jurnalnya mingguan. Jadi, memang tidak bisa lagi disebut sebagai “buku harian”. Tapi bagi dia yang terpenting ada catatan rutin dan kontinu tentang hidupnya.

Dia menamakan metodenya “Plus, Minus, Next”. Bentuknya seperti ini:

8958932461?profile=RESIZE_710x

Di atas kotak dicantumkan tanggal. Kolom Plus adalah untuk semua hal positif di minggu lalu (rencana yang berhasil dijalankan, pengalaman menyenangkan, dsb.). Minus adalah untuk semua hal negatif di minggu lalu (rencana yang belum dijalankan, kesalahan yang dilakukan, dsb.). Next adalah semua agenda untuk minggu depan. Jika isi di kolom Next terlalu banyak, baru dia gunakan Eisenhower Matrix untuk memastikan prioritasnya tertuju pada agenda yang paling utama.

Menurut dia, keunggulan sistem ini adalah fleksibilitasnya. Dia tak perlu memisahkan hal-hal yang menyangkut kehidupan personal dan profesional sebab setiap aspek saling terkait. Selain fleksibel, sistem ini juga berorientasi ke depan. Bila ada sebuah rencana yang belum dia lakukan di minggu lalu, dia tidak perlu menghukum dirinya. Cukup dimasukkan saja ke kolom Next.

 

"People who keep journals have life twice."Jessamin West

 

Read more…

AES#08 Kerennya Atomic Essay

8956063062?profile=RESIZE_400xKemarin saya menambahkan sesuatu di Beranda Ririungan, terkait Atomic Essay ini - yang notabene di luar dugaan, sepertinya bekerja juga. Menggunakan Google Sheets, saya menempatkan counter (penghitung sederhana) – yang mencatatkan berapa total esai yang sudah berhasil dituliskan oleh berapa orang penulis yang berpartisipasi dalam gerakan ini).

Ada beberapa indikator keberhasilan – setidaknya di tahapan awal ini, sebagai berikut :

Saya sendiri berhasil menulis 8 esai (tepatnya 7 esai) berturut-turut dan mempostingkan sebuah tulisan pendek setiap harinya. Ahkam yang awalnya menggagas gerakan ini juga sama, hari ini Ahkam mempostingkan tulisannya yang ke enam. Jojo Felus yang diajak mulai menulis beberapa hari yang lalu – juga sejauh ini sudah mempostingkan postingnya yang ke tiga. Sebelumnya dia bercerita bahwa dia menyimpan sangat banyak draft di blognya. Hal yang sama juga terjadi pada Rico – yang di suatu titik pernah menyimpan sampai 40 judul draft di akun Wordpressnya.

Rico sendiri setelah dimotivasi sekian waktu melihat bahwa ternyata ada sesuatu yang berbeda dengan Atomic Essay ini dan hari ini – setelah sekian lama berhenti membuat posting apapun di blognya – membuat posting pertamanya hari ini dengan judul Starting Over.

Sepertinya kekuatan Atomic Essay ini terletak pada kesederhanaannya. Sebetulnya ini mirip-mirip dengan jargon yang sering kita sebut di Semi Palar dengan MDK (Mulai Dari yang Kecil). Problemnya, di jaman sekarang, manusia terjebak dalam budaya instan yang membuat manusia ingin serba cepat. Di sisi lain, dia juga ingin mendapatkan hasil hebat – dalam waktu cepat juga. Inilah yang sepertinya ga nyambung dengan proses-proses yang bekerja di alam semesta ini. Pada dasarnya semua butuh proses. Kembali ke tulisan saya sebelumnya tentang bagaimana pikiran manusia bekerja, selain butuh Intensi, Atensi dan Aksi, membangun kebiasaan menulis perlu Repetisi… Melihat apa yang sekarang berjalan – Gerakan Atomic Essay Smipa ini punya harapan besar untuk berhasil.

Silakan sering-sering mampir ke Ririungan dan melirik penghitung Atomic Essay di Beranda Ririungan. Di sana kita akan lihat perkembangannya. Salam Smipa.

Read more…

AES#04 Systems vs Goals

 

Scott Adams, kreator komik Dilbert, memopulerkan Systems vs Goals. Scott tidak mengatakan bahwa target sama sekali tak penting. Tapi ia menekankan bahwa fokus kita seharusnya lebih kepada disiplin ketimbang target. Sistem akan menciptakan ritual sehingga kita tidak terlalu bergantung lagi pada motivasi.

Contoh System vs Goal: Menurunkan berat badan 10 kg adalah goal. Makan dengan benar adalah system.

Jika kita berlatih atau bekerja dengan fokus kepada goal, maka kita cenderung akan kecewa melihat hasil yang masih jauh dari target. Latihan atau pekerjaan kita seakan sia-sia. Itu karena goal biasanya tinggi/besar yang tentu tidak bisa dicapai dalam semalam. Jika perhatian kita kepada system, kita akan mendapatkan rasa puas setiap usai melakukan hal-hal kecil di dalam sistem. Goals-first mentality adalah menunda kebahagiaan. “Once I reach my goal, then I’ll be happy.”

James Clear mengatakan kita sering kali berfokus kepada goals akibat survivorship bias. Prestasi atau sukses yang diraih seseorang dalam hal apa pun (hubungan, kedamaian batin, karier, dsb.) disangka adalah buah dari goal. Padahal banyak orang yang memiliki goal serupa namun tidak berhasil. Dalam pertandingan olah raga, tim yang menang dan yang kalah: goal mereka sama.

Misalkan ruangan kerja kita berantakan. Suatu hari kita tetapkan goal untuk merapikannya. Tapi setelah rapi, jika sistem kita mengelola barang-barang di ruangan tersebut tidak berubah, cepat atau lambat, ia akan kembali berantakan.

Gerakan Menulis Atomic Essay Smipa adalah sistem untuk bisa menulis lebih terampil, berpikir lebih jernih, dan memahami pelajaran lebih mendalam. 

 

"I don't fear the man who's practiced 10,000 kicks once. I fear the man who's practiced one kick 10,000 times."— Bruce Lee

 

Read more…

AES#07 Hmm… Mau Nulis Apa Ya?

Hampir jam 11 malam, saya belum menuliskan sepatah katapun di esai saya yang ke 7. Sekitar beberapa jam yang lalu masih bingung mau menulis apa. Sebetulnya ada banyak hal di kepala. Wong menurut bung Ahkam – dalam atomic essaynya yang ke tiga Era Keberlimpahan Informasi, manusia jaman sekarang ini sebetulnya kebanjiran informasi. Tapi mungkin memang masalahnya justru di situ, kita jadi bingung memilah mana yang penting dan mana yang hanya sampah.

Terkait kebingungan menulis, saya teringat pesan seorang teman lama yang juga penulis buku dan blogger yang dulu sempat mampir ke Semi Palar dan memberikan workshop penulisan – di festival buku yang pertama di Semi Palar – kalau tidak salah sekitar tahun 2010-an. Duh, namanya kok lepas dari memori saya… jangan-jangan ini gejala usia… Eniwei, saya masih ingat pesan dia untuk bisa konsisten menulis : “Tetaplah menulis pada saat kita bingung apa yang harus dituliskan”. Intinya mulailah, just do it, jangan banyak mikir.

Sepertinya pesan yang dia titipkan ini yang sedang saya coba sekarang. Hmm, OK, lalu apa?

Di titik ini saya akhirnya berpikir bahwa membangun habit adalah melatih pikiran kita bahwa menulis itu tidak sulit. Selalu ada sesuatu yang bisa kita tuliskan. Toh setiap hari kita punya pengalaman baru. Dan benak kita terisi dengan pengalaman-pengalaman baru. Yang sepertinya menjadi kendala adalah persepsi bahwa sebuah tulisan perlu punya bobot dan muatan tertentu. Ya, belum tentu juga begitu. Saya jadi ingat saat saya membuka ruang menulis di blogspot sekitar tahun 2006. Saya hanya yakin menulis itu penting. Dan saya menulis bukan buat siapa-siapa. Tulisan ini adalah catatan2 saya – seperti dulu orang2 punya diary… Jadi sebetulnya apa yang kita pusingkan…

Akhirnya di sini saya bisa menutup esai saya yang ke tujuh dengan 281 hitungan kata di dalamnya. Salam penulisan.

Read more…

AES#05 Antara Habit Building dan Enerji

Sekian lama saya berpikir bahwa Hukum Kekekalan Enerji yang dirumuskan oleh eyang Albert Einstein adalah rumus fisika. Bekerja saat kita berbicara di ranah saintifik secara khusus bagaimana atom2 dan segala turunan enerji apakah itu suara, kalor dan lain sebagainya di alam kehidupan ini.

Ternyata lewat pandangan itu saya terjebak dalam paradigma yang dibangun sekian lama sejak dua tokoh besar, seorang filsuf Descartes dan Isaac Newton (fisikawan) – pada jamannya memilah dinamika kehidupan manusia yang begitu kompleks ke dalam dua ranah yang berbeda : sains dan spiritualitas. Peristiwa ini terjadi sekitar 300 tahun saat ada konflik cukup besar antara para ilmuwan dan agamawan. Sejak itulah pola pikir ini terbawa terus sampai hari ini di mana segala sesuatu dipandang dari 2 sudut pandang berbeda. Hal ini dikenal sebagai duality.

8945816489?profile=RESIZE_400xSekitar tahun 2009, saya berkenalan dengan apa yang disebut fisika kuantum – melalui sebuah DVD yang berjudul What The Bleep Do We Know. Satu dekade lebih sejak saya mengenal quantum physics. Bidang yang sudah sangat berkembang – dan saat ini banyak tokoh yang melihat ini sebagai titik temu antara sains dan spiritualitas. Menarik banget – setidaknya buat saya.

Hari ini saya melihat bahwa Hukum Kekekalan Enerji berlaku dalam hidup kita. Karena pada dasarnya segala sesuatu di alam semesta ini pada dasarnya adalan enerji yang termanifestasikan dalam berbagai bentuk – sebagai partikel ataupun gelombang. Emosi kita adalah gelombang, karenanya kita bisa merasakan orang lain yang sedang sedih atau sebaliknya sedang sangat bersemangat…

Bagaimana dengan habit building. Beberapa waktu lalu saya belajar bahwa untuk memanifestasikan sesuatu perlu enerji… Untuk mewujudkan sesuatu menjadi kenyataan, enerji perlu dimunculkan dalam 3 komponen : Intensi, Atensi dan Aksi… Sederhananya, ini adalah kombinasi dari Niat, Fokus dan Tindakan. Kalau satu saja ga lengkap, gagasan dan imajinasi tinggal gagasan atau imajinasi belaka. Dalam hal kebiasaan, satu lagi perlu ditambahkan : Repetisi.

Mudah2an semua yang mencoba ini juga belajar mengelola enerji dan mewujudkan sesuatu… resepnya sudah ada… mari mewujudkannya…

----

Di bawah ini saya simpan trailer filem What The Bleep Do We Know. Bisi ada yang penasaran. 

 

Read more…

AES#02 Perfeksionisme

 

Masih terkait habit, satu problem yang juga sering jadi penghalang berkarya adalah perfeksionisme. Jika ditelusuri akar masalahnya, barangkali ada beberapa. Salah satunya, rasa khawatir tentang penilaian orang atas karya kita yang menurut kita masih jauh dari sempurna. Tidak bisa dimungkiri, memang ada budaya sinis dan suka mengejek di masyarakat.

Untuk itu, ada dua hal yang dapat kita perhatikan. Terutama bagi anak-anak kita yang sedang bertumbuh. Pertama, perlu disadari bahwa orang yang menghasilkan karya jumlahnya sangat kecil secara persentase populasi. Mayoritas manusia hanya mengonsumsi karya orang lain. Maka itu, anak yang berani berkarya adalah anak yang hebat. Kedua, anak sebaiknya membagikan karya di komunitas yang berbudaya sehat dan protektif, seperti di Semi Palar ini. Nanti setelah mental mereka kuat, baru dibagikan ke khalayak luas.

Namun ada pula yang bukan karena takut terhadap penilaian atau cemoohan. Murni karena keinginan membuat karya yang sempurna.

Dalam buku Art & Fear, dikisahkan seorang guru kerajinan tembikar membagi kelasnya ke dalam dua kelompok: X dan Y. Sang guru mengatakan bahwa kelompok X dinilai hanya berdasarkan kuantitas karya yang mereka hasilkan. Makin banyak, makin tinggi nilainya. Sedangkan kelompok Y akan dinilai berdasarkan kualitas. Makin bagus, makin tinggi nilainya. Setiap anggota kelompok Y diminta hanya membuat satu buah karya terbaik yang bisa mereka hasilkan selama masa kursus berlangsung. Setelah kursus berakhir, sang guru menemukan bahwa karya-karya terbaik tidak satu pun berasal dari kelompok Y. Semuanya dari kelompok X.

Quantity leads to quality.

 

“If I waited for perfection... I would never write a word.” ― Margaret Atwood

 

Read more…

Esai ke empat saya masih tentang habits (kebiasaan). Kita tahu bagaimana sulitnya membangun kebiasaan, salah satu contohnya adalah menulis – dalam kaitannya dengan Atomic Essay Smipa.

Sejak beberapa tahun yang lalu, pernah kita coba Bersama apa yang kita sebut namakan lingkar blogger. Dulu asumsinya, apabila blogging ini kita lakukan bersama-sama, motivasi antar kita akan mendorong kita lebih produktif menulis. Sepertinya hal ini betul – karena secara kolektif, ada rasa kebersamaan yang mendorong kita satu sama lain untuk menulis.

Kenapa Lingkar Blogger Smipa tidak berhasil, sepertinya kita lupa – atau tepatnya belum memahami apa yang terjadi di level individu. Bagaimana proses membangun habit di dalam diri seseorang – di dalam diri kita. 

Sejak sekitar setahun yang lalu, sejak saya mulai mendalami waktu hening (meditasi) saya jadi sangat tertarik memahami bagaimana pikiran manusia bekerja. Ternyata ini hal penting yang luput kita cermati. Sejak mengikuti pemikiran2 Sadhguru, Dalai Lama, juga Dandapani sekitar setahun yang lalu, saat ini saya sedang sangat mengikuti beberapa tokoh seperti Dr. Joe Dispenza, Dr. Bruce Lipton, Gregg Braden dll. Bisa dibilang tokoh-tokoh ini mewakili alam pemikiran Timur dan Barat.

Video yang saya tempatkan di atas ini (durasi 4:42), kalau kita pahami dengan baik, menjelaskan dengan sangat sederhana bagaimana pikiran dan emosi bekerja dikaitkan bagaimana manusia mengubah kebiasaan dan perilakunya. Kalau kita memahami hal ini, kita akan tahu bagaimana caranya mengubah kebiasaan dan perilaku kita.

Ada kutipan (quote) yang saya yakini betul : If you want something to change, you have to change something… Jadi kita tidak bisa hanya mengharapkan terjadinya perubahan tanpa berupaya mengubah sesuatu. Kalimat penting dari video di atas ini : “…You begin to become conscious of your unconscious actions or habits or behaviours to modify them…” Singkatnya, kesadaran adalah kunci dalam melakukan sebuah perubahan dalam diri kita.

Sampai jumpa di esai berikutnya.

Read more…

AES#01 Membangun Habit

 

Gerakan Atomic Essay Smipa adalah wadah kita untuk belajar dan membangun habit bersama-sama di komunitas Semi Palar. Tujuan utama kita menulis di sini bukan agar tulisan kita dibaca orang, tapi lebih untuk peningkatan diri kita sendiri.

Saya merasa masih sangat jauh dari optimal dalam soal habit dan disiplin. Maka itu, senang sekali jika dengan cara ini saya nanti bisa rutin menulis.

Stephen Covey mengatakan, ”We become what we repeatedly do.” Ya, diri kita adalah agregat kebiasaan-kebiasaan kita.

Membangun habit memang tidak mudah. Disiplin itu berat.

Kalau kita perhatikan, sepertinya semua hal yang baik memang lebih sulit daripada yang buruk. Memasak makanan sehat lebih sukar dan lama ketimbang makanan instan yang tak sehat. Mengelola sampah lebih repot ketimbang buang sampah sembarangan. Sabar lebih berat ketimbang marah. (Tidak marah maksudnya tidak merasa tersinggung. Amarah yang disimpan, yang tidak diluapkan/dilampiaskan, tetap saja buruk efeknya bagi kita.)

Tapi berat bukan berarti mustahil.

Lagipula, hanya dengan disiplin dan konsistensi kita bisa mencapai kualitas tertinggi dari potensi diri kita. Sedangkan potensi diri sifatnya laten: kita tidak akan pernah tahu jika tidak digali dan dilatih.

Kita sering tidak memulai sesuatu karena menunggu motivasi. Namun sesungguhnya “action comes before motivation”. Kita harus mulai dahulu. Motivasi dan semangat akan mengikuti aksi. Demikian pula dengan energi. Kita seharusnya tidak menunggu energi yang melimpah untuk mulai berolah raga, karena justru olah raga mendatangkan energi. Energi yang kita punyai adalah hasil dari makanan yang kita konsumsi dan jumlah mitokondria dalam sel-sel tubuh kita. Semakin kita aktif, semakin banyak mitokondria yang diproduksi oleh tubuh.

Mari kita mulai. Supaya tidak berat dan bisa berkelanjutan, kita mulai dari yang kecil.

 

“Inspiration exists, but it has to find you working.” ― Pablo Picasso

 

Read more…

Gerakan Menulis Atomic Essay Smipa

Seperti yang disampaikan Kak Andy pada tulisan “Membangun Tuman (habit/kebiasaan) Baru”, kita memulai Gerakan Menulis Atomic Essay Smipa.

 

Panduan Kegiatan

  • Atomic Essay: tulisan pendek, sekitar 250 kata.
  • Tema tulisan bebas. Boleh tentang apa saja. Tentang perkembangan anak-anak kita. Hobi kita. Kisah pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Gagasan-gagasan. Renungan.
  • Tulisan diupload ke Blog Warga di Ririungan. Video tutorial cara menulis blog di Ririungan sudah dibuatkan Bu Kuri di sini.
  • Bubuhkan "atomicessaysmipa" di kotak Tags ---> letaknya di bawah, kotak kecil ketiga. 

 

Meskipun kita tidak berniat jadi penulis profesional, ada banyak manfaat menulis bagi peningkatan kualitas hidup. Berikut ini tiga kegunaannya.

Membangun kebiasaan positif

Dalam buku Atomic Habits, James Clear mengatakan:

  • You do not rise to the level of your goals. You fall to the level of your systems.
  • Build a system for getting 1% better every day.
  • Just as atoms are the building blocks of molecules, atomic habits are the building blocks of remarkable results. This is the meaning of the phrase atomic habits—a regular practice or routine that is not only small and easy to do, but also the source of incredible power; a component of the system of compound growth.

Menurut James Clear, untuk membentuk kebiasaan baru, kita mulai dengan yang sangat kecil dahulu. Jangan langsung dipaksakan dengan yang berat-berat. Bangun dulu otot habitnya. Banyak orang gagal membentuk habit karena targetnya terlalu tinggi.

Satu kebiasaan kecil positif akan memberikan kepuasan dan dorongan untuk membangun kebiasaan-kebiasaan positif lainnya.

Prinsip Atomic Habits sebetulnya selaras dengan sebuah nilai yang kita yakini bersama di Smipa, yaitu MDK: Mulai Dari yang Kecil.

 

Meningkatkan kualitas berpikir

Di dalam otak kita, banyak hal berseliweran silih berganti. Belum selesai kita memikirkan satu hal, sudah muncul pikiran tentang hal lain. (Sebuah studi yang dilakukan sekelompok ahli psikologi di Queen's University, Kanada, menyebutkan bahwa rata-rata setiap orang memikirkan 6.200 hal per hari.) Pikiran-pikiran kita abstrak dan berkabut. Untuk membuatnya konkret dan jernih, kita perlu menulis. Dengan menuliskan pikiran, kita dapat melihat rangkaian logikanya secara utuh—sudah benar atau belum. Saat menulis, kita bisa fokus memikirkan satu hal yang penting bagi kita hingga tuntas. Tidak loncat-loncat lagi.

Sebuah artikel Sparring Mind menganalogikannya seperti "browser tabs":

Writing closes out your “mental tabs”.

Have you ever had too many internet tabs open at once? It is a madhouse of distraction.

Sometimes I feel like my brain has too many tabs open at once. This is often the result of trying to mentally juggle too many thoughts at the same time. 

Writing allows abstract information to cross over into the tangible world. It frees up mental bandwidth, and will stop your Google Chrome brain from crashing due to tab overload.

 

Meningkatkan kualitas belajar

Atomic Essay yang kita tulis bisa tentang topik tertentu yang sedang kita pelajari. Salah satu cara efektif memahami sebuah subjek (dari buku, artikel, podcast, ataupun video) adalah dengan menuliskannya kembali dengan bahasa/cara penyampaian sendiri. Fenomena ini disebut Generation Effect (Slameka & Graf, 1978).

 

Demikian pengantarnya. Semoga teman-teman di komunitas Semi Palar berkenan ikut dalam Gerakan Menulis Atomic Essay Smipa. Salam literasi, salam Smipa.

 

Writing is the most important practice in my life; for my fulfillment, excitement, professional success, and personal success — Tim Ferriss

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa