gowes (4)

AES071 Bersepeda

Tulisan hari ini akan singkat saja - saya akan mengutip satu teks yang saya dapatkan pagi tadi melalui pesan WhatsApp. Tidak tahu siapa yang menuliskan tapi isinya menurut saya bagus, saya sepakat dengan intinya bahwa Hidup, seperti halnya bersepeda yang terpenting adalah perjalanannya, bukan tujuannya. Tujuan hanya ada satu - dicapai pada saat kita mencapai tujuan kita. Tapi kalau kita terlalu fokus pada tujuannya, kita akan kehilangan atau melewatkan segala sesuatu yang ada / terjadi selama perjalanan. 

Bicara tentang bersepeda, saya sempat ingat juga esai kak Yanti, kenapa bersepeda itu sangat menyenangkan, karena dalam hal kecepatan, sepeda itu tidak terlalu cepat, tapi tidak juga terlalu lambat. Kita bisa bersepeda selambat kita berjalan kaki. Tapi di waktu-waktu tertentu kita bisa melaju cukup cepat untuk merasakan bagaimana angin menerpa wajah kita. Sepeda juga kendaraan yang hening. Dia tidak bising seperti kendaraan lainnya. Walaupun melaju dengan tenaga manusia, sepeda juga memungkinkan kita untuk mencapai jarak yang cukup jauh. Saya sempat membaca satu artikel - yang menuliskan bahwa semestinya inovasi kendaraan berhenti pada saat manusia menemukan sepeda. Cukup sampai di situ. Sekarang, kendaraan bermotor - jadi ciptaan manusia yang terus mengotori atmosfir. 

Sejak PPKM beberapa waktu lalu, rutin saya bersepeda terhenti. Sempat mencoba keluar bersepeda di minggu ke 3 PPKM, tapi saya baru tahu ssesampai di rumah bahwa bersepeda juga sebetulnya tidak diperbolehkan. Menjelang akhir PPKM darurat pagi tadi saya kembali mengeluarkan sepeda saya dan kembali menikmati perjalanan saya bersepeda. Menyenangkan sekali rasanya. 

 

BERSEPEDA.

Bersepeda merupakan kegiatan yang pernah dilakukan oleh hampir semua orang. Sejak masih balita, kita sudah memanjakan anak-anak kita dengan membelikan sepeda mini yang memiliki tiga atau empat roda. Saat anak beranjak remaja, kita juga membelikan sepeda dua roda yang lebih besar. Saat dewasa, mungkin diantara kita ada yang membeli sepeda untuk keperluan berolahraga.

Dalam bersepeda, kita pasti akan melalui tiga jalur yang berbeda yaitu menanjak, mendatar dan menurun.
Saat sedang menanjak, energi kita akan terkuras lebih banyak, memperkuat ayunan pedal agar dapat melalui tanjakan. Namun, janganlah kita terlalu bernafsu mencapai puncak secepat mungkin, sebab kita sendiri harus mengukur batas kemampuan. Jika tanjakan terlampau curam, tidak ada salahnya, kita turun sejenak dari sepeda dan berjalan bersama sepeda hingga ke puncak. Jika kita terlalu memaksakan diri, padahal kemampuan tidak cukup mumpuni, dipastikan kita akan jatuh terjungkal karena tidak sanggup mengayuh pedal sepeda. Jika kita merasa sanggup untuk melampauinya, sebaiknya kita mengatur nafas dan tenaga untuk mengkonstankan putaran ayunan pedal, supaya sepeda melaju stabil. Tetap menjaga konsentarasi untuk menghadapi rute turunan yang mungkin tiba-tiba muncul di depan.

Saat menghadapi turunan, kita tidak boleh kaget hingga terlalu cepat menarik rem. Sebab kita akan terjungkal, jatuh terpuruk dan dapat mengakibatkan luka.
Cobalah untuk mengikuti alur jalannya, menyeimbangkan sepeda dan mengatur pengereman dengan penuh kehati-hatian. Saat berada di jalan mendatar, kita hanya perlu mengayuh dengan santai sambil mempersiapkan kemungkinan munculnya rute tanjakan atau turunan. Bersepeda itu sesungguhnya bukan pada masalah berapa jumlah kilometer yang berhasil ditempuh. Namun yang lebih diutamakan adalah cara menikmati setiap kayuhan pedal untuk melaju hingga mencapai tujuan akhir.

Bersepeda itu identik dengan kehidupan yang sedang kita jalani. Hidup itu menarik dan mengasyikkan bukan karena semakin banyak jumlah umur yang dijalani, namun bagaimana kita menikmati detik demi detik untuk mendapatkan umur tersebut. Bersepeda juga bukan masalah bentuk sepeda atau aksesoris cantik dan canggih yang terpasang pada sepeda, namun sesungguhnya bagaimana cara memanfaatkan sepeda dan aksesorisnya untuk memperoleh pengalaman perjalanan yang menarik. Bersepeda adalah suatu kegiatan yang dapat dinikmati sendirian atau bersama orang lain. Dengan bersepeda, akan tercipta pengalaman selama mengarungi perjalanan, yang dapat diceritakan kepada orang lain. Bukan sekadar berlomba-lomba membanggakan kehebatan maupun kecanggihan dan harga sepeda.

Demikian juga dengan kehidupan manusia. Kita hidup bukan melulu membicarakan mengenai harta kekayaan dan jabatan yang diperoleh, namun sesungguhnya kita harus memanfaatkan semua yang dimiliki agar hidup kita menjadi lebih berharga, bukan hanya sekadar nilai nominal.

Sobatku yang budiman…
Mengutip pepatah Jawa yang menyebutkan : “Urip kuwi golek jeneng, ojo golek jenang” yang artinya : “Hidup itu untuk mencari nama, bukan mencari makan…”
Hidup itu seyogyanya bukan untuk dinikmati sendiri, namun harus bermanfaat bagi orang banyak. Hidup bukan sekadar untuk mencari harta dan jabatan, namun bagaimana memanfaatkan kelebihan yang dimiliki untuk sebesar-besarnya kebahagian orang lain. Alhasil, kita akan menjadi manusia yang mempunyai nama yang baik.

Untuk apa kita memiliki sepeda, jika kita hanya mempunyai cerita tentang saat kita membelinya, bukan pada saat mengayuh pedalnya menyusuri aneka rute perjalanan yang mengasyikkan? Bukankah menaiki sepeda itu terlihat lebih menarik dan terasa lebih mengasyikkan, apalagi dapat menempuh perjalanan bersama rekan-rekan yang lain dalam suasana ruang gembira dan penuh kebahagiaan? 
“It is about the journey, not the destination… Because life is a Journey…” 

 Photo by Rikki Chan on Unsplash  

Read more…

Melanjutkan cerita saya tentang bersepeda di edisi sebelumnya... 

 

Saat melewati bengkel sepeda, saya meminta Pak Toto untuk berhenti, “Pak, saya turun disini saja. Mau ke bengkel dulu.” Pak Toto berhenti sambil tersenyum, “Alhamdulillah nyampe… Hahahaha… Baru pertama kali nih saya…” Saya hanya mengatakan terima kasih untuk kesediaannya membawa saya bersama sepeda saya. Setelah itu saya berdoa, semoga Tuhan membalas kebaikan Pak Toto berkali lipat. Kemudian saya menekan 5 bintang beserta tips untuk Pak Toto.

Awalnya saya memang mau ke bengkel untuk memperbaiki rem, namun sepanjang perjalanan tang dan badan sepeda bengkok karena dipaksa untuk ditarik menggunakan motor sambil saya pegang dengan rute jalan yang menanjak secara konsisten. Untungnya bengkel tersebut tidak jauh dari rumah, saya bisa menyelesaikan perjalanan pulang dengan segala pengalaman serunya. Orang rumah tahunya saya berhasil pulang sampai rumah, mereka tidak tahu bahwa sepedanya ditarik memakai ojek online. (^.^)’

Belajar dari pengalaman tersebut, saya coba menuliskan kembali kesalahan awal :

  1. Merupakan pengalaman baru untuk saya bersepeda kembali setelah sekian tahun tidak pernah bersepeda.
  2. Belum mengenal rute yang akan dilalui. (Biasa naik motor, hanya menikmati angin sepoi tanpa mengenali rute dan medan jalannya)
  3. Sepeda belum diuji coba sebelumnya, bagaimana posisi jok supaya beban tidak pada kaki, kondisi rem, penggunaan gigi (skala 1-7).

Dari kesalahan tersebut, saya mengatur beberapa strategi supaya saya mampu mencapai tujuan saya bersepeda, untuk olahraga. Mengatur jadwal bersepeda rutin seminggu dua kali dengan rute yang bertambah secara bertahap, seperti atomic essay smipa ini, mencoba membangun pembiasaan terlebih dahulu. Sambil bersepeda rutin, mengulik kondisi sepeda mencari mana yang paling nyaman digunakan untuk rute yang akan ditempuh nanti (pulang pergi ke Sukamulya). Terakhir nanya Pak Suami, rute-rute yang dapat dilalui selain jalanan yang menanjak tersebut, siapa tau sebetulnya ada jalan tikus yang nyaman untuk dilalui dengan sepeda.

Yosh!! Ternyata, dalam proses belajar untuk mencapai sesuatu, kesalahan diperlukan untuk kita dapat melakukan perbaikan. Menurut saya, ada dua tipe pembelajar, yang sekali belajar langsung bisa, atau harus dibenturkan dengan kesalahan terlebih dahulu baru bisa. Saya sih memilih yang kedua, lebih terasa dinamikanya.

 

Semangat belajar!!


Salam,

 

Read more…

Empat tahun lebih sepertinya saya tidak pernah naik sepeda, niat mulianya sih mau mulai lagi, karena sudah empat tahun itu pula saya tidak pernah olahraga. Olahraga yang saya lakukan hanya jalan kaki keliling komplek rumah, itu juga tujuannya untuk memperlancar proses lahiran.

Hingga saya merasa inilah saat yang tepat untuk mulai lagi bersepeda, sekalian pergi pulang kerja. Mulailah mencari-cari sepeda dengan harga promo (maklum Ibu-ibu banyak pertimbangannya). 

Senin kemarin saya langsung mencoba sepeda baru tersebut dengan trek Geger Arum - Sukamulya dengan kondisi benar-benar sepeda baru, belum pernah diuji coba, dan tanpa tahu medan yang akan dilewati. Modal nekat! Pergi pagi, udara segar, jalanan turun, yang justru karena itu saya selalu memegang rem belakang sampai berkali-kali remnya lepas. Bersyukur sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

Siang hari saat hendak pulang, saya mencari bengkel sepeda untuk memperbaiki rem sepeda. Karena bengkel sepeda katanya sudah tidak ada, bapak-bapak penjaga sekolah membantu saya memperbaiki rem depan dan rem belakang. Namun, masalah dimulai saat saya mulai memboseh sepeda. Ternyata trek menuju rumah jalan nya nanjak secara konsisten, setiap beberapa meter saya berhenti untuk menghela nafas dan beristirahat. Saya masih punya semangat hingga akhirnya saya menyerah di daerah Cipedes Tengah.

9053873655?profile=RESIZE_710x

Ditengah kelelahan, otak saya tidak berhenti untuk berpikir. Bagaimana caranya saya sampai ke rumah disaat fisik saya sudah lelah. Tercetuslah sebuah ide, saya pesan ojek online dengan sebuah pesan untuk supirnya, “Pak, saya bawa sepeda. Nanti saya pegang.” Siapa tau mamang ojeknya ga mau, jadi saya kasih pesan duluan. Tidak lama, ada yang menerima pesanan saya, Pak Toto namanya. Dengan beberapa pertimbangan, jika menggunakan cara lain, kurang memungkinkan. 

Sebelum motor jalan, Pak Toto bertanya, “Gimana ya kita bawanya? Yakin bisa?”, saya jawab BISA (dalam hati; KUDU BISA!!!). “Ya udah, kalo yakin, ayok!!!” Pak Toto tertawa sambil berkata, “Baru pertama kali nih saya… Hahahaha…” Diawali bismillah, kami pun mulai perjalanan. Sepanjang jalan yang menanjak secara konsisten, Pak Toto terus menerus bertanya apakah saya masih sanggup memegang sepedanya, dan saya jawab dengan tegas, “Masih sanggup Pak!” (dalam hati sih udah pengen nangis).

Mau tau kelanjutan ceritanya? Nantikan di tulisan berikutnya ya… \(^0^)/


Salam,

 

Read more…

AES#2 Escape

Hari ini saya mau nulis tentang Escape... pojokan asik tempat ngopi yg ternyata orang-orang di dalamnya bukan orang jauh juga. 

Kebetulan pagi ini saya gowes sama Rico dan mendarat di Escape. Kebetulan juga sudah buka. Tempat yang ambience nya asik di salah satu pojokan Babakan Siliwangi. Tempat ini masih nyambung-nyambung juga sama komunitas Semi Palar. Sebagai bagian dari Sanggar Mitra yang dikelola kang Wahyu (ayah Lian Zheva Niwa Lakisha) adalah anggota keluarga besar Semi Palar sejak lama. Escape sendiri didirikan Lian dan teman-temannya. Pengelolanya (Budi) atau yg biasa dipanggil Aco juga ternyata nyambung2 juga sama salah satu kakak Smipa. 

8934248294?profile=RESIZE_710x

Babakan Siliwangi adalah juga tempat yg rutin sy kunjungi setiap minggu waktu gowes. Gowes sy ga jauh-jauh. Rutenya berkeliling jalur-jalur hijau (jalanan yang banyak pepohonannya) di kota Bandung. Cari tanjakan secukupnya sampe keringetan, nafas dan detak jantung meningkat, lalu finish di tempat sarapan. Gocapan istilahnya. Gowes Cari Sarapan (istilahnya para pegowes). 

Kembali ke Escape, di tempat ini obrolan tentang Atomic Essay bermula. Digagas oleh Ahkam yg menggagas platform bersama Ririungan ini. Sedikit cerita tentang gagasan ini ada di posting saya yang ini.

Sebagai pojok tempat ngopi, Escape enak banget. Salah satu faktor dominannya ya lingkungan Babakan Siliwangi sebagai hutan kota. Settingnya di ruang terbuka dengan meja2 dari batang2 kayu… Dedaunan yang terus berguguran jadi pelengkap suasana. Mengingatkan bahwa ini memang hutan kota. Hal lain yang mengingatkan bahwa ini hutan kota adalah suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. 

8934248500?profile=RESIZE_584x

Di meja kayu ini beberapa obrolan berlangsung. Dan beberapa gagasan lahir. Salah satunya tentang atomic essay smipa yang mendorong lahirnya tulisan ini juga. 

Tak terasa esai saya yang kedua tuntas dengan jumlah kata lebih dr 250 kata… tidak banyak makan waktu juga. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. 

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa