finsjournal (39)

AES42 Menyalakan Sinar Diri

Tiga hari baru dilalui untuk memulai proses fasilitasi di kelas sebagai Kakak. Walaupun bekal sudah dibawa, saat dijalani tetap saja rasa ragu, khawatir, takut salah menghinggapi diri. Namun, saya sadar betul bahwa perasaan-perasaan itu sangat wajar. Hal ini merupakan bagian dari proses menemukan kepingan diri, dan proses dari memfasilitasi anak menemukan bintangnya sendiri. Tidak ada yang instan di dunia ini… Membuat mie instan saja masih butuh proses menyeduh, apalagi proses penemuan diri, akan sangat panjang waktunya.

Saya bersyukur bahwa saya sudah tahu tujuannya mau kemana, tinggal mencari cara bagaimana untuk menuju kesana. Dan, saya sadar bahwa jalan menuju tujuan tersebut tidaklah mudah. Akan banyak halangan, rintangan, kerikil, bahkan mungkin badai akan ditemukan. Saya hanya perlu menjaga semangat dalam diri harus terus membara.

Sekiranya seperti itulah proses Kakak di Smipa untuk membinarkan cahaya bintangnya dan cahaya bintang anak-anak. Seperti yang Kak Andy bagikan dalam tulisannya, beliau juga menyematkan sebuah video pendek yang sarat akan makna. 

Tokoh utama Mara yang membantu si kecil untuk bisa terbang, walaupun video tanpa dialog, ekspresi wajah dari tokohnya yang bercerita. Mara melakukan apapun untuk menemukan cara supaya pesawat si kecil dapat terbang, setelah berkali-kali mencoba dan berkali-kali gagal, dia tidak patah semangat.

Saat akhirnya si kecil dapat terbang, ia menaruh sebuah bintang di langit dan membuatnya bercahaya. Si kecil memberi kode untuk Mara, mungkin sebagai tanda terima kasih atau tanda bahwa dia sudah berhasil mencapai tujuannya dengan melambaikan tangan supaya cahaya bintangnya terlihat kerlap-kerlip. Melihat cahaya bintang tersebut, Mara tersenyum simpul. Ekspresinya bahagia…

Mungkin tidak sekarang, satu tahun lagi, lima tahun lagi, atau bahkan sepuluh tahun lagi. Ketika anak yang saya fasilitasi dapat menemukan bintangnya sendiri, tentu saja saya akan sangat bahagia. Dan semua membutuhkan proses, bagi anak-anak dan sebagai proses belajar bagi saya.

Sebagai awal pembuka, tema yang diusung adalah Menyalakan Sinar Diri. Setiap anak memiliki sinarnya sendiri, namun dibutuhkan kesadaran untuk memilih membuatnya menyala atau membiarkannya tetap padam. Tugas yang tidak mudah bagi seorang Kakak…

Semoga kita semua bisa menemukan cara untuk menyalakan sinar dalam diri.

 

Salam,

Read more…

AES41 Nusia Berkesadaran

Diceritakanlah sebuah negeri antah berantah bernama Imub, yang dihuni oleh makhluk bernama Nusia. Suatu masa Nusia yang hidup di Imub terkena wabah virus yang mematikan. Beberapa percaya dan beberapa mengabaikannya, sudah sampai dua generasi kehidupan wabahnya tak kunjung selesai.

Angka kematian Nusia meningkat pesat di suatu ketika, sayangnya tak dibarengi dwngan meningkatnya kesadaran para Nusia yang masih saja mengabaikan.

Di sebuah wilayah bagian barat Imub, bernama Erlong. Tinggalah keluarga Pipito yang sangat menjaga keluarganya dari wabah. Mereka menjaga kebersihan rumah, setiap pagi berjemur, makan bergizi, karena keluarga Pipito mempunyai seorang bayi.

Seorang anggota keluarga Sii yang tinggal disebelah rumah Pipito, ternyata terkena wabah virus. Pipito dilanda keresahan.

Apa hal yang membuat Pipito resah?

Konon katanya, salah seorang anggota keluarga Sii tersebut sudah terjangkit virus dari seminggu yang lalu. Tapi Sii baru mengabari keluarga Pipito pagi tadi. Pipito resah karena orang tersebut seminggu yang lalu masih terlihat keluar motor-motoran, membeli makanan, bahkan pergi membeli kue untuk merayakan ulang tahun anaknya di rumah bersama keluarga besar Sii. 

Pipito tak habis pikir… Kenapa dia yang terkena wabah virus bisa sewajar itu, merasa dia baik-baik saja. Bukankah dengan sikap cueknya itu bisa membahayakan orang-orang disekitarnya, termasuk keluarga Pipito…

Akhirnya, Pipito mengambil keputusan untuk membawa keluarganya menginap di rumah kerabat lain. Pipito resah karena dia memiliki seorang bayi. Pipito berpikir, biarlah dirinya saja yang waras diantara orang-orang yang begitu tak peduli pada sekitar bahkan pada dirinya sendiri.

Wabah virus yang melanda negeri Imub mungkin masih akan menghancurkan dan meluluhlantakan Imub. Sepertinya wabah akan datang dengan mutasi yang lebih hebat. Belum ada obatnya, kalaupun ada harganya pasti mahal.

Pipito semakin resah. Bagaimana bisa Nusia yang tinggal di negeri Imub ini sangat masa bodo terhadap wabah virus yang melanda. Pipito khawatir pada keluarganya, pada seorang bayi yang selalu ia dekap.

Pipito hanya bisa berharap, semoga wabah segera berakhir. Ia selalu berdoa agar wabah menjauh dari keluarganya, dan agar Nusia menjadi makhluk yang berkesadaran.

 

-Cerita ini diangkat dari kisah nyata-

Read more…

AES40 Slow Down! Enjoy More!

Seminggu ini saya sedang mencoba menghayati tentang menghadirkan diri secara utuh untuk masa sekarang (being present). Melihat situasi sekarang yang sedang tak terkendali, dunia kacau, banyak nyawa meninggal dunia karena pandemi ini. Akibatnya bukan hanya pada aspek ekonomi, namun sosial dan kemanusiaan.

 

Menjadi generasi yang merasakan hidup di dua masa, menjadi keseruan tersendiri untuk saya. Dengan kapasitas sekarang, saya sempat terpikir untuk kembali ke masa lalu. Dunia saya dulu aman tentram, masa Sekolah Dasar masih merasakan bermain di sungai. Sebuah kesenangan, pulang sekolah ganti baju dan bermain di sungai. Namun, dalam waktu beberapa tahun sungai tempat bermain sudah berwarna pekat dan dipenuhi sampah. Sungai itu menjadi buangan limbah industri tekstil di dekat rumah.

 

Dan kini, saya memasuki masa dimana semua sudah serba digital. Dunia modern yang menuntut manusianya bergelut dengan waktu, menjadi terburu-buru. Ironis memang, ketika komputerisasi dan digitalisasi diciptakan untuk memudahkan segala pekerjaan, namun malah menuntut kita untuk sibuk dan bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Hidup bergerak dengan begitu cepat sampai tanpa terasa waktu berlalu tanpa benar-benar kita menikmatinya.

 

Namun, bukan berarti kita tunduk pada situasi ini. Kita berhak memilih untuk diburu waktu atau bergerak lebih lambat dari dunia yang bergerak cepat ini dan masih dapat menikmatinya. Meluangkan waktu untuk menikmati udara pagi, sebelum masuk ke dunia dengan hiruk-pikuknya. Menikmati apapun yang dilakukan, menikmati alam, fokus bercengkrama dengan lawan bicara, atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Alih-alih terhubung dengan handphone, laptop, tugas yang menanti, dan kesibukan lainnya.

 

Slowing down is a conscious choice, and not always an easy one. But it leads to a greater appreciation for life and a greater level of happiness.” -Zen Habit-

 

Untuk dapat menikmati hidup, berarti kita memilih untuk memperlambat hidup. Mungkin beberapa saran dari Zen Habit ini dapat kita lakukan;

 

  1. Melakukan lebih sedikit kegiatan. Fokus pada apa yang benar-benar penting, membuat list prioritas yang harus dilakukan.

  2. Hadir secara utuh untuk saat ini. Ketika kita teringat hal yang sudah lampau, atau bahkan memikirkan masa depan yang belum jelas, cobalah untuk menggiring pikiran kita kembali ke saat ini, pada apa yang sedang dilakukan, pada orang-orang yang sedang ada disekitar kita saat ini. Hal ini tidak mudah dilakukan, butuh latihan yang konsisten.

  3. Memutuskan hubungan. Ketika kita selalu terhubung dengan gadget, handphone, media sosial, terlalu banyak informasi yang masuk ke otak kita. Pikiran kita bisa jadi overload, sedikit-sedikit melihat pesan yang masuk, gadget addict. Putuskan sambungannya, bahkan jika perlu untuk waktu tertentu sebaiknya matikan perangkat seluler, putuskan diri dengan dunia luar, dan melakukan hal untuk diri sendiri. Waktu jeda atau waktu hening.

  4. Fokus pada orang-orang. Seringkali kita banyak mengobrol, diskusi, bersama beberapa orang. Tapi apakah kita benar-benar terhubung dengan mereka? Sepertinya kebanyakan dari kita mengobrol tapi pikiran sedang menelusuri isi dalam telepon genggam kita. Kita tidak sepenuhnya hadir dan terhubung bersama orang-orang. Ketika sedang bersama orang lain, ada baiknya jauhkan diri dari gadget, dan fokus pada apa yang dibicarakan, menatap mata lawan bicara. Ini berarti kita benar-benar terhubung dengan mereka lebih daripada hanya sekedar kehadiran kita diantara mereka.

  5. Kembali ke alam. Jauhkan gadget, coba hirup udara segar, melihat hijaunya dedaunan, menangkap suara-suara alam. Bahkan sebaiknya kita lebih banyak melakukan aktifitas diluar ruangan, berjalan, yoga, atau meditasi.

  6. Perlambat kegiatan. Seperti saat makan, nikmati aromanya, nikmati tekstur makanannya, tidak perlu terburu-buru. Mencuci piring, mencuci baju, dan lainnya. Nikmati setiap prosesnya. Seperti yang pernah Kak Andy katakan, mencuci piring dengan air yang sangat pelan, menikmatinya.

  7. Lakukan satu tugas utama. Jika memang sedang banyak pekerjaan dan menuntun kita untuk melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, waktu jeda sangat dianjurkan.

  8. Olah napas. Ketika kita menemui situasi yang membuat stress dengan semua kesibukan, jeda, dan menarik napas. Nikmati setiap hembusan napas yang mengalir kedalam tubuh, akan membuat rileks dan membawa kita ke saat ini.

 

Hiduplah untuk saat ini, fokus pada apa yang dilakukan, dan nikmati setiap prosesnya.



Salam,

Read more…

AES39 Slow Down! and Enjoy!

Don’t miss all the beautiful colors of the rainbow looking for that pot of gold.” ~Unknown

Saya merasakan bahwa waktu berjalan lebih cepat dari biasanya, rasanya baru terbangun dari tidur, sudah akan tidur lagi.

Ada sebuah teori yang mengatakan, bahwa ketika masih muda, kita memiliki banyak pengalaman baru. Pengalaman baru ini akan saling berkaitan menciptakan sebuah memori di dalam otak kita. Seiring bertambahnya usia, tidak akan ada lagi pengalaman baru yang membuatnya menjadi kenangan yang unik. Semua merupakan hasil olahan informasi yang sudah tersimpan cukup lama.

Saya ingin berusaha menepis teori tersebut, bahwa sebetulnya berapapun usia kita, otak kita masih dapat merasakan pengalaman baru tersebut. Misalnya ketika kita mendapat informasi atau pengalaman baru, kita akan berusaha fokus dan menghadirkan diri secara utuh di waktu tersebut. Tidak memikirkan masa lalu maupun masa depan, kita memikirkan apa yang terjadi sekarang.

Ketika kita mampu untuk fokus dan hidup pada saat ini (being present), kita dapat menghadirkan diri dan memaknai hidup kita dengan lebih utuh. Tidak peduli berapapun usia kita, apapun yang kita lakukan akan terasa seperti pengalaman pertama yang unik.

Pertanyaannya adalah, berapa kali dalam hidup, kita menghadirkan diri pada saat ini secara utuh? Saya sih masih kesulitan… Dengan banyaknya pikiran yang lalu-lalang, perasaan yang masih tidak karuan, pekerjaan yang harus dilakukan, harus bertemu banyak orang. Jauh dari kata fokus.

Saya paham pentingnya waktu jeda, memberi waktu untuk berdiam sejenak dan menikmati setiap momen hidup. Sejenak hening mungkin bisa dilakukan, tapi kemudian selalu kembali pada kesibukan dan segala macam distraksinya.

Perspektif kita menentukan bagaimana kita melihat dan menilai segala sesuatu dalam hidup. Seiring dengan bertambahnya usia, perspektif kita terhadap hidup juga dapat berubah. Akhir-akhir ini justru semakin bertambah hal-hal yang mengingatkan saya pada ‘hal yang paling penting dalam hidup’.

Saya yang berusia kepala tiga ini akan mengatakan kepada seseorang yang berusia kepala dua, “enjoy every moment in life”. Rangkai pengalaman-pengalaman baru yang menyenangkan dan bermakna, hadirkan diri secara utuh untuk mencoba hidup di saat ini.

Ada dua hal penting menurut saya selain kita harus menghadirkan diri secara utuh pada saat ini, yaitu bersyukur atas setiap detik hidup yang diberikan, dan memilih untuk selalu bahagia.

Karena, terkadang kita lupa bahwa hidup tidak serta merta harus sempurna… Hidup bukan perlombaan, tidak perlu terburu-buru, dan nikmati setiap prosesnya… 

 

Slow down, and fully enjoy this moment

 

Salam,

Read more…

AES38 Body O'clock

Setelah mendapat pengetahuan baru tentang gelombang otak yang berpengaruh bagaimana otak dan pikiran kita bekerja, akan lebih baik lagi jika digenapi dengan pengetahuan jam biologis manusia.

Menurut Prof. dr. Soeharsoyo SpAk,  yang sempat viral di tahun 2015 lalu, organ-organ tubuh manusia juga memiliki waktu tertentu saat bekerja maksimal maupun saat lemah. Berdasarkan riset beliau tentang pemanfaatan energi "chi" dalam organ tubuh manusia. Setelah mencoba mencari referensi, saya mencoba menuangkannya pada gambar di atas, penjelasannya sebagai berikut:

07.00 - 09.00 kerja lambung sedang kuat, disarankan untuk sarapan makanan yang bergizi tinggi pada jam ini.

11.00 - 13.00 jantung sedang lemah, maka hindari panas berlebih dan olah fisik yang berat.

13.00 - 15.00 kondisi liver/hati sedang lemah, istirahat sejenak dianjurkan untuk mengoptimalkan proses regenerasi sel-sel hati.

15.00 - 17.00 paru-paru sedang lemah, istirahat dan olah nafas secara teratur untuk mengembalikan energi paru-paru. Pada beberapa sumber mengatakan di jam ini cocok untuk olahraga ringan untuk membantu kerja jantung dan paru-paru.

17.00 - 19.00 ginjal dalam kondisi kuat, terjadi proses pembentukan sumsum tulang dan sel otak, dan ini merupakan jam terbaik untuk belajar.

19.00 - 21.00 lambung sedang lemah, dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi makanan padat yang sulit dicerna atau lebih baik berhenti makan.

21.00 - 23.00 limpa dalam kondisi lemah, terjadi proses pembuangan racun tubuh dan regenerasi sel limpa. Jika wajah pucat pada jam ini, menandakan ada gangguan pada limpa.

23.00 - 01.00 jantung dalam kondisi lemah, waktunya istirahat untuk pemulihan energi tubuh.

01.00 - 03.00 liver/hati dalam kondisi kuat, terjadi proses pembuangan racun hasil metabolisme tubuh dan terjadi regenerasi sel.

02.30 - 04.30 kondisi paru-paru sedang kuat, terjadi proses pembuangan racun dan kotoran di paru-paru. Jika terjadi batuk atau berkeringat di waktu ini, menandakan paru-paru kotor. Ini waktu yang tepat juga untuk umat Muslim melakukan "Qiyamul lail" atau shalat malam, karena saat bersujud, darah yang kaya akan oksigen mengalir ke otak.

05.00 - 07.00 merupakan waktu yang tepat untuk buang air besar, karena usus besar dalam kondisi kuat agar kotoran, racun, dan sisa sistem pencernaan dapat keluar semua.

Nah, dengan informasi di atas, semoga kita bisa lebih bijak pada diri kita ya. Senantiasa menjaga kebugaran dan kesehatan organ tubuh kita. Semoga kita bisa menjalani hari-hari dengan penuh pemaknaan.

 

Salam,

Read more…

AES37 Yang Paling Menakutkan adalah...

Awalnya aku memikirkan hal lain untuk ditulis di essay yang ke-37 ini, tapi entah jari-jemari malah menuliskan apa yang aku pikirkan pada detik ini.

Jam segini baru bisa lepas dari anakku yang kedua, dia baru bisa tidur. Tapi, anakku yang pertama energinya masih banyak. Jam segini dia masih loncat di kasur, main mobil-mobilan, atau sekedar berjalan bolak-balik kamar, dapur, kamar. Sedangkan aku… tubuh ini sudah lelah, pikiran ini ingin diistirahatkan.

Oiya, malam Jumat. Di beberapa stasiun tv menayangkan acara horror, entah kenapa malam Jumat diidentikan dengan horror, menyeramkan, yang tak kasat mata dan kawan-kawannya. Ya, aku juga takut kalau sudah membahas cerita seram tetap aja merinding.

Tapi, menurutku ada yang lebih menakutkan dari yang tak kasat mata… Tahukah kalian apa itu? Perasaan dan pikiran kita!!

Ada yang mengatakan bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan… Kalau kita selalu bisa berpikir positif, itu baik. Tetapi kalau kita berprasangka, perasaan, dan pikiran negatif tentang diri kita maupun orang lain, ini yang sangat menakutkan.

Misalnya saja, hingga kini, aku selalu memandang diri negatif dan tidak berharga. Tentu saja ini dipengaruhi pola asuh dan label yang diberikan orang terdekatku di masa kecil, label-label itu tampaknya mengakar dalam pikiranku.

Kenapa menakutkan? Karena ini bisa menghambat dan mematikan potensi yang ada dalam diri kita. Pikiran dan perasaan negatif inilah yang paling menakutkan.

Mungkin tanpa sadar, kita pernah melabel seseorang, "Tu anak bandel banget sih", "Masa gitu aja kamu ga bisa", "Dia emang gitu, sok pinter, pengen dipuji"... Bagi kita yang berkata, paling cuma selewat 'keceplosan' bicara… Tapi, jika kita sadar betul apa yang dirasakan oleh orang yang kita beri label tersebut, perkataan negatif itu akan terekam dalam memorinya, entah sampai kapan…

Hal ini berlaku ketika dalam kehidupan kita sebagai orangtua, ataupun sebagai guru. Hindari memberi label negatif pada anak, pikirkan dulu sebelum berkata, dan pandailah menjaga perasaan orang lain dan tentu, diri kita sendiri.

Seperti apapun kondisi kita, walaupun serba kekurangan, orang lain lebih dari kita, tetaplah berpikir dan berprasangka baik. Hal ini dapat menjadi energi baik untuk pikiran dan tubuh kita. Jangan matikan potensi kita, karena kita spesial. Setiap kita, unik. Setiap kita, hanya ada satu di muka bumi ini.

Setiap kita, berharga…

 

Salam,

Read more…

AES36 Menolak Lupa, Melawan Tua

Menolak Lupa, Melawan Tua...

Bukan membahas usia kok…

Tulisan ini terinspirasi dari proses perencanaan yang sudah tiga hari dilalui… Ibarat mesin diesel yang butuh waktu untuk panas, demikian yang terjadi dengan otak saya. Di awal proses saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencerap alur prosesnya, nanya ini nanya itu, mengonfirmasi gagasan dan cara berpikir saya yang lalu, tentu main tebak-tebakan.

Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, bahwa saya beruntung bisa melihat ujung bertemu ujung selama proses magang kemarin. Sudah tahu ujungnya akan kemana (ini juga masih butuh konfirmasi), jadi mempersiapkan awal ini dengan cukup banyak pertimbangan, mengenai wawasan keilmuan yang masih belum memadai.

Dalam Pendidikan Holistik, yang memandang manusia secara utuh, ya semua proses yang direncanakan, dan akan dijalani juga harus utuh. 

Mulai dari menentukan tema, saya terbengong-bengong sendiri. Pemilihan kata untuk tema aja susah sangat... Ajaib memang Semi Palar ini…

Belum lagi bagaimana mengaitkan materi topik yang kontekstual, pemilihan topik pelajaran Matematika, Sains, Bahasa, dan Sosial juga harus dipilah mana yang akan bermanfaat dalam keseharian. Ya itu tadi… Kontekstual. Ditambah bagaimana mencari kegiatan yang menyasar aspek diri anak secara utuh, belum lagi proses fasilitasinya… Luar biasa… Menantang...

Dan uniknya, setiap tahun akan mengalami proses yang sama. Brainstorming dari awal, mencari ide segar. Karena setiap tahun topik maupun alur cerita akan benar-benar berbeda. Kakak selalu dituntut untuk berpikir dan berimajinasi. Otak selalu bekerja, selalu diasah, sel-sel otak selalu berkomunikasi satu sama lain. Seru ya!!!

Seperti yang disampaikan dalam buku Keep Your Brain Alive, bahwa dalam proses belajar, sel otak saling mengaitkan informasi satu dan lainnya, mereka saling berkomunikasi. Semakin banyak informasi yang tersedia, sel otak semakin aktif mengaitkan. Bikin awet muda!!!

Ga kebayang guru yang mengajar satu mata pelajaran, dari tahun ke tahun itu itu lagi topik yang disampaikan. Jam terbang iya bertambah, tapi wawasan tidak berkembang. Mungkin selama bertahun-tahun memakai RPP yang sama (paling ubah-ubah dikit lah), metode mengajar yang sama, bentuk asesmen yang sama, kemungkinan juga soal-soal tesnya sama (mungkin loh ya ini).

Jadi, saya sangat bersyukur dengan menikmati proses membuat perencanaan ini. Membuat otak saya cukup berasap (bagus kan, artinya memang mesinnya bekerja). Ingat kata Kak Andy, "Kalo ada yang susah ngapain pilih yang mudah."

Jadi, semoga saya bisa konsisten menikmati setiap proses di hari-hari berikutnya. Karena saya memilih untuk menolak lupa, melawan tua!!!

Terima kasih Kak Imeh, Kak Diki, dan Kakak lain yang memberi saya pencerahan...


Salam,

Read more…

AES35 Mengoptimalkan Kinerja Otak

Pembekalan pagi tadi memberikan saya informasi yang luar biasa, “Understanding Brain Wave”. Untuk saya, sesi ini mengingatkan kembali pada beberapa tahun yang lalu pernah mengikuti sesi Hypnotherapy Modern sebagai self healing. Saya memberi judul tulisan ini “Mengoptimalkan Kinerja Otak”, karena memang ternyata gelombang otak pada manusia memiliki frekuensi dan fungsi yang berbeda. Maka, jika kita memahami keterkaitannya, kita akan mampu melatih pengondisian gelombang otak ini untuk mengoptimalkan kerja otak kita. Bahkan, jika kita mampu, kita bisa memanfaatkan perbedaan gelombang otak ini untuk menghipnosis dan mengontrol kesadaran diri atau bahkan orang lain. Lebih jauh lagi jika kita mendalaminya, dan sebetulnya kita bisa memanfaatkan gelombang otak ini untuk menyembuhkan diri dari trauma.

Meskipun sama-sama memiliki otak, manusia diberikan kelebihan saat penciptaannya dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainya, yaitu akal. Otak manusia digunakan untuk berfikir secara nalar dan menimbang secara naluri tentang benar dan salah. Namun, apa yang kita pikirkan apakah alam sadar atau alam bawah sadar kita yang bekerja? Nah! Saya mendapatkan titik terang dengan sesi pembekalan pagi tadi tentang gelombang otak.

Gelombang otak manusia pada dasarnya dibagi menjadi dua, awake dan asleep. Berdasarkan frekuensinya, gelombang otak dibagi menjadi;

  1. Gamma → 30-40 Hz → superconsciousness (kesadaran penuh) 
  2. Beta → 13-30 Hz → untuk konsentrasi, diskusi
  3. Alpha → 8-12 Hz → rileks, imajinasi
  4. Theta → 4-7 Hz → tidur, hipnosis, meditasi
  5. Delta → 1-3 Hz → tidur lelap tanpa mimpi

Gelombang Gamma, Beta dan Alpha ada dalam ranah awake, sedangkan Theta, Delta ada dalam ranah asleep.

Dalam video “Understanding Brain Wave” disebutkan bahwa gelombang Alpha merupakan gelombang yang tepat untuk belajar melalui bermain dan berinteraksi. Gelombang ini ada pada usia 0-6 tahun. Apakah ada kaitannya dengan konsep “Golden Age”? Bahwa di usia 0-5 tahun merupakan usia yang tepat untuk memberikan stimulus dasar pada anak. Hmmmm…. Tampaknya ada kaitannya… 

Sedangkan untuk usia 7-12 tahun lebih banyak menggunakan gelombang subconscious, Alpha atau Beta. Belajar yang optimal di usia ini dengan mengidentifikasi dan mengaitkan informasi.

Dalam buku yang pernah saya baca, “Keep Your Brain Alive” karya Lawrence C Katz & Manning Rubin, dikatakan bahwa manusia memaknai sesuatu lebih lama jika ada keterkaitan dan informasi itu berguna untuknya.

“The raw material for association originates primarily from the five senses but also can be emotional cues. The brain takes several different things into account in deciding whether to forge these mental connections. … In essence, this is our basic learning process.” (Keep Your Brain Alive: 12)

Kemudian, bagaimana kita bisa mengoptimalkan kerja otak kita? Salah satu caranya adalah dengan mengetahui gelombang otak dan fungsinya saat otak berada pada gelombang tertentu, yang kita sepakati ada di gelombang Alpha. Kita bisa memanfaatkan pengetahuan ini untuk mengontrol kerja otak; kapan saat kita harus berkesadaran penuh, membuat keputusan-keputusan, ataupun kita bisa memilih kapan kita ingin mengistirahatkan otak.

Musik dan wewangian tertentu dapat digunakan untuk mengatur atau mengondisikan kerja otak, dengan menyesuaikan gelombang otak. Hal ini dapat menunjang kesiapan otak anak untuk fokus pada pembelajaran, sehingga dapat mencerap informasi dengan optimal. Selain itu, pemahaman terhadap perbedaan gelombang otak akan membantu pada proses fasilitasi dan kegiatan apa yang cocok digunakan sesuai dengan tahapan perkembangan anak saat pembelajaran berlangsung.Namun, yang paling penting adalah bagaimana dengan prinsip gelombang otak ini, Kakak sebagai fasilitator di kelas mengondisikan dan menyiapkan diri untuk pembelajaran.

Dan ternyata, waktu hening selain untuk menyiapkan diri, dapat digunakan juga sebagai jeda untuk mengembalikan relaksasi otak kita agar fokus kembali dan mengoptimalkan kinerja otak.

Pertanyaan berikutnya yang muncul, apakah benar asumsi saya bahwa manusia akan mampu mengendalikan gelombang otak ini? Apakah semua gelombang otak ini ada dalam diri manusia? Dan tentang gelombang Gamma yang bagi saya masih bias ada di ranah mana, dan apakah bermanfaat atau malah berbahaya bagi otak kita? Semoga akan datang moment yang tepat untuk mendapat jawaban yang menggenapi.


Salam, 

Read more…

AES34 Hening dan Pemurnian Pikiran

Pertanyaan paling mendasar adalah “Hidup itu apa?”, “Untuk apa kita hidup?”. Semua manusia akan mempertanyakan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Demikian halnya dengan saya, proses pencarian ini sudah berlangsung cukup lama. Namun, saya mulai menemukan titik terang justru setelah berkenalan dengan Pendidikan Holistik, lewat pemaparan Kak Andy, diskusi dengan Kakak-kakak yang sama-sama berproses sebelum bergabung menjadi Kakak Smipa. Proses-proses ini membuat saya lebih memfokuskan diri untuk menemukan benang merah dan kemudian ternyata semua saling berkaitan.

Awal bersinggungan dengan Pendidikan Holistik, saya menuliskan beberapa hasil pencarian di sebuah artikel berjudul Mencari Kepingan Diri [Bagian 2] saya mulai melihat keterkaitan walaupun belum sempurna. Pendidikan Holistik membantu manusia menemukan dirinya secara utuh, baik untuk Kakak yang terlibat maupun dalam proses fasilitasi pada anak didik. Bagaimana kita bisa memfasilitasi anak didik untuk menemukan dirinya yang utuh, jika kita belum mampu melihat diri kita secara utuh. Walaupun memang ini merupakan proses pencarian yang panjang, tetapi setidaknya kita harus memulai dari diri sendiri.

Dunia yang kita tinggali, semakin hari semakin modern. Namun, tidak menjamin dalam diri menjadi bahagia. Kita begitu sibuk dengan rutinitas, terlalu banyak informasi yang diterima, terlalu banyak berpikir, dan bahkan terlalu rumit belum lagi dibumbui dengan perasaan yang macam-macam. Membuat manusia semakin jauh dari kata bahagia. Dan sebagai manusia, tidak pernah merasa puas.

Seperti dikatakan dalam video Beyond Thinking, “But, after all, we are human beings… not human doing…

Hal yang paling mendasar adalah bagaimana kita mampu melampaui batas berpikir kita? Bagaimana diri kita mampu ajeg tanpa terpengaruh kesemrawutan dunia diluar kita? Maka kita harus mencarinya ke dalam.

Sesi pembekalan pagi tadi, mengenai sisi dalam dan sisi luar mensyaratkan bagaimana menjadi manusia yang utuh. Salah satu alasan untuk apa kita hidup adalah bahwa manusia adalah “pemimpin”, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri, maka penting untuk memahami bagaimana sebaiknya kita kembali ke dalam diri.

Menurut ajaran Buddha, manusia adalah guru yang paling potensial untuk dirinya sendiri. Hanya karena ketidaktahuan dan pemahaman diri, manusia gagal menyadari potensi dirinya. Salah satu untuk cara untuk memurnikan pikiran - perkataan - perbuatan yaitu dengan meditasi atau waktu hening. Melalui waktu hening kita dapat memahami “kita adalah apa yang kita pikirkan”, dan untuk bisa mencapai kebahagiaan itu adalah melalui pemurnian pikiran dengan upaya sendiri.

Kita menghabiskan banyak waktu untuk tubuh; makan, mencuci baju, mempercantik diri, istirahat, dan lainnya. Pertanyaannya, berapa waktu yang kita luangkan untuk pikiran kita?

Melalui pemurnian pikiran (melalui cara apapun), kita belajar bagaimana cara untuk menenangkan tubuh dan pikiran, belajar untuk menjadi damai dan bahagia dalam diri.

Sekiranya begitu banyak manfaat dalam keheningan, saya masih berproses untuk konsisten melakukannya. Semoga…


Salam,

Read more…

AES33 Harmoni Dalam Sepiring Rujak

Menu makan siang ini lotek, lotek LUGINA cukup terkenal di kawasan Gegerkalong, Cipedes, dan sekitarnya. Kalau hanya beli lotek masih terasa kurang, jadi sekalian beli rujaknya. Entah kenapa, sekarang jika melihat sesuatu saya langsung muncul berbagai pertanyaan. Dulu tidak pernah, makan ya makan saja… Beres urusan! Kayanya sih gara-gara masuk Semi Palar, memandang sesuatu itu terkoneksi… (^.^)v

Satu persatu buah-buahan saya colek ke sambal kacangnya, bengkoang, nanas, mangga, mentimun, dan ubi (jambu airnya pas lagi ga ada). Ada rasa manis, asam, dan pedas dari sambal kacangnya. Melihat fotonya saja menggugah selera ya, apalagi menikmatinya, ueeenaaakkk…. (^,^)d

Ternyata, ada nilai-nilai warisan leluhur dalam seporsi rujak.

Secara etimologi, kata ‘rujak’ merupakan turunan dari kata ‘rurujak’ yang ditemukan dalam naskah teks Prasasti Jawa Kuno sekitar abad ke-10. Dahulu rujak merupakan makanan para bangsawan karena tampilannya menyerupai salad Eropa. Penyajian rujak juga berbeda tergantung dari pangan yang tersedia di suatu daerah. Misalnya di Jawa Timur terkenal dengan “Rujak Cingur” yang terbuat dari moncong sapi yang sudah dibersihkan dan direbus dicampur dengan sayur, buah, tempe goreng, dan tahu goreng yang dipotong dadu. Bali populer dengan “Rujak Bulung” terbuat dari rumput laut yang direbus dicampur dengan bumbu khas dan disiram dengan kuah pindang. Di Aceh ada “Rujak U groeh” dibuat dari batok kelapa sebagai bahan utama dan dicampur dengan bumbu yang terbuat dari gula merah, cabai, tepung roti, dan perasan jeruk nipis. Di Jawa Barat sendiri ada Rujak Ulek, Rujak Bebek, dan Rujak Cuka. Seger ya….

Dalam masyarakat Sunda dikenal sebuah konsep Tritangtu, yang meyakini bahwa dunia tempat kita tinggal ini terdiri dari tiga bagian; dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Dunia bawah merupakan dunia kegelapan tempat tinggal mahluk jahat yang lebih dikenal dengan alam neraka. Dunia tengah adalah dunia yang manusia, hewan, dan tumbuhan tempati. Sedangkan dunia atas merupakan tempat tinggal para dewa yang dikenal sebagai kahyangan. Konsep tritangtu inilah yang digunakan nenek moyang kita dalam meracik seporsi rujak.

Dunia bawah dalam rujak diwakili oleh jenis umbi-umbian seperti, bengkoang dan ubi. Dunia tengah diwakili oleh buah-buahan yang hidup di tanah tapi pohonnya tidak terlalu tinggi seperti buah nanas. Dunia atas diwakili oleh buah-buahan yang tumbuh di atas pohon seperti; mangga, jambu, atau kedondong. Rujak merupakan simbol dan wujud sebuah keseimbangan dunia.

Bicara soal rasa, dalam seporsi rujak ada rasa manis dan asam dalam buah serta rasa pedas dalam sambalnya. Ada yang mengatakan rujak ibarat kehidupan yang penuh dengan liku-liku, namun setiap manusia mendambakan manis kehidupan yang berarti bahagia. Rasa asam diibaratkan musibah atau penderitaan yang harus dilalui dengan bijaksana. Serta rasa pedas ibarat tantangan yang harus dihadapi manusia untuk menemukan kebahagiaan yang diidamkannya. Kombinasi ketiganya memberi warna dalam hidup kita yang sepatutnya kita nikmati.

Jika ingin memakan rujak, jangan lupa baca doa dulu ya… Semoga hidup kita selalu diberi keberkahan dan keseimbangan… Dan semoga dunia tempat kita tinggal ini kembali memulihkan dirinya dan berharmoni satu sama lain.


Salam,

Read more…

AES32 Desa Rasa Kota

Tiba-tiba teringat kampung halaman Bapak… Situraja, Sumedang…

Orangtuaku mulai pindah ke desa sekitar tahun 2005 silam, aku tidak ikut pindah karena kupikir hidup di desa pasti membosankan. Kedua adikku pindah sekolah disana, hanya aku yang tetap kuliah di Bandung.

Sejak SD aku sering main kesana, Kakek dan Nenek masih ada. Bermain di pematang sawah, mengambil petai, alpukat, dan makanan lainnya di kebun sudah biasa. Jalan kaki dari rumah yang jaraknya berkilo-kilo meter, sama sekali tidak terasa lelah. Mungkin dulu suasananya masih sangat asri, khas pedesaan. Sepanjang perjalanan melihat hamparan sawah, kalau bertemu orang lain saling menyapa.

Dirumah saja semua bahan makanan tersedia, di depan, disamping, maupun di belakang rumah ada kebun, peternakan kecil, serta kolam ikan. Ada pohon rambutan, durian, nangka, mangga, ceremai, cecenet (ga tau nih bahasa Indonesianya apa), sawo, dan alpukat. Juga ada pohon singkong, tomat, cabai, kangkung, dan bayam. Kolam ikan tentu penuh, ada ikan mas bahkan ikan mujair dan lele juga tersedia. Hewan ternak, ayam, domba, kelinci, dan bebek. Ketahanan pangannya luar biasa ya… Bahkan kalau kami bingung mau makan apa, daun dan bunga pohon nangka pun bisa diolah menjadi makanan.

Setiap pagi kami menghangatkan badan duduk di depan perapian, orang desa bilang namanya "siduru" sambil menikmati surabi dan tahu Sumedang yang krenyess. Kakek hobinya melinting tembakau, dan Nenek pasti setiap hari tak pernah absen membuat 'leupeut'.

Namun, terakhir aku berkunjung kesana tahun 2016 lalu, semua sudah tak lagi sama. Desaku sudah ingin jadi kota. Di depan rumah, jalan sudah dirapikan. Tak ada lagi delman, sudah sangat jarang pejalan kaki, sekarang ojek jadi transportasi utama. Apalagi yang keluarganya tinggal di kota, ketika pulang ke Sumedang mereka pasti membawa mobilnya. Keluarga disana masih berpandangan bahwa sukses itu ketika anak-anak mereka bekerja di kota.

Jalan menuju sawah sudah bukan lagi tanah, dan sudah bisa dilalui mobil. Sawah pinggir jalan sudah jadi rumah. Kalau siang sudah sama panasnya dan berdebu seperti Jakarta. Kolam ikan sudah mengering, sebagian sawah dan kebun juga sudah dijual.

Sekarang entah sudah bagaimana bentuk rupa rumah disana, semua sudah tak ada. Aku malah enggan pulang ke desa. Karena desaku sudah rasa kota.

Mungkin suatu saat nanti, aku akan rindu desaku lagi… Yang benar-benar desa… Jangan ingin jadi kota…


Salam,

Read more…

AES31 Rambut Putih Pertamaku

Bulan depan, 7 tahun kesekian hidupku. Begitu banyak perubahan yang signifikan terjadi, namun kali ini aku sudah lebih siap menerimanya. Kerutan di wajah sudah mulai terlihat, lemak tubuh di beberapa bagian, belum lagi ukuran baju yang berubah dari S jadi L, termasuk rambut putih pertama. Ya… Aku menerima kalau diriku sudah tak lagi muda…

Teringat beberapa tahun kebelakang, ketika perubahan menghampiri dan aku menolaknya. Alhasil… Depresi…

Bukan hanya beberapa tahun kebelakang, seumur hidup aku belum pernah bisa menerima diri. Masih selalu menyalahkan, mengapa begini dan mengapa begitu. Menyalahkan siapapun, orangtua, bahkan Tuhan juga pernah ku salahkan atas hidupku. Tetapi, dari hati terdalam aku sangat menyalahkan diriku sendiri.

Pernah ada niat mengakhiri hidup? Jangan ditanya!! Tapi itu waktu masih muda, masih dalam masa pencarian.

Semesta berkata lain, mungkin ia ingin aku tetap hidup untuk mencari apa yang sebetulnya kucari. Minimal ketika akhir nanti, aku menerima diri ini dengan segala buruk dan baiknya, dan tanpa penyesalan. Semesta ingin aku berakhir dalam bahagia.

Aku selalu memandang diri ini negatif, karena ingatan itulah yang tertanam dalam benak ketika semua orang terdekatku mengatakan hal buruk tentangku. Bertahun-tahun aku hidup dalam ke-AKU-an yang tinggi, hanya ada AKU, hidup untuk AKU, oleh AKU. Hal ini membuat hubungan sosialku buruk, karena aku selalu menganggap tidak ada tulus untukku.

Sampai di satu titik, ketika aku sangat ingin menyerah. Tuhan memberiku pasangan, semesta memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan sosial dan menurunkan sedikit ke-AKU-an dalam diri. Aku jadi punya sudut pandang lain dalam melihat dunia. Setahun kemudian, Tuhan memberi karunia anak pertama. Dari sinilah semua dimulai, Postpartum Depression yang menghampiri menjadi titik balik kehidupan ini.

Masih hangat dalam ingatan, Teh Aisyah menjelaskan tentang “Valley of Despair”. Aku shock ketika hidupku berubah 180° setelah memiliki anak, selalu berusaha menolak diriku, frustasi karena tak bisa lari kemanapun. Hingga pada akhirnya aku sampai pada titik depresi, aku mulai mencari pertolongan. Beberapa kali konsultasi ke Psikolog, hati kecilku berbisik, “Segala jawaban obatnya ada dalam dirimu sendiri.

9216128878?profile=RESIZE_710x

Sejak itu aku mengakhiri sesi konsultasi, dan mencari webinar atau seminar Self healing. Meditasi, olah nafas, transfer energi sangat membantu pemulihan diri. Selama proses pemulihan, hanya satu kunci untuk benar-benar pulih, mencari kedalam diri, dan menerima segala situasi dan kondisi diri. Self acceptance

Seseorang pernah berkata, “Ketika kau terluka sangat dalam, dan berhasil menyembuhkannya, kelak kau akan menjadi manusia yang kuat.” 

Setelah ‘menerima’ diri, aku merasa jauh lebih baik dan lebih siap menghadapi dunia.

Jadi, sebetulnya rambut putih pertamaku ini menandakan diri yang sudah jauh lebih matang. (menolak tua) Aku menyimpan rambut putih pertamaku ini dalam buku harian, sebagai pengingat, doa, dan harapan. Semoga diri ini menjadi jauh lebih bijak dan lebih bajik.


Salam, 

Read more…

AES30 Tentang Waktu [Refleksi]

Ini cerita tentang kelompok Rosella… Ini cerita tentang refleksi…

Dalam rangka mempersiapkan finalisasi maket Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro, kelompok Rosella akan mempresentasikan maketnya tersebut bertepatan dengan Temu Kakak. Saat itu ada satu anak yang tidak dapat bergabung di Temu Kakak karena tantangan tidak selesai. Sebagai fasilitator, Kakak kemudian mengonfirmasi bagaimana perasaan anak-anak yang lolos dan yang belum lolos saat itu. Kelas daring pun ramai dengan tanggapan tentang perasaan anak-anak. Beberapa diantaranya mengatakan;

Kalo ketemu kan bisa taun depan lagi, tapi kalo proses ga bisa diulang.”

Kalo ke sekolah ada waktunya lagi bisa ke sekolah, kalo proses, nanti udah gede kita ga bisa apa-apa, pas ditanya-tanya ga tau.”

Kalo proses udah ketinggalan kita ga bisa ulang lagi.

Kalo ga lolos bisa belajar dari kesalahan.

Yang lolos itu belajar, kalo mau sesuatu kita harus berusaha dulu.

Itu adalah beberapa ungkapan dari anak-anak yang lolos untuk Temu Kakak dan mempresentasikan karya maket PLTMH-nya. Kemudian bagaimana tanggapan anak yang belum lolos karena tantangannya tidak selesai?

Perasaan, gara-gara aku juga yang ga lolos, harus nerima konsekuensinya.” Ungkap anak yang tidak lolos tersebut. Dengan besar hati dia mengatakan itu di depan Kakak dan teman-temannya.

Kemudian Kakak mengonfirmasi dan membesarkan hati anak-anak dengan mengingatkan yang paling penting adalah prosesnya daripada hasilnya. Dan diakhir semester anak ini menunjukkan perubahan yang sangat signifikan terkait komitmen menyelesaikan tantangan, maket Rumah Ramah Lingkungan dia buat dengan sangat baik dan selesai tepat waktu. Anak ini menyedari kesalahan di waktu lalu, dan memperbaikinya.

Saya tertegun dan takjub, bagaimana mereka bisa mengungkapkan gagasan dan perasaan itu, saya pikir hanya orang dewasa saja… Tapi kata-kata itu muncul dari anak kelas 4 SD...

Mereka sadar dan paham bahwa waktu tidak bisa diulang… Mereka sadar dan paham bahwa proses itu harus dinikmati untuk dijalani… Mereka sadar dan paham apa manfaatnya untuk mereka kelak…

Bagaimana dengan kita? Manusia dewasa…

Sudahkah kita menyadari dan memahami arti setiap detik, menit, jam, hidup kita? 

Sudahkah kita memberi arti padanya?

Karena kita tahu, waktu takkan pernah kembali pada kita...

 

Salam,

Read more…

AES29 Daya Adaptasi dan Daya Telisik

Akhir-akhir ini menonton berita malah membuat saya pusing ga karuan, terlalu banyak informasi tapi entah mana yang paling penting... Beberapa hal yang sudah direncanakan seperti; bersepeda, jalan pagi dan sore bersama anak-anak, terpaksa ditunda... Penderita positif covid sudah mulai dekat dengan keluarga, di satu RT saja sudah ada yang menjalani isoman.

Tapi heran, masih saja ada yang ‘ngeyel’… Anak-anak muda apalagi bapak-bapak asik nongkrong sambil merokok, tidak pakai masker, apalagi jaga jarak, bahkan ada yang positif masih motor-motoran. (denger dari ibu-ibu yang ngegosip pagi-pagi sambil beli sayur di depan rumah). Ditambah perangkat RT, RW di wilayah saya yang kurang sigap dalam penanganan covid. 

Tidak heran disaat pandemi ini, mental health issue menjadi naik ke permukaan. Dengan tingkat insecure dan anxiety yang tinggi, rencana yang sudah disusun rapi tiba-tiba diluluhlantakkan oleh pandemi.

Beberapa waktu lalu saat mendapat kesempatan menganalisa rapor holistik Smipa, saya baru tahu tentang "daya adaptasi" dan “daya telisik”, ini baru muncul di rapor SMP. Ternyata kemampuan ini menjadi penting untuk kita bertahan disaat pandemi seperti ini, alih-alih kita jadi stress dengan segala perubahan, orang yang memiliki daya adaptasi dan daya telisik memadai akan mampu bertahan dalam segala kondisi dan situasi. 

Orang dengan daya adaptasi, daya telisik jika ditambah lagi daya cerap, daya olah pikir, dan proses kreatif yang sudah terlatih, saya yakin akan mampu bertahan bahkan menelisik setiap kesempatan untuk mencari jalan keluar dari situasi yang mungkin tidak ditemukan jalan keluarnya. Yang paling penting, manusia yang berkesadaran.

Apa yang kita pikirkan, jika berlebihan akan menjadi penyebab dari segala macam penyakit badani. Kalau sudah penyakitan ya makin stress lah…

Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah "menerima diri" itu konsep yang paling utama dalam membantu menyembuhkan kesehatan mental.

Selalu teringat dengan momen diskusi saya, rekan-rekan magang bersama Kak Andy tentang dimensi dalam dan dimensi luar. Jika ingin mencari kebahagiaan sepatutnya kita lebih melihat ke sisi dalam, bukan ke luar… Kalau sudah bisa melakukan itu, se-chaos apapun dunia diluar, tapi ajeg di dalam, kita bisa bertahan untuk tetap 'waras' apalagi jika ada tambahan-tambahan yang saya sebutkan diatas, kita bahkan bisa melalui situasi ini.

Kalau boleh saya berasumsi, keluarga besar Semi Palar pasti akan tetap ajeg dan waras menghadapi situasi yang serba tak pasti ini… Tim lingkung, Kakak, anak-anak, orangtua, bahkan tim mujaer pasti akan mampu bertahan.

aamiin.

 

sabbe satta bhavantu sukhitatta… sadhu sadhu sadhu…

semoga makhluk hidup berbahagia…



Salam,

Read more…

AES28 Ambil Seperlunya

Siang ini nonton Spongebob SquarePants, seperti biasa tokoh Spongebob dihadirkan selalu ceria, sederhana dan apa adanya. Suatu hari dia melakukan terobosan dengan membuatkan saus mustard untuk isian krabby patty yang disesuaikan dengan keinginan pembeli di Krusty Krab. Spongebob membuatkan bentuk dinosaurus, perahu layar, juga dia membuatkan seorang pendamping bagi pelanggan yang memintanya hanya dengan saus mustard tersebut.

Ketika saus mustard nya habis, dia mencari di tempat penyimpanan yang ternyata stoknya sudah habis. Mr. Krabs meminta Spongebob, Patrick, dan Squidward untuk menggali mustard di sebuah pertambangan. Mereka pergi ke tambang yang dimaksud. 

Sampailah mereka bertiga di dasar tambang tersebut. Spongebob mulai memalu dinding tambang dan menemukan emas, sedangkan Patrick menemukan berlian. Tapi, mereka tahu bukan itu tujuannya ke tambang, mereka pun meninggalkan tumpukan emas dan berlian di tempatnya. 

Squidward yang mengetahui hal tersebut, dengan antusias mulai memalu dinding tambang seperti yang dilakukan Spongebob dan Patrick. Namun, yang Squidward dapatkan justru mustard yang keluar dari dinding pertambangan. 

Dengan hati gembira, Spongebob dan Patrick menampung mustard, membawanya kembali ke Krusty Krab, dan meninggalkan tumpukan emas dan berlian di pertambangan. Tentu saja, Squidward sangat kesal karena dia tidak membawa emas dan berliannya.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu menjadi Spongebob, Patrick, atau Squidward? Kalau saya, selain membawa mustard, juga akan membawa emas dan berliannya. Dan sepertinya, kebanyakan orang akan melakukan hal yang sama dengan saya.

Akan tetapi, Spongebob dan Patrick tidak melakukannya lho!!! 

Saya pikir mereka itu polos dan sederhana, ambil seperlunya sesuai porsi yang dibutuhkan. Mereka tidak tamak seperti manusia kebanyakan.

Andai semua manusia di muka bumi seperti Spongebob dan Patrick… Ambil seperlunya dari bumi, dan biarkan sumber alam yang lain tetap pada tempatnya. Saya yakin bumi ini tidak akan rusak seperti sekarang.

Bumi rusak karena keserakahan manusia, yang berlomba-lomba memperkaya diri dan mengenyangkan perut sendiri tanpa peduli ada manusia lain yang menderita karena ulahnya. Eksploitasi sumber daya alam, korupsi, contoh-contoh keserakahan manusia. 

Apa ya, yang sekiranya bisa memutus rantai keserakahan ini?

Dunia butuh satu generasi yang berani memutus rantai ini… Bumi butuh satu generasi yang peduli menjaga dan melestarikannya.

Semoga Pendidikan Holistik dapat menjawabnya…

Semoga Rumah Belajar Semi Palar dapat menghasilkan generasi yang akan memutus rantai pengrusakan bumi, yang menyadarkan manusia lain tentang konsep ambil seperlunya sesuai porsi yang dibutuhkan.



Salam,

Read more…

AES27 Tentang Waktu [Pilihan]

Apa yang akan kau lakukan ketika waktu terhenti pada detik ini?

 

Ketika kau sedang menikmati makan malam… 

Ketika kau sedang bercengkrama dengan keluarga… 

Ketika kau sedang menonton film drama Korea favorit… 

Ketika kau membaca buku kesayangan… 

Ketika kau sedang buang air kecil atau besar… 

Mungkin, ketika kau sedang asik menulis atomic essay… 

Ataupun ketika kau sedang khusyuk berbicara dari hati ke hati dengan Tuhan…

 

Hitung berapa jutaan bahkan milyar detik sudah kau lalui… 

Bermakna? Sia-sia? Atau hanya berlalu begitu saja?

 

Kau tahu betul bahwa hidup ini hanya sementara…

Kau bertanya kemana kau pergi berikutnya…

 

Waktu kau, waktu aku, waktu kita, apa bisa diatur seenaknya?

 

Apa kau percaya dengan mesin waktu?

 

Bagaimana dengan reinkarnasi?

 

Waktu… Antara ruang atau dimensi… Ada atau tiada...

 

Kau bisa memilih satu diantaranya…

 

Membiarkannya berlalu, atau memberinya makna.

 

Hanya kau yang tahu jawabnya...



Sambil merenungi waktu yang telah berlalu, mungkin alunan musik dan merdu suara Ken Hirai bisa menenangkan malam…

 

“Both happy and sad things

The clock knew all

Now the clock will run no more”

( Ken Hirai - Ookina Furudokei )

 

Semoga kita selalu memberi makna pada setiap detik waktu yang ada, sebelum waktu berhenti selamanya...

 

Salam,

Read more…

AES26 Teruntuk Kalian yang Istimewa

Libur telah tiba… Libur telah tiba… Hore… Hore… Hore…

Tiba waktunya juga saya dan empat rekan lain yang sedang berproses magang di Semi Palar untuk jeda, dengan pembekalan siang tadi.

Selama berproses, dari bingung jadi ‘nyaho’ tapi baru sedikit nyaho. Kami masih jauh di permukaan luar dari Pendidikan Holistik, mencari jalan bahkan lubang untuk kami masuk ke dalam intinya. Mungkin akan ada moment yang tepat disaat lubang atau jalan terbuka. Alih-alih menunggu semua jalan terbuka, saya memanfaatkan setiap momennya. Walaupun lubangnya sekecil tusukan jarum jahit yang paling kecil, saya harus masuk. Berlari… Berjalan… Dan mungkin merangkak…

Kurang lebih tiga bulan berproses, dimulai pertemuan awal di pendopo membahas tentang Pendidikan Holistik, pembekalan online dengan bermacam topik, diskusi daring atau sekedar ngobrol di kolom chat whatsapp, hingga merasakan konsep Pendidikan Holistik dalam proses pembelajaran. Perencanaan, proses fasilitasi, hingga analisis rapor holistik Smipa.

Saya sangat beruntung karena menikmati prosesnya dengan utuh, hingga saya menemukan kembali titik awal prosesnya. Bukan berjalan mundur ke titik awal, melainkan perjalanan saya menemukan kembali titik awal. Dari Pendidikan Holistik kembali ke Pendidikan Holistik.

Saya membagikan penemuan ini kepada rekan lain dalam pembekalan siang tadi, menceritakan apa yang saya temukan di sepanjang perjalanan. Harapan saya hanya satu, menggenapi proses pencarian empat rekan saya yang lain, seperti juga mereka menggenapi proses perjalanan saya.

Sebagai bahan refleksi bersama, saya menuliskan pesan di kolom chat whatsapp;

saya percaya masing2 dr kita pasti akan menemukan titik kembali... 

saya udh duluan, dan bentuknya lingkaran... 

mungkin punya teman2 bentuknya lain dr punya saya... 

mungkin bentuknya kak muti poligon...

mungkin bentuknya kak ika segiempat...

mungkin bentuknya kak pungky layang-layang...

mungkin bentuknya kak gina segitiga...

semoga apa yg saya sampaikan, bs menggenapi bentuknya temen2 semua, seperti kalian juga yg sudah menggenapi saya...

kita sama2 mulai dari titik yg sama, hanya saja perlengkapan yg kita bawa berbeda2... kita ga sendirian, mari saling menggenapi untuk menemukan bintang dan bentuk kita sendiri... 

😘😘😘😘😘😘😘😘😘

saya sgt bersyukur bertemu dng kalian... ini jawaban semesta utk menggenapi hidup saya... 

I love you, all..

saranghae... 

❤️❤️❤️❤️❤️

 

Belajar itu memang lebih enak sendirian, bisa sambil ngemil, sambil dengerin musik yang kita suka. Tapi lebih baik jika belajar sama-sama. Kita bisa saling mengkritisi, menggenapi, melengkapi seperti kita memadukan lima jari tangan kiri dan lima jari tangan kanan dengan pas.

Entah kenapa, setiap prosesnya saya rasakan menggenapi lubang-lubang dalam diri saya.

Yah, kelihatannya aja kaleum, tenang. Padahal saya sama bimbang, cemas, nanti gimana, bisa ga ya, dan pikiran negatif lainnya. Tapi, saya paham betul itu hanya akan jadi penghambat potensi dalam diri saya.

Kesadaran dan pemaknaan proses belajar dan mencari harus datang dari diri sendiri. Yang saya bisa lakukan hanyalah meminjamkan korek api yang saya miliki untuk memantik kobaran api semangat dalam diri kalian, teman… Kalian harus mengobarkan api semangat kalian sendiri… Tapi, ingat!! Kalian tidak sendiri…

 

Tulisan ini dipersembahkan untuk empat rekan saya, Kak Muti, Kak Ika, Kak Pungky, dan Kak Gina… Kalian istimewa!!!



Salam,

Read more…

"Awal adalah akhir, akhir adalah awal" kalimat yang mengawali video Musik Sore 2021 Rumah Belajar Semi Palar yang digelar secara virtual.

Menurut saya, Musik Sore yang disuguhkan penuh dengan kesederhanaan yang memunculkan kekhasan anak-anak. Bisa dikatakan sebagai ruang belajar yang holistik, ruang aktualisasi diri.

Saya pikir, sebetulnya bisa lebih oke lagi jika anak, guru, orangtua mengonsep sedemikian rupa menjadi seperti pagelaran sungguhan, entah menggunakan kostum atau dekorasi, dan lainnya. Tapi setelah dilihat kedua kalinya, konsepnya lebih otentik khas anak-anak, tidak dibuat-buat, mengalir apa adanya. 

Kenapa holistik? Karena didalam prosesnya, ada keterlibatan, kolaborasi, aktualisasi diri, ada proses kreatif dalam berkarya, ada pelibatan, ada kepercayaan, ada ide dan gagasan, respek, dan lainnya.

Di awal video, diperlihatkan keterlibatan orangtua dalam membuat karya bersama anak. Seperti Tara dan Yasha yang memunculkan khas anak-anak, kelompok Miana yang melibatkan anggota keluarga dalam mendukung penampilan salah satu anak. Juga yang tak kalah menarik adalah keterlibatan Kakak, seperti pada penampilan Jed dan Mikel bersama Kak Dita.

Musik Sore juga sebagai ruang aktualisasi diri, memperlihatkan potensi mereka dalam bermain alat musik. Seperti Bellva dengan piano klasiknya, Jed dan Mikel, jago bermain piano dan drum. Beberapa juga sangat piawai memainkan gitar di usia belia, saya sangat terpukau.

Hasilnya bagus, tapi yang paling keren dan paling penting adalah proses dibaliknya.

Walaupun ini kali pertama saya menyaksikan Musik Sore, saya bersyukur mendapat kesempatan terlibat dalam proses diskusi di kelompok Rosella di tengah waktu magang. Kakak memfasilitasi diskusi, anak-anak terlibat aktif memberikan ide dan gagasan sebagai cerminan daya imajinasi mereka.

Proses yang lebih sulit adalah menentukan ide yang mana yang akan diambil dan direalisasikan dari sekian banyak ide, hanya akan diputuskan satu diantara banyaknya ide. Disini dibutuhkan sikap menerima dan legowo, dan ternyata anak usia 9-10 tahunan bisa melakukannya.

Selain itu, ada kepercayaan dalam memberikan dan menjalankan peran, misal anak-anak menentukan siapa yang akan menjadi editor. Bagaimana teman-teman satu kelompok menaruh rasa percaya kepada editor untuk membuatkan ide mereka menjadi sebuah karya yang utuh.

Disini juga ada refleksi, ketika karya selesai, diperlihatkan kepada teman-teman satu kelompok dan diberi apresiasi. Kalau sudah bagus syukur, kalau teman-teman lain merasa kurang puas, ya editor harus mau diberi saran dan memperbaikinya.

5 aspek bintang Smipa tersurat dalam prosesnya.

Belum lagi jika kita bicara pemanfaatan media digital, hasil editan anak-anak super keren, saya mana bisa membuat seperti mereka buat. (@_@)

Menurut saya, ini suatu hal yang luar biasa… Tentu saja tentang pesan yang disampaikan dalam beberapa video, tentang pentingnya menjaga bumi. Ciri khas holistik...

Selamat ya, untuk tim pelaksana, dan tentu saja para penampil di Musik Sore 2021, kalian keren!!!

"Awal adalah akhir, akhir adalah awal"

Begitulah siklus kehidupan pembelajar yang akan terus berulang.

 

Salam,

Read more…

AES#24 Genmaicha Tea

Selamat malam, kali ini saya mau membahas jenis teh terakhir, genmaicha tea.

Dari penampakannya saya sendiri baru melihat jenis teh genmaicha ini, selain daun teh kering ada bentuk seperti beras tapi menyerupai popcorn dalam ukuran mini. Menurut saya rasanya yang paling enak dari empat jenis teh yang saya bahas sebelumnya. Teh genmaicha ini terasa lebih creamy, rasanya cukup unik.

Saya mencari referensi tentang teh jenis ini, ternyata dalam genmaicha mengandung beras merah panggang khas Jepang. Karena perpaduan inilah, rasanya agak sedikit pedas (jadi bukan creamy seperti perkiraan saya ya…) dengan kandungan kafein yang lebih sedikit dari jenis teh hijau. Kabar gembira bagi kalian yang punya alergi, teh genmaicha ini gluten-free dan sugar-free. Sehat banget ya!!!

Genmaicha ini sendiri terdiri dari kata genmai (beras merah) dan ocha (teh) dalam bahasa Jepang. Teh yang digunakan adalah jenis Sencha (salah satu jenis teh hijau yang banyak dibudidayakan di Jepang). Menurut orang Jepang, beras merah yang dipanggang lebih baik daripada yang ditumbuk, karena memberikan aroma dan rasa yang khas, yaitu ‘pedas’. Genmaicha hanya memiliki kandungan kafein 1/30 dari kopi.

Adapun nutrisi yang terkandung dalam genmaicha; Catechin, Theanine, Vitamin C, Vitamin B-complex, Vitamin E, dan Gamma-oryzanol. Yang memiliki manfaat sebagai berikut; 

  1. Teh genmaicha yang mengandung teh hijau bisa menjadi pengobatan untuk gangguan kulit seperti psoriasis dan ketombe.
  2. Katekin yang terkandung dalam genmaicha dapat menyerap kelebihan lemak dan gula pada tubuh.
  3. Vitamin, mineral, maupun serat makanan yang terkandung dalam genmaicha dapat mencegah sembelit dan meningkatkan kesehatan usus.
  4. Mengonsumsi genmaicha secara teratur dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh, lebih banyak kalori yang dikonsumsi, lebih banyak lemak tubuh yang terbakar.
  5. GABA (γ‐aminobutyric acid) dapat menurunkan kadar kolesterol, dan Gamma-oryzanol memberi efek mengurangi resiko diabetes dan obesitas. Selain itu dapat memberikan efek rileks, mengurangi rasa cemas dan frustasi.
  6. Katekin berfungsi sebagai anti bakteri yang dapat membantu mencegah masuk angin, racun makanan, maupun bau mulut.
  7. Vitamin B-complex membantu memulihkan tubuh dari rasa lelah.
  8. Kaya vitamin yang dapat mencegah penuaan dini, bintik di wajah, keriput, dan kulit kendur dan memproduksi kolagen dalam tubuh.

Waktu untuk meminum genmaicha akan berpengaruh pada fungsinya. Bila diminum sebelum makan untuk menurunkan kadar glukosa didalam darah. Jika diminum bersamaan dengan jam makan, dapat membantu menurunkan kolesterol dan membakar lemak tubuh. Diminum hangat sangat direkomendasikan setelah makan untuk memperlancar pencernaan.

Teh genmaicha cocok diseduh dengan air mendidih, diamkan selama 2-3 menit. Namun, ada beberapa yang berpendapat genmaicha lebih tepat diseduh dengan air hangat untuk mendapatkan rasa yang pas. Ya… ini sih tergantung selera...

Yang pasti dan jelas, teh genmaicha,, tepat dinikmati sore ini sambil nonton Musik Sore Smipa… Ashooyyy!!!


Salam,

Read more…

AES#23 Green Tea

Teh hijau disebut-sebut sebagai salah satu minuman paling sehat karena mengandung antioksidan yang tinggi. Namun, diantara empat jenis teh yang saya coba, teh hijau ini yang paling pahit rasanya. Meski sudah ditambah gula, rasa pahitnya masih terasa di lidah. O iya, menurut saya kurang cocok ditambah madu.

Dibalik rasanya yang pahit, teh hijau menyimpan banyak manfaat untuk kesehatan tubuh:

  1. Polifenol yang terkandung dalam teh hijau termasuk katekin yang berfungsi sebagai antioksidan yang berguna untuk tubuh.
  2. Teh hijau mengandung lebih sedikit kafein daripada kopi. Walaupun begitu, kandungan L-theanine yang sama fungsinya dengan kafein untuk meningkatkan fungsi otak.
  3. Teh hijau dapat meningkatkan metabolisme tubuh dan meningkatkan pembakaran lemak.
  4. Senyawa bioaktif dalam teh hijau dapat memiliki berbagai efek perlindungan pada otak, salah satunya mengurangi risiko demensia pada orang dewasa yang lebih tua.
  5. Katekin dalam teh hijau dapat menghambat pertumbuhan bakteri di mulut, mengurangi risiko bau mulut.
  6. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa teh hijau dapat menyebabkan penurunan kadar gula darah, yang dapat menurunkan risiko diabetes.
  7. Teh hijau dapat menurunkan kolesterol.
  8. Teh hijau sangat efektif untuk mengurangi lemak perut yang berbahaya untuk tubuh, hal ini baik juga untuk menurunkan berat badan.

Teh hijau ini banyak dikonsumsi oleh orang Jepang, yang kita tahu mereka memiliki hidup yang panjang. Saya membaca referensi tentang satu penelitian, peneliti mempelajari 40.530 orang dewasa Jepang selama 11 tahun. Mereka yang minum teh hijau paling banyak 5 cangkir atau lebih per hari, secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal selama masa studi. Dengan daftar kematian sebagai berikut:

  • Kematian karena semua penyebab: 23% lebih rendah pada wanita, 12% lebih rendah pada pria.
  • Kematian akibat penyakit jantung: 31% lebih rendah pada wanita, 22% lebih rendah pada pria.
  • Kematian akibat stroke: 42% lebih rendah pada wanita, 35% lebih rendah pada pria.

Penelitian lain yang melibatkan 14.001 orang tua Jepang menemukan bahwa mereka yang minum teh hijau paling banyak 76% lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal selama masa studi 6 tahun.

Masuk akal ya jika melihat kandungan yang ada pada teh hijau, salah satunya polifenol sebagai antioksidan yang berguna bagi kesehatan tubuh, mengurangi resiko penyakit jantung, kanker, maupun stroke.

Menulis sambil menyeruput segelas teh hijau yang terasa sedikit pahit, seperti perasaanku hari ini yang entah kenapa sangat mellow dari pagi hingga petang ini… Berharap malam turun hujan deras… Aku ingin menenggelamkan diriku dalam tidur yang sangat dalam…


Salam,

 

Sumber: www.healthline.com 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa