dayaadaptasi (1)

AES29 Daya Adaptasi dan Daya Telisik

Akhir-akhir ini menonton berita malah membuat saya pusing ga karuan, terlalu banyak informasi tapi entah mana yang paling penting... Beberapa hal yang sudah direncanakan seperti; bersepeda, jalan pagi dan sore bersama anak-anak, terpaksa ditunda... Penderita positif covid sudah mulai dekat dengan keluarga, di satu RT saja sudah ada yang menjalani isoman.

Tapi heran, masih saja ada yang ‘ngeyel’… Anak-anak muda apalagi bapak-bapak asik nongkrong sambil merokok, tidak pakai masker, apalagi jaga jarak, bahkan ada yang positif masih motor-motoran. (denger dari ibu-ibu yang ngegosip pagi-pagi sambil beli sayur di depan rumah). Ditambah perangkat RT, RW di wilayah saya yang kurang sigap dalam penanganan covid. 

Tidak heran disaat pandemi ini, mental health issue menjadi naik ke permukaan. Dengan tingkat insecure dan anxiety yang tinggi, rencana yang sudah disusun rapi tiba-tiba diluluhlantakkan oleh pandemi.

Beberapa waktu lalu saat mendapat kesempatan menganalisa rapor holistik Smipa, saya baru tahu tentang "daya adaptasi" dan “daya telisik”, ini baru muncul di rapor SMP. Ternyata kemampuan ini menjadi penting untuk kita bertahan disaat pandemi seperti ini, alih-alih kita jadi stress dengan segala perubahan, orang yang memiliki daya adaptasi dan daya telisik memadai akan mampu bertahan dalam segala kondisi dan situasi. 

Orang dengan daya adaptasi, daya telisik jika ditambah lagi daya cerap, daya olah pikir, dan proses kreatif yang sudah terlatih, saya yakin akan mampu bertahan bahkan menelisik setiap kesempatan untuk mencari jalan keluar dari situasi yang mungkin tidak ditemukan jalan keluarnya. Yang paling penting, manusia yang berkesadaran.

Apa yang kita pikirkan, jika berlebihan akan menjadi penyebab dari segala macam penyakit badani. Kalau sudah penyakitan ya makin stress lah…

Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah "menerima diri" itu konsep yang paling utama dalam membantu menyembuhkan kesehatan mental.

Selalu teringat dengan momen diskusi saya, rekan-rekan magang bersama Kak Andy tentang dimensi dalam dan dimensi luar. Jika ingin mencari kebahagiaan sepatutnya kita lebih melihat ke sisi dalam, bukan ke luar… Kalau sudah bisa melakukan itu, se-chaos apapun dunia diluar, tapi ajeg di dalam, kita bisa bertahan untuk tetap 'waras' apalagi jika ada tambahan-tambahan yang saya sebutkan diatas, kita bahkan bisa melalui situasi ini.

Kalau boleh saya berasumsi, keluarga besar Semi Palar pasti akan tetap ajeg dan waras menghadapi situasi yang serba tak pasti ini… Tim lingkung, Kakak, anak-anak, orangtua, bahkan tim mujaer pasti akan mampu bertahan.

aamiin.

 

sabbe satta bhavantu sukhitatta… sadhu sadhu sadhu…

semoga makhluk hidup berbahagia…



Salam,

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa