covid-19 (4)

AES #29 Faith, Doubt & Virus

Ini mungkin akan menjadi tulisan saya akan akan melahirkan caci maki atau malah dikutuk! hehehe.. tapi ya sudahlah, toh ada yang namanya hak bebas berpendapat dan saya berjanji akan berusaha tidak menyinggung perasaan siapapun. Jika merasa tersinggung, mohon saya dimaafkan, Ini hanya sekedar concerns yang saya ungkapkan. Here you go!

 

Akhirnya, sesudah lebih dari 1 tahun, saya memberanikan diri untuk kembali ke gereja. Saya tidak ingat sudah berapa lama, mungkin terakhir pada saat Natal sebelum Pandemi. Jadi anggap saja, akhir tahun 2019.

Kerinduan untuk duduk dengan khusuk mengikuti ritual keagamaan memang berbeda dengan bentuk kerinduan yang lain. Saya memilih tempat ibadah yang agak konservatif, dimana masih terlihat banyak wanita yang berdoa yang menggunakan kain kerudung putih berenda di atas kepalanya. Ini memang gereja Katolik konservatif yang lumayan vokal dalam menentang gelombang sekularisme dan praktik-praktik yang bertentangan dengan kepercayaan yang juga sangat kuat di Amerika, seperti misalnya LGBTQ,  family plan dan abortion!

Anyway, bukan ini tujuan saya cerita. Tapi ada hal lain yang buat saya agak agak terganggu, terutama ada kaitannya dengan masalah keselamatan dan kesehatan sehubungan dengan Covid 19.

Saat masuk gereja saya memperhatikan hampir semua orang menjaga jarak walau tidak ada yang memakai masker. Sekarang di kota saya tinggal memang penggunaan masker sudah menjadi optional dan tidak diwajibkan lagi, jadi saya tidak protes masalah ini. Sebelum komuni, 2 orang petugas maju ke muka altar dan membasuh tangan dengan disinfektan. Saya merasa lebih aman, nyaman dan memutuskan untuk menyambut komuni.

Komuni di sini umat boleh memilih dengan menerimanya di tangan atau hanya membuka mulut tanpa memegang hosti. Saya lebih suka dengan menyambut di tangan, lalu saya tercengang ketika hampir semua umat memilih minum anggur dan petugas hanya membersihkan piala dengan kain putih!! Saya memilih untuk melewatkan anggur. Nah di sini saya mulai ragu-ragu!

Setelah saya komuni, saya menghadapi semacam konflik dalam diri! Apakah iman saya lemah? Ataukah para umat itu ignorant atau malah, maaf, bodoh? buat apa cuci tangan dengan disinfektan kalo kemudian semua orang berbagi germs dengan minum dari piala yang sama? konflik ini terus bergelut dalam batinku sepagian. Saya yakin bagi mereka yang menerima anggur yang sesuai dengan kepercayaan orang Katolik telah tertransformasi menjadi darah yang sacred and Holy. Otomatis kalau sakral dan kudus maka tidak akan menyebabkan penyakit. Tapi saya punya argumen lain, anggur itu sudah menjadi sakral tapi pialanya tidak! hahahaha..

Maaf saya bukannya menghujat. I am not trying to commit some kind of basphemy! Serius! tidak ada niatan. Hanya mngungkapkan konflik bathin dalam diri saya yang sungguh membingungkan. Satu sisi saya ingin menjadi manusia yang beriman kuat, tapi di sisi lain saya juga sebagai orang yang percaya pada ilmu pengetahuan dan sains. Nah ini gimana jadinya?!

Orang berpendapat bahwa sains itu masih muda dibandingkan dengan konsep Agama. Tapi ini juga masih bisa didebat! Banyak kejadian dalam sejarah bahwa pertentangan antara agama dan sains berakhir menyedihkan. Seperti contohnya teori Heliosentris yang diungkapkan oleh Galileo yang kemudian berakhir dengan house arrest bagi Galileo yang kemudian dikucilkan hingga akhir hayatnya karena bertentangan dengan Kitab Suci. Banyak kasus lain yang berkahir dengan hukuman mati, seperti dipancung, dibakar dan sebagainya yang membuat ngeri! Ini fakta sejarah!

Saya memang mencari aman dengan melewatkan anggur demi keamanan dan kesehatan diri. Saya tidak mengenal sekitar 100 orang yang berdoa bersama saya pagi ini, jadi saya tidak tahu apakah mereka semua sudah divaksin, apakah mereka semua tidak membawa virus, dan sebagainya. Fakta berkata bahwa banyak kaum konservatif di Amerika, terutama mereka yang sangat religius menolak eksistensi covid 19 dan pandemik! Mereka banyak percaya itu adalah konspirasi! Nah sangat logis jika saya harus mempunyai sikap dan bertindak secara hati-hati ketika berada di tengah-tengah kelompok konservatif bukan?

Jika teori konspirasi itu tidak dipercayai oleh 100 orang yang berdoa tadi, kemudian mereka berani menerima anggur karena ketebalan iman mereka dan percaya telah anggur telah bertransformasi, lalu ada apa dengan saya? Saya sekali lagi jadi ragu, apakah iman saya begitu dangkal sehingga takut menerima anggur? apakah saya tidak mempercayai tranformasi anggur itu? Apakah saya tidak percaya pada ekaristi yang kudus? Apakah saya tidak percaya akan kehadiran Tuhan dalam sakramen ini? Dimana saya menempatkan diri antara konflik religiositas dan sains? sebab secara scientific saya yakin bahwa piala itu tidak germ-free! Ada virus di sana walau belum tentu Covid 19! Saya harus bagaimana?

Jawabannya, saya tidak tahu! Dan saya tidak bisa diam saja dengan konflik ini. maka jadilah coretan ini, sebab saya gundah gulana, saya dihadapkan pada pertanyaan esensial tentang keimanan. Dan walau sudah sekian lama bertualang mencari kebenaran, pada saat seperti ini saya masih ragu-ragu!

Hermann Hesse berkata," Faith and doubt go hand in hand, they are complementaries. One who never doubts will never truly believe!"

Mungkin itu benar adanya, tapi kapan saya bisa sampai ke level "believe"? karena kalau believe, I think I will never have this fear! atau saya salah?!***

Read more…

AES#23 Menjelajah Kemungkinan Baru

Hari ini muncul berita meledaknya kasus COVID di berbagai daerah - seperti yang diperkirakan, 2 minggu setelah libur lebaran dan segala kegiatan yang mengiringinya. Sebetulnya semua ini sudah diprediksi - karena pola-nya sudah terbaca di waktu-waktu sebelumnya. Yang terdekat adalah liburan akhir tahun – di mana kasus COVID selalu meningkat signifikan setelahnya.

Yang jadi pertanyaan adalah kapan ini akan berakhir? Karena sebelum sempat turun, waktu berjalan dan kemudian bertemu momen liburan dan kasus positif COVID naik lagi. Sudah setahun lebih pandemi berjalan, saya menduga dengan pola yang seperti ini, tahun depan sepertinya situasi belum akan banyak berubah. Baru saja vaksinasi berjalan dan baru menyentuh beberapa juta orang, sudah muncul kabar bahwa varian ke 3 dari COVID ini sudah masuk Indonesia – sementara varian ke 3 ini dikabarkan lebih sulit dideteksi dengan Rapid Test juga vaksinasi yang sekarang ada tidak terlalu efektif terhadap varian baru COVID19 ini…

Hmm, OK. Kita masih belum bisa memastikan apa yang akan terjadi ke depan. Bagi saya ketidak pastian ini membuka peluang bagi kita untuk melakukan sesuatu. Harus ada sesuatu yang baru yang kita coba – hal-hal yang bisa memberikan harapan di tengah ketidak-pastian yang ada. Selama ini kita semua cenderung lebih banyak menunggu pandemi berakhir untuk lalu bisa melanjutkan segala sesuatu yang terhenti. Selain survival, kita perlu mencoba revival…

Semakin ke sini, semakin panjang waktu berjalan saya semakin meyakini, ini peluang besar untuk membuat narasi baru. Sepertinya COVID menuntun kita ke sana. Kalau pandemi ini muncul dari ketidak seimbangan yang terjadi karena apa yang dilakukan oleh peradaban manusia. Saya berpendapat perlu pandangan2 baru, gagasan baru dan banyak sistem yang perlu dirancang kembali agar kehidupan kita bisa lebih baik ke depannya.

Yang paling penting diyakini, saat banyak hal tidak menentu, segala kemungkinan juga terbuka…  

 

 

 

Read more…

Teori 1 = 3

Di Quora pernah muncul pertanyaan: "Do you have a theory?" Jawaban para quorawan/quorawati kocak-kocak dan menyegarkan. Ada beberapa yang filosofis dan mendalam. Nah, saya juga punya sebuah teori kecil-kecilan yang ingin saya bagikan di sini.

*disclaimer: ini teori becandaan penambah semarak Ririungan, tidak untuk ditanggapi secara serius.

Nama teori saya adalah 1 = 3. Satu sama dengan Tiga.

Begini bunyi teorinya:

  • Banyak hal di kehidupan dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian: Bagian Satu, Bagian Dua, Bagian Tiga.
  • Bagian Satu selalu mirip dengan Bagian Tiga. Namun alasan eksistensial Bagian Satu dan Bagian Tiga berbeda.

Berikut ini beberapa contoh untuk menjelaskan sekaligus membuktikan teori tersebut.

Penampilan (pakaian, kendaraan, dsb).

  • Bagian Satu: orang-orang yang belum sukses tidak peduli penampilan. Mereka tidak mampu membiayai penampilan.
  • Bagian Dua: orang-orang sukses sangat peduli penampilan.
  • Bagian Tiga: orang-orang super duper sukses tidak peduli penampilan. Jati diri mereka, prestasi hidup mereka sudah tidak butuh balutan apa-apa lagi untuk membuat mereka bersinar.

Ada pemeo menyebalkan yang sangat populer di masa-masa kuliah ”Those who can’t do, teach.” Menurut orang-orang yang percaya pemeo itu: para mahasiswa yang nilainya tinggi akan masuk ke industri dan mendapat gaji tinggi; mereka akan bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional, jadi konsultan, dll. Sementara mereka yang nilainya rendah akan jadi dosen atau peneliti karena tidak diterima oleh industri.

Tapi sesungguhnya mereka yang mengolok-olok itu tidak menyadari bahwa Teori 1 = 3 bekerja di sini.

  • Bagian Satu: Para mahasiswa yang nilainya rendah akan jadi dosen atau peneliti. Mereka tidak lolos seleksi masuk ke industri.
  • Bagian Dua: Para mahasiswa yang nilainya tinggi masuk ke industri.
  • Bagian Tiga: Para mahasiswa yang nilainya super duper tinggi akan menjadi dosen dan peneliti. Mereka tidak masuk ke industri karena mereka ingin membuat terobosan-terobosan baru dan memajukan bidang keilmuan mereka. Mereka tidak tertarik dengan materi dan gaji tinggi.

Mangga, silakan teman-teman cobakan Teori 1 = 3 dalam menganalisis hal-hal lain. Teori ini bisa jadi bekal Leapfrogging. Saya tambahkan dua contoh lagi.

Pembicaraan (dalam diskusi, debat kusir, dsb).

  • Bagian Satu: orang yang tidak pintar lebih banyak diam. Pengetahuan mereka terhadap materi pembicaraan sangat terbatas.
  • Bagian Dua: orang yang pintar akan banyak bicara (Dunning–Kruger effect).
  • Bagian Tiga: orang yang super duper pintar lebih banyak diam. Mereka sadar bahwa topik pembicaraan terlihat sederhana di permukaan, padahal di bawahnya tersembunyi berlapis-lapis pertanyaan yang tak sanggup mereka jawab.

Lukisan.

  • Bagian Satu: Lukisan murah. Bentuknya jelek.
  • Bagian Dua: Lukisan mahal. Bentuknya bagus.
  • Bagian Tiga: Lukisan super duper mahal. Bentuknya jelek. Abstrak. Modern art(sy-fartsy) and of course, …blah blah blah the meaning behind.

Tadi malam Kak Andy mengirimkan tulisan (oleh penulis anonim) yang membahas betapa absurd sesungguhnya kehidupan kita prapandemi. Esai itu menyoroti fenomena hiperealitas. Ini cuplikan esainya:

---------------------------------

Sederhananya ketika anda beli segelas kopi starbuck seharga 40an ribu. Mengapa segelas kopi bisa begitu mahal ? anggaplah harga dasar kopi itu 7 ribu, maka 33 ribu sisanya anda membayar harga sewa sofa outlet dan membeli simbol starbuck. Angka 33 ribu itulah hiperealita. Sebuah kondisi mental yg menganggap sesuatu itu nyata dan kita butuhkan melebihi kebutuhan dasar kita sendiri.

Pandemi covid19 ini ibarat tombol reset. Sekali ditekan langsung semua berbondong2 menuju ke titik awal. Kita sudah merasakan PSBB, di mana pada masa itu kita diarahkan untuk melakukan segala hal yg kita butuhkan saja. Ini kabar buruk untuk usaha seperti pariwisata, hotel, mall, kafe2 dan semua usaha yg menjadikan CITRA, LUXURY atau PRESTISE sebagai core bisnisnya.

---------------------------------

Pada dasarnya, saya bersetuju dengan pesan utama yang hendak disampaikan sang penulis anonim:

  1. Situasi prapandemi itu TIDAK NORMAL karena kehidupan manusia telah disesatkan hiperealitas
  2. Covid-19 adalah obat pahitnya

Tapi sayang... sungguh sayang sekali, penulisnya telah melakukan kesalahan yang luar biasa fatal. Dia membandingkan situasi prapandemi Covid-19 dengan sebelum Revolusi Industri.

Sang penulis mengatakan:

---------------------------------

Sebelum revolusi industri, kehidupan itu relatif sangat normal. Manusia setara bekerja untuk kebutuhannya.

---------------------------------

Zaman sebelum Revolusi Industri adalah zaman feodalisme dan monarki. Ketika itu mayoritas manusia adalah commoners (rakyat jelata) yang bekerja keras membanting tulang agar kaum bangsawan ningrat dan keluarga-keluarga kerajaan dapat bersantai, bersosialisasi, berpesta dansa-dansi, dan yah, ...minum-minum kopi. Ada pula kelompok lain yang lebih sial dangkal lagi kehidupannya di masa itu — mereka berada di lapisan terbawah: para budak (literally, not metaphorically as in "the slaves of 1 percenters capitalist class" we often speak of. These are human beings that you could own the way you own dogs today — bought and sold at slave markets). Di era sebelum Revolusi Industri tidak ada kesetaraan. Kaum bangsawan ningrat dan anggota keluarga kerajaan tidak perlu dan tidak pernah bekerja seumur hidup mereka, sejak hari mereka lahir sampai hari mereka mati.

Pepatah bijak mengatakan: Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Namun yang dilakukan penulis ini bukanlah sekadar membiarkan nila setitik masuk ke dalam sebelanga susu — yang membikin susu terasa asam karena basi, yang akibatnya paling-paling mencret. Mengatakan kehidupan di zaman raja-raja dan kaum bangsawan ningrat lebih baik ketimbang prapandemi Covid-19 adalah seumpama memasukkan segelas racun ke dalam susu sebelanga. Ia tak hanya mematikan kenikmatan susu, tapi bisa membuat orang yang meminum susu itu mati beneran.

Namun, bagaimanapun juga, esai anonim ini telah berhasil membangunkan teori lawas lucu-lucuan saya. Bagaimana jika ternyata peradaban manusia adalah juga 1 = 3?

  • Bagian Satu: Zaman Purba. Belum ada revolusi ini-itu.
  • Bagian Dua: Zaman ketika segala macam revolusi terjadi. Diawali dengan revolusi biologis, yakni Revolusi Kognitif. Volume otak manusia mendadak membesar secara signifikan yang membuat kita lantas mampu menciptakan berbagai macam revolusi “cara hidup”. Mulai dari revolusi pertanian, revolusi politik, revolusi industri, hingga revolusi relasi antargender.
  • Bagian Tiga: Revolusi Terakhir. Revolusi Artificial Intelligence. Para futuris menyebut titik waktu ketika kecerdasan buatan sudah melampaui kecerdasan manusia sebagai “singularity”. Ini sebuah istilah yang dipinjam dari kosmologi. Singularitas adalah titik waktu ketika Big Bang terjadi. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi Pra Big Bang. Sebab, bila kita runut kejadian alam semesta menggunakan sains dari detik ini surut hingga ke detik awalnya: tepat ketika Big Bang terjadi, seluruh besaran fisika (kerapatan materi, temperatur, kelengkungan ruang-waktu) nilainya tidak terhingga. Dalam bahasa Stephen Hawking: teori-teori fisika runtuh di titik tersebut karena seluruh besaran fisika saat itu nilainya infinite. Sains tidak sanggup “masuk” melewati singularity “dengan selamat” guna mengamati/menghitung kondisi Pra Big Bang. Ini serupa dengan jika kelak AI telah sempurna. Manusia menginputkan problem-problem peradaban mereka ke dalam komputer. Kita tidak dapat menerka apa yang bakal diputuskan AI bagi kita. Tapi, siapa tahu, AI barangkali akan menyiapkan tatanan peradaban yang mirip-mirip dengan Zaman Purba.

Di masa sebelum Revolusi Pertanian (sebelum ada segala raja dan bangsawan), kehidupan manusia sebenarnya menyimpan berbagai kehebatan yang diimpi-impikan para pemikir paling progresif sekarang. Ketika itu:

  1. Umat manusia masih hidup nomaden (Non-Sedentary ---> Active Life)
  2. Umat manusia hidup di dalam kelompok-kelompok kecil (Localization ---> Dunbar's Number)
  3. Tidak ada institusi raksasa bernama kerajaan atau negara yang memaksa jutaan manusia tunduk dan patuh di dalamnya (Decentralized Power)
  4. Tidak ada genosida dan peperangan masif yang membinasakan berjuta-juta manusia, sebab tidak ada konsentrasi-konsentrasi kekuatan maha besar (World Peace)
  5. Tidak ada hak atas kepemilikan tanah (kesenjangan ekonomi nyaris nihil ---> Gini Index terendah sepanjang sejarah peradaban manusia adalah pada masa itu)
  6. Manusia bertukar value hanya dengan barter (tidak ada sentralisasi moneter ---> Cryptocurrency)

Kita mencapai Bagian Tiga yang mirip Bagian Satu karena pekerjaan-pekerjaan penopang peradaban (sebagian besar) sudah diserahkan kepada robot-robot. No more bullshit jobs — kita jadi punya banyak waktu lagi untuk bercengkerama dengan keluarga dan handai tolan. Sudah ada direct democracy (TRUE Democracy) yang menjadi feasible karena manusia hidup di dalam komunitas-komunitas kecil dan karena teknologi voting penunjangnya pun sudah memungkinkan (internet dan blockchain). Sudah ada Universal Basic Income. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Read more…

Kehidupan Pascapandemi Covid-19

Ketika wabah ini nanti berlalu, akankah kita teruskan kehidupan seperti yang sudah-sudah? Ataukah kita lakukan perubahan mendasar?

Mari kita tinjau sejenak problem yang ada pada cara hidup kita sebelum pandemi.  Ada dua jenis problem: 1. Problem Paradigma, 2. Problem Sistematika

 

1. Problem Paradigma 

Problem terdapat pada cara pandang/pola pikir.

Contoh problem paradigma: Kemajuan. Fokus peradaban kita prapandemi adalah kemajuan.

Tapi, apa definisi maju? Apakah “bergerak/pindah ke tempat yang lebih baik”? Atau “pokoknya bergerak/pindah, tidak diam di tempat”?

Kalau kita cermati peradaban semut, misalnya. Peradaban semut saat ini dapat dikatakan tidak berubah dengan ketika nenek moyang manusia menemukan api 400.000 tahun lalu. Semut tidak maju-maju.

Tapi apakah kemajuan peradaban manusia membuat hidup manusia jadi lebih berkualitas? Atau hanya sekadar jadi lebih mudah?

Apakah kemajuan itu lebih banyak manfaatnya atau mudaratnya bagi kemaslahatan hidup manusia dan seisi alam? Bagaimana "derajat" tiap-tiap manfaat vs. mudarat tersebut? (Manfaat = tambah tampan vs. mudarat = jadi gila --> no contest.)

Mari kita pakai dua variabel penting untuk menakarnya: Kebahagiaan Spesies dan Kelanggengan Spesies.

Kebahagiaan Spesies

Yuval Noah Harari menyimpulkan bahwa manusia purba lebih bahagia ketimbang manusia modern. Alasannya: manusia modern menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk melakukan pekerjaan. Pekerjaan yang, menurut Rutger Bregman, kebanyakan hanyalah “bullshit jobs”. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak esensial. (Pandemi ini juga telah membukakan mata banyak orang: apa-apa saja sesungguhnya profesi yang esensial itu.) Di zaman batu, manusia hanya perlu sebentar untuk bekerja (berburu). Mereka punya banyak waktu untuk bercengkerama dengan keluarga dan handai tolan. Homo sapiens IS homo socius.

Kelanggengan Spesies

Pada 26 September 1983, Letkol. Stanislav Petrov menyelamatkan dunia dari perang nuklir. Kekuatan bom nuklir di era 80-an sudah jauh di atas kekuatan bom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki pada PD II. {Bagaimana dengan sekarang? Kekuatan bom nuklir Rusia terkini: RDS-202 (nickname: Tsar Bomba) adalah 50 Megaton. Itu setara dengan 3.333 kali kekuatan gabungan kedua bom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki tersebut.} Seandainya Stanislav Petrov mengambil langkah sesuai SOP, sebagian besar populasi manusia sudah binasa. Sisanya yang selamat — yang sedikit itu — akan menjalani hidup super berat di tengah winter nuclear yang panjang dan kepungan radiasi. Jika coronavirus ini saja sudah membuat manusia merana setengah mati, bayangkan radiasi radioaktif yang "tak butuh inang" dan bisa “menular” tak hanya lewat udara tapi bahkan sanggup menembus dinding-dinding beton. Untung saja, ketika itu Stanislav Petrov yang sedang bertugas. Untung instingnya benar. Akan sampai kapan manusia bermain untung-untungan seperti ini?

 

4822690677?profile=RESIZE_710x

2. Problem Sistematika

Problem terdapat pada sistem yang dipakai

Contoh problem sistematika: Kapitalisme

Motif Kapitalisme: Perusahaan didirikan untuk menghasilkan profit sebesar-besarnya bagi para pemilik saham.

Motif ini ibarat Dasar Negara bagi perusahaan. Ia menjadi rujukan utama bagi segala-galanya: bagaimana perusahaan dijalankan, kebijakan yang diambil, strategi yang dilakukan, budaya kerja, hubungan antar pegawai, hubungan perusahaan dengan manusia lain/dengan lembaga lain/dengan alam sekitar, dsb.

Ilustrasi penerapan Motif Kapitalisme: Sebuah brand rokok sedang mempertimbangkan untuk menyumbang dana kepada yayasan kanker paru-paru. Jika sumbangan tersebut dirasa bakal mendongkrak penjualan rokok mereka, atau minimal tidak mengurangi, maka itu bisa dilakukan. Namun jika sumbangan tersebut dirasa bakal menjatuhkan penjualan (karena kontradiktif), ide itu tidak akan dieksekusi. Baik atau buruknya tindakan “menyumbang ke yayasan kanker paru-paru” harus diukur terlebih dahulu dengan Motif Kapitalisme.

Konsekuensi Motif Kapitalisme: jika ada benturan kepentingan apa pun (misalnya, pelestarian alam) dengan Motif tadi, kepentingan lain itu akan diupayakan agar kalah oleh perusahaan.

Not So Fun Fact: Perusahaan-perusahaan Amerika menggelontorkan dana sekitar $2,6 miliar setahun untuk keperluan lobi — lebih banyak daripada yang dialokasikan pemerintah Amerika ($2 miliar) untuk mendanai House of Representatives ($1,18 miliar) dan Senate ($860 juta).

Kesenjangan Ekonomi

Harta 4 orang terkaya Indonesia setara dengan gabungan harta 100 juta penduduk termiskinnya. Harta 3 orang terkaya Amerika setara dengan gabungan harta setengah penduduk termiskinnya. Pendapatan setahun pegawai bergaji terendah di Amazon sama dengan pendapatan Jeff Bezos dalam 11,5 detik. Average wage gap Amerika adalah 1:312. Di industri fast food bahkan gap-nya ada yang mencapai 1:1000.

Kapitalisme hanya baik untuk sekelompok kecil manusia saja. Sistem organisasi yang menyengsarakan mayoritas anggotanya adalah sistem yang buruk. Kesempatan memang terbuka bagi siapa pun, termasuk bagi orang-orang dari golongan bawah untuk naik kelas — bergabung ke dalam kelompok elit tersebut. Namun peluangnya sangat sangat minim. 

Meritokrasi yang dijadikan salah satu landasan pemikiran kapitalisme terbukti konyol. Kata mereka: hasil yang dicapai seseorang sebanding dengan usaha, kecerdasan, atau bakatnya.

IQ rata-rata manusia adalah 100. (Meskipun kita tidak percaya IQ, mari kita pakai ukuran itu karena kapitalisme sangat percaya IQ). Ada orang pintar hingga IQ-nya 140 atau bahkan 200. Tapi tidak ada orang yang IQ-nya 1.000 atau 10.000.

Demikian juga dengan “usaha atau kerja” yang diukur dengan waktu. Ada orang-orang rajin yang bekerja lebih lama daripada orang kebanyakan. Tapi semua orang sama-sama punya waktu hanya 24 jam sehari. Tidak ada orang yang bekerja miliaran jam lebih banyak daripada orang lain.

Tapi ketika kita lihat hasilnya, beberapa orang menghasilkan uang miliaran bahkan triliunan lebih banyak dari orang-orang kebanyakan.

Alessandro Pluchino dan kawan-kawan dari  University of Catania,  Italia, membuat model komputer yang merepresentasikan bakat manusia dan usaha mereka dalam menggunakan bakat tersebut. Tim peneliti ini mampu menghitung seberapa besar faktor keberuntungan dalam keberhasilan seseorang. Model mereka dengan akurat dapat mereplikasi distribusi kekayaan dunia  saat ini. Namun yang mengejutkan: orang-orang yang terkaya bukanlah orang-orang yang paling berbakat  atau yang paling rajin bekerja. Mereka hanyalah yang paling beruntung.   Akan sampai kapan manusia bermain untung-untungan seperti ini?

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa