connection (6)

AES074 Ririungan : Mewujudkan Ruang Koneksi

Tulisan ini sempat tersimpan sebagai draft. Di suatu titik saya memutuskan menutup draft ini dan beralih ke topik lain. Hari ini, kak Gina menuliskan sesuatu yang nyambung banget sama tulisan ini dan bisa saya jadikan pijakan untuk esai saya malam ini. Jadi nuhun pisan kak Gina untuk esainya yang berjudul The Social Dilema.

Kita semua kenal dengan yang disebut Media Sosial. MedSos seakan jadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Saya sendiri punya akun FB, sempat mencoba Twitter dan Instagram. Punya juga akun LinkedIn yang hampir ga pernah saya buka. Saat ini media sosial saya sudah nyaris tidak saya sentuh. Kenapanya, tulisan kak Gina secara singkat menjelaskan penyebabnya. Saat ini saya melihat social media sudah membuat manusia jadi anti sosial. Terlalu banyak isinya yang membangun kebencian, hoax atau berita tidak benar, orang-orang yang pamer berbagai hal, menumbuhkan rasa iri dan tidak percaya diri, selain juga saat ini Media Sosial dimanfaatkan oleh berbagai pihak oleh kepentingan2 mereka. Dari sudut pandang yang berbeda, Rico juga permah menuliskan tentang hal ini dalam esainya yang berjudul The Anti Social Network. Di alinea ke dua, Rico menjelaskan bagaimana Social Media pada umumnya bekerja.    

Sejak awal di Semi Palar kita sangat berusaha membangun kesadaran media - literasi media, istilahnya. Karena kita tahu bagaimana media sosial sangat berpotensi membawa dampak buruk pada diri kita, terutama bagi anak-anak. Sebelum situasi pandemi Semi Palar sangat berusaha menjauhkan anak-anak dari komputer dan gawai - media sosial juga tentunya. Di jenjang SMP Semi Palar baru membolehkan anak-anak memiliki gawai sendiri. Entah berapa kali kita menggelar berbagai topik Pertemuan Orangtua Smipa - mendatangkan narasumber agar kita paham dampak gawai dan juga media sosial bagi anak-anak kita. 

Situasi Pandemi membuat segala sesuatu jadi berbeda. Pembelajaran Jarak Jauh mensyaratkan anak-anak bersentuhan dengan gawai untuk bisa mengikuti proses pembelajaran. Bahkan untuk jenjang terkecil sekalipun - yang kita tahu bahwa anak-anak belajar lewat pengalaman jasmaniah, persentuhan dengan gawai, belajar melalui layar gawai tidak terhindarkan. Walaupun kita tahu dampak-dampaknya, hal ini agak sulit dihindari. Banyak orangtua yang khawatir terhadap hal ini. Tapi saya sempat bertanya kembali, apakah kita pernah membayangkan kalau kita masuk ke dalam situasi pandemi pada saat Internet belum ditemukan? 

Lebih dari dua bulan yang lalu, gerakan Atomic Essay kita mulai. Setelah beberapa waktu berjalan, saya pribadi merasakan bahwa inilah media sosial yang sesungguhnya. Media di mana orang-orang di dalamnya bisa lebih kenal satu sama lain dan semakin terkoneksi - karena dalam situasi yang berjarak - media ini bisa membuat kita lebih dekat satu sama lain, belajar antara satu sama lain.    

Dalam situasi pandemi, teknologi bisa menjadi solusi - kalau kita bisa memanfaatkannya dengan penuh kesadaran. Video TEDx di bawah ini dibawakan oleh Kristin Galluci - salah satu pelaku industri Media Sosial yang melihat dan merasakan langsung apa yang dilakukan di dalam perusahaan2 ini. Salah satu contoh nyata dari apa yang diceritakan dalam tulisan kak Gina tentang filem The Social Dillema. Kristin bilang, yang jadi masalah adalah bukan teknologinya, tapi manusia para penggunanya. 

Ririungan Semi Palar (khususnya versi baru ini) kita coba wujudkan untuk menjadi ruang koneksi dan lebih jauh lagi sebuah ruang belajar bersama karena kami meyakini bahwa belajar adalah sebuah proses kolektif. Proses yang saat ini terkendala karena situasi pandemi. Teknologi bisa menjadi solusinya. Pembelajaran Holistik bertumpu pada koneksi dan keterkaitan satu sama lain. Ruang ini bisa mewadahinya, kalau kita semua bisa memanfaatkannya secara positif. 

Read more…

AES072 Berbagi Kepingan Kehidupan

Pada saat memulai Atomic Essay ini, apa yang dituangkan dalam tulisan-tulisan ini sangat jauh dari bayangan saya. Awalnya esai-esai ini hanyalah sekedar tulisan - kisah-kisah sporadis dari berbagai sudut pandang dan pengalaman. Ada yang nyambung, ada yang garing, ada yang serius juga - ada juga yang sulit dipahami. 

Setelah beberapa waktu, saat tulisan-tulisan ini mulai terkumpul cukup banyak, mulai ada hal yang menarik yang muncul dari sana. Kita yang terlibat di dalamnya mulai terasa nyambung satu dan lainnya. Tanpa diduga. Karena beberapa dari kita yang menulis di sini belum lama juga saling mengenal. 

Semakin lama, semakin menarik mengamati apa yang dituangkan. Sepertinya ini adalah akibat dari rutinitas kita menulis. Awalnya mungkin receh, tapi komitmen kita menulis sepertinya mendorong kita menggali lebih jauh ke dalam diri kita. Tidak bisa terhindarkan - karena bisa jadi kita juga semakin kehabisan receh-recehnya kita - dan ini mendorong kita merogoh lebih jauh ke dalam diri kita masing-masing. 

Tidak jarang kita membaca catatan yang cukup mendalam dari teman kita. Buat saya hal ini luar biasa. Pertama-tama hal ini hanya mungkin terjadi karena lingkungan ini adalah lingkungan di mana teman kita itu merasa aman. Aman untuk berbagi kepingan kehidupan yang mungkin biasanya terpendam dalam-dalam. Ada juga yang menuliskan tentang kendala atau tantangan apa yang dihadapi dalam melangkah dalam kehidupannya. 

Cukup sering juga kita membaca kisah sejarah, atau kesukaan yang sangat personal. Hal-hal yang mungkin juga tidak banyak diungkap dalam percakapan sehari-hari. Ada juga yang bicara tentang orang-orang terdekat, memori atau kerinduan diri. Duh buat saya semua ini luar biasa. Bukan hanya itu, ini kehormatan besar buat saya, buat kita semua yang dipercaya untuk membaca dan mencerna tulisan-tulisan ini... Jujur saya merasakan ada koneksi yang mendalam yang lahir lewat proses menulis di dalam ruang kolektif ini. 

Di dalam situasi pandemi yang menjauhkan diri kita secara fisik, ada bentuk koneksi lain yang berhasil ditemukan. Mudah2an saya ga lebay - dan hal ini juga dirasakan oleh teman-teman semua. Lebih jauh, saya berharap lebih banyak teman2 yang bergabung. Dalam konteks belajar - menjadi manusia seutuhnya, menurut saya tidak ada yang lebih berharga daripada kepingan kehidupan yang bisa kita bagikan...  

Read more…

AES062 Menjelang Tengah Malam

Sejak sekitar 2 bulan yang lalu, ada satu waktu yang tanpa disadari jadi sangat saya nantikan. Setiap hari, tanpa terputus. Waktunya ya sekitar jam segini ini - menjelang tengah malam... Biasanya saya sudah mulai mengantuk, tapi sekarang ada yang sangat saya tunggu. Menunggu tulisan teman2 muncul. 

Saya sangat menikmati apa yang dituliskan teman-teman membagikan kisahnya lewat kata-kata di ruang penulisan ini. Kantuk saya hilang, saya menanti-nanti posting demi posting muncul di layar, dengan penuh tanda tanya apa yang akan disampaikan. Dulu saya lebih sibuk dengan apa yang saya tuliskan, tapi sekarang agak berbeda, karena setelah sekian lama membaca kepingan-kepingan kisah, kita jadi semakin kenal teman kita tersebut. Di esai saya yang ke 31, saya menulis tentang Connecting People. Tidak lama setelahnya Jo juga menulis tentang hal yang sama : Connecting People (esai Jo ke 49). Jadi kita punya kesimpulan yang sama. 

Kalau dipikir ini luar biasa ya, bahwa ruang virtual - digital ini bisa jadi tempat kita berbagi rasa, dan mengoneksikan kehidupan kita satu sama lain - dalam situasi kita semua berjarak dan tidak berjumpa karena pandemi. 

Apa yang dialami buat saya jadi sangat berharga. Sangat berbeda dari sekedar saling menyapa atau memforward info-info yang setiap hari terus keluar masuk lewat WhatsApp atau media lainnya. Saya yakin ini satu kekuatan lain dari Atomic Essay. 250 kata ini mendorong kita untuk mengungkap sesuatu yang tidak sekedar basa-basi atau omong kosong belaka - bahkan pada saat kita tidak punya ide menuliskan apa... 

Jadi ya begitulah, menjelang tengah malam, selalu menjadi happy hour-nya saya. Dan selalu setiap malam, saya bisa menutup hari saya dengan rasa bahagia karena terkoneksi dengan teman-teman yang membagikan kisahnya lewat tulisan-tulisan pendek di sini. Secara khusus malam ini juga saya bahagia membaca tulisan Rico, No More Zero Days

Terima kasih buat yang selalu setia menulis dan berbagi di sini, semoga bahagia yang sama juga ada di hati teman2 semua. Selamat malam, selamat beristirahat...  

Read more…

Masih ada yang harus disiapkan untuk esok hari... Tapi saya memilih untuk menulis esai saya lebih dahulu. Hari ini satu pencapaian besar buat saya pribadi. Ini esai saya yang ke 60, jadi saya berhasil menulis konsisten selama dua bulan penuh. Sejak 13 Mei hingga hari ini 13 Juli. Jujur saya merasa bangga pada diri saya sendiri. Sesuatu yang tidak pernah saya duga sebelumnya - sejak saya mulai menulis di blog saya yang pertama di tahun 2007. Alamat blog saya yang pertama adalah create-n-live.blogspot.com sebelum pindah ke wordpress di andysutioso.com

9240663471?profile=RESIZE_400xPosting pertama saya tuliskan pada tanggal 5 Mei 2007. Judulnya sederhana : My First Post.

Hari ini saya buka lagi blog saya yang lama sambil tersenyum-senyum sendiri. Perjalanan saya menulis sudah cukup panjang juga. Dan saya senang membacanya - karena semua itu adalah jejak kehidupan saya - setidaknya sejak tahun 2007. 

Di antara periode 2007 s/d 2016 sebelum saya berpindah ke wordpress, tahun saya paling produktif menulis adalah pada tahun 2010. Tahun itu saya menuliskan 32 blogpost. Hari ini selama 2 bulan penuh saya menghasilkan 60 buah tulisan pendek. Bahagia sekali rasanya. Itu sedikit cerita tentang proses tulis menulis saya. 

Tadi setelah makan malam, saya membaca-baca tulisan sahabat-sahabat menulis saya di sini. Pernahkan teman-teman melakukannya? Luar biasa lho apa yan dituangkan dalam esai-esai pendek yang ada di sini. Sebelum saya mulai menulis, angka menunjukkan Atomic Essay Smipa telah mencatatkan 418 buah esai - hasil kontribusi 22 penulis. Meminjam kata-kata kang Wawan Husin : TE O PE BE GE TE! TOP Banget! Tadi Ahkam bilang hitung-hitung kumpulan esai ini telah mencatatkan sekitar 18.000 kata. Juara! 

Secara kuantitas keren ya... Tapi tidak berhenti di situ, coba teman-teman cermati apa yang dituangkan dalam esai-esai ini... Kata-kata yang datang dari hati... Duh isinya menurut saya begitu jujur, tulus, apa adanya. Esai dituliskan bukan sekedar untuk cari sensasi, untuk cari like seperti di media sosial lainnya tapi karena ruang ini adalah ruang penulisan di mana kita bisa menampilkan diri apa adanya - menjadi diri kita sendiri, menuangkannya dalam kata-kata agar kita satu sama lain bisa terkoneksi melalui kemanusiaan kita... Sesederhana, sekaligus seluhur itu juga... 

Buat saya ini adalah satu hal yang membahagiakan, sekaligus membanggakan juga, karena ini ruang kolektif penulisan yang saling terkoneksi. Ini juga yang membedakan dengan platform lain seperti blogger, wordpress dan lainnya. Mudah-mudahan lebih banyak warga Smipa yang mau bergabung di sini... Jujur, selama 2 bulan terakhir ini ini jadi ruang kebahagiaan bagi saya. Hari demi hari menulis esai di sini adalah dosis kecil kebahagiaan buat saya. Mari sisihkan 15-20 menit dari 24 jam waktu kita dalam sehari untuk membagikan hati kita bagi kita satu sama lain di sini, lewat kata-kata... Dalam situasi kita berjarak karena pandemi, ruang ini jadi ruang koneksi yang sangat berharga.

Kalian luar biasa! Merayakan esai saya yang ke 60, tulisan ini saya dedikasikan buat semua sahabat penulis di sini... Hatur nuhun sadayana...

Read more…

AES031 Connecting People

Generasi saya pasti tau slogan di atas, Connecting People, marketing tagline yang digunakan salah satu brand Hape terkenal di dunia... Merek itu namanya NOKIA. Mereka sejaman dengan hape merek Ericsonn, Motorola, Alcatel dan lainnya. Merek-merek yang sudah hilang terhapus oleh jaman - padahal mereka itu dulu inovator dan pemimpin inovasi teknologi komunikasi pada jamannya... 

Hmm, tapi saya ga mau bahas itu, saya mau bahas apa yang saya lihat terjadi, alami dan rasakan langsung di ruang interaksi di Ririungan ini, Salah satunya terjadi karena beberapa dari kita mulai mencoba menuliskan esai-esai pendek, apapun topiknya dan mempostingkannya di sini. Ini bagian dari gerakan Atomic Essay Smipa. 

Ceritanya begini... kepingan-kepingannya ada tersimpan di antara Seratus Tujuh puluh Esai yang berhasil dituliskan dan disharingkan di ruang koneksi ini. Kenapa saya bilang ruang koneksi ya karena begitulah kenyataannya. Kita coba telusuri ya... Awalnya, Rico menulis tentang Talent, Skill and Practice. berkisah tentang prosesnya belajar bermain gitar elektrik selama masa pandemi ini. Tidak lama, Ahkam merespon lewat tulisannya tentang DU.68.Tempat favorit Ahkam untuk menemukan koleksi kaset dan CD dari lagu2 kesukaannya. 

9094954267?profile=RESIZE_400xTidak lama kemudian, entah di esainya yang keberapa, Rico menulis tentang Bohemian Rhapsody... Nah dari sini bola salju mulai bergulir, karena tulisan Rico ini lagi-lagi memantik respon Ahkam yang menuliskan tentang Progres Musik. Tulisannya menarik, saya langsung komen di bawahnya, "nantikan tulisan saya tentang musik". Begitu respon spontan saya selepas membaca posting Ahkam. Belum sempat saya menulis, Ahkam sudah memposting lagi tulisan pendek tentang Jimi Hendrix. Di esai saya yang ke 27, akhirnya saya menulis tentang inspirasi keren dari bassist Victor Wooten yang punya pandangan keren : Music as a Language. Dalam tulisan itu saya menyebut beberapa musisi dan vokalis favorit saya, yang ternyata juga musisi favorit dari Ahkam dan Jo juga... Membaca tentang ini membangkitkan perasaan bahagia, karena tulisan-tulisan ini ternyata mengoneksikan kita satu sama lain... Hal yang tidak kita ketahui sebelumnya... 

Dalam situasi pandemi, dalam kondisi kita berjauhan, ternyata hal ini sangat mungkin terjadi. Dalam salah satu komentar saya di salah satu posting, saya menulis:" Ini nih media sosial yang sesungguhnya" Media ini mengoneksikan kita satu sama lain. Di sisi lain kita melihat bahwa Twitter, Instagram, Facebook dan lain2nya malahan membuat manusia jadi anti sosial. Saling menghujat, membandingkan, menuding satu sama lain atau media ini jadi ajang pamer kepemilikan atau status mereka. Belum lagi hoax yang dilontarkan terus dan membuat manusia saling curiga bahkan membenci satu sama lain... 

Kita semua, manusia pada dasarnya saling terkoneksi dan di sini kita bisa mengalaminya secara nyata...   

 

Read more…

AES026 Mari Bergabung

Tulisan saya hari ini saya tujukan untuk mengajak teman-teman semua untuk bergabung di gerakan menulis Atomic Essay Smipa. Sebuah inisiatif yang sampai hari ini sudah menghasilkan 138 buah tulisan pendek, esai-esai singkat dari berbagai topik… Dituliskan oleh, sejauh ini 14 penulis, orangtua, kakak2, alumni…

Gerakan ini kami mulai dari obrolan kecil di sekitar pertengahan bulan Mei 2021. Di tempat ngopi kecil di Babakan Siliwangi yang namanya Escape. Ceritanya ada di tautan ini. Gerakan menulis ini digagas oleh Ahkam, orangtua Smipa yang sudah lama punya kegemaran menulis juga, blogging. Saya juga sama, punya blog dari sejak tahun 2006, yang setelah sekian lama sulit sekali terisi… Gagasan banyak, tapi nyatanya toh sulit juga menuangkannya ke dalam tulisan. Ternyata banyak teman-teman punya pengalaman yang sama. Sampai suatu waktu di Escape itu muncul gagasan tentang Atomic Essay ini. Cerita tentang gagasan ini sendiri saya tuliskan di esai pertama yang berjudul Membangun Tuman (habit/kebiasaan baru). Ahkam sendiri sempat menuliskan apa yang seringkali jadi kendala saat kita menulis di esainya yang ketiga dengan tulisan yang berjudul Perfeksionisme.

Di Esai yang ke delapan, saya membuat posting berjudul Kerennya Atomic Essay – muncul karena sedang terkagum-kagum sendiri karena sejak esai yang kedua, saya berhasil mempostingkan tujuh esai berturut-turut tanpa terputus. Kemudian di esai saya yang ke empat belas, saya menuliskan esai dengan judul 14D 13B 61E – yang sebetulnya singkatan dari 14 hari, 13 blogger dan 61 esai…

Di postingan yang ke 21 saya menulis tentang bagaimana proses ini memberikan saya satu tambahan waktu untuk merefleksikan diri… Tulisan yang ini berjudul 15 Minutes of Me-Time. Betul, memang hanya perlu waktu 15 menit untuk membuat tulisan-tulisan ini. Waktu ini kemudian jadi sangat berharga karena ini waktu yang betul-betul reflektif buat si penulisnya. Oh iya jadi ingat, sebelumnya saya sempat juga menulis satu esai tentang Menulis, Untuk Siapa? (dan Untuk Apa) – di tulisan saya yang ke sebelas.

Tulisan saya yang ke dua puluh lima ini bisa dibilang semacam perayaan – karena apa yang saya rasakan selama ini, bahwa ternyata menulis seperti ini sangat membahagiakan. Ada perasaan menyenangkan setiap saat tangan mengarahkan mouse untuk mengklik publish. Jadi tulisan ini adalah ajakan, undangan buat teman-teman yang saya tahu suka menulis atau pernah menulis. Semoga ajakan ini bersambut – supaya kepingan esai-esai ini bisa jadi tempat cerita kita bersama… tempat pengalaman, gagasan, perasaan bahkan impian bisa kita tuangkan bersama. Dalam situasi pandemi, saat kita berjarak, kita bisa tetap terkoneksi melalui rangkaian kata-kata yang kita bagikan setiap hari… Selamat mencoba…

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa