bukukakakkpb (6)

AES 065 LOGIKA

Urutan alasan dan pilihan sebab-akibat yang membutuhkan pergerakan dan tiNdakan lanjutan. Tidak cukup di tataran dan tuturan, perlu sampai titiran. Logika itu. Kalau gak sampai gerak mungkin itu masih level logila, kepikiran tanpa mampu memikirkan. Karena yang namanya berpikir adalah membayangkan-melaksanakan-mengubah bayangan-melaksanakan-mendapatkan gambaran-melaksanakan-menetapkan gambaran-merealisasikan.

Logika juga bukan soal alternatif solusi. Ini ranah rasional. Karena solusi yang terpetakan dalam bentuk pilihan sudah selesai sampai di bentuk pilihan. Begitulah rasionalisasi menghadirkan rasio, perbandingan. Tindak lanjut dan aksi memilih sampai membuat keputusan dan melaksanakannya yang area logika. Jadi, logika adalah soal alternatif konsekuensi. Secara logis, konsekuensi mana yang sanggup ditanggung dari beberapa pilihan rasional sebab-akibat itu? Laksanakan dan tampilkan hasilnya. Logika pun terpenuhi.

Rasionalitas ketinggian sedangkan logika belum kemasukan. Dinding selera kah hambatannya? Bukan! Hambatannya adalah kebiasaan dari kecil di lingkungan tempatnya berkembang. Kemudian dengan rasio menjadi sangat mengagungkan perasaan, padahal itu hanyalah reaksi badan terhadap kebiasaan. Ah.. the way you think is the way you feel, our logic is our feeling. Kalau emosi? Emotion is the peak of believe system. Jadi, gimana caranya memapas rasionalitas menjadi alternatif konsekuensi logis adalah jalan komunikasi dengan remaja.

One who cannot command must obey. Yang tidak mampu menetapkan pilihan, pastilah ia menjalani pilihan orang lain. Bolos atau kabur kegiatan dari sekolah kan ngikutin kegiatan orang lain, mau main atau bisnis atau belajar sendiri itu kan pilihan yang dipilihkan orang lain yang dijalanin. Soalnya kalau pilihan sendiri, ada di sini dan tidak dikaburin.

Read more…

AES 064 RASIONAL

Penuh dengan alasan dan perbandingan tidak membutuhkan pergerakan dan tidak lanjutan. Cukup di tataran dan tuturan, tidak sampai titiran. Rasionalitas itu. Kalau sampai gerak mungkin itu udah level logika. Membandingkan dua atau tiga atau empat atau lima sampai banyak hal, intinya hanya soal selera atau tidak. Kalau soal mampu atau tidak itu ruang logika kayaknya.

Kalau selera, semua rasionalitas dan rasionalisasi disusun dengan sangat rasional untuk mendukung dan mengiyakan. Udah. Gerakannya itu beda ruang lagi. Kalau tidak selera, semua rasionalitas dan rasionalisasi disusun dengan sangat rasional untuk mendukung dan menidakkan. Tindak lanjut itu beda ruang lagi. Sebenarnya tidak pernah ada alasan yang tidak masuk akal, yang ada akalnya kesempitan tidak muat memasukan alasan baru.

Mungkin seperti itulah berhadapan dengan remaja, karena memang mereka sangat rasional. Disadari atau tidak, semua responnya adalah rasionalisasi dua dunia. Yang dirinya dan bukan dirinya. Yang disukai dan tidak disukai. Dirinya termasuk dengan komunitasnya, kawanannya, bahkan gerombolannya. Yang disukai atau tidak pun hanyalah reaksi cepat kebiasaan, karena memang belum waktunya untuk bertolak lebih dalam. Ini area lain lagi, ini area logika kayaknya.

Biasa indikatornya adalah menolak semua yang diberikan atau diajukan kepadanya. Dan, menolak mengajukan dan memberikan dari dirinya juga. Semacam, gak mau gak mau gak mau! Maunya apa? Gak tau. Pokoknya gak mau. Yaudah, sudahi saja sampai di sini. Gak mau. Jadi, kita tuntaskannya gimana? Gak tau. Nah, emosi gak tuh. Bukan hanya lingkungan koq yang emosi dengan sikap ini. Yang bersikap begini pun sebenarnya emosi dengan dirinya sendiri.

Read more…

AES 056 Mula3nya

(bagian 2) ...Pendidikan adalah dasarnya (yang kemudian setelah empat tahun menjalani jalur pendidikan mendapat penglihatan lebih lanjut kalau dasar bukan lah akar, ini bahasan nanti lagi).

Kuartal akhir dua ribu lima belas. Tuntas sudah program pendampingan komunitas-komunitas sadar bencana. Selesai semua sasaran fasilitasi peningkatan resiliensi organisasi. Mendarat cukup lama di Matraman, karena biasanya bangun pagi di stasiun dan tidur malam di bandara. Sekarang ada jeda. Hening dan jeda. Sambil menyeruput kopi, di malam bulan terang, kosan sepi karena pada nonton konser bon jovi. Diri berkata, "Pulang Bandung kah? Sepertinya dunia edukasi bisa jadi langkah selanjutnya. Mulai dari area kopi, karena Tanah Gayo kota dingin Takengon memiliki pengaruh kuat pada memori, sekuat memori Pulau Yamdena Saumlaki. Pemantiknya, gunung Sinabung & Slamet."

Dua ribu lima belas, sebelum Taman Ismail Marzuki dirombak jadi seperti sekarang ini dan di sepanjang jalan depan masih berderet tempat makan. Bioskop murah dan toko kelontong buku klasik di belokan gang institut kesenian. Saat itu, windows phone masih sangat sanggup diandalkan. Mulai mencari masukan, pertimbangan, berbagi pengalaman, hingga menalarkan perasaan. Dari arus emosi hingga kerangka logika, kain dari Sintang & kukri dari Nepal (oleh-oleh kalau pisau yang ini) bilang, "Iya, pulang." Oke, pulang. "Toh tidak perlu lama-lama, setahun dua tahun juga udah akan terbang pergi-pergi lagi," sambil bilang ini dalam pikiran.

Lima tahun kemudian.
Masih di bandung dan sebagai bagian keluarga rumah belajar semi palar, tempat berkarya terlama. Kalau dibilang berkarya, bukan artinya melulu menghasilkan karya. Malahan menjadikan karya, menjadi karya. "Bukti bahwa diri berkembang adalah lingkungan tempat diri berada pun berkembang." Masih menjadi pegangan sekaligus pencarian. Menjadikan karya bukan menjadi produktif, justru menjadi bagian proses konstruktif. Menjadi karya bukan mengubah orang lain, malahan berubah dari diri sendiri. Semakin memberi malah semakin meminta, semakin mendapat malah semakin menyerahkan.

Read more…

AES 055 Tahapan Pertumbuhan

Cocoklogi aja koq ini 😋
Biar belajar jadi menyenangkan dan kesenangan jadi pembelajaran.

Kalau dari pendekatan mistik timur ada aturan bahwa di umur 84 tahun seorang manusia telah menyelesaikan tahapan pemenuhan diri. Kalau dari pendekatan teori perkembangan, tahapan perkembangan itu setiap tujuh tahunan. Kalau dari pendekatan pertumbuhan, ada dua belas tahapan pertumbuhan.

Cocok-cocokin dengan fase menjadi manusia Nietzsche, tahap perkembangan cocokin ama fase unta. Tahapan pertumbuhan cocokin dengan fase singa. Kemudian tahapan pemenuhan cocokin dengan fase anak manusia. Kalau secara urutan kan mulai dari unta, singa, anak manusia. Berarti ada timpaan tahapan dong? Iya lah jelas, kan menjadi manusia itu proses komposisi akumulatif. Eksponensial (koq bukan eksponenuntung aja ya namanya), gak linear, istilah kerennya.

Setelah melalui tahapan pemenuhan, seorang manusia telah penuh siklus hidupnya. Akan lahir baru dengan pandangan baru kepada dunia dan kehidupan, terutama terhadap dirinya sendiri. Kalau dari tahapan perkembangan, Fase perkembangan itu setiap tujuh tahunan. Kalau dari pendekatan pertumbuhan, 12 Fase pertumbuhan.

9266261454?profile=RESIZE_180x180Cocoklogi nya sih, Tujuh dikali dua belas kan 84. Karena tahapan tujuh tahunan dipakai di rumah belajar Semi Palar sebagai acuan penyelenggaraan pendidikan, nanti dibahas sama kakak yang lain deh 😋. Soalnya, di sini mau ngebahas yang dua belas tahapan pertumbuhan aja. Biar gak panjang nuisnya, suka kram kelingking. Dua belas masa pertumbuhan terdiri dari menyerap, menjalin, mengembangkan, meningkatkan, merentang, menuntaskan; enam tahap awalan ini adalah fase kriya. Enam tahapan selanjutnya adalah fase guna. Yaitu memperjuangkan, mengalami, mewujudkan, memanen, memecahkan, menyemai.

Setdikit plot twist, kedua belas tahapan ini ada juga di setiap tahap-tahapnya. Semacam fraktal. Ambil contoh, katanya it takes 2000 first day for infant to becoming human (child). Dua ribu dibagi dua belas jadi 166,6666666666 ≈ 166,667 hari lah ya.

Contoh kedua, dari 166-167 hari itu pun ada siklus yang terjadi. Siklus singkat, menengah, panjang. Kalau dimasukan siklus tahapan pertumbuhan, kelihatan pola dua mingguan untuk memprediksi outcome hasil olahan dampingan pendidikan. Wah jadi keinget kutipan, "If you're capable of making a plan and executing a plan, would you fall back on predictions?"

Nah, untuk apa sih matematikaan atau literasi numerasi ini? Untuk menentukan timing and positioning. Hidup holistik kan persoalan menempatkan semuanya pada waktu yang tepat sehingga menemukan dirinya dengan tepat waktu.

Read more…

AES 054 Mula2nya

(lanjutan bagian1)
...jalur humanitarian(-isme?).

Istilah-istilah, kapasitas, kerentanan, ancaman. Komunitas, pembelajaran berbasis masyakat, pengelolaan berdasar kearifan lokal. Ketahanan, kelenturan, kesesuaian. Donor, donantur, penerima manfaat. Dan lain-lain dan seterusnya. Dari prinsip intentio dantis sampai sosio politis, ekonomi adalah kunci. Pendidikan adalah dasar. Semakin mendalami, semakin tenggelam dalam ketidak pastian. Keraguan, ketidak percayaan, sampai kehilangan kepercayaan. Yang pada akhirnya mencapai pencerahan dan menumbuhkan lagi kepercayaan. Percaya bahwa tidak pernah ada yang dapat dipercaya. Betapa niat baik yang sudah terkelola, bahwa kepedulian membutuhkan pengelolaan. Betapapun manfaaf dan bantuan terjaga dari pemberi kepada penerima. Biarpun pelatihan dan pendampingan sudah rutin dilaksanakan. Juga kepentingan politis cukup bisa diimbangi oleh gerakan microfinance komunitas. Tabiat manusia adalah aspek yang sangat tidak terduga dalam keterdugaannya.

Memang, semua bisa dipetakan. Semua bisa diarahkan. Semua terbaca jelas karakter sistem dan strukturnya. Justru karena itulah, dari semua yang sudah jelas itu malahan tidak jelas; satu yang mana yang akan terjadi di satu waktu satu tempat dan satu kejadian. Seribu kemungkinan terbuka, tak satu pun yang dapat diketahui yang mana akan terjadi dalam satu rentang waktu tertentu. Lagi-lagi, semakin banyak tahu malah semakin menyadari tidak tahu. Semakin terisi, semakin hampa. Cukup lama kehampaan dengan berbagai bentuknya, penemuannya, bahkan rasanya, menumpuk di dalam diri. Hingga satu waktu semua terangkai seperti diagram Venn yang saling mengiris dan terus mengiris, menemukan satu sendi dari beragam pola pengertian. Pendidikan adalah dasarnya (yang kemudian setelah empat tahun menjalani jalur pendidikan mendapat penglihatan lebih lanjut kalau dasar bukan lah akar, ini bahasan nanti lagi). 

Read more…

AES 053 Mula1nya

Apa yang membawa diri ke jalur pendidikan? Tidak pernah ada keinginan untuk masuk jalur ini. Memang, tidak pernah ada keinginan untuk masuk jalur lain juga. Seperti mengalir saja lah, nanti gimana ya gimana nanti. Karena ada rasa bahwa, yang perlu terketahui akan diketahui tepat waktu. Terbukti memang, semua proses perjalanan yang mengalir ini terlalui dengan pas. Tidak lebih tidak kurang, lolos saja. Sampai satu titik, merasa kosong. Padahal, dari mengikuti aliran kehidupan banyak sekali masukan penglihatan pengertian pemahaman. Seperti semakin mengetahui malahan semakin sadar kalau diri ini tidak mengerti apa-apa. Melihat jejak, mengerti tapak. Melihat tapak, mengerti tungkai. Melihat tungkai, mengerti badan. Melihat badan, mengerti yang bukan badan. Dan yang bukan badan ini tidak kelihatan.

Sempat mencoba keluar jalur saja, tidak berbuat apa-apa. Tidak mengalir tidak diam juga, hanya meminimalisasi usaha dan keterlibatan. Memenuhi kebutuhan dasar, tidak perlu yang tidak perlu. Yah, semacam sok jadi pertapa. Semuanya diminimalkan sampai kepada fungsi dasar saja. Setahun saja bertahan. Realita memanggil lagi, katanya bahkan untuk menjadi minimal perlu simpanan energi maksimal. Karena udara dan idealisme tidak bisa dikunyah telan dan mengenyangkan, katanya lagi. Keluar dari goa atau kandang, akhirnya diri dihadapkan pada pilihan. Bahkan tidak memilih pun pilihan yang berkonsekuensi logis. Tidak bisa tidak memilih. Maka, memlih jalur yang selama ini paling dihindari. Yang selama ini dirasa paling merepotkan, paling enggan untuk dimasuki. Jalur, humanitarian(-isme?). Lumayan pas, di tahun di mana bencana sedang marak-maraknya, empat tahunan berhubungan erat dengan dunia pengurangan risiko bencana dalam jalur humanitarian(-isme?).

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa