beyondthinking (1)

AES34 Hening dan Pemurnian Pikiran

Pertanyaan paling mendasar adalah “Hidup itu apa?”, “Untuk apa kita hidup?”. Semua manusia akan mempertanyakan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Demikian halnya dengan saya, proses pencarian ini sudah berlangsung cukup lama. Namun, saya mulai menemukan titik terang justru setelah berkenalan dengan Pendidikan Holistik, lewat pemaparan Kak Andy, diskusi dengan Kakak-kakak yang sama-sama berproses sebelum bergabung menjadi Kakak Smipa. Proses-proses ini membuat saya lebih memfokuskan diri untuk menemukan benang merah dan kemudian ternyata semua saling berkaitan.

Awal bersinggungan dengan Pendidikan Holistik, saya menuliskan beberapa hasil pencarian di sebuah artikel berjudul Mencari Kepingan Diri [Bagian 2] saya mulai melihat keterkaitan walaupun belum sempurna. Pendidikan Holistik membantu manusia menemukan dirinya secara utuh, baik untuk Kakak yang terlibat maupun dalam proses fasilitasi pada anak didik. Bagaimana kita bisa memfasilitasi anak didik untuk menemukan dirinya yang utuh, jika kita belum mampu melihat diri kita secara utuh. Walaupun memang ini merupakan proses pencarian yang panjang, tetapi setidaknya kita harus memulai dari diri sendiri.

Dunia yang kita tinggali, semakin hari semakin modern. Namun, tidak menjamin dalam diri menjadi bahagia. Kita begitu sibuk dengan rutinitas, terlalu banyak informasi yang diterima, terlalu banyak berpikir, dan bahkan terlalu rumit belum lagi dibumbui dengan perasaan yang macam-macam. Membuat manusia semakin jauh dari kata bahagia. Dan sebagai manusia, tidak pernah merasa puas.

Seperti dikatakan dalam video Beyond Thinking, “But, after all, we are human beings… not human doing…

Hal yang paling mendasar adalah bagaimana kita mampu melampaui batas berpikir kita? Bagaimana diri kita mampu ajeg tanpa terpengaruh kesemrawutan dunia diluar kita? Maka kita harus mencarinya ke dalam.

Sesi pembekalan pagi tadi, mengenai sisi dalam dan sisi luar mensyaratkan bagaimana menjadi manusia yang utuh. Salah satu alasan untuk apa kita hidup adalah bahwa manusia adalah “pemimpin”, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri, maka penting untuk memahami bagaimana sebaiknya kita kembali ke dalam diri.

Menurut ajaran Buddha, manusia adalah guru yang paling potensial untuk dirinya sendiri. Hanya karena ketidaktahuan dan pemahaman diri, manusia gagal menyadari potensi dirinya. Salah satu untuk cara untuk memurnikan pikiran - perkataan - perbuatan yaitu dengan meditasi atau waktu hening. Melalui waktu hening kita dapat memahami “kita adalah apa yang kita pikirkan”, dan untuk bisa mencapai kebahagiaan itu adalah melalui pemurnian pikiran dengan upaya sendiri.

Kita menghabiskan banyak waktu untuk tubuh; makan, mencuci baju, mempercantik diri, istirahat, dan lainnya. Pertanyaannya, berapa waktu yang kita luangkan untuk pikiran kita?

Melalui pemurnian pikiran (melalui cara apapun), kita belajar bagaimana cara untuk menenangkan tubuh dan pikiran, belajar untuk menjadi damai dan bahagia dalam diri.

Sekiranya begitu banyak manfaat dalam keheningan, saya masih berproses untuk konsisten melakukannya. Semoga…


Salam,

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa