being (3)

AES075 Memulai dari Being

Memasuki Tahun Pendidikan ke 17 ada sesuatu yang berbeda yang kami coba lakukan bersama. Dalam situasi pandemi COVID-19 ini kami dituntun untuk berkenalan dengan DOBEDOBEDO. Buat generasi saya, kata-kata ini akrab di telinga kita, sesuatu dari filem kartun Scooby Doo. Tapi ini ga ada hubungannya sama sekali dengan filem itu. Buat yang ingin tahu lebih jauh salah satu esai saya menuliskan tentang DOBEDOBEDO ini. 

DOBEDOBEDO pada dasarnya adalah upaya menjadikan hidup kita lebih seimbang. Keberlangsungan alam semesta sampai saat ini adalah karena keseimbangan semata. Segala sesuatu yang tidak seimbang pastinya akan gampang rusak. Karenanya alam semesta selalu bekerja dalam siklus (cycles) - sesuatu yang berputar, berulang dan saling melengkapi. Siklus siang dan malam, siklus musim hujan dan kemarau, perputaran bulan di sekitar bumi dan seterusnya. Dari siklus yang singkat hingga siklus yang perputarannya mencapai puluhan ribu tahun. 

Lalu apa itu Do Be Do Be Do. Eksistensi manusia sebagai insan (human being) ternyata sangat terkait dengan hal ini. BE (Being) erat kaitannya dengan dimensi kesadaran. Doing adalah melakukan segala sesuatu termasuk di dalamnya berpikir. Menarik ya. Ternyata untuk menjadi manusia yang berkesadaran, kita perlu banyak berada dalam Being. Being ini menarik kalau dijabarkan lebih jauh. Tapi kalau disederhanakan lagi Being adalah semata-mata non-Doing. Tidak melakukan apa-apa, jadi manusia perlu meluangkan waktu untuk berada dalam hening dalam diam... DOBEDOBEDO saya terjemahkan sebagai siklus keseimbangan yang dibutuhkan untuk menjadi manusia seutuhnya. 

Hari belajar siang tadi juga membahas lagi tentang hal ini. Rusaknya planet bumi, kacaunya sistem peradaban semata-mata terjadi karena manusia modern sudah tidak tahu lagi bagaimana Being tadi... Manusia sibuk berpikir dan melakukan segala sesuatu - tanpa meluangkan waktu untuk Being... Akhirnya segala sesuatu dilakukan di luar kesadaran dirinya. Lupa pada Being-nya. Padahal manusia adalah Human Being, bukan Human Doing. Kak Gina menuliskan tentang ini dengan sangat menarik dalam tulisannya How To Be Joyful. Ga ada yang harus dilakukan, just Be Joyful... Kalau kesadarannya menyala, manusia bisa bahagia begitu saja... Ga ada itu yang namanya the Pursuit of Hapiness. Ini konsep yang salah, karena kebahagiaan ada di dalam diri. Lalu apa yang mau dikejar? Bagaimana akan ketemu kalau manusia mencari kebahagiaan di luar dirinya... 

Kalau manusia bahagia, konten, damai, tidak akan ada hasrat dalam dirinya untuk melakukan keburukan... Dia akan memancarkan kebaikan. Whatever he or she is doing, everything will be an expression of happiness. Hal yang sama digambarkan dalam filem yang kita bedah bersama di awal Tahun Pendidikan ini, sebelum masuk minggu perencanaan. Tentang ini saya tuliskan dalam esai saya yang berjudul Berbeda Pandangan dengan DescartesDi dalamnya ada filem yang berjudul Beyond Thinking

Walaupun kita (kakak-kakak) masih belajar, karena baru paham (ngarti), mudah2an proses belajar ini menuntun kami pada bisa dan tuman. Mudah2an tidak berlebihan kalau saya merasakan ada Being yang berbeda di tahun ini di kakak2 Smipa. Semoga hal ini membawa kebaikan pada proses yang akan berjalan. Kita lihat apa yang akan terjadi...  

Photo by Majestic Lukas on Unsplash

Read more…

AES065 Luangkan Waktu untuk Dirimu Sendiri

Beberapa waktu terakhir ini, kakak2 Smipa sedang belajar tentang dimensi dalam diri manusia. Dalam diskusi-diskusi dan refleksi yang dilakukan kita mulai menyadari bahwa kita tidak banyak menempatkan perhatian pada sisi dalam diri kita sendiri. Karena kebahagiaan itu bersumber dari dalam diri, tentunya ada hal-hal yang harus dilakukan. 

Sudah cukup dipahami juga bahwa waktu hening adalah hal penting yang harus dilakukan kalau kita ingin bisa lebih bisa mengendalikan pikiran dan emosi diri kita. Lebih sadar (aware) dan bisa memilih untuk being - karena manusia memang punya kemampuan untuk itu. 

Sejak kemarin saya mendengarkan beberapa video youtube yang dibawakan oleh Dandapani. Selain Sadhguru, Gregg Braden, Joe Dispenza dan lainnya, saya juga sangat tertarik terhadap apa yang disampaikan oleh Dandapani. Seorang yang meninggalkan kehidupannya selama 10 tahun untuk belajar menjadi pendeta. Kisahnya sangat menarik, Dandapani seorang komunikator yang baik, caranya tidak pernah menggurui. Dia sendiri tidak pernah merasa dia seorang guru, dia menganggap dirinya seorang murid yang masih terus belajar. Yang dia lakukan adalah sekedar berbagi teknik-teknik yang dia pelajari selama tinggal selama 10 tahun di monasterinya di Hawai. Apa yang dibagikannya juga sangat relevan dengan kehidupan modern saat ini. 

Salah satu yang dia sampaikan dalam wawancaranya dengan Brian Rose (London Real) adalah bagaimana kita perlu meluangkan waktu untuk diri kita sendiri. Sama seperti kalau kita ingin mengenal seseorang lebih dalam. Kita perlu berbincang dan bertanya kepada orang tersebut. Semakin banyak waktu yang diluangkan untuk berbincang, kita akan mengenal orang tersebut semakin lama semakin mendalam. 

Masalahnya, karena atensi manusia lebih banyak berorientasi ke luar dirinya, hal sederhana ini pada umumnya luput dilakukan. Seseorang bisa bercerita panjang lebar tentang tokoh pemain drama favoritnya atau artis selebriti yang dia sukai, sementara kalau ditanya tentang dirinya sendiri, pertanyaan ini sulit dijawab. 

Penyebabnya sederhana, kita tidak cukup kenal diri kita sendiri. Kenapa? Karena kita juga tidak pernah meluangkan waktu untuk mengenal diri kita sendiri. Nah video di atas ini mudah2an menjadi salah satu inspirasi tentang apa yang perlu kita lakukan, karena kita sekarang paham bahwa segala sesuatu bersumber dari dalam diri kita. Sumber inilah yang harus kita kenali sebaik-baiknya. 

Menutup tulisan ini, saya jadi teringat bahwa menulis seperti yang kita lakukan ini sebetulnya juga membantu kita untuk mengenal diri kita sendiri. Bagaimana tidak, kita bisa membaca tulisan kita sendiri di layar monitor - yang secara harfiah menjadi media untuk kita mengambil jarak dan menyaksikan pikiran-pikiran kita dituangkan di dalam tulisan-tulisan kita. Tentang ini saya tuliskan di esai saya yang ke 21 - yang berjudul 15 Minutes of Me Time

Silakan membuat kencan dengan diri kita sendiri... Mestinya dalam situasi pandemi ini, kita punya lebih banyak waktu untuk melakukannya. Salam. 

Photo by Felicia Buitenwerf on Unsplash

Read more…

AES061 Berbeda Pandang dengan Descartes

Pertama mendengar kata2 filsuf terkenal Descartes, COGITO ERGO SUM, dulu saya spontan manggut-manggut... Wah bener juga ya. Kita berpikir, karenanya kita ada. Waktu berjalan, belajar, dan terus belajar... Sekarang ternyata saya berbeda pandang dengan Descartes. Punten ya bung... Boleh dong kita berbeda sudut pandang, walaupun anda filsuf... 

Orang yang belajar itu katanya adalah orang-orang yang pikirannya terbuka. Ada kata-kata yang bilang begini...

Your mind is like a parachute. It works best when it is open.

Nah ini saya setuju betul. Saat belajar memahami sisi dalam dan sisi luar, banyak hal yang merujuk bahwa sisi dalam manusia, kedirian yang sejati, adalah lepas dari pikiran-pikirannya. Seperti yang dibilang oleh Deepak Chopra dalam video meditatifnya : 

You my friend are not your thoughts...
You are the thinker of the thoughts...
The thoughts come from you...
So where are you?
You are in the stillness, the silence between your thoughts...
That stillness, that stillness is you...

Saya juga belajar dari Sadhguru, bahwa segala sesuatu yang ada dalam memori yang direkam dalam otak kita datang dari luar, di rekam sejak kita kecil hingga kita dewasa. Karena datang dari luar, itu bukan kita, memang bagian dari kita, tapi bukan diri kita yang sejati (not our own true self). Nah hal ini kalau tidak disadari betul bisa jadi sumber masalah. Karena otak kita (sumber pikiran-pikiran kita) seringkali jadi sumber masalah. Nah inilah yang dijabarkan dengan gamblang lewat video ke empat dari serial Inner Worlds, Outer Worlds, yang berjudul Beyond Thoughts.

Video di atas ini menjadi salah satu bahan belajar bersama kakak-kakak Smipa dalam rangkaian merencanakan pembelajaran TP17. Di semester lalu, video-video ini kita bedah dan diskusikan bersama di lingkar belajar tim LingKung. Kenapa? Karena sejak awal, konsep pembelajaran holistik meyakini bahwa ada dimensi dalam kedirian manuysia yang utuh. Dulu kita belum terlalu paham apa dan bagaimana - baru sebatas tahu (Nyaho). Pandemi COVID ternyata mendorong kita di Semi Palar untuk memahami lebih jauh soal ini. Buat saya pribadi, setelah lebih paham (Ngarti), saya mencoba melakukan supaya Bisa dan saat ini - mudah-mudahan saya sudah masuk tahapan Tuman. Masih ingat ya kata2 mutiaranya Aki Muhidin... Bener banget kok... 

Setelah lebih dari satu tahun, setiap pagi saya memulai hari saya lewat waktu hening. Mengenai ini saya coba jelaskan di posting saya yang berjudul My Morning Sadhana. Ya memang kalau kata Aki Muhidin, kalau kita ingin Ngajadi, ya kita harus melewati Tuman dulu. Ga ada jalan lain. 

Saya juga senang membaca posting Ahkam yang sedang berproses membiasakan diri melakukan Waktu Hening. Kakak2 juga di berbagai tulisannya juga sedang berusaha menemukan - dengan caranya masing-masing waktu hening yang membantu kita semua untuk menemukan BEING-nya kita. Di dalam filem di atas ini, ada kata-kata menarik: "... After all, we are human being, not human doing..."

Kembali ke Descartes, dia bilang manusia berpikir, karenanya manusia ada... Saya lebih setuju pemikiran Sadhguru, "Manusia ada, karenanya manusia berpikir"...

Nyambung sedikit tentang ini, di dalam waktu hening saya, di tahap awal, sejalan dengan tarikan dan hembusan nafas saya mengulang-ulang kata-kata berikut ini secara mental, "Saya bukan badan, saya bukan juga pikiran". Begitu berulang-ulang, semacam mantra. Saya belajar ini dari pendekatan meditasinya Sadhguru. Tujuannya adalah mengambil jarak dari badan dan pikiran kita. Kalau kita berjarak, kita bisa mengamati segala sesuatu dengan lebih jernih.

Ada analogi yang menarik tentang mengambil jarak ini. Dulu (bahkan sekarang juga) ada perdebatan besar tentang bumi kita, apakah bumi kita bulat atau datar. Kabarnya perdebatan itu berjalan sampai berabad-abad. Sebetulnya perdebatan ini segera terjawab saat manusia bisa pergi keluar angkasa. Dari jarak tertentu dari muka bumi, secara jelas manusia bisa melihat bahwa bumi itu bulat. Masalah selesai, case closed. Yang masih keukeuh bumi itu datar ya mungkin mereka2 yang pikirannya tertutup.   

Segala sesuatu yang terjadi di luar diri manusia akan ditangkap oleh panca indera, dan diolah dalam otak lewat pikiran-pikiran kita. Hal inilah yang seringkali bikin masalah buat kita. Kita sering tersinggung, marah, kecewa, sedih, dan lain sebagainya karena hal-hal yang terjadi di luar diri kita. Saat berjarak, kita bisa mengamati lebih jernih, apa adanya... Kita jadinya tidak reaktif, kompulsif - tapi bisa merespon dengan kesadaran, karena kita tau persis apa yang sebetulnya terjadi... lebih asik kan? 

Kembali lagi, kita itu Human Being, bukan Human Doing... Jadi pertama-tama Being dulu, Doingnya ya belakangan... 

 Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash  

 

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa