balance (2)

AES33 Harmoni Dalam Sepiring Rujak

Menu makan siang ini lotek, lotek LUGINA cukup terkenal di kawasan Gegerkalong, Cipedes, dan sekitarnya. Kalau hanya beli lotek masih terasa kurang, jadi sekalian beli rujaknya. Entah kenapa, sekarang jika melihat sesuatu saya langsung muncul berbagai pertanyaan. Dulu tidak pernah, makan ya makan saja… Beres urusan! Kayanya sih gara-gara masuk Semi Palar, memandang sesuatu itu terkoneksi… (^.^)v

Satu persatu buah-buahan saya colek ke sambal kacangnya, bengkoang, nanas, mangga, mentimun, dan ubi (jambu airnya pas lagi ga ada). Ada rasa manis, asam, dan pedas dari sambal kacangnya. Melihat fotonya saja menggugah selera ya, apalagi menikmatinya, ueeenaaakkk…. (^,^)d

Ternyata, ada nilai-nilai warisan leluhur dalam seporsi rujak.

Secara etimologi, kata ‘rujak’ merupakan turunan dari kata ‘rurujak’ yang ditemukan dalam naskah teks Prasasti Jawa Kuno sekitar abad ke-10. Dahulu rujak merupakan makanan para bangsawan karena tampilannya menyerupai salad Eropa. Penyajian rujak juga berbeda tergantung dari pangan yang tersedia di suatu daerah. Misalnya di Jawa Timur terkenal dengan “Rujak Cingur” yang terbuat dari moncong sapi yang sudah dibersihkan dan direbus dicampur dengan sayur, buah, tempe goreng, dan tahu goreng yang dipotong dadu. Bali populer dengan “Rujak Bulung” terbuat dari rumput laut yang direbus dicampur dengan bumbu khas dan disiram dengan kuah pindang. Di Aceh ada “Rujak U groeh” dibuat dari batok kelapa sebagai bahan utama dan dicampur dengan bumbu yang terbuat dari gula merah, cabai, tepung roti, dan perasan jeruk nipis. Di Jawa Barat sendiri ada Rujak Ulek, Rujak Bebek, dan Rujak Cuka. Seger ya….

Dalam masyarakat Sunda dikenal sebuah konsep Tritangtu, yang meyakini bahwa dunia tempat kita tinggal ini terdiri dari tiga bagian; dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Dunia bawah merupakan dunia kegelapan tempat tinggal mahluk jahat yang lebih dikenal dengan alam neraka. Dunia tengah adalah dunia yang manusia, hewan, dan tumbuhan tempati. Sedangkan dunia atas merupakan tempat tinggal para dewa yang dikenal sebagai kahyangan. Konsep tritangtu inilah yang digunakan nenek moyang kita dalam meracik seporsi rujak.

Dunia bawah dalam rujak diwakili oleh jenis umbi-umbian seperti, bengkoang dan ubi. Dunia tengah diwakili oleh buah-buahan yang hidup di tanah tapi pohonnya tidak terlalu tinggi seperti buah nanas. Dunia atas diwakili oleh buah-buahan yang tumbuh di atas pohon seperti; mangga, jambu, atau kedondong. Rujak merupakan simbol dan wujud sebuah keseimbangan dunia.

Bicara soal rasa, dalam seporsi rujak ada rasa manis dan asam dalam buah serta rasa pedas dalam sambalnya. Ada yang mengatakan rujak ibarat kehidupan yang penuh dengan liku-liku, namun setiap manusia mendambakan manis kehidupan yang berarti bahagia. Rasa asam diibaratkan musibah atau penderitaan yang harus dilalui dengan bijaksana. Serta rasa pedas ibarat tantangan yang harus dihadapi manusia untuk menemukan kebahagiaan yang diidamkannya. Kombinasi ketiganya memberi warna dalam hidup kita yang sepatutnya kita nikmati.

Jika ingin memakan rujak, jangan lupa baca doa dulu ya… Semoga hidup kita selalu diberi keberkahan dan keseimbangan… Dan semoga dunia tempat kita tinggal ini kembali memulihkan dirinya dan berharmoni satu sama lain.


Salam,

Read more…

AES036 DOBEDOBEDO

Kali ini saya mau menulis tentang topik di atas ini. DoBeDoBeDo… Saya mendengar ini dari salah satu ahli fisika kuantum, Dr. Amit Goswami yang fotonya ada di atas ini. Dr. Amit juga tampil sebagai salah satu pakar yang mengisi filem tentang Fisika Kuantum yang judulnya What The Bleep Do We Know. Saya sempat bercerita tentang filem ini juga di salah satu tulisan saya

Do Be Do Be Do pada dasarnya adalah bagaimana manusia menjaga keseimbangan hidupnya antara dimensi dalam dan dimensi luar. Antara Doing dan Being. Being adalah non Doing. Masalahnya manusia sekarang sangat terpaku pada doing, doing dan doing. Business (kesibukan) jadi penanda bahwa hidupnya sukses. Bagaimana tidak, orang sepertinya harus sibuk karena waktu adalah uang. Time is Money. Jargon ini begitu membekas di benak kita. Segala sesuatu harus efektif dan efisien. Hal-hal itu adalah jargon-jargon ekonomi. Tapi hidup kita bukanlah melulu tentang ekonomi. Hidup kita adalah mengenai badan, pikiran, emosi dan enerji kita. Ada dimensi kesadaran di dalamnya. Ekonomi, kerja, profesi, prestasi, sukses dan lain sebagainya adalah dimensi luar – pengalaman hidup kita. Bagaimanapun manusia mestinya mewujudkan eksistensinya sebagai Human Being, bukan Human Doing.

Dr. Amit Goswami menemukan hal itu setelah kehidupannya kacau, karirnya mentok, dia tidak bahagia, keluarganya berantakan dan lain sebagainya. Di filem di bawah dalam wawancaranya dengan Iain McNay, Amit bercerita bagaimana dia menemukan keseimbangan hidupnya melalui praktik DoBeDoBeDo tadi.

Being – sejauh saya pahami hanya bisa diwujudkan melalui keheningan dan praktik-praktik meditasi. Karena dalam keadaan meditatif itulah kita bisa mengakses dimensi dalam hidup kita. Tulisan ini melengkapi posting saya mengenai Hening itu Penting, juga sedikit menjelaskan tentang rutin saya setiap pagi dalam tulisan yang berjudul My Morning Sadhana.

Bagi saya ini adalah kepingan penting dalam proses pencarian panjang untuk menggenapi pemahaman tentang pendidikan holistik, lebih jauh lagi kehidupan yang holistik. Saya temukan dalam situasi pandemi COVID19. Situasi yang memaksa kita untuk berhenti, berjeda dan masuk dalam ritme kehidupan yang lebih lambat dari sebelumnya. Saya kira bukan sekedar kebetulan bahwa saya menjumpai hal-hal seperti ini. Saya beruntung juga bisa menuliskan ini di sini. Mudah2an lambat-laun bisa menjadi pemahaman kita bersama di Semi Palar. Salam…

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa